THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kerinduan Adam Terhadap Ariel



Deg..


Semuanya terkejut ketika mendengar suara seseorang, termasuk Saga. Kemudian mereka semua melihat keasal suara dimana mereka semua melihat Adam bersama keempat wanita cantik tengah melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


Kini Adam sudah duduk di sofa di samping kakak tertuanya Garry. Begitu juga dengan Utari, Celena, Alin dan Kamila.


Adam menatap wajah Saga. Begitu juga dengan Saga. Mereka saling memberikan tatapan satu sama lainnya.


"Lo nggak salah. Apa yang terjadi sama Ariel, Jasmine dan sekarang gue. Itu semua takdir. Gue maupun Ariel dan Jasmine ikhlas nolongin lo dulu. Bahkan sejak kejadian itu kita menjadi teman, bukan?"


Saga seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Adam. Bahkan dia merasakan kenyamanan ketika mendengar ucapan Adam tersebut.


"Tapi bagaimana pun gue tetap salah. Demi nolongin gue dan Reres. Lo harus kehilangan sahabat lo dan Jasmine harus duduk di kursi roda," ucap Saga."


Kini Adam yang tersenyum mendengar ucapan dari Saga. Dia sudah tahu seperti apa Saga. Sifat Saga sama seperti dirinya yang suka menyalahkan diri sendiri jika ada orang-orang terdekatnya terluka demi menolong dirinya.


Namun jika dia tetap berdebat dengan Saga mengenai masalah ini, maka perdebatan tersebut tak akan selesai sampai lebaran kambing. Itu menurut Adam.


"Lo datang kesini untuk menyelamatkan nyawa gue atau untuk mengeluarkan semua unek-unek lo itu?" tanya Adam dengan tatapan evil nya.


Mendengar pertanyaan dari Adam membuat Saga seketika tersenyum dan sedikit salah tingkah.


"Sekarang apa rencana lo buat nolongin teman lo yang baik hati ini, hum?" tanya Adam sembari memainkan alisnya dengan cara menaik turunkannya.


Adam sengaja melontarkan pertanyaan seperti itu kepada Adam agar Saga melupakan apa yang telah menimpa dirinya, Ariel dan Jasmine. Adam tidak ingin Saga terus menerus menyalahkan dirinya atas kejadian itu.


Sementara anggota keluarganya sahabat-sahabatnya, sahabat-sahabat kakak-kakaknya seketika paham maksud dari pertanyaan dari Adam tersebut. Adam hanya ingin menghentikan Saga yang masih menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Adam, Ariel dan Jasmine.


"Untuk rencana pertama sudah gue jalankan," sahut Saga.


"Apa itu?" tanya Adam.


"Gue menyuruh anggota-anggota gue untuk menyerang semua anggota yang dimiliki oleh pria bajingan itu. Dari laporan tangan kanan gue, bajingan itu hanya memiliki sekitar 300 orang anggota plus 1 tangan kanannya."


"Terus lo! Jumlah anggota lo berapa?" tanya Adam penasaran.


"Anggota yang gue kirim buat menyerang semua anggota dari bajingan itu sekitar 500 orang."


"Tambah dari gue, Dam!" seru Ricky.


"Dari lo?"


"Iya."


"Berapa?"


"200 orang. Setidaknya bisa membantu anggota-anggotanya Saga."


"Kok dikit amat. Nggak setia kawan lo sama gue. Saga aja 500, masa lo hanya 200."


Mendengar ucapan seenaknya dari Adam membuat semuanya tersenyum dan geleng-geleng kepala, namun tidak dengan Ricky. laki-laki itu seketika membelalakkan matanya sembari mendengus kesal menatap kearah Adam.


"Tidak bersyukur. Sudah untung gue mau nolongin lo. Sekarang lo malah banyak tingkah," sahut Ricky dengan menatap horor Adam.


Adam seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan kejam dari Ricky. Sedangkan yang lainnya seketika tersenyum melihat wajah syok Adam akan perkataan Ricky.


"Dasar manusia kardus busuk lo," ejek Adam.


"Lo yang busuk." Ricky membalas ejekan dari Adam.


"Jika kalian masih ribut, maka kalian berdua tidak akan bisa bicara lagi," ucap Dzaky dan Juan bersamaan dengan memberikan pelototan masing-masing kearah Adam dan Ricky.


Mendengar ucapan dari Dzaky dan Juan membuat Adam seketika mengatub Bibirnya. Begitu juga dengan Ricky. Keduanya langsung kicep dan bungkam seketika.


"GOOD BOY!" seru Dzaky dan Juan tersenyum menatap keduanya.


Sementara untuk anggota keluarganya, sahabat-sahabatnya Adam dan sahabat-sahabat para kakak-kakaknya tersenyum ketika melihat kepatuhan Adam dan Ricky. Yang membuat mereka semua tersenyum adalah mulut mereka terkunci rapat, sementara tatapan matanya saling berperang satu sama lainnya.


"Kita lanjutkan membahas penyerangan orang itu," sahut Bagas.


"Rencana yang sudah aku jalankan adalah aku memerintahkan anggota-anggotaku untuk membunuh semua anggota yang dimiliki oleh bajingan itu. Menurut hasil laporan dari tangan kananku bahwa bajingan itu hanya memiliki 300 anggota saja. Dan untuk tangan kanannya, dia hanya setia satu tangan kanan saja. Sampai sekarang. Aku dulu diam-diam memasukkan nama dan identitas mereka berdua ke daftar para kelompok-kelompok yang tersebar di beberapa kota di Jakarta dan di luar negeri. Aku meminta kepada semua kelompok untuk tidak bekerja sama dengan kedua manusia itu. Bahkan aku juga memperlihatkan lambang yang digunakan oleh keduanya. Jika seandainya ada orang yang meminta kerjasama dengan kelompok-kelompok itu, maka orang itu harus menunjukkan lambang kelompoknya."


"Jadi maksud nak Saga, jika orang itu ingin menjalin kerjasama sama dengan kelompok-kelompok itu. Orang itu harus menunjukkan lambang kelompoknya? Jika lambang tersebut adalah lambang kelompok yang masuk blacklist, maka kelompok-kelompok itu langsung menolak. Begitukah?" ucap dan tanya Davan.


"Benar Paman. Jadi dengan kata lain kedua manusia busuk itu tidak memiliki bekingan selain 300 anggotanya itu. Jadi itu akan lebih mudah melawan mereka," ucap Saga.


Seketika raut wajah Saga berubah menjadi tak mengenakkan. Sedangkan semua yang ada di ruang tengah itu langsung paham.


"Inilah saatnya dimana aku ingin membalaskan kematian ayahku. Sudah sejak lama aku ingin membunuh laki-laki itu, tapi terhalang oleh omongan ibuku."


"Apa yang dikatakan oleh ibumu sehingga dia tidak memberikan hukuman kepada orang yang sudah membunuh suaminya?" tanya Celena.


"Karena rasa kasihan dan kasih sayang ibuku kepada kakak laki-lakinya. Ibuku melakukan hal itu agar kakak laki-lakinya berubah, bertobat lalu mengakui kesalahannya sehingga dia sendiri yang menyerahkan diri ke polisi. Namun usaha ibuku tidak membuahkan hasil. Justru laki-laki itu makin menjadi-jadi. Laki-laki itu mengincar nyawaku."


"Apa ibumu tahu, nak?" tanya Utari.


"Iya, Bi! Ibuku sudah tahu. Hati ibuku hancur. Seketika rasa sayang dan rasa peduli ibuku terhadap kakak laki-lakinya sudah hilang dan digantikan dengan dendam. Dan berakhir ibuku memintaku untuk melakukan tugasku sebagai seorang anak terhadap ayahnya yang sudah tiada."


"Dan inilah waktu yang sangat baik untukku membunuhnya, ditambah lagi dia sudah mengambil nyawa sahabatku Ariel, membuat sahabat perempuanku Jasmine duduk di kursi roda dan mengincar nyawa sahabat terbaikku Adam."


Adam seketika tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan tulus dari Saga. Dia tidak menyangka jika Saga akan melakukan hal itu untuk dirinya, Ariel dan Jasmine. Begitu juga dengan yang anggota keluarganya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan sahabat-sahabat para kakak-kakaknya. Mereka tersenyum hangat menatap Saga.


"Riel, Jas! Nyawa dan kesakitan kalian akan terbalaskan. Saga, orang yang kita tolong dulu ada disini. Di hadapanku. Riel, Saga akan membalaskan kematianmu dan untukmu Jasmine, Saga akan membuat orang itu merasakan apa yang kamu rasakan sekarang." Adam berbicara di dalam hatinya dengan tatapan matanya menatap kearah Saga. Dan jangan lupa air matanya yang mengalir membasahi pipinya.


Garry yang menyadari bahwa adiknya tak baik-baik saja di sampingnya langsung merangkul bahunya lalu mengusap-usap lembut bahu adiknya itu.


"Kakak tahu bahwa saat ini kamu merindukan Ariel kan! Ariel pasti melihat kita semua dari atas sana. Kakak yakin Ariel pasti bahagia," ucap Garry sambil tangannya menghapus air mata adiknya.


Mereka semua ikut menangis ketika melihat Adam yang menangis karena merindukan Ariel. Mereka saat ini paham akan perasaan Adam beberapa hari ini sejak mengetahui kematian Ariel dan kondisi Jasmine.


"Aku... Aku..."


Grep..


Garry langsung menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya. Dan seketika isak tangis Adam pun pecah.


"Hiks... Hiks... Kakak, aku merindukan Ariel. Terakhir kebersamaan aku, Ariel dan Jasmine saat kelulusan SMA itu dimana aku memutuskan kuliah di Amerika. Dan saat itulah kita bertiga putus kontak... Hiks."


"Dan... Hiks... Aku sudah mengetahui keberadaan mereka ada dimana. Aku berniat untuk mengunjungi mereka. Tapi... Tapi takdir berkata lain, Ricky menghubungiku dan mengatakan padaku kalau Ariel meninggal dalam kecelakaan. Sebelum Ariel kecelakaan, Jasmine yang terlebih dahulu kecelakaan dan mengakibatkan kakinya cedera dan untuk sementara tidak bisa jalan.."


"Kakak tahu perasaan kamu. Kakak juga merasakan apa yang kamu rasakan. Kamu tidak sendirian. Ada kakak, Danish, Papa, Mama dan yang lainnya bersama kamu. Sudah ya jangan nangis lagi. Nanti kepalanya pusing lagi dan berakhir kamu pingsan lagi. Kakak benar-benar nggak sanggup melihat kamu seperti ini, Dam!"


"Jangan pernah tinggalkan aku."


"Tidak akan. Selama kakak masih bisa bernafas, selama itu juga kakak akan selalu ada buat kamu," ucap Garry tulus.