
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan waktu untuk keluarga besar Abimanyu makan malam bersama. Dan semuanya sudah berada di meja makan, termasuk Adam.
Mereka semua makan malam dengan penuh kebahagiaan dimana Adam yang ikut makan malam bersama mereka semua. Dua malam Adam tidak ikut makan malam bersama mereka.
"Makan yang banyak ya sayang," ucap Utari sembari memasukkan sepotong ayam goreng ke piring putra bungsunya itu dan segelas susu coklat kesukaannya.
Yah! Selain susu pisang, Adam juga suka dengan susu coklat buatan ibunya. Susu coklat itu sudah menjadi candu untuk Adam.
"Terima kasih Ma," ucap Adam.
"Sama-sama sayang," balas Utari.
"Bagaimana kabar cucu tampan kakek ketika di Kampus, hum?" tanya Yodha.
Mendengar pertanyaan dari sang kakek. Adam, Danish, Ardi dan Harsha saling memberikan tatapannya masing-masing. Mereka menatap bingung.
Sementara para orang tua dan para kakak-kakaknya tersenyum gemas melihat wajah bingung Adam, Danish, Ardi dan Harsha.
Yodha yang mengerti tatapan dan wajah bingung cucunya seketika tersenyum.
"Hehehehe. Maafkan kakek yang bertanya tanpa mengatakan cucu-cucu kakek. Kata cucunya lupa disebut satu," sahut Yodha.
"Hahahaha." Dzaky, Rafig, Reza dan Juan seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari kakeknya.
"Kakek-kakek. Bisa-bisanya kakek melupakan satu kata 'cucu' di belakang kata 'cucu' satunya," ucap Rafig.
"Seharusnya kakek menyebut cucu-cucu kakek. Bukannya cucu kakek. Jadi wajarlah Adam, Danish, Ardi dan Harsha jadi bingung. Secara mereka itu satu kampus, walau beda jabatan," sahut Juan sembari tersenyum.
Semuanya tersenyum mendengar perkataan Juan dan Rafig. Apalagi ketika mendengar ucapan dari sang kepala keluarga yaitu sang ayah/sang kakek.
Disaat mereka sedang menikmati makan malamnya, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi.
Ting..
Tong..
"Eh, itu siapa bertamu disaat kita sedang makan malam?" tanya Kamila.
"Maaf Nyonya, tuan, tuan besar!"
"Ada apa, Bi? Siapa yang datang?" tanya Bagas.
"Saya tidak tahu tuan. Mereka berdua. Keduanya laki-laki. Dan mereka baru pertama kalinya datang kesini."
Semua anggota keluarga saling memberikan tatapan bingung. Bingung mau menerima atau menolak tamu tersebut.
"Apa Bibi ada bertanya?" tanya Garry.
"Ada tuan muda Garry. Salah satu pemuda itu mengatakan bahwa dia sedang mencari tuan muda Adam."
Seketika Adam menghentikan makannya. Dan jangan lupa matanya yang membulat.
"Saya?" tanya Adam langsung melihat kearah sang pelayan wanita itu.
"Ya, tuan muda!"
"Kamu kenal Adam?" tanya Harsha.
"Kenal bagaimana? Lihat wajahnya saja belum! Bibi saja tadi mengatakan bahwa dua tamu itu baru pertama kalinya kesini," jawab Adam dengan langsung ngegas.
"Yeeyyy! Santai dong. Kan cuma nanya doang," jawab Harsha kesal.
"Ada otak tapi nggak mikir ketika ingin bertanya. Dasar otak karatan. Badan aja yang besar. Tapi otak nggak pintar-pintar," ucap Adam seenaknya.
Seketika Harsha membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan kejam dari Adam. Dirinya menatap tajam kearah Adam.
Dan detik kemudian..
Bugh..
Harsha langsung melempari wajah Adam dengan sepotong nugget ayam ke wajah Adam. Dan lemparan Harsha tepat sasaran.
"Itu makanan bodoh! Kenapa-kenapa dilempar-lempar?" sahut Adam ketika mendapatkan lemparan nugget di wajahnya.
"Biarin! Mau lagi!" tantang Harsha.
Harsha mengambil dua potong nugget lalu melempari kearah wajah Adam. Namun sebelumnya itu terjadi sudah terdengar suara beberapa orang.
"Harsha!" Dzaky, Rafig, Reza, Juan dan Garry berseru bersamaan. Dan jangan lupa tatapan tajam kelimanya.
Seketika Harsha menciut mendengar seruan dan melihat tatapan mengerikan dari kelima kakak-kakaknya itu sembari meletakkan kembali nugget tersebut.
"Hahahahaha. Rasakan. Emak enak mendapatkan pelototan gratis," ejek Adam.
Sementara para orang tua tersenyum dan geleng-geleng kepala melihatnya. Begitu juga dengan Danis dan Ardi.
"Bi, suruh saja dulu mereka masuk!" ucap Utari.
"Tapi nyonya."
"Aku akan temani Bibi!"
Ardi langsung berdiri dari duduknya dan pergi bersama pelayan wanita itu menuju ruang tamu.
^^^
Kini semuanya sudah berada di ruang tamu bersama dengan dua pemuda yang tak mereka kenal sama sekali.
"Siapa mereka?" batin Adam, Danish, Ardi dan Harsha.
"Siapa kalian? Apa tujuan kalian datang kesini?" tanya Dzaky sebagai saudara tertua di keluarga Abimanyu.
"Perkenalkan nama saya Faas Gerard Pramana. Dan ini tangan kanan saya merangkap sebagai sahabat dan juga kakak laki-laki saya Bethran Siahaan."
Deg..
Seketika Adam terkejut ketika mendengar nama belakang dari pemuda. Pramana! Namanya sama dengan nama belakang Melky. Nama Melky adalah Balin Melky Pramana.
"Siapa kamu? Ke-kenapa nama belakang kamu sama dengan nama belakang sahabat saya?" tanya Adam.
"Kalau saya boleh tahu. Siapa nama sahabatmu itu?" tanya Gerard yang pura-pura tidak tahu.
"Balin Melky Pramana!" Adam langsung menjawab pertanyaan dari pemuda yang ada di hadapannya itu.
Mendengar nama lengkap adiknya disebut membuat hati Gerard seketika menghangat. Entah apa yang membuat Gerard bahagia ketika nama adiknya itu disebut. Mungkin ini efek dari rasa rindu dirinya terhadap adik laki-laki satu satunya. Begitu juga dengan rasa rindunya terhadap kedua orang tuanya.
"Saya datang kesini ingin meminta bantuan padamu, Dirandra Adamka Bimantara!"
Deg..
Adam sontak terkejut ketika mendengar pemuda yang memiliki kesamaan nama belakang dengan nama belakang sahabatnya mengetahui namanya secara lengkap. Begitu juga anggota keluarga Abimanyu. Mereka juga sama terkejutnya dengan Adam.
Yah! Gerard sudah mengetahui nama lengkap Adam dari tangan kanannya. Awalnya tangan kanannya itu hanya mengetahui nama Adam yang tak lain nama panggilan.
Dikarenakan rasa penasarannya, tangan kanan Gerard pun tergerak untuk mencari tahu nama lengkap dari Adam. Dan usahanya itu membuahkan hasil.
"Siapa kau?" tanya Ardi.
"Dari mana kau mengetahui nama adikku?" tanya Garry.
"Kalian tidak takut padaku. Aku bukan orang jahat. Aku datang kesini murni ingin meminta bantuan dengan Adam," sahut Gerard dengan menatap wajah Adam.
Mendengar perkataan dari Gerard membuat mereka semua merasa bersalah. Mereka dapat melihat di tatapan mata Gerard, ada sebuah kejujuran disana. Bahkan mereka juga bisa melihat ada kerinduan disana.
"Bantuan apa?" tanya Adam dengan lembut.
"Memberitahu keberadaan adikku. Lebih tepatnya keberadaan keluargaku," jawab Gerard. Dan seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Bethran yang duduk di sampingnya langsung mengusap-usap lembut punggung Gerard.
Deg..
"Apa? Adikku? Keluargaku?" batin Adam.
Seketika Adam membelalakkan matanya ketika mengingat apa yang dikatakan dan disampaikan oleh Zelo padanya tentang Melky dan keluarganya.
"Ka-kau... Kau adalah...."
"Aku adalah kakak kandung Balin Melky Pramana yang korban kecelakaan 13 tahun yang lalu bersama ayahku dan adik laki-lakiku satu satunya."
Deg..
Semuanya terkejut ketika mendengar pengakuan dari pemuda yang ada di hadapannya. Mereka tidak menyangka jika dipertemukan dengan kakak kandung Melky.
"Jadi benar bahwa kau adalah kakak kandungnya Melky?" tanya Danish.
"Iya. Aku putra sulung dari Olaf Jordan Pramana dan Faiqa Ghiska Sanjaya yang sekarang berubah menjadi Pramana."
Mendengar pengakuan dan penjelasan dari Gerard membuat mereka semua percaya bahwa Gerard adalah kakak kandung Melky.
Gerard menatap wajah Adam. Dirinya berharap Adam mau memberitahu dirinya dimana keluarganya tinggal sekarang.
Melihat tatapan penuh harap dari Gerard membuat Adam bingung untuk menjelaskan. Begitu juga Danish, Ardi dan Harsha. Mereka sudah tahu masalah yang dihadapi Melky dan keluarganya.
"Adam," panggil Gerard.
"Aku minta maaf. Melky... Melky sudah tidak ada di Jakarta. Dia pergi bersama Paman dan Bibi," ucap Adam.
Deg..
Gerard terkejut ketika mendapatkan jawaban yang tak memuaskan untuknya.
"Pe-pergi? Pergi kemana? Dan sudah berapa lama meninggal Jakarta?" tanya Gerard.
"Paman dan Bibi membawa Melky ke Australia. Kepergian mereka sudah 6 bulan. Itu pun aku tidak mengetahui kepergiannya. Karena pada saat Melky dan keluarganya pergi, aku dalam keadaan koma saat itu."
Gerard terkejut ketika mendengar jawaban dari Adam jika Melky dan kedua orang tuanya pergi meninggalkan Jakarta ketika Adam sedang koma.
"Sekarang aku, kakak-kakakku, keluargaku dan sahabat-sahabatku sudah tahu alasan Paman dan Bibi membawa pergi Melky ke Australia."
"Apa?"
"Orang itu mengincar Melky. Apa yang telah dia lakukan dulu kepada kak Gerard. Itu juga yang akan dia lakukan terhadap Melky. Tapi kakak tidak perlu khawatir. Kami disini sudah menyiapkan semuanya untuk membawa kembali Paman, Bibi dan Melky ke Jakarta."
Tes..
Seketika Gerard menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Adam. Dirinya tidak menyangka jika Adam dan orang-orang sudah bertindak untuk menyematkan kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya.
"Kakak tinggal dimana?" tanya Adam.
Gerard tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Adam.
"Saya dan sahabat saya ini tinggal di sebuah Apartemen," jawab Gerard.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa mengatakan bahwa Melky tidak mengingat dirimu. Kalau kau tahu pasti hatimu akan terluka dan sakit. Secara adik kesayanganmu melupakanmu," batin Adam.