
[Kediaman Bimantara]
Adam saat ini sudah bersiap-siap dengan pakaian kampusnya. Saat ini Adam tengah menyusun buku untuk materi hari ini. Setelah mendapatkan buku yang diperlukan olehnya, Adam memasukkan ke dalam tasnya.
Selesai dengan urusannya, Adam pun pergi meninggalkan kamarnya untuk menuju lantai bawah. Dirinya tidak ingin membuat kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menunggunya terlalu lama.
^^^
Di meja makan Evan, Utari, Garry dan Danish sudah menunggu kesayangannya turun untuk bergabung dengan mereka.
"Danish," panggil Utari.
"Iya, Ma!"
"Bagaimana pertemuan Adam dengan Jasmine kemarin?"
"Penuh air mata. Jasmine mengeluarkan semua kerinduannya kepada Adam. Baik rindu dia sama Ariel maupun rindu dia sama Adam."
"Bukan hanya Jasmine saja yang menangis sambil mengeluarkan semua kerinduannya pada Adam. Bibinya Jasmine yang tak lain adalah ibunya Ariel juga menangis dan menumpahkan semua rasa sesak dan rasa rindunya terhadap Ariel putranya di pelukan Adam."
Ketika mereka membahas mengenai pertemuan Adam dengan Jasmine, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara langkah kaki yang menuruni anak tangga.
Baik Utari dan Evan maupun Garry dan Danish bersamaan melihat keasal suara. Seketika mereka tersenyum melihat kesayangannya sudah rapi dengan pakaian kampusnya. Dan saat ini kesayangannya itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Baiklah. Selidiki terus. Aku mau kau menemukan keberadaan mereka."
"...."
"Kalau masalah itu biar aku yang tangani."
"...."
Setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon, Adam langsung mematikan panggilannya. Adam kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju meja makan.
"Pagi Mama! Pagi Papa!" sapa Adam.
"Pagi sayang!" Evan dan Utari menjawab bersamaan sapaan dari putra bungsunya itu.
"Pagi kakak Garry ku yang tampan," sapa Adam.
"Pagi juga adiknya kakak yang nggak kalah tampan dari kakak," balas Garry.
Seketika Adam tersenyum ketika mendapatkan balasan dari kakaknya itu. Balasan dari luar dugaannya.
Setelah menyapa kedua orang tuanya dan kakaknya, Adam pun langsung duduk tepat di dekat ayahnya tanpa mempedulikan kakak keduanya yang saat ini menatap horor kearah dirinya.
Sedangkan Utari, Evan dan Garry berusaha untuk tidak tersenyum agar sang korban kekesalan tidak makin kesal.
"Mama, ini nasi gorengnya enak sekali!" seru Adam yang sudah terlebih dulu memulai sarapan paginya.
"Yak, Adam! Bisa-bisanya kamu lupain kakak?!"
Mendengar teriakkan dari kakak keduanya membuat Adam langsung menghentikan makannya, lalu menatap wajahnya kakaknya yang kini menatap kesal padanya.
"Lupa? Maksud kakak apa? Kalau aku lupa sama kakak. Terus aku ngomong sama siapa sekarang?"
"Hahahaha."
Pada akhirnya Utari, Evan dan Garry tertawa keras ketika mendengar perkataan dari Adam. Mereka sudah sejak tadi berusaha untuk tidak tertawa. Pada akhirnya lepas kendali. Sedangkan Danish semakin menatap kesal Adam.
Adam menatap wajah kesal kakaknya itu. Di dalam hatinya tersenyum puas karena sudah berhasil membuat kakaknya itu kesal habis-habisan.
"Sudah. Jangan tatapan aku seperti itu. Aku tahu kalau wajahku ini paling tampan dari wajah kakak," ucap Adam.
Mendengar ucapan terlalu percaya diri dari adiknya membuat Danish seketika mendengus. Setelah itu, Danish memiliki memulai sarapan paginya.
***
Ardi dan Harsha dalam perjalanan menuju kampus dengan menggunakan sepeda motornya. Mereka mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
Ketika mereka fokus menatap jalanan, tiba-tiba tatapan matanya Ardi tak sengaja melihat seorang gadis tengah disakiti oleh seorang laki-laki.
Ardi seketika menghentikan laju sepeda motornya dan diikuti oleh Harsha. Kemudian Harsha bertanya kepada Ardi kenapa tiba-tiba berhenti.
"Ada apa, kak?"
"Tuh, coba lihat disana!" Ardi langsung menunjuk kearah dimana seorang gadis dikasari oleh seseorang laki-laki.
Harsha pun langsung melihat kearah tunjuk kakaknya itu. Dan Harsha melihat seorang gadis yang tengah ketakutan akan ulah laki-laki di depannya.
"Kak, kita harus tolongin gadis itu? Kasihan dia," ucap Harsha bersamaan dengan Harsha dan Ardi turun dari motornya.
^^^
"Kau berani membantah sekarang, hah?!" bentak laki-laki itu kepada gadis tersebut.
"Kalau iya, kau mau apa?! Lagian kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Kau bermain di belakangku. Bahkan aku melihatmu melakukan hubungan layaknya suami istri dengan perempuan murahan itu. Sekarang, kenapa kau marah ketika aku dekat dengan laki-laki lain.?!" gadis itu balik membentak laki-laki itu.
"Brengsek!"
Laki-laki kemudian mengangkat tangannya hendak menampar pipi gadis tersebut sehingga membuat gadis itu terkejut dan ketakutan.
Sreekkk..
Seseorang menahan tangannya ketika tangannya sedikit lagi menyentuh pipi gadis tersebut. Orang itu meremat kuat tangan laki-laki.
Sementara laki-laki yang hendak menampar gadis itu terkejut lalu melihat kearah orang yang sudah berani mengganggunya.
Laki-laki itu menarik kasar tangannya dengan tatapan matanya yang menatap marah kearah orang yang berdiri di hadapannya.
"Siapa kalian?! Kenapa menggangguku?!" bentak laki-laki itu.
"Kami tidak bermaksud untuk mengganggu. Hanya saja kami paling tidak suka melihat seorang laki-laki bermain tangan terhadap perempuan," ucap Ardi.
"Apa lo nggak malu bersikap kasar sama perempuan? Lo lahir dari rahim seorang perempuan," ucap Harsha menambahkan.
"Itu bukan urusan lo berdua. Lebih baik kalian pergi dari sini!"
"Kami akan pergi jika lo yang pergi duluan dan membiarkan gadis ini sendiri. Jangan ganggu dia," jawab Ardi.
"Brengsek!"
Detik kemudian, laki-laki itu menyerang Ardi. Dirinya tidak terima dinasehati atau pun diperintah.
Laki-laki itu memberikan pukulan demi pukulan serta tendangan kepada Ardi, namun semua itu kosong belaka. Semua pukulan dan tendangan darinya tak ada satu pun mengenai Ardi.
Ardi tersenyum ketika melihat laki-laki yang ada di depannya seperti orang kesurupan menyerangnya.
Duagh..
"Aakkhh!"
Bruukk..
Ardi memberikan satu tendangan ke perut laki-laki itu sehingga membuat laki-laki itu tersungkur di tanah.
"Ooposstt! Sorry, gue nggak sengaja!" Ardi berucap sembari tangannya menutup mulutnya seolah-olah dirinya terkejut dan merasa bersalah.
Sedangkan Harsha seketika tertawa ketika melihat kelakuan kakak sepupunya itu ketika menghadapi musuhnya. Kakaknya itu sudah tertular akan kelakuan Adam.
Laki-laki itu kesakitan di bagian perutnya. Dia berusaha untuk bangun sembari memegang perutnya.
Setelah posisinya dalam keadaan berdiri dengan merasakan kesakitan di bagian perutnya, laki-laki itu menatap tajam kearah gadis tersebut.
"Awas kamu. Aku akan buat kamu berlutut di hadapanku."
"Udah, pergi sana!" usir Harsha.
Laki-laki itu pun pergi meninggalkan gadis itu bersama Ardi dan Harsha.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ardi.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantuku."
"Memangnya laki-laki tadi siapa?" tanya Harsha.
"Mantanku. Dia marah aku memutuskan dia. Dia memaksa aku buat balikan, tapi aku nggak mau."
"Apa dia sudah menyakiti kamu. Atau...." perkataan Ardi terhenti.
"Dia mengkhianati cintaku dengan perempuan lain. Aku masih terima jika perempuan itu adalah orang lain, tapi perempuan yang menjadi selingkuhan dia adalah sahabat aku sendiri."
Mendengar jawaban dari gadis di hadapannya membuat Ardi dan Harsha terkejut. Mereka tidak menyangka jika gadis ini dikhianati oleh pacar dan sahabatnya sendiri.
"Yang lebih parahnya lagi, mereka sudah tidur berdua dan melakukan itu."
Ardi dan Harsha membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan terakhir dari gadis tersebut. Harsha menatap kearah Ardi. Begitu juga dengan Ardi. Seketika Ardi dan Harsha menampilkan muka jijiknya.
Setelah itu, Ardi dan Harsha kembali menatap wajah gadis tersebut.
"Eoh, menjijikan!" Harsha berucap.