
Ardi dan Harsha dan keempat sahabatnya telah berada di Kampus. Detik kemudian mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari geng Bruizer.
"Wooii, geng Brainer!" teriak mereka bersamaan. Hal itu sukses membuat Ardi dan yang lainnya terkejut.
"Sialan kalian," umpat Arka.
"Kenapa kalian berdiri disini?" tanya Arya.
"Kami sedang menunggu Adam," jawab Gala.
"Lalu kalian sedang apa?" tanya Ardi.
"Sama seperti kalian. Kami sedang menunggu Danish," jawab Rayan.
"Memangnya kemana induk kalian itu?" ejek Arka.
"Mungkin lagi membangunkan si baby kelincinya di Apartemen," ejek Kavi.
"Jadi siinduk lupa dengan baby-babynya yang lain. Hehehe." Harsha juga ikut menjahili para anggota Bruizer.
"Sialan kalian," kesal geng Bruizer.
"Hahahahaha" tawa geng Brainer.
"Hei, mereka datang!" seru Prana saat melihat Adam yang datang bersama ibunya dan Danish datang bersama Garry.
"Tumben kelinci nakal itu diantar oleh Mama Utari. Biasanya dia selalu menolak saat Mama Utari ingin mengantarnya ke Kampus.
"Dan kenapa mereka bisa datang bersamaan?" tanya Gala.
Mereka terus memperhatikan kedua kakak adik itu.
"Mama, Adam," panggil Danish saat melihat ibu dan adiknya.
"Danish," balas Utari saat melihat putra keduanya memanggilnya.
"Kamu sendiri, nak?" tanya Utari.
"Aku bersama kak Garry, Ma." Danish menjawabnya.
Garey turun dari mobil, lalu segera menghampiri kedua adiknya dan ibunya.
"Mama," panggil Garry.
"Garry." Utari tersenyum melihat putra sulungnya.
Garry langsung menghambur dalam pelukan sang ibu, lalu disusul oleh Danish. Akhirnya terjadi adegan pelukan antara Utari dan kedua putra tampannya. Sedangkan Adam menatap cemburu kepada mereka bertiga.
"Eeheemm! Masih ada orang disini. Mau sampai kapan kalian akan berpelukan?" ucap Adam sambil melipat tangannya di depan dadanya dan jangan lupa bibirnya yang sudah melengkung ke bawah.
Mendengar deheman dari Adam sontak membuat ketiganya melepaskan pelukan mereka. Dan menatap penuh bersalah ke arah sibungsu. Utari menatap putra bungsunya.
"Sayang."
"Mama baru beberapa jam yang lalu berjanji padaku akan membuatku bahagia. Tapi sekarang Mama sudah membuatku sedih lagi," ucap Adam. "Dan kau kak." Adam menunjuk ke arah Danish. "Baru kemarin kau mengatakan bahwa kau sayang padaku dan berjanji akan membuatku bahagia. Dan sekarang kau membuatku sedih." Adam merengut. "Lalu kau kak Garry," tunjuk Adam pada Garry. "Kau belum memberikan pelukan kepadaku. Kau belum mengatakan bahwa kau merindukanku. Dan kau belum bertanya kepadaku, apakah aku mau menerimamu? Tapi sekarang kau malah membuatku sedih." Adam benar-benar kesal saat ini.
"Kalian menyebalkan. Kalian berpelukan tanpa membawaku. Padahal aku ada disini," tutur Adam dengan bibir yang dimanyun-manyunkan.
"Ooohh! Jadi ceritanya seorang Dirandra Adamka Bimantara sedang cemburu, nih" Garry menggoda adiknya.
"Kakak!" teriak Adam sambil menghentakkan kakinya.
Garry langsung menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya.
GREP!
"Kakak merindukanmu. Kakak menyayangimu. Kau adik kesayangan kakak," ucap Garry.
"Hiks.. hiks." Adam terisak di pelukan Garry.
Utari dan Danish tersenyum bahagia melihat adegan antara kakak dan adik tersebut.
Garry melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan sang adik.
"Kau jelek sekali kalau menangis," ejek Garry. Lalu menghapus air mata adiknya itu. "Nah. Ini baru adik kakak yang tampan, manis, cantik, imut dan menggemaskan," ucap Garry.
"Aku ini laki-laki, kak. Kenapa kau mengatakan aku cantik?" protes Adam kesal.
Saat Danish ingin membuka suara. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil ibu mereka.
"Utari," panggil Amirah.
Utari, Garry, Danis dan Adam melihat wanita yang sedang berjalan menuju kearah mereka.
"Ibu, kakak." Utari terkejut saat melihat ibu mertuanya dan kakak iparnya.
"Nenek, Bibi!" ucap Garry dan Danish bersamaan.
"Apa? Nenek? Bibi? Jadi mereka yang sudah membuatku berpisah dengan Papa dan kedua kakak-kakakku," batin Adam dengan tatapan tajamnya.
"Utari. Ibu datang kesini ingin bertemu denganmu dan putra bungsumu, Adam." Amirah berbicara sambil matanya menatap wajah tampan cucu bungsunya yang berdiri di samping Danish.
Melihat hal itu membuat Utari dan ketiga putra-putranya terkejut atas apa yang dilakukan oleh Amirah.
"Bu. Apa yang kau lakukan? Berdirilah, Bu! Kau tidak pantas bersimpuh di kakiku. Aku sudah lama memaafkan ibu dan kakak. Dan aku tidak pernah menyimpan dendam pada kalian berdua." Utari berbicara dengan tulus, lalu membantu ibu mertuanya itu untuk berdiri.
Amirah langsung memeluk Utari. "Maafkan ibu. Ibu benar-benar menyesal. Ibu berjanji akan menggantikan kesedihan dan penderitaanmu selama ini dengan kebahagiaan. Ibu akan menjadi ibu mertua dan nenek yang baik untukmu dan putra bungsumu."
Amirah melepaskan pelukannya dan menatap wajah menantunya itu. Detik kemudian Amirah mencium kening Utari. Ini adalah ciuman pertama yang diberikan oleh ibu mertuanya selama hidupnya. Utari menangis. Reflek tangan Amirah menghapus air mata yang mengalir di wajah cantik menantunya itu.
"Jangan menangis lagi. Sudah cukup air matamu kau buang hanya gara-gara ibu. Sudah saatnya kau bahagia, Utari. Dan kebahagiaanmu adalah bersama Evan."
Amirah beralih pada cucunya yaitu Adam. Amirah menatap wajah tampan cucunya itu.
"Dirandra Adamka Bimantara," panggilnya.
Sementara Adam tidak bergeming sama sekali. Adam menatap tak suka kepada wanita yang ada di hadapannya.
Amirah berlahan mendekati Adam. Tapi Adam reflek memundurkan langkahnya. Melihat Adam yang melangkah mundur membuat Amirah berhenti. Dirinya tahu bahwa cucunya masih belum mau menerimanya.
"Maafkan..." ucapan Amirah terhenti karena Adam terlebih dahulu memotongnya.
"Ma, kak. Aku mau ke kelas. Aku duluan," pamit Adam dan langsung berlari memasuki halaman kampus meninggalkan mereka.
"Ibu. Maafkan Adam," ucap Utari.
"Tidak apa-apa, Utari. Ibu mengerti. Ibu yang sudah membuatnya seperti ini. Jadi wajar kalau Adam marah dan membenci Ibu," tutur Amirah.
"Ma, kak Garry. Kalau begitu aku juga mau ke kelas," pamit Danish.
"Mama titip adikmu, sayang. Jaga dia," pinta Utari.
"Eemm," jawab Danish sambil mengangguk.
Danish pun berlari memasuki halaman kampus dan tujuannya adalah adiknya.
^^^
Adam duduk di salah satu bangku yang ada di halaman kampusnya. Dirinya tak henti-hentinya mengumpat atas kedatangan nenek dan bibinya ke kampus.
"Dasar nenek-nenek peyot. Merusak kebahagiaanku saja. Apa belum cukup dia merampas kebahagiaanku waktu aku masih bayi? Ngapain juga dia harus datang ke kampus. Dan Mama juga. Segampang itukah Mama memaafkan nenek peyot itu. Kalau aku ogah memaafkannya," ucap Adam dan tanpa sadar Danish dan yang lainnya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan Adam.
"Bagaimana pun sinenek peyot itu adalah nenekmu, Dirandra Adamka Bimantara?" ucap Danish yang tiba-tiba datang bersama yang lainnya.
Adam menatap satu persatu wajah wajah para kakak-kakaknya yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.
"Ogah. Dia bukan nenekku. Sinenek peyot itu neneknya kakaj. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimanya sebagai nenekku. Dan aku tidak akan pernah memaafkannya." Adam berucap dengan nada ketus.
"Tapi Adam. Mama saja mau memaafkannya. Tapi kenapa kau tidak mau?" tanya Danish.
"Karena sifat orang itu berbeda-beda, kak! Jangan samakan aku dengan Mama," jawab Adam yang sudah menunjukkan sikap dinginnya.
"Kau benar-benar keras kepala, Dirandra Adamka Bimantara!" bentak Danish.
Adma berdiri dari duduknyanya dan menatap tajam wajah kakak itu.
"Apa kau membelanya? Apa kau merasa kasihan padanya? Pergi saja sana dan temui nenekmu itu. Lalu lupakan kalau kau punya seorang adik dan kita kembali menjadi musuh."
DEG!
Danish tersentak kaget mendengar ucapan Adam.
Setelah mengatakan hal itu Adam pergi begitu saja tanpa menghiraukan yang lainnya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Adam merasakan sakit di kepalanya.
"Aakkhh!" teriak Adam sambil meremas kuat rambutnya.
Dan teriakannya itu terdengar oleh yang lainnya. Ardi dan Harsha langsung berlari menghampiri Adam.
"Dam, kau kenapa?" Apa kepalamu sakit lagi?" tanya Ardi.
"Iya, kak. Ini sakit sekali," jawab Adam.
"Adam. Kau kenapa? Apa yang sakit, hum?" tanya Danish yang tangannya menyentuh bahu Adam.
Adam langsung menepis kasar tangan Danish yang ada di bahunya. "Aku tidak butuh kakak sepertimu. Pergi saja temui nenekmu itu. Karena dia lebih penting dariku."
"Kak Ardi, kak Harsha. Antar aku ke ruang kesehatan," pinta Adam.
Ardi, Harsha dan serta yang lainnya membawa Adam ke ruang kesehatan. Dan tinggallah Danish dan teman-temannya.
"Aarrgghh!" teriak Danish. "Adam kembali marah padaku. Baru saja baikan."
"Danish. Kau seharusnya lebih banyak sabar menghadapi Adam. Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu agar Adam mau memaafkan kesalahan nenekmu," tutur Prana.
"Itu benar, Danish. Kau pikirlah. Bagaimana Adam selama ini hidup tanpa kasih sayang dari Papa kandungnya? Dan itu semua kesalahan nenekmu. Tidak semua orang bisa dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain, termasuk Adam. Syukur-syukur Adam dengan mudahnya menerima kalian bertiga karena memang kalian tidak bersalah." Cakra juga ikut menegur Danish.
"Ya. Kalian benar. Seharusnya aku bisa memahami perasaan adikku saat ini. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan membuatnya selalu tersenyum. Tapi apa yang sudah aku lakukan barusan. Aku sudah membuatnya kecewa." Danish merutuki kebodohannya.
"Sudahlah. Belum terlambat. Sekarang susul dia di ruang kesehatan. Dan minta maaflah padanya," ucap Indra.
"Eemm!" Danish mengangguk. Mereka pun pergi menyusul Adam ke ruang kesehatan.