
Adam sekarang berada di lobi. Setelah selesai mengikut kelas pertamanya, Adam memutuskan untuk duduk santai di sana sembari membaca buku dan mendengarkan musik lewat earphone miliknya.
Saat Adam tengah asyik dengan dunianya sendiri. Dan tak menyadari kelompok Lion datang menghampirinya.
"Hei, lihatlah mahasiswa baru itu." Rogert menunjuk kearah Adam.
"Hei, kau minggir. Ini tempat kami!" teriak Lucky.
Sedangkan Adam tak mendengarnya, karena telinganya tersumbat dengan earphone.
"Yak, bocah! Kau dengar tidak, hah!" teriak Donny.
Adam melirik sekilas menatap kelompok Lion, lalu kembali menatap bukunya.
"Benar-benar nih, bocah." Donny merampas buku yang dibaca oleh Adam, lalu membuangnya.
Adam bangkit dari duduknya, lalu mengambil buku yang dibuang oleh Donny. Tapi saat Adam menyentuh buku itu, James menginjak buku tersebut.
Adam menatap tajam kearah James. "Kau menginjak bukuku," sahut Adam.
James menyeringai kearah Adam. "Terus."
"Singkirkan kakimu itu." Adam masih bersikap baik pada kelompok Lion.
"Kalau aku tidak mau. Kau mau apa?" tanya James dengan senyuman sinisnya. Dan kelompok Lion lainnya tertawa mengejek.
"Hahahaha."
"Tolong singkirkan kakimu itu dari bukuku brengsek!" bentak Adam.
"Aku akan menyingkirkan kakiku dari buku lusuhmu ini. Asal kau bersimpuh di kakiku dan memohon padaku," sahut James.
"Ayo, lakukan. Bukankah kau ingin bukumu kembali," ejek Rokky.
Adam tersenyum menyeringai menatap wajah James. Adam membungkukkan sedikit badannya, lalu berlahan menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan posisi bersimpuh. Kelompok Lion yang melihatnya tersenyum mengejek.
Tanpa mereka menyadari, karena mereka fokus melihat wajah Adam yang pasrah dan menurut pada mereka. Adam mengambil sesuatu di saku celana belakangnya.
Dan detik kemudian...
JLEB!
"Aakkhhh!" teriak melengking kesakitan dari mulut James saat Adam menancapkan pisau lipatannya di kakinya dengan kuat.
Setelah itu Adam mengambil buku tersebut, kemudian berdiri sambil menepuk-nepuk bukunya yang terlihat kotor.
"James!" teriak kelompok Lion. Rogert dan Rokky memegang tubuh James.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan, hah?" bentak Lucky.
"Aku hanya ingin mengambil bukuku yang diinjak oleh temanmu itu. Apa salah?" tanya Adam balik sembari mengelap bekas darah di pisau lipat miliknya di baju Lucky.
Para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di lobi itu bergidik ngeri saat melihat Adam memegang pisau lipat yang berlumuran darah dari James.
"Brengsek!" teriak Lucky.
Lucky melayangkan pukulan pada Adam. Bukan Adam namanya kalau dirinya hanya diam menerima pukulan tersebut. Adan dengan gesitnya menangkis pukulan Lucky. Mereka saling menatap tajam satu sama lainnya.
Sedangkan para mahasiswa dan mahasiswi menepi untuk menyelamatkan diri.
Rokky memberikan pukulan pada Adam dari samping. Adam yang melihat hal itu, dengan refleknya menendang tepat di perut Rokky.
DUAGH!
"Aakkkhhh." Rokky tersungkur.
^^^
Disisi lain Danish, Ardi, Harsha dan para sahabatnya sedang mencari keberadaan Adam.
"Aish. Kemana tu bocah?" kesal Harsha.
"Berharap kita tahu dari Melky. Justru Melky nya juga tidak tahu," sela Ardi.
Mereka terus melangkahkan kaki menelusuri setiap koridor kampus. Sehingga mereka berpapasan dengan kelompok Vigo.
"Aish. Kenapa harus bertemu dengan sikurus itu sih?" gumam Danish.
Para sahabatnya dan kedua sepupunya yaitu Ardi dan Harsha hanya tersenyum mendengar gumamannya.
"Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi, kadal?" ejek Vigo.
"Yah. Mulai dech," ucap Crisan dan Danest pelan.
"Yak! Apa kau bilang, hah?!" teriak Danish.
"Kadal. K-a-d-a-l." Vigo menjawab dengan mengeja kata tersebut.
"Dasar kurus kering," balas Danish.
"Bodoh."
"Marmut busuk."
"Otak dungu."
"Dasar dekil."
"Bau comberan."
Mereka yang mendengar umpatan dan ejekan antara Vigo dan Danish hanya bisa menghela nafas dan mengusap wajah frustasi mereka. Mereka seperti anjing dan kucing setiap kali bertemu.
"Keparat kudisan." Vigo mendorong tubuh Danish.
"Bajingan jalanan." Danish balik mendorong tubuh Vigo.
"Dasar orang gila."
"Bandit kurus kering."
"Brengsek!" Vigo ingin memukul Danish. Danish pun tidak tinggal diam. Dirinya juga ingin memukul Vigo.
Disaat keduanya hampir melakukan perkelahian. Kelompok masing-masing menarik tubuh mereka ke belakang.
"Sudahlah. Kalian seperti anak kecil saja!" teriak Cakra dan Crisan bersamaan sambil menatap wajah sahabat masing-masing.
"Apa kalian tidak malu? Ini di kampus tempatnya mencari ilmu. Bukan arena tinju," ucap Cakra sembari menatap Danish dan Vigo.
"Dan kau juga, Vigo!" Crisan menatap Vigo. "Bisa tidak kau jangan suka memancing keributan? Kau selalu seperti itu," kata Crisan.
"Benar apa yang dikatakan oleh Adam kemarin. Kalau kalian itu memang benar-benar keras kepala dan emosional," kata Carlo.
"Apa kalian tidak malu dengan Adam? Adam yang lebih mudah dari kalian. Tapi dia bisa mengendalikan emosinya. Nah, sedangkan kalian jauh lebih tua darinya malah memberikan contoh yang tidak baik padanya," kata Nigel.
"Setidaknya, pikirkan perasaan Adam adik kalian. Dia baru sembuh. Dan itupun belum sepenuhnya. Jangan kalian membuatnya tertekan dengan melihat pertengkaran kalian," pungkas Juna dengan menatap wajah Danish dan Vigo bergantian.
Baik Vigo maupun Danish, keduanya hanya diam. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabat-sahabat mereka. Mereka memang kekanak-kanakan.
Lalu tiba-tiba mereka dikejutkan, saat melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi berlari.
"Hei, ada apa?" tanya Sakha.
"Itu disana. Di lobi depan. Ada mahasiswa baru sedang bertarung melawan kelompok Lion," kata salah satu mahasiswa yang Sakha tanya.
"Mahasiswa baru," batin Vigo. Sontak hal itu membuat Vigo membulatkan matanya.
Dan detik kemudian...
"Oh, tidak. Allan!" Vigo langsung berlari menuju lobi depan kampus. Disusul oleh sahabatnya.
Danish, Harsha, Ardi saling lirik. "Adam."
Mereka semua pun ikut berlari menyusul Vigo dan yang lainnya.
^^^
Adam dan Lucky masih saling menatap tajam dengan tangan mereka saling beradu tinju.
"Kau pikir aku takut padamu dan kelompok bodohmu itu. Dalam mimpi. Jangan harap aku mematuhi keinginan kalian untuk bersimpuh di kaki kalian," sahut Adam.
Lucky mendorong tubuh Adam sehingga bisa dirasakan tubuh Adam bergerak ke belakang. Tapi Adam tidak tinggal diam. Dengan tenaga yang dimilikinya, Adam mendorong kuat tubuh Lucky sehingga tubuh Lucky terdorong kuat ke belakang.
Rogert dan Donny menyerang Adam secara bersamaan.
BUGH! BUGH!
DUAGH!
"Sial. Tenaganya benar-benar kuat," ucap Donny.
"Bahkan dia selalu berhasil menghindar dari pukulan dan tendangan dari kita," kaata Rogert pada Donny.
Donny benar-benar kewalahan menghadapi Adam. Begitu juga dengan Rogert.
"Kenapa? Nyerah, hum? Dasar cemen," ejek Adam.
"Brengsek!" teriak Donny.
Rogert dan Donny kembali menyerang Adam. Dan kali ini mereka semua menyerang Adam, kecuali James dikarenakan kakinya terluka.
BUGH! BUGH!
DUAGH! DUAGH!
BUGH!
DUAGH!
"Aakkhhh." Rogert tersungkur di lantai lobi.
"Satu KO." Adam menyeringai.
BUGH! BUGH!
DUAGH! DUAGH!
DUAGH! DUAGH!
"Aaakkkhhh." Donny, Rokky dan Lucky meringis merasakan sakit di bagian punggung mereka dikarenakan mendapatkan serangan dari belakang.
"Hahahaha. Dasar payah," ejek Vigo.
"Pecundang. Beraninya main keroyokan. Apa kalian tidak malu?!" teriak Danish.
Danish, Vigo, Ardi dan Harsha lah yang sudah memberikan tendangan di punggung mereka.