THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Cerita Yang Sebenarnya Dari Yoga



Gino saat ini bersama ayahnya di ruang tengah. Setelah mendengar ucapan demi ucapan dari sahabatnya yaitu Adam. Gino memutuskan untuk mengikuti semua yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Dirinya tidak ingin menyesal dikemudian hari karena ketidak percayaannya terhadap sang ayah.


"Papa."


Yoga langsung melihat kearah putranya. Terlihat di manik hitam putranya itu menginginkan dirinya bercerita.


"Sebelumnya aku minta maaf sama Papa karena tidak mempercayai Papa. Tapi tolong Pa. Demi aku, demi Mama dan demi kak Farel. Jujur sama aku. Apa yang terjadi?"


Tes..


Seketika Yoga menangis ketika mendengar ucapan dan pertanyaan dari putra keduanya. Dirinya tidak menyangka dan tidak percaya bahwa putra keduanya memilih percaya padanya bahwa dirinya tidak pernah menyakiti ibunya.


"Pa!" Gino ikut menangis ketika melihat ayahnya menangis. Bagi Gino, ini adalah untuk pertama kalinya ayahnya menangis.


"Papa juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya Gino! Yang Papa ingat saat itu Papa dan beberapa rekan kerja Papa baru selesai menandatangani kontrak kerja sama sekaligus proyek besar dengan keuntungan yang besar. Jadi setelah selesai menandatangani kontrak tersebut. Papa dan rekan kerja Papa itu merayakan sebagai bentuk awal mulanya terbentuknya kerja sama tersebut."


"Dimana Papa merayakan perayaan itu?" tanya Gino.


"Di Club."


Mendengar kata 'Club' dari mulut ayahnya membuat Gino terkejut. Yang Gino tahu selama ini bahwa ayahnya mengharamkan kakinya untuk masuk kesana. Tapi ini apa!


"Kenapa Papa kesana? Bukannya Papa dari dulu paling anti ke tempat itu. Bisa dikatakan Papa paling benci tempat itu."


"Papa memang benci tempat itu. Tapi Papa terpaksa."


"Demi permintaan dan menghormati rekan kerja Papa itu?"


"Iya, sayang."


"Tapi Papa bisa menolongnya secara halus. Papa nggak harus menerima permintaan mereka."


"Papa akui Papa salah sayang. Itulah penyesalan terbesar Papa yang terlalu baik dengan orang lain sehingga mudah menuruti keinginan orang itu."


Gino menatap sedih dan kasihan ayahnya. Dia tahu bagaimana ayahnya menjaga diri untuk tidak berhubungan dengan tempat-tempat haram itu.


"Terus apa yang terjadi ketika Papa ada di tempat itu?"


"Rekan kerja Papa memesan banyak minuman beralkohol. Sementara Papa hanya memesan jus jeruk. Papa sama sekali tidak menyentuh apalagi meminum minuman itu. Beberapa menit kemudian, Papa izin ke toilet dengan rekan kerja Papa. Selesai urusan Papa di toilet, Papa langsung menemui rekan-rekan kerja Papa itu. Papa menghabiskan jus jeruk milik berniat untuk segera pulang. Karena pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore."


"Apa terjadi sesuatu pada Papa setelah Papa menghabiskan jus jeruk milik Papa? Karena Papa sempat meninggalkan rekan-rekan kerja Papa untuk ke toilet. Siapa tahu mereka memasukkan sesuatu di minuman Papa."


"Ya, sayang. Setelah Papa menghabiskan minuman Papa. Beberapa detik kemudian, Papa merasakan pusing. Dan berakhir Papa tidak sadarkan diri. Dan... Dan...."


Gino berpindah duduk di samping ayahnya lalu langsung memeluk tubuh ayahnya itu erat. Gino dapat merasakan tubuh ayahnya yang bergetar.


"Papa pasti mau bilang kalau Papa sudah berada di sebuah kamar, di atas tempat tidur bersama seorang perempuan. Benarkan?" Gino berucap dengan suara lirihnya.


"Hiks... Sayang." Yoga terisak ketika mendengar ucapan dari putra keduanya itu sembari menganggukkan kepalanya pelan.


Gino tersenyum lega setelah mendengar cerita dari ayahnya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Adam sahabatnya benar tentang ayahnya.


"Tapi kenapa Papa merahasiakan dariku, dari kak Farel. Terutama dari Mama?"


"Alasan Papa merahasiakan semua ini adalah Papa tidak ingin menyakiti Mama kamu. Dan juga Papa tidak ingin melihat kebencian Mama kamu terhadap Papa. Papa tidak sanggup harus hidup berpisah dengan Mama kamu Gino! Papa mencintai Mama kamu. Papa benar-benar mencintai Mama kamu!"


"Apa yang sudah Papa lakukan untuk membuktikan bahwa Papa tidak salah?"


"Papa sedang menyelidiki tentang perempuan itu dan juga keluarganya. Tapi sampai detik ini Papa belum mendapatkan apapun tentang perempuan itu termasuk keluarganya."


"Kapan Papa mulai menyelidiki tentang perempuan itu?"


"Sejak perempuan itu datang menemui Papa di kantor."


"Apa? Jadi dia sudah mendatangi Papa ke perusahaan?"


"Iya, sayang."


"Untuk apa?"


"Hanya ingin mengatakan bahwa dia hamil anak Papa. Papa tidak percaya apa yang dia ucapkan itu, maka dari itulah Papa diam-diam mencari tahu kebenarannya. Sementara Papa menunjukkan wajah terkejut dan wajah pasrah Papa di hadapan dia."


"Dan Papa tidak menyangka dia dengan lancangnya mendatangi Papa sampai ke rumah ini dan langsung membongkar semuanya di hadapan Mama kamu."


Yoga menatap wajah putranya dengan wajah sedih dan takutnya. Dirinya benar-benar tidak ingin berpisah dengan istri dan kedua anaknya.


"Gino, bagaimana ini sayang. Papa benar-benar takut. Papa tidak ingin berpisah dengan Mama kamu. Papa tidak ingin rumah tangga Papa hancur. Kamu tahukan bagaimana tabiat Mama kamu dan keluarga besarnya? Bagaimana jika keluarga dari Mama kamu meminta Mama kamu untuk berpisah dengan Papa."


Mendengar perkataan serta ketakutan di mata ayahnya itu membuat hati Gino sakit. Dirinya tidak ingin ingin hal itu terjadi. Dirinya ingin Papa dan Mama tetap terus bersama.


"Papa tidak perlu khawatir, oke! Aku janji sama Papa. Papa tidak akan kehilangan Mama. Dan aku janji sama Papa kalau Mama akan pulang ke rumah ini lagi lalu memberikan pelukan kepada Papa."


"Benarkah sayang?"


"Iya, Pa! Aku janji. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Papa sekali pun orang itu adalah keluarga Mama!"


"Sayang... Hiks," ucap Yoga disela isakannya.


"Tuhan tolong kembalikan istriku. Suruh istriku pulang lagi ke rumah ini. Hanya dia satu-satunya nyonya rumah di rumah ini. Tidak ada wanita lain selain istriku."


"Maya, pulanglah sayang! Ini rumahmu. Rumah kita bersama. Rumah yang hanya ada aku, kamu dan kedua putra kita."


Yoga berucap di dalam hatinya. Hatinya benar-benar hancur saat ini karena istrinya pergi meninggalkan dirinya sendiri di rumah besar yang dia beli pertama kalinya ketika menikah dengan Maya.


***


Ketika wanita itu tengah memikirkan akan kehilangannya yang sebentar lagi akan menjadi nyonya Gennaro, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Wanita itu kemudian mengambil ponselnya dan melihat nama seseorang di layar ponselnya itu. Dan detik kemudian, wanita itu tersenyum ketika membaca nama seseorang di layar ponsel miliknya.


"Hallo, sayang."


"...."


"Berjalan sesuai yang kita rencanakan."


"...."


"Kau tenang saja. Sebentar lagi aku akan masuk dan tinggal di kediaman Gennaro. Dan akan menjadi nyonya Gennaro disana."


"...."


"Baiklah."


Setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon, wanita itu pun langsung mematikan panggilannya.


"Prayoga Gennaro. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Begitu juga dengan semua yang kau miliki," ucap wanita itu dengan tersenyum di sudut bibirnya.


***


Adam berada di ruang tengah bersama kedua orang tuanya dan kedua kakaknya. Dan saat ini Adam tengah duduk dengan kepala menyender di bahu sang ayah sembari bermain game di ponselnya.


"Bagaimana kuliahnya tadi sayang?" tanya Evan sembari mengusap lembut kepala putranya.


"Lancar Papa. Tapi aku hanya mengikuti dua kelas saja. Dan satu kelasnya aku pulang."


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari putranya membuat Evan terkejut. Begitu juga dengan Utari, Garry dan Danish.


"Lah kenapa?" tanya Garry yang ikut obrolan ayah dan adiknya itu.


"Males aja," jawab Adam asal.


Seketika Garry membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban seenaknya dari adiknya itu. Begitu juga dengan Evan, Utari dan Danish.


"Kenapa males? Biasanya kamu yang paling bersemangat jika menyangkut kuliah," ucap Utari.


Yah! Utari memang sangat hafal akan putra bungsunya itu kalau menyangkut masalah kuliah. Selama ini putra bungsunya itu tidak pernah absen untuk masuk kuliah, kecuali sakit.


Adam mengangkat kepalanya dari bahu ayahnya. Kemudian Adam menyenderkan tubuhnya di punggung sofa.


"Aku lagi nggak semangat."


Mendengar jawaban dari putranya/adiknya. Apalagi ketika melihat perubahan raut wajahnya. Mereka meyakini bahwa ada sesuatu yang membuat Adam yang tak bersemangat mengikuti kelas terakhirnya.


"Apa ada masalah?" tanya Danish.


Adam melirik sekilas kearah kakak keduanya itu lalu kembali fokus menatap layar ponselnya.


"Salah satu sahabat aku lagi ada masalah."


"Siapa?" tanya Danish.


"Gino."


"Masalah apa?" tanya Garry.


"Rumah tangga kedua orang tuanya dalam masalah. Ada perempuan yang datang menemui ayahnya dan mengatakan bahwa anak dalam kandungannya itu adalah anak ayahnya. Perempuan itu mengatakan hal itu bertepatan ketika Gino sedang berkumpul bersama kedua orang tuanya."


Evan, Utari, Garry dan Danish terkejut ketika mendengar cerita dari Adam tentang masalah Gino.


"Ya, Tuhan! Tega sekali perempuan itu. Terus apa yang terjadi sayang?" tanya Utari.


"Ibunya Gino pergi meninggalkan kediaman Gennaro dan kembali pulang ke kediaman keluarganya. Dan untuk Gino, awalnya Gino juga akan meninggalkan ayahnya. Namun aku berusaha untuk memberikan keyakinan bahwa ayahnya tak salah. Bahkan aku mengatakan kepada Gino. Jangan sampai dia menyesal akan keputusannya yang tidak mempercayai ayahnya."


"Lalu apa reaksi Gino?" tanya Danish.


"Aku nggak tahu, karena setelah aku mengatakan hal-hal yang ingin aku katakan kepada Gino. Aku langsung pergi meninggalkan Gino dan yang lainnya di kantin. Aku nggak tahu kabar tentang Gino setelah itu. Gino nggak masuk kuliah kemarin."


"Bagaimana dengan sahabat-sahabat kamu yang lain?" tanya Garry.


"Sama. Mereka juga tidak mendapatkan kabar apapun dari Gino."


"Kalau Papa boleh tahu. Apa reaksi kamu ketika mendengar cerita Gino tentang ayahnya selingkuh?" tanya Evan.


"Aku langsung mengatakan kepada Gino bahwa aku lebih percaya sama ayahnya dari pada perempuan yang mengaku hamil anak dari ayahnya itu."


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya Danish.


"Karena aku tahu siapa Paman Yoga, ayahnya Gino! Paman Yoga sama seperti Papa yang begitu mencintai Mama, sama seperti Papa Bagas yang mencintai Mama Alin, sama seperti Papa Davan yang mencintai Mama Kamila dan sama seperti Papa Levi yang mencintai Mama Celena."


"Bagaimana bisa seorang laki-laki yang begitu mencintai istrinya, yang begitu bucin terhadap istrinya tiba-tiba berselingkuh dengan perempuan lain? Bahkan perempuan itu sampai hamil? Kecuali jika laki-laki itu tidak benar-benar mencintai istrinya."


Mendengar perkataan dari Adam membuat Garry dan Danish seketika menganggukkan kepalanya. Mereka menyetujui apa yang dikatakan oleh Adam. Begitu juga dengan Utari dan Evan. Jika seorang laki-laki yang begitu bucin dan begitu mencintai istrinya, maka yang ada di hati dan pikirannya hanya wajah dan nama istrinya saja.