THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Pembalasan Adam



Adam sudah berada di dalam kamarnya dan dirinya juga tak lupa mengunci kamar itu agar si kingkong tidak bisa masuk ke dalam kamarnya.


Adan tidak menyadari satu hal. Danish sang kakak sudah membuat kunci duplikat kamarnya. Jadi dengan kunci itu, Danish bisa masuk ke dalam kamarnya tersebut.


CKLEK!


Pintu di buka oleh seseorang. Dan Adam sama sekali tidak menyadarinya. Orang itu adalah Danish.


Saat pintu dibuka, Danish langsung melangkah masuk ke dalam kamar adiknya. Dan dapat dilihat olehnya, sang adik sedang tidur tengkurap di tempat tidur sembari mendengar musik dan telinganya telah tersumbat dengan earphone.


Danish tersenyum bahagia melihat adiknya. Dalam hatinya, dirinya bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk menyayangi dan menjaga adik satu-satunya.


"Kakak berjanji padamu, Dam! Kakak akan menjadi kakak yang terbaik untukmu. Kakak akan selalu membuatmu tersenyum. Kau adalah adik kesayangan kakak," batin Danish.


Danish pun menghampiri adiknya yang tengah fokus dengan dunianya.


BRUUKKK!


"Kena kau." Danish naik ke atas tempat tidur adiknya dan langsung duduk di atas punggungnya.


Hal itu sukses membuat Adam terkejut dan langsung melepaskan earphone yang terpasang di telinganya.


"Yak! King Kong. Dari mana kau masuk!" teriak Adam.


"Ya dari pintulah. Dari mana lagi," jawab Danish santai.


Lalu Adam melihat kearah pintu dan benar saja, pintu kamarnya terbuka.


"Sialan. Dari mana kau mendapatkan kuncinya. Bukannya pintu kamar itu aku kunci dari dalam," ucap Adam.


"Kau sudah salah bermain denganku siluman kelinci," ejek Danish.


"Yak! Danish. Lepaskan aku!" teriak Adam dan hal itu sukses membuat anggota keluarganya yang berada di ruang tengah terkejut.


^^^


Utari, Evan serta anggota keluarga lainnya masih berkumpul di ruang tengah. Memang hari ini mereka sengaja menghabiskan waktu berkumpul bersama sembari menunggu waktu makan malam.


Saat mereka semua sedang berbincang-bincang. Mereka dikejutkan suara teriakan dari Adam.


"Yak! Danish. Lepaskan aku!" teriak Adam.


"Hei, itu suara teriakan Adam!" seru Kamila.


"Akhirnya kita mendengar suara teriakan dari sikelinci nakal itu," ujar Alin.


"Sudah lama kita menunggu momen-momen ini. Akhirnya terkabul juga," Yodha ikut merasakan hal tersebut.


"Tapi kali ini beda. Biasanya yang menjadi tersangkanya adalah Harsha. Sekarang Danish," kata Rafiq.


"Waaahh! Berarti mulai sekarang akan ada dua orang yang akan membuat sikelinci nakal itu berteriak di rumah ini!" seru Juan.


"Danish sialan. Lepaskan aku. Mama... Papa tolongin aku. Si Kingkong ini ingin membunuhku!" teriak Adam.


Harsha dan Ardi yang penasaran akan teriakan Adam memutuskan untuk pergi menuju kamar Adam.


Melihat Harsha dan Ardi pergi menuju kamar Adam yang lainnya pun menyusul di belakang. Mereka juga kepo tentang apa yang dilakukan oleh Danish pada Adam.


^^^


Danish masih duduk di atas punggungnya Adam. Jangan salah, Danish tidak terlalu kuat mendudukinya. Kedua lutut Danish menumpu di atas kasur. Jadi punggung Adam tidak terlalu sakit. Bagaimana pun Danish juga tidak ingin menyakiti adiknya. Danish hanya membuat Adam tidak berkutik sama sekali di bawahnya dengan kedua tangan Adam diapit oleh kedua kakinya.


"Lepaskan aku Kingkong sialan!"


"Ooh, maaf kelinci gembul. Sebelum kau memanggilku kakak. Aku tidak akan melepaskanmu."


"Hahaha. Maaf. Aku tidak akan memanggilmu kakak. Siapa juga yang sudi punya kakak sepertimu. Sudah jelek, tua, keras kepala dan egois lagi." Adam berucap sembari mengumpati kakaknya itu.


Tanpa Adam dan Danish sadari. Anggota keluarganya saat ini sedang mengintip di depan kamar. Dapat mereka lihat bahwa Danish yang sedang berusaha untuk membuat Adam mau memanggilnya kakak dengan cara Danish mencubit hidung mancungnya dan juga mencubit kedua pipi gembil adiknya itu berulang kali.


"Yak! Berhentilah mencubit hidung dan wajahku, bodoh!" teriak Adam sembari terus meronta dalam kungkungan Danish.


"Panggil aku kakak."


"Tidak."


"Oooh, baiklah."


Danish kembali mencubit hidung mancung Adam sehingga membuat Adam menggelengkan kepalanya brutal. Setelah puas, Danish mengacak-acak rambut adiknya.


"Oke, fine! Hentikan kak!" teriak Adam.


"Hei, itu tidak sopan dan bahkan kau terpaksa melakukannya." Danish masih terus membuat adiknya mau memanggilnya kakak dengan lembut.


"Kakakku yang paling tampan dan baik hati. Please! Lepaskan aku. Katakan seperti itu. Baru kakak akan melepaskanmu."


Sedangkan anggota keluarganya yang sedari mengintip tertawa kecil diluar. Mereka tidak habis pikir dengan rencana Danish hanya untuk membuat Adam mau memanggilnya kakak.


"Dasar licik," ucap Garry.


"Yak! Jangan harap aku akan mengabulkannya."


"Ya, sudah! Kakak juga betah kok lama-lama berada di atas panggungmu ini," sahut Danish yang terus menjahili adiknya.


"Jangan gila," kesal Adam.


"Kau tidak punya pilihan lain, kelinci gembul."


"Eemm. Seperti aku harus melakukannya agar aku bisa lepas secepatnya. Setelah aku berhasil lepas. Aku akan memberikan sesuatu yang tak diduga oleh si Kingkong sialan ini," batin Adam.


"Baiklah. Aku akan lakukan. Awas saja kalau kau tidak menepati janjimu. Seumur hidupku aku akan menghapus dirimu dalam kehidupanku," ucap dan ancam Adam.


"Baik."


"Kakakku yang paling tampan dan baik hati. Please! Lepaskan aku. Aku mohon kak," ucap Adam lembut.


Danish tersenyum gemas dan juga bahagia saat Adam mengucapkan kata-katanya itu. Ditambah lagi Adam menambah sedikit kata di belakang kata-katanya itu.


Anggota keluarganya yang masih mengintip terkikik geli mendengar ucapan Adam saat memohon pada Danish.


Setelah mendengar kata-kata tersebut dari mulut Adam. Danish pun beranjak dari punggung adiknya.


Adam yang merasa tubuhnya sudah terlepas langsung membalikkan badannya menjadi terlentang. Dapat dilihat oleh Danish, adiknya itu ngos-ngosan sembari memejamkan matanya.


"Sialan," umpat Adam.


Sedangkan Danish hanya terkekeh mendengar umpatan dari sang adik. Tak jauh beda dengan anggota keluarganya yang masih mengintip. Mereka tersenyum bahagia melihat keduanya.


"Kalau sampai punggungku remuk kakak harus bertanggung jawab," ucap Adam.


"Dengan senang hati," jawab Danish.


Setelah merasa puas. Adam membuka kedua matanya dan menduduki tubuhnya. Detik kemudian Adam turun dari tempat tidur. Danish yang melihat adiknya turun, dirinya juga ikut turun.


Kini keduanya sudah dalam posisi berdiri. Tiba-tiba terlintas ide di kepalanya. "Bisa dicoba nih," batin Adam.


"Aaakkkkhhh!" Adam mengerang sakit sembari memegang perutnya.


Mendengar erangan dari adam, Hal itu sukses membuat Danish panik. Tak jauh beda dengan anggota keluarganya yang masih mengintip. Tapi mereka tetap membiarkan keduanya. Mereka masih ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.


Danish langsung mendekati adiknya. Tangan kirinya memegang bahu kanannya dan tangan kanannya menyentuh wajahnya.


"Dam. Kau tidak apa-apa, hum? Apa yang sakit? Katakan pada kakak."


"Yang sakit..." Adam menghentikan ucapannya.


BUGH!


Adam memukul perut Danish dengan sikunya sehingga membuat Danish meringis.


"AAAKKHHH."


"Itu yang sakit," jawab Adam tersenyum puas.


Setelah selesai melakukan pembalasan, Adam pergi meninggalkan Danish sendirian di kamarnya.


Saat adam sudah di depan pintu kamarnya, Adam melihat seluruh anggota keluarganya tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Aish! Kenapa kalian ada disini?" tanya Adam kesal.


Setelah itu Adam pun pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju lantai bawah dan duduk di ruang tengah.


"Yak! Dirandra Adamka Bimantara. Kau curang!" teriak Danish.


Danish pun memutuskan untuk turun ke bawah. Dan dapat dilihat olehnya anggota keluarganya semuanya melihat kearahnya.


"Kenapa kalian semua ada disini?"


"Jelaslah kami ada disini. Itu semua karena kami mendengar suara teriakan sikelinci nakal itu," jawab Ardi.


"Dan itu semua gara-gara dirimu," ucap Garry.


Lalu mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Adam untuk turun ke bawah.