
Anggota keluarga Abimanyu sudah berkumpul di meja makan, termasuk Vigo dan ibunya. Mereka akan sarapan pagi bersama.
Vigo dan ibunya masih berada di rumah keluarga Abimanyu karena Adam melarang mereka untuk kembali pulang ke rumah. Adam tidak ingin keduanya juga diculik oleh saudara angkat dari Ayah angkatnya itu.
Namun ketika mereka ingin memulai sarapan pagi, salah satu dari mereka menyadari sesuatu yang kurang.
"Eh, tunggu dulu. Adam belum bergabung dengan kita!" seru Dzaky.
Mendengar penuturan dari Dzaky, mereka pun melirik satu persatu anggota keluarga yang telah duduk di meja makan. Dan benar saja, mereka tidak melihat sosok kesayangannya.
"Ya, sudah! Kalian sarapanlah dulu. Biarkan aku yang memanggil sikelinci nakal itu," ucap Utari.
Disaat Utari ingin berdiri, Garry pun bersuara. "Ma, biar aku saja."
Utari tersenyum pada putra sulungnya. "Baiklah sayang. Bujuk adikmu untuk ikut sarapan. Semalam adikmu itu tidak ikut makan malam."
"Baik, Ma!"
Setelah itu, Garry pun bangkit dari duduknya lalu berjalan untuk menuju kamar adiknya di lantai dua.
"Aku merasa kasihan dan tidak tega melihat keadaan Adam seperti sekarang ini. Dari kecil sampai sekarang Adam masih saja belum menemukan kebahagiaan seutuhnya!" seru Alin.
"Ya. Alin benar. Adam selama ini selalu menangis. Hanya sedikit kebahagiaan yang dirasakan olehnya. Ketika Adam bertemu dengan Papa dan kedua kakaknya aku bisa melihat raut kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Sekalipun Adam tidak memperlihatkannya pada kita malah justru memperlihatkan kebenciannya. Tapi di dalam lubuk hatinya Adam sangat merindukan Papa dan kedua kakaknya itu. Namun sayangnya, baik Adam maupun kita semua kembali dipisahkan. Selama lima bulan lebih kita berpisah dengan Adam. Begitu juga dengan Adam." Kamila berucap sedih.
"Sekarang Adam sudah kembali dengan kita. Awalnya kita pikir dengan Adam kembali hidup kita semua akan bahagia. Tapi pikiran kita salah. Lagi-lagi masalah kembali mendatangi kita. Masalah kembali menghampiri kita dan membuat kesayangan kita menderita dan juga bersedih. Ditambah lagi dengan kondisi kesehatannya yang saat ini benar-benar menurun." Davan sangat sedih melihat kondisi Adam keponakannya.
Mendengar penuturan dari Alin, Kamila dan Davan membuat mereka menjadi sedih, terutama Utari dan Evan. Mereka benar-benar khawatir akan putra bungsunya.
^^^
Di kamar Adam sedang duduk termenung di balkon. Adam sedang memikirkan keadaan Papa dan kakak angkatnya. Dirinya berharap Papa dan kakaknya itu baik-baik saja.
"Hiks... Pa, kak... Hiks... Nicolaas. Aku merindukan kalian. Aku berharap kalian baik-baik saja. Bertahanlah demi aku, Mama dan kak Vigo. Aku berjanji akan menyelamatkan kalian." Adam berbicara sembari terisak.
Tanpa Adam sadar sang kakak, Garry sudah berada di dalam kamarnya. Dan mendengar apa yang diucapkannya.
Garry yang mendengar ucapan dan juga isakan adiknya menjadi tidak tega. Hatinya benar-benar sakit saat mendengar isakannya.
Dikarenakan Garry tidak tahan melihat kesedihan adiknya. Garry pun memutuskan untuk menghampiri adiknya itu.
PUK!
Garry memukul pelan bahu adiknya dan hal itu sukses membuat Adam terkejut dan buru-buru menyeka air matanya.
"Aish, kakak! Kau suka sekali mengagetkanku," ucap Adam dengan bibir yang dimanyunkan.
Garry tersenyum gemas saat mendengar ucapan dari adiknya lalu menggenggam tangannya.
"Kakak sangat tahu dan juga sangat mengerti apa yang sedang kamu alami. Tapi kakak tidak ingin kamu jatuh sakit karena larut dalam masalah ini. Kamu punya dua kakak. Kakak dan Danish. Punya Ardi dan Harsha. Kamu juga punya Mama dan Papa, Kakek, Paman dan Bibi serta kakak-kakak kamu yang lainnya. Kamu tidak sendirian. Berbagilah dengan kami semua."
Garry mengelus lembut rambut Adam lalu kemudian mengecup kening adiknya itu.
"Ya sudah. Lebih baik sekarang kita ke bawah untuk sarapan. Bagaimana pun kamu harus sarapan. Semalam kamu tidak ikut makan malam bersama kakak dan yang lainnya. Jadi sekarang kamu harus ikut sarapan," bujuk Garry.
"Baiklah, kak." Adam menjawab perkataan Garry.
Mendengar jawaban dari Adam membuat Garry tersenyum bahagia. Akhirnya dirinya berhasil membujuk adiknya untuk ikut sarapan pagi.
^^^
Kini Adam dan Garry sudah berada di meja makan. Adam duduk diantara Garry dan Danish.
Mereka sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan. Sesekali mereka melontarkan kata-kata lucu sehingga membuat mereka tertawa.
Namun tidak dengan Adam. Sedari tadi dirinya hanya diam sambil mengaduk-aduk sarapannya.
Yodha yang menyadari cucu kesayangannya yang sedari hanya mengaduk-aduk sarapannya dan juga sedikit melamun, merasakan sesak di dadanya. Dirinya ingin cucunya kembali seperti dulu. Cucunya yang penuh kejahilan, cucunya yang penuh umpatan, cucunya yang selalu ceria dan cucunya yang selalu bersikap manja padanya dan juga pada yang lainnya.
Yodha yang sudah tidak tahan melihat cucunya melamun dan hanya mengaduk-aduk sarapannya, akhirnya menegur cucunya itu.
"Adam. Kenapa sarapannya hanya di aduk-aduk saja, sayang?" tanya Yodha.
Mendengar pertanyaan dari Yodha. Mereka semua melihat kearah Adam. Dan benar saja, Adam sama sekali tidak memakan sarapannya. Mereka semua menatap sendu Adam.
PUK!
Dan hal itu sukses membuat Adam tersentak. Adam menatap Garry dengan tatapan horornya.
"Aish, kakak! Kenapa sih kakak hobi sekali mengagetkanku?" tanya Adam dengan merengut kesal.
Baik Garry maupun anggota keluarga lainnya tersenyum gemas ketika melihat wajah kesal Adam.
"Sayang. Ada apa, hum? Kenapa sarapannya hanya di aduk-aduk? Kamu harus makan, Nak! Mama tidak ingin kamu jatuh sakit," ucap Utari.
Adam menatap wajah cantik ibunya dengan tatapan sendunya. Melihat tatapan putra bungsunya membuat hati Utari merasakan sakit yang begitu mendalam. Utari paling tidak suka jika melihat putra-putra bersedih karena itu adalah kelemahannya. Apalagi melihat kesedihan dimata putra bungsunya.
Ketika Adam ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba salah satu pelayan menghampiri mereka.
"Maaf Tuan besar, Nyonya, Tuan."
"Iya. Ada apa, Bi?" tanya Kamila.
"Diluar ada dua orang pemuda yang mencari Tuan muda Adam."
Mendengar ucapan dari pelayan tersebut, mereka semua dengan kompak melihat kearah pelayan itu.
"Mencariku?" tanya Adam.
"Iya, Tuan muda."
"Siapa?" tanya Adam lagi.
"Mereka tidak menyebutkan namanya, tuan muda. Tapi mereka bilang kalau mereka datang dari Amerika."
Mendengar ucapan dari pelayan itu, raut wajah Adam berubah seketika. Adam berusaha berpikir keras.
Adam memang sudah mengingat siapa dirinya dan keluarganya. Hanya sebagian memori Adam yang kembali.
Adam terus berusaha mengingat tentang kedua pemuda yang berasal dari Amerika tersebut.
Adam meremat rambutnya disaat merasakan sakit di bagian kepalanya.
"Aakkhhh."
Mendengar erangan tiba-tiba dari Adam membuat mereka semua menatap Adam khawatir.
"Adam."
Mereka semua tampak panik saat mendengar erangan dari Adam, ditambah lagi Adam yang meremat kuat rambutnya.
Garry menyentuh tangan adiknya dan menyingkirkan tangannya itu dari rambutnya.
"Adam. Jangan ditarik rambutnya," ucap Garry
"Sa-sakit kak," lirih Adam dan seketika air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.
"Iya. Kakak mengerti," ucap Garry lembut sembari mengelus lembut kepala adiknya.
Danish, Vigo, Ardi dan Harsha serta yang lainnya sudah menangis melihat Adam yang kesakitan.
"Adam. Jika kamu tidak bisa ingat dengan dua pemuda itu. Kamu tidak perlu memaksakan untuk mengingatnya. Hal itu bisa menyakiti kamu," ucap Harsha.
"Iya. Harsha benar. Jadi kau tidak perlu memaksa untuk mengingatnya, oke!" Danish berucap lembut sambil mengelus rambut Adam.
Evan menatap kearah pelayan tersebut. "Bi. Sekarang mereka ada dimana?"
"Mereka masih diluar, tuan!"
"Suruh mereka masuk, Bi!" Utari berucap.
"Baik, Nyonya."
Setelah mengatakan hal itu, pelayan itu pun pergi meninggalkan ruang makan.