
Mereka semua tersenyum melihat perdebatan keduanya.
"Allan," panggil Danish.
"Iya," jawab Allan.
"Mau tidak kau pergi bersama kami setelah selesai kuliah nanti?" tanya Danish.
"Kemana?" tanya Allan.
"Ke rumah kami." Harsha yang menjawab pertanyaan dari Allan.
"Aish!" Allan merengut kesal. "Kalian ini kebiasaan sekali. Yang nanya siapa? Yang jawab siapa?"
"Hehehe." mereka hanya cengengesan mendengar aksi protes Allan.
"Mau tidak?" tanya Ardi. "Kami berharap sekali kalau kau mau ikut dengan kami, Allan!" Ardi berucap sambil menatap wajah Allan.
"Jadi maksud kalian. Aku harus ikut dengan kalian. Lalu mendatangi rumah kalian satu-satu, begitu?" ucap Allan.
Mereka semua nepuk jidat saat mendengar ucapan Jungie. "Ini bocah terlalu polos atau bodoh, sih?" batin mereka kesal.
"Tidak begitu juga kali. Aku, kak Danish dan kak Ardi tinggal satu rumah," jawab Harsha.
"Kalian ngomongnya terlalu berbelit-belit. Kenapa kalian nggak bilang kalau kalian itu tinggal bersama?" kesal Allan.
"Kakak kan tadi bilang rumah kami. Itu berarti rumah kami bertiga. Kecuali kakak tadi bilang rumah kakak. Berarti itu rumah milik kakak," jawab Harsha dengan sabar.
"Ooohhh," jawab Allan singkat.
PLAKK!
"Aakkhh! Yak, hitam sialan! Kenapa kau memukul kepalaku?" teriak Allan dengan tatapan mautnya.
Melly tak kalah menatap Allan. "Jangan mempermalukan nama Kampus, Allan Liam Adiyaksa! Kau kuliah di kampus ternama di Jakarta. Tapi otakmu tidak ada pintar-pintarnya. Dasar payah," ejek Melky.
"Apa kau bilang?" teriak Allan.
"Hei, hei! Kenapa jadi ribut, sih?" sela Arka yang melerai keduanya.
"Wleee," Melky menjulurkan lidahnya. Sedangkan Allan mendengus kesal.
"Allan!" teriak seseorang memanggil namanya.
Semuanya menolehkan wajah masing-masing dan melihat keasal suara termasuk Allan dan Melky.
"Kak Vigo," ucap Allan.
"Vigo," batin mereka.
"Dasar pengganggu," batin Danish, Ardi dan Harsha.
Vigo dan kesepuluh sahabatnya datang dan menghampiri Allan.
"Ayo, kita pulang!" Vigo langsung menarik kasar tangan Allan.
"Yak, kak! Lepaskan aku. Kuliahku belum kelar. Masih ada dua kelas lagi," sahut Allan.
"Kakak tidak peduli. Kau tetap harus pulang." Vigo terus menarik tangan Allan.
"Kakak. Lepaskan tanganku. Ini benar-benar sakit," keluh Allan. Tapi Vigo tidak menghiraukan keluhan dari Allan. Vigo terus menarik kasar tangan Allan.
Danish berhasil mencekal tangan Vigo. "Kau tidak bisa bersiap seperti itu pada Allan. Apalagi menyakitinya. Bagaimana pun Allan berhak berada disini? Bukannya Allan sudah mengatakan padamu kalau dia masih ada dua kelas lagi. Kau pikir Kampus ini milik Ayahmu yang bisa seenaknya datang dan pergi, hah!" bentak Danish.
Vigo menatap tajam kearah Danish. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Bukan urusanmu. Dan jangan campuri urusanku. Ini masalahku dan adikku," jawab Vigo lalu menghempaskan tangan Danish. Setelah berhasil, Vigo kembali menarik tangan Allan.
"Kita pulang!" bentak Vigo.
"Kakak, lepaskan aku. Kau ini kenapa sih? Aku masih ada dua kelas lagi. Kau tidak bisa bersikap begini padaku!" teriak Allan.
Sedangkan Vigo tidak mempedulikan teriakan adiknya itu. Dirinya terus menarik tangan Allan sampai ke parkiran.
"Lepaskan aku kak Vigo!" teriak Allan. Tidak ada balasan sama sekali dari Vigo.
"Aku bilang lepaskan aku, Vigo Liam Adiyaksa!" teriak Allan dan hal itu sukses membuat Vigo berhenti dan melepaskan tangannya dari tangan adiknya.
Vigo menatap tajam Allan. "Apa yang barusan kau katakan, Allan?!" bentak Vigo.
Allan terkejut saat Vigo membentaknya dengan keras. "Maafkan aku, kak Vigo."
"Bukan itu yang ingin hyung dengar. Kakak ingin dengar saat kau memanggil kakak tadi?" tanya Vigo. Allan hanya diam dan menunduk. "Jawab Allan!" bentak Vigo lagi.
PLAKK..
"Aakkhh!" Allan meringis saat merasakan pedih di wajahnya.
"Vigo!" teriak para sahabatnya, lalu berlari menghampiri Vigo.
"Kau apa-apaan, Go!" bentak Carlo.
"Kau gila, Go!" bentak Crisan.
"Brengsek! Berani sekali Vigo menampar Adam adikku." Danish benar-benar marah saat melihat Vigo yang menampar adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tampak geram dan marah saat melihat Vigo memperlakukan Allan dengan kasar.
Disaat Danish ingin menghampiri Vigo, tapi dirinya ditahan oleh Cakra. Cakra berusaha menenangkan Danish sedang emosi.
"Vigo. Apa-apaan kau ini. Dia adikmu. Kenapa kau menamparnya?" tanya Tian dengan nada kesal dan juga kecewa melihat sifat Vigo.
"Kau menamparku, kak? Apa kesalahanku, hah?!" teriak Allan menatap tajam Vigo.
"Kenapa? Kau ingin marah kepada kakak! Apa kau ingin menampar kakak balik?" tantang Vigo.
"Kalau aku tidak memandangmu. Kalau aku tidak menganggapmu sebagai kakakku. Kalau kakak itu orang lain. Maka detik ini juga aku akan menampar balik wajahmu. Atau aku bisa melakukan hal lebih dari pada sekedar tamparan." Allan menatap tajam Vigo.
Vigo terkejut ketika mendengar ucapan dari Allan. Dirinya tidak menyangka jika Allan akan berbicara seperti itu.
"Sebenarnya ada apa denganmu, kak? Kenapa dengan sikapmu hari ini? Yang aku tahu. Aku tidak melakukan kesalahan apapun dari mulai kemarin-kemarin sampai kita berangkat kuliah tadi pagi?" tanya Allan.
"Kau ingin tahu kesalahanmu apa, hah?! Kesalahanmu itu adalah karena kau dekat dengan mereka!" teriak Vigo sembari menunjuk kearah kelompok Brainer dan kelompok Bruizer.
Allan melihat arah tunjuk Vigo. Dan Allan terkejut saat itu juga. Lalu kembali menatap wajah Vigo.
"Apa? Hanya gara-gara aku dekat dengan mereka kau menjadi seperti ini kak. Kau berubah menjadi monster hanya kedekatanku dengan mereka!" teriak Allab sambil mendorong kuat tubuh Vigo sehingga tubuh Vigo terhuyung ke belakang.
"Iya. Kakak akan berubah menjadi 1000 kali lebih kejam kalau kau masih dekat dengan mereka, Allan! Kakak tidak suka kau dekat-dekat dengan mereka!" Vigo balik berteriak.
"Kau Jahat, kak! Kau jahat! Kau tidak bisa melarangku untuk bergaul dengan siapa pun. Kau tidak punya hak sama sekali untuk mengatur hidupku. Kau memang kakakku dan aku adikmu. Tapi kau tidak bisa melakukan hal ini padaku!" teriak Allan. Lalu Allan pun pergi meninggalkan Vigo. Tapi dengan gesitnya, Vigo berhasil mencekal tangan Allan.
"Kau tidak boleh pergi. Kau ikut dengan kakak pulang." Vigo menarik kasar tangan adiknya.
"Tidak akan," jawab Allan.
Allan langsung memegang tangan Vigo yang memegang tangannya. Lalu Allan menarik dengan kuat tangan Vigo tersebut dan Allan pun berhasil melepaskan pegangan tangan Vigo pada tangannya. Tanpa membuang kesempatan, Allan langsung pergi.
Saat Vigo ingin mengejarnya dan menangkap tangannya, Allan reflek menendang Vigo sehingga membuat Vigo terjatuh.
DUUAAGGHH..
"Aaakkkhhh!" tendangan Allan tidak main-main. Tendangannya mengenai pinggang Vigo.
Allan sempat berhenti dan melirik ke arah Vigo. Tapi dikarenakan sakit di hatinya, Allan memilih mengabaikan Vigo. Allan pun pergi meninggalkan Vigo.
"Jadi benar apa yang dikatakan adikku, Gala! Allan adalah Adam. Dia bukan adik kandungmu, Vigo!" Carlo berbicara sembari menatap tajam Vigo.
Mendengar ucapan Carlo. Baik Vigo maupun sahabatnya yang lainnya terkejut. Mereka semua menatap Carlo, termasuk Vigo.
"Apa maksudmu, Carlo? tanya Vigo.
"Kau tidak tahu. Apa pura-pura tidak tahu, Vigo Liam Adiyaksa?" tanya Carlo.
Vigo tidak menjawab pertanyaan dari Carlo. Dirinya menatap tajam Carlo.
"Aku sudah tahu semuanya, Go! Bahkan aku sempat mendengar pembicaraanmu dengan kelompok Brainer dan kelompok Bruizer ketika kau menjemput Allan di ruang latihan Taekwondo saat itu." Carlo menatap tak kalah tajam Vigo.
"Allan adalah Adam. Dia adalah adik kandung dari Danelio Danish Bimantara. Dan cucu dari Yodha Akasha Abimanyu. Allan bukan adik kandungmu." Carlo berbicara dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Aku benar-benar kecewa denganmu, Go! Sangat kecewa!"
Setelah mengatakan hal itu. Calro pergi meninggalkan Vigo dan sahabat-sahabatnya.
Disisi lain dimana kelompok Brainer dan kelompok Bruizer masih memperhatikan Vigo. Sedangkan Gala sudah pergi mengejar Carlo, kakaknya.
Danish, Ardi, dan Harsha tersenyum bahagia saat melihat Allan yang memberikan tendangan pada Vigo.
"Kau belum tahu siapa Allan, Vigo!" ucap Danish.
"Allan itu dua kali lipat kejamnya dibandingkan dirimu," ucap Harsha.
"Kalau Allan mau. Kau habis hari ini juga," ucap Ardi.
"Bersiap-siaplah. Mulai hari dan untuk beberapa hari kedepan, kau akan melihat sifat dinginya, sifat kasarnya dan sifat emosinya padamu. Allan akan mengabaikanmu, Vigo!" batin mereka semua.