THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Menceritakan Kejadian Kecelakaan



Semuanya sudah berkumpul, termasuk Zelo dan dua tangan kanannya. Sedangkan para anggotanya berjaga-jaga diluar rumah.


Tanpa diketahui oleh Melky dan kedua orang tuanya, Adam sudah menghubungi Gerard untuk datang ke rumahnya pukul 7 malam.


"Paman Jordan," panggil Adam.


"Iya, sayang!"


"Boleh aku tanya sesuatu pada Paman?"


"Tentu. Kamu mau menanyakan apa sama Paman?"


"Apa Paman memiliki putra lain selain Melky?" tanya Adam.


Deg..


Mendengar pertanyaan dari Adam seketika membuat Jordan terkejut. Begitu juga dengan Ghiska. Sedangkan Melky langsung melihat kearah kedua orang tuanya.


Jordan dan Ghiska saling memberikan tatapan. Keduanya bingung harus menjawab apa.


"Paman," panggil Adam lagi.


"Iya. Paman memiliki putra lain selain Melky. Dengan kata lain, Melky memiliki seorang kakak laki-laki."


Deg..


Mendengar jawaban dari ayahnya membuat Melky syok dan juga terkejut. Dirinya tidak menyangka bahwa dirinya memiliki seorang kakak laki-laki.


"Papi, Mami!" Melky berucap lirih dengan tatapan matanya menatap wajah kedua orang tuanya.


Ghiska seketika langsung memeluk tubuh Melky. Dirinya saat ini tahu bahwa putranya tersebut ingin mengetahui hal yang sebenarnya.


Melky melepaskan pelukan ibunya lalu tatapan matanya menatap lekat wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


"Katakan padaku. Apa yang terjadi? Apa maksud Papi kalau aku memiliki seorang kakak laki-laki?" tanya Melky yang sudah menangis.


Seketika Adam merasa bersalah ketika melihat Melky yang menangis karena terkejut apa yang dirinya dengar.


Namun Adam harus melakukannya agar nanti ketika bertemu dengan Gerard. Adam tidak terkejut. Begitu juga dengan Gerard. Dengan kata lain, kedua kakak adik itu akan saling melepas rasa rindunya.


Jordan menatap wajah basah putranya lalu menghapus air mata putranya itu.


"Papi akan cerita. Tapi Papi mohon sama kamu untuk baik-baik saja. Dan jangan memaksa untuk mengingatnya," ucap Jordan memohon.


"Maksud Papi?"


"Intinya kamu melupakan beberapa hal tentang masa lalu kamu," jawab Jordan.


Mendengar perkataan dari Ayahnya Melky membuat Adam, Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabatnya sudah menebak sejak awal bahwa Melky melupakan kejadian itu dan kedua orang tuanya sengaja merahasiakan darinya.


"Jelaskan semuanya padaku."


"Ketika kamu berusia 7 tahun dan kakak kamu berusia 10 tahun. Kita bertiga yaitu Papi, kakak kamu dan kamu mengalami kecelakaan di jalan. Saat itu kejadian itu, Papi menjemput kalian dari sekolah."


Flashback On


"Papi, itu siapa di belakang mobil kita?" tanya Miky.


Mendengar pertanyaan dari Miky. Jordan dan Gerard putra sulungnya langsung melihat kearah belakang. Dan benar, ada dua mobil yang mengejar mobilnya.


"Siapa mereka? Atau mereka adalah suruhan dari dia?" batin Jordan.


"Anak-anak pegangan dengan kuat. Papi akan sedikit ngebut."


Setelah mengatakan itu, Jordan pun menginjak langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


Setibanya di persimpangan, Jordan berucap sembari berteriak kepada putra sulungnya.


"Gerard, melompatlah sayang. Selamat dirimu."


"Tidak, Papi! Aku akan tetap disini bersama Papi dan Miky."


"Dengarkan Papi, nak! Jika kau melon setidaknya itu adalah peluang untuk kita. Jika Papi sama adikmu tidak selamat. Kau bisa balaskan dendam atas kematian kami berdua. Tapi Papi berjanji kalau Papi dan adikmu akan baik-baik saja.x


"Tapi, Pi...!"


"Ayo, sayang! Melompatlah. Jika kau berhasil dan selamat. Carilah Papi, Mami dan adikmu. Kami semua akan menunggumu."


"Hiks... Papi."


"Ayo, sayang! Tidak ada waktu lagi."


"Baiklah. Aku akan lompat. Tapi Papi harus janji. Papi dan Miky harus baik-baik saja."


"Papi janji."


"Jika aku berhasil. Aku akan segera kembali untuk menemui Papi, Mami dan Miky."


"Papi akan tunggu kamu kembali. Ayo, buruan sayang! Melompatlah sekarang!"


Gerard menatap wajah tampan adiknya lalu kemudian memberikan ciuman di seluruh wajah adiknya itu.


"Kakak sayang kamu. Tetaplah hidup karena kakak akan kembali."


Gedebug..


Brukk..


Gerard langsung melompat dari dalam mobil. Tubuhnya berguling-guling masuk kearah semak-semak belukar.


"Semoga kamu baik-baik saja sayang. Papi akan menunggumu kembali," batin Gerard ketika tatapan matanya melihat putra sulungnya yang melompat keluar dari dalam mobil.


Flashback Off


"Mobil yang Papi bawa menabrak pembatas jalan. Dan untungnya kita selamat karena ada beberapa orang yang langsung menolong kita dan membawa kita ke rumah sakit sehingga orang-orang itu tidak berhasil mencelakai kita."


"Dalam kecelakaan itu, kamu koma selama dua bulan. Dan ketika sadar, kamu melupakan setengah memori masa lalu kamu. Salah satunya adalah kamu melupakan akan kecelakaan itu, kamu melupakan kakak kamu dan kamu melupakan semua sepupu-sepupu kamu. Sepupu dari keponakan Papi dan sepupu dari keponakan Mami kamu."


Deg..


Melky terkejut ketika mendengar cerita dari ayahnya. Dirinya benar-benar terkejut akan berita yang disampaikan oleh ayahnya.


"Kalau aku boleh tahu. Siapa nama kakakku, Pi?"


Jordan tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Melky, putra bungsunya.


Mendengar perkataan dan penjelasan dari ayahnya membuat Melky seketika diam. Dirinya berusaha untuk mengingat nama yang pernah dirinya sebut dan dirinya panggil untuk seseorang.


[Kakak Gege! Kakak Gege! Kemarilah! Coba lihat ini]


[Ada apa?]


[Ini lihatlah. Baguskan?]


[Wah! Miky, ini bagus sekali. Kamu yang bikin?]


[Iya. Kakak Gege suka?]


[Sangat suka]


[Ini ambil]


[Buat kakak?]


[Iya. Aku buat ini untuk kakak Gege]


Dan detik kemudian..


"Aakkhhh!"


Tiba-tiba Melky merasakan sakit di kepalanya sehingga membuat semua orang menatap dirinya khawatir.


"Sayang," panggil Ghiska.


"Melky! Kamu kenapa, nak?" tanya Jordan panik sembari tangannya mengusap lembut kepala putranya.


"Aku tidak apa-apa, Pi!"


"Kamu yakin?" Kini Ghiska yang bertanya kepada putranya.


"Iya, Mi! Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya sedikit berusaha untuk mengingat kejadian di masa lalu," sahut Melky.


Melihat keadaan Melky sudah sedikit tenang dan juga baik-baik saja, Adam pun kembali melanjutkan pertanyaannya yang sempat terhenti karena Jordan berusaha menjelaskan tentang kakak kandungnya.


"Paman Jordan," panggil Adam.


Jordan langsung melihat kearah Adam. Begitu juga dengan Adam yang menatap kearah Jordan.


"Boleh aku bertanya lagi?" tanya Adam.


"Silahkan, nak! Berapa pun kamu ingin bertanya kepada Paman. Paman akan senang hati menjawab pertanyaan dari kamu."


Adam seketika tersenyum mendengar jawaban dari ayahnya Melky. Begitu juga dengan anggota keluarga Abimanyu, keluarga Bimantara, keluarga Palavi dan para sahabatnya Adam, Danish, Ardi, Harsha dan Vigo.


"Apa Paman memiliki keyakinan jika kak Gerard masih hidup?" tanya Adam.


"Ya, nak! Paman memiliki keyakinan besar bahwa putra sulung Paman masih hidup."


"Apa Paman juga memiliki keyakinan kalau kak Gerard akan kembali?"


"Iya. Paman sangat yakin putra sulung Paman akan kembali. Kembali dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada yang kurang satu apapun."


Mendengar jawaban demi jawaban dari Jordan membuat Adam tersenyum. Dirinya dapat melihat dari tatapan mata Jordan bahwa tersirat seribu keyakinan disana.


Adam melirik sekilas jam yang melingkar di tangan kirinya sembari menggumam. "Sebentar lagi."


Ting...


Tong..


Seketika mereka semua mendengar suara bunyi bell rumah.


Ketika Harsha ingin berdiri, Adam sudah terlebih dulu bersujud.


"Biarkan aku saja yang membukakan pintunya alien tengil!"


"Hahahahaha."


Semuanya langsung tertawa keras ketika mendengar ucapan kejam dari Adam yang ditujukan untuk Harsha.


"Dasar siluman kelinci sialan!"


"Iya,iya!"


Setelah mengatakan itu, Adam langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang tamu guna untuk membukakan pintu.


^^^


Cklek..


Pintu terbuka. Adam melihat dua orang pemuda yang berdiri membelakangi pintu.


"Kakak sudah datang?!"


Baik Gerard maupun Bethran langsung membalikkan badannya untuk melihat kearah Adam.


"Maaf terlambat."


"Tidak sama sekali."


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau menyuruhku datang kesini?"


Mendengar pertanyaan dari Gerard seketika Adam tersenyum. Dapat Adam lihat tatapan bingung di mata Gerard.


"Masuklah dulu. Setiba di dalam, kakak akan tahu sendiri."


Setelah itu, Gerard dan Bethran masuk ke dalam rumah besar Abimanyu.


Adam melangkahkan kakinya terlebih dahulu meninggalkan Gerard dan Bethran di belakang.


"Paman Jordan! Bibi Ghiska! Lihatlah kemari!" seru Adam seketika setelah tiba di ruang tengah.


Jordan dan Ghiska langsung melihat kearah Adam. Begitu juga dengan yang lainnya. Semuanya melihat kearah Adam.


"Paman Jordan, Bibi Ghiska! Coba lihat kesana!" seru Adam sembari menunjuk kearah seseorang akan masuk.


Detik kemudian...


Deg..