THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kilas Balik Perkelahian Adam Dan Saga Melawan Torrik



"Dam, ini kakak. Bangun dong sayang!" Garry menangis ketika melihat adiknya yang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Tangannya mengusap-usap lembut kepala adiknya sehingga memperlihatkan kening putihnya.


Garry kemudian mencium kening adiknya dengan penuh sayang. Tanpa diminta air matanya mengalir membasahi pipinya.


Tak jauh beda dengan Garry. Danish yang duduk di seberang tempat tidur adiknya sudah menangis terisak. Hatinya sesak melihat adiknya harus kembali masuk rumah sakit.


"Adam, adik kesayangannya kakak. Kenapa harus masuk rumah sakit lagi? Apa ini memang sudah menjadi hobi kamu ya?" tanya Danish dengan tangannya mengusap punggung tangan adiknya kemudian menciumnya.


Garry dan Danish menangis melihat adik kesayangannya terbaring di tempat tidur dengan banyak alat di tubuhnya.


Evan dan Utari juga tak kalah terisak melihat putra bungsunya yang kembali terbaring di rumah sakit. Mereka secara bergantian memberikan ciuman di kedua pipi dan kening putranya.


"Sayangnya Mama."


"Putranya Papa."


Anggota keluarga Bimantara yang lainnya, anggota keluarga Abimanyu dan keluarga Palavi berdiri tak jauh dari tempat tidur Adam. Mereka semua menangis ketika menatap wajah pucat Adam dan menatap alat-alat medis yang menempel di tubuh Adam.


Bukan hanya anggota keluarga Adam saja yang menangis. Ketujuh sahabatnya Adam, Ricky, para sahabatnya dari para kakak-kakaknya juga sudah dalam keadaan menangis.


Flashback On


Bagh.. Bugh..


Duagh..


Kreettt.. Kreettt..


Bagh.. Bugh...


Duagh..


Terdengar pukulan, tendangan dan pelintiran anggota tubuh musuh sehingga membuat Adam, Saga dan Torrik sama-sama merasakan kesakitan di anggota tubuhnya.


Adam dan Saga berulang kali mendapatkan tendangan di perut. Sementara Torrik mendapatkan tendangan bertubi-tubi dari Adam dan Saga.


Adam, Saga dan Torrik memberikan pukulan demi pukulan serta tendangan demi tendangan membabi-buta dan tanpa ampun.


Sementara para kakaknya, sahabat-sahabatnya dan para sahabat kakaknya dan para anggota dari Ricky dan Rasky menatap kearah Adam dan Saga khawatir dan takut. Bahkan mereka melihat bagaimana Adam dan Saga yang tampak kesakitan akibat tendangan dari Torrik.


Bugh.. Bugh..


Duagh..


"Aakkhh!" teriak Torrik akibat mendapatkan tendangan kuat dari Adam dan Saga.


Adam dan Saga menatap Torrik dengan tatapan penuh amarah dan dendam, terutama Saga. Air mata Saga tak henti-hentinya mengalir setiap kali dirinya memberikan pukulan dan tendangan kepada Torrik yang berstatus Pamannya sendiri.


"Kau manusia tak punya hati, Paman! Apa kesalahan Papi padamu?! Papi selalu baik, selalu bersikap sopan dan selalu menghormatimu. Tapi kenapa kau membunuhnya?!" teriak Saga dengan berlinang air mata.


Duagh..


Saga kembali memberikan tendangan kepada Torrik. Di pikiran Saga saat ini adalah ingin mengakhiri semuanya dengan cara membunuh Torrik. Menurut Saga, jika Torrik sang Paman tetap hidup. Kemungkinan besar dirinya dan bahkan ibunya juga akan dibunuh oleh Pamannya itu. Karena Torrik sudah tahu sifat asli dari Pamannya itu. Bahkan Saga pernah melihat ibunya disakiti oleh Torrik.


Semuanya menangis ketika mendengar ucapan dan kemarahan dari Saga. Terlihat jelas dari sorot mata Saga. Begitu juga dengan Adam.


Saga dan Adam kembali menyerang Torrik dimana kondisi Torrik sudah tak baik-baik saja. Tanpa Adam dan Saga ketahui bahwa Torrik memegang sesuatu di balik lengan bajunya yang panjang.


Ketikan Adam dan Saga hendak kembali menyerang Torrik, tiba-tiba Adam merasakan sakit luar biasa di kepalanya sehingga membuat dirinya tak konsentrasi ketika menyerang Torrik.


Melihat Adam yang kesakitan membuat Garry, Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta serta yang lainnya menatap khawatir Adam. Begitu juga dengan Saga. Saga langsung melihat kearah Adam yang posisinya tak jauh dari Torrik.


Ketik Torrik sedikit lagi mendekati Saga dengan sesuatu di tangannya, Adam seketika melihat kearah Torrik yang hendak menyerang Saga.


Bruukk..


Jleb..


"Aakkhhh!"


"Adam!" teriak Garry, Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya.


"A-adam!" teriak Saga yang saat ini tubuhnya terjatuh di tanah akibat didorong oleh Adam.


"Aakkhhh!" teriak Adam ketika merasakan pisau tersebut makin menekan semakin dalam.


"Adam!" teriak Garry, Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya.


"Adam!" teriak Saga.


Adam memegang kuat tangan Torrik yang saat ini masih terus menekan pisau tersebut ke perutnya.


"Pergilah susul sahabatmu Ariel ke akhirat!" ucap Torrik dengan menekan kuat pisau yang dipegangnya sehingga membuat Adam kembali berteriak.


"Adam!" teriak Saga, Garry, Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya.


Sebelah tangannya langsung mencekik leher Torrik dengan kuat sehingga membuat Torrik terbatuk-batuk akibat cekikan kuat yang diberikan Adam.


"K-kau tak semudah itu membunuhku. Dalam kamus hidupku. Sebelum musuh-musuhku mati, maka aku tidak akan mati. Aku akan mati jika musuh-musuhku sudah mati di tanganku," ucap Adam dengan menatap penuh seringai wajah Torrik.


*Mendengar ucapan dari Adam membuat Torrik menatap tak percaya kearah Adam. Dirinya dapat melihat dari tatapan mata Adam yang tampak berbeda dari sebelumnya. Tatapan mata Adam kali ini benar-benar menakutkan.


Adam mencekik kuat leher Torrik sehingga membuat Torrik melepaskan tangan dari pisau yang menancap di perut Adam. Kemudian kedua tangannya itu memegang tangan Adam yang mencekik lehernya.


"Aakkkhhh!" teriak Torrik ketika merasakan kesakitan di lehernya.


"Se-sekarang siapa yang akan ma-mati terlebih dahulu, hum? Aku atau kau?" ucap Adam lirih dan terbata.


"Kau sudah membunuh sahabatku dan juga sudah membuat gadisku duduk di kursi roda. Dan kau juga yang sudah membunuh kedua orang tua dari gadisku," ucap Adam yang tangannya makin kuat mencekik leher Torrik.


Keadaan Torrik saat ini benar-benar dalam keadaan tak baik-baik saja. Nyawanya sudah diujung tanduk. Dirinya juga sulit bernafas akibat cekikan kuat dari Adam.


"Pergilah kau ke neraka. Jika kau bertemu dengan adik iparmu, sahabatku Ariel dan kedua orang tuanya dari gadisku. Mohon ampunlah kepada mereka."


Dengan sisa tenaga, Adam kemudian menggerakkan tangannya lalu melemparnya kearah dimana sebuah dinding yang dihiasi dengan pecahan batu-batu runcing sehingga membuat tubuh Torrik merasakan sakit yang luar biasa dengan kepala membentur kuat di bagian batu-batu runcing yang menempel di dinding tersebut.


Akibat lemparan yang dilakukan oleh Adam terhadap tubuh Torrik membuat tubuh Torrik tersungkur di lantai dengan bermandikan darah. Darah tersebut keluar dari bagian kepalanya.


Melihat hal tersebut membuat semua menatap ngeri. Ini adalah untuk pertama kalinya mereka melihat Adam yang membunuh musuhnya begitu mengerikan.


Prang..


Brukk..


Seketika tubuh Adam jatuh terduduk di tanah bersamaan dengan pisau yang ada di tangan kirinya.


"Adam!" teriak Saga, Garry, Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya. Mereka semua berlari menghampiri Adam dengan air mata membasahi pipi masing-masing*.


Flashback Off