
Setelah mendorong Harsha dan mengakibatkan Harsha terjatuh. Adam langsung berlari keluar dari kamarnya dan berteriak.
Sedangkan Harsha berusaha mati-matian menahan rasa sakit di pantatnya akibat didorong kuat oleh Adam.
"Mamaaaa! Keponakanmu yang otak kotor itu ingin menodai kepolosan putramu satu-satunya ini. Sialien laknat itu ingin merampas harga putramu!" teriak Adam sambil berlari menuruni anak tangga.
Utari yang mendengar teriakan putranya langsung segera menghampiri putranya itu.
Sedangkan anggota keluarga yang mendengar pernyataan Adam melongo dan membelalakkan mata mereka.
"Memangnya apa yang dilakukan Harsha padamu, Dam?" tanya Reza.
"Sialien laknat itu ingin mencium bibirku?" jawab Adam polos.
"Hah!" ucap mereka semua kompak.
Lalu terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
TAP!
TAP!
TAP!
Ya. Siapa lagi kalau bukan Harsha. Harsha berjalan sambil memegang pantatnya yang sakit sambil mulutnya berkomat-kamit mengumpati sikelinci sialan.
"Harsha, kau kenapa?" tanya Alin sambil yang berusaha menahan tawanya.
"Tanyakan saja pada siluman kelinci laknat itu??" ucap Harsha kesal.
Adan tersenyum kebahagiaan. "Itu salahmu sendiri. Kenapa malah balik menyalahkanku? Dasar alien otak mesum," ejek Adam sambil menjulurkan lidahnya kearah Harsha.
Para anggota keluarga yang menyaksikan perdebatan keduanya hanya geleng-geleng kepala.
"Lalu siapa disini yang bersalah?" tanya Davan pada Harsha dan Adam bersamaan.
"Dia!" Adam dan Harsha saling tunjuk.
"Kenapa kau menunjukku?" protes Harsha.
"Kenapa juga kakak menunjukku?" balas Adam tak terima.
"Kau yang membuat kakak kesakitan seperti ini," kata Harsha.
"Itu hukuman untukmu. Siapa suruh punya pikiran kotor? Kakak pikir aku ini laki-laki apaan? Sampai-sampai tuh bibir main nyosor begitu," pungkas Adam dengan menatap horor Harsha.
"Bekas ciumanmu di pipiku saja, aku butuh satu minggu berendam untuk menghilangkannya. Dan sekarang kakak mau melakukannya lagi. Aku tidak sudi dicium oleh makhluk alien sepertimu," tutur Adam dengan wajah dibuat-buat menantang.
Harsha melotot mendengar penuturan Adam. "Yak! Kau pikir aku makhluk apaan? Aku ini manusia tahuuu!" dengus Harsha.
"Haha. Manusia jadi-jadian, iya!" ejek Adam.
"Yak, kau! Dasar siluman kelinci sialan. Kemari kau..." amuk Harsha, lalu berlari mengejar Adam. Dan terjadi kejar-kejaran antara sikelinci dan sialien.
Semua penghuni yang menyaksikan perseteruan dan aksi kejar-kejaran dua keturunan keluarga Abimanyu hanya bisa pasrah dan tepok jidat. Tidak ada yang berniat untuk menghentikan kegiatan mereka berdua. Kalau mereka lelah, mereka akan berhenti dengan sendirinya. Mereka terus menyaksikan aksi kejar-kejaran antara kelinci dan alien. Siapakah diantara keduanya yang akan menyerah duluan?
"Yak! Siluman kelinci, berhenti. Kakak capek tahuuu!" teriak Harsha.
"Enak saja. Kalau aku berhenti. Kau pasti akan membunuhku. Aku belum mau mati ditangan alien tengil sepertimu. Lebih baik aku mati ditabrak kereta api dari pada mati di tangan seorang Ekawira Harsha Abimanyu yang berotak kotor dan juga mesum!" teriak Adam.
Lagi-lagi kata dan ucapan Adam membuat Harsha melotot dan melongo. "Aish. Dasar siluman kelinci kudisan sialan. Kalau aku punya kekuatan super, aku akan tendang kau sampai keluar dari Jakarta dan terdampar di pulau yang tak berpenghuni!" teriak Harsha kesal.
"Tapi nyatanya kau tak memiliki kekuatan apapun untuk menendangku sejauh itu kak Harsha kecebong busuk," balas Adam yang tak mau kalah.
Saat Adam dan Harsha masih melakukan aksi kejar-kejaran, tiba-tiba terdengar suara bunyi ponsel milik Adam dan Adam pun tanpa menyadari berhenti dari larinya dan menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, kak. Ada hal apa kau menghubungiku?" tanya Adam.
"Hallo, juga adik manis. Apa kau punya waktu? Apa kau sibuk hari ini?" tanya pemuda di seberang telepon itu.
"Eeemmm. Tidak! Memang kenapa, kak?" tanya Adam.
"Kita ketemuan, yuk!" ajak pemuda di seberang telepon.
"Tidak harus sekarang juga. Bagaimana kalau siang nanti?" balas pemuda di seberang telepon.
"Oke!" jawab Adam.
Harsha yang melihat Adam yang sedang berdiri. Mencuri kesempatan untuk menangkap sikelinci nakalnya, lalu Harsha pun berlari dan memeluk Adam dari belakang.
GREP!
"Kena kau kelinci nakal!" seru Harsha.
Hal itu sukses membuat Adam hampir saja membuat ponsel miliknya jatuh. "Yak! Apa yang kau lakukan, kak? Kau curang. Dasar marmut kudisan! Lepaskan aku!" teriak Adam.
Garry yang mendengar Adam berteriak sampai membuat dirinya terkejut. "Hallo, Adam. Kau kenapa?"
"Ach, Maaf kak. Ini ada manusia jadi-jadian di rumahku. Dia setengah manusia dan setengahnya lagi alien yang berasal dari luar angkasa yang nyasar ke bumi. Dia selalu membuat hidupku menderita. Oh ya, kak! Aku akan menemuimu sekitar pukul sebelas tiga puluh," ucap Adam.
"Oke! Kakak akan menunggumu di Cafe tempat waktu itu kita ketemu pukul sebelas siang nanti," kata pemuda itu.
"Baiklah, kaka! Kalau begitu aku tutup ya."
PIP!
***
Di kamar seorang pemuda tampan yang bernama Ayden Garry Bimantara, putra sulung dari Evan Hara Bimantara dan Erina Utari Abimanyu. Pemuda itu sangat amat bahagia setelah melakukan panggilan telepon dan berbicara pada adiknya yang selama ini ia rindukan. Dan dirinya sudah tidak sabaran untuk segera bertemu adiknya kembali untuk yang keempat kalinya. Saat Garry lagi bahagia. Terdengar suara pintu kamarnya dibuka.
CKLEK!
Dan masuklah seorang pemuda tampan ke kamarnya. Pemuda itu adalah Danish, sang adik.
"Wooi, melamun aja. Senyum-senyum lagi!" teriak Danish dan hal itu sukses membuat Garry terkejut.
"Aish, kau ini kebiasaan sekali masuk ke kamar orang tanpa permisi," kesal Garry. Sedangkan Danish hanya cengengesan tak jelas.
"Ada apa sih, kak? Kelihatannya bahagia sekali?" tanya Danish penasaran.
"Kakak barusan menghubungi Adam, adik kita." Garry menjawab pertanyaan dari Danish.
Terukir senyuman di bibir Danish. "Benarkah? Lalu apa reaksi Adam saat menerima telepon darimu, kak?" Danish bertanya dengam antusias.
"Responnya baik, karenakan Adam belum tahu kakak ini adalah kakak kandungnya. Dan hubungan kakak dan Adam kan baik-baik saja. Hubungan kami berdua terjalin saat kakak menolongnya waktu kecelakaan itu. Dan kakak mengajaknya untuk ketemuan di Cafe." Garry berbicara dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Bagaimana menurutmu, Danish?" tanya Garry.
"Eeeemmmm. Aku ikut senang kak. Kita sebagai kakak-kakaknya harus membuat kenangan manis terlebih dahulu. Setelah itu baru kita memberitahunya bahwa kita bersaudara. Jadi, saat Adam mengetahui kebenarannya, Adam tidak akan terlalu kecewa ataupun marah pada kita." Danish menjawab pertanyaan dari kakaknya.
"Kau benar sekali, Danish. Kakak yakin bahwa adik kita pasti menyimpan rasa sakit di hatinya, mengetahui kalau Papa tidak mau mengakuinya saat itu. Kakak jadi takut bagaimana nanti reaksinya saat dia mengetahui bahwa kita adalah kakak-kakaknya dan Papa adalah Papanya?" tutur Garry.
"Kau tenang saja, kak. Jangan pikirkan hal itu dulu. Pikirkan saja bagaimana cara kita membuat Adam bahagia. Itu yang paling penting untuk saat ini," hibur Danish.
Garry mengangguk sebagai tanda setuju atas ucapan adiknya. Dia pun kembali tersenyum.
"Ya, sudah. Bersiap-siaplah, kak. Berdandanlah dengan rapi. Kau harus kelihatan tampan didepan adik bungsu kita!" seru Adam menyemangati.
"Eeemm!" Garry mengangguk.
Tanpa diketahui oleh Garry dan Danish. Dhira menguping pembicaraan mereka dari luar kamar Garry.
"Oooh! Mau bertemu dengan sibungsu ternyata, ya! Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan adikmu, Garry!" seringai Wanita itu di luar kamar.
Dhira mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan sebuah pesan.
To : Alex
Cegat anak ini di jalan. Jangan biarkan dia bertemu seseorang. Habisi dia. Dia akan menemui seseorang siang ini. Awasi dia.
From : Alex
Baik.
Dhira tersenyum kebahagiaan. Dia akan melakukan segala cara untuk menjauhkan mereka.