
[Australia]
Jordan dan istrinya Ghiska sedang berada di ruang tengah. Mereka saat ini tengah memikirkan keadaan putranya yang masih di dalam kamarnya.
"Sayang. Aku benar-benar takut. Bagaimana jika dia benar-benar menyakiti Melky. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Melky," ucap Ghiska menangis di pelukan suaminya.
Jordan mengepalkan kuat kedua tangannya ketika mendengar isakan dan ucapan istrinya.
"Apa belum cukup kita kehilangan Gerard? Dan kita tidak tahu bagaimana keadaan Gerard sekarang ini. Apa dia selamat atau justru....?"
"Hust! Aku percaya putra sulungnya masih hidup. Dia selamat dan berada di suatu tempat." Jordan langsung membantah perkataan dari istrinya.
"Gerard, Papi sangat yakin kamu selamat sayang. Papi percaya kamu masih hidup," batin Jordan.
Jordan sampai detik masih percaya bahwa putra sulungnya masih hidup dan ada di suatu tempat. Jordan berharap putranya kembali dan menyelamatkan dirinya, istrinya dan adik laki-lakinya.
"Brengsek! Dari mana dia tahu keberadaanku dan keluargaku? Dan... Dan dia sudah berani menemui putraku dan mengancam putraku," batin Jordan.
^^^
Melky sedang berada di kamarnya. Dirinya saat ini tengah memikirkan sahabat kelincinya sekaligus saudara baginya.
"Adam, lo apa kabar? Gue kangen lo Dam. Maafin... Hiks... gue yang udah membuat lo sedih saat menerima panggilan dari gue. Hiks... Sumpah! Gue terpaksa, Dam! Hiks," isak Melky.
Ting..
Ketika Melky tengah memikirkan dan merindukan Adam sembari memegang bingkai foto dirinya bersama Adam, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Melky langsung melihat ke layar ponselnya. Dan terlihat sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Melky mengambil ponselnya lalu tangannya langsung membuka pesan tersebut. Setelah itu, Melky pun membaca pesan itu.
TO : Adam
Gue tahu permasalahan lo dan keluarga lo. Dan gue tahu lo nggak serius mengatakan bahwa lo tidak ingin memiliki hubungan apa-apa dengan gue.
Dengar gue, Melky!
Lo nggak perlu memikirkan apapun. Lo cukup pikirkan bagaimana caranya lo bisa bongkar orang yang sudah ngusik lo dan kedua orang tua lo. Kalau perlu lo ikuti semua kemauan orang itu. Perlihatkan ke orang itu bahwa lo benar-benar takut dan tidak berkutik sama sekali. Buat juga orang itu benar-benar percaya bahwa lo benaran takut.
Percayalah! Selama lo punya nyali besar dan tidak penakut. Selama itu juga lo bisa menghadapi masalah tersebut. Gue bersama yang lainnya di Jakarta nggak diam aja. Kita semua bantuin lo"
Tes..
Seketika air mata Melky jatuh membasahi wajahnya ketika membaca pesan dari Adam. Dirinya tidak menyangka jika sahabatnya itu mengetahui masalahnya dan kedua orang tuanya.
Dan satu lagi. Jika lo lagi sedih dan merasa bersalah karena telah mengatakan bahwa lo nggak ingin berhubungan lagi dengan gue. Gue minta sama lo. Lupakan semua itu. Gue baik-baik saja. Gue nggak marah sama lo."
"Dam... Hiks," isak Melky.
***
[Bandara Soekarno Hatta]
"Tuan," sapa seorang laki-laki yang dua tahun lebih tua dari orang yang dipanggil tuan itu.
"Berapa kak Bethran. Jangan panggil aku 'tuan' panggil saja namaku, Gerard!"
Laki-laki yang dipanggil Bethran seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Gerard. Dan ditambah lagi wajah Gerard yang kesal.
"Baiklah! Aku akan memanggil namamu lain kali."
"Ngomong doang. Ujung-ujungnya manggil tuan lagi," balas Gerard yang tatapan matanya menatap indahnya kota Jakarta.
"Ini yang ketiga kalinya aku menginjakkan kakiku di Jakarta. Terakhir ketika aku berusia 9 tahun," batin Gerard.
"Miky, kakak datang. Semoga kakak bisa bertemu dengan kamu melalui sahabat kamu yang bernama Adam itu," batin Gerard lagi.
Bethran yang melihat perubahan mimik wajah Gerard berubah langsung paham. Saat ini majikan/sahabat/adik itu tengah memikirkan kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya.
Puk..
Seketika Gerard terkejut ketika mendapatkan tepukan di bahunya. Gerard langsung melihat kearah Bethran yang sedang tersenyum menatap dirinya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!"
"Aku percaya. Maka dari itulah kenapa aku balik ke Jakarta."
Bethran tersenyum. "Ya, sudah! Sopir sudah menunggu kita. Ke Apartemen dulu atau langsung menemui pemuda yang bernama Adam itu?" tanya Bethran.
"Istirahat dulu aja. Kakak pasti lelah juga kan?"
"Kakak nggak masalah. Sudah terbiasa."
"Iya, kalau sama orang lain. Tapi sama aku nggak. Kalau aku suruh istirahat ya istirahat. Nggak menerima penolakan."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Gerard ketika melihat tingkah Bethran.
Bethran yang melihat senyuman manis di bibir Gerard sedikit merasakan kelegaan. Setidaknya dengan dirinya bertingkah konyol dapat membuat Gerard tersenyum dan sedikit melupakan masalahnya.
"Ya, sudah! Ayo kita pergi dari sini!"
Setelah itu, Gerard dan Bethran pun pergi meninggalkan bandara untuk menuju Apartemen milik Gerard yang berlokasikan di Airlangga Ritz Carlton Apartement.
***
Adam bersama dengan keenam sahabatnya yaitu Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando. Mereka ada di lapangan kampus. Mereka saat ini tengah memikirkan bagaimana cara membantu Melky dan keluarganya dengan mengungkapkan identitas dari orang yang sudah mengusik keluarga Melky.
"Oh iya, Dam! Tadi lo bilang mau mengirimi Melky pesan. Apa lo....?" Perkataan Zio terhenti karena Adam langsung memotongnya.
"Sudah Zio. Gue sudah mengirimi Melky pesan," jawab Adam.
"Apa balasan Melky?" tanya Vando.
"Belum dibalas sama Melky," jawab Adam.
"Melky bacakan pesannya?" tanya Diego.
"Iya, baca! Tanda centang biru dua," jawab Adam.
Puk..
Gino menepuk bahu Adam pelan. "Ya, sudah! Jangan dipikirkan. Yang penting Melky sudah tahu lo nggak marah, lo nggak kecewa sama dia dan lo juga nggak sedih. Dengan begitu Melky bisa lebih kuat disana. Dan dia nggak terlalu memikirkan perasaan lo." Leon berbicara sembari menghibur Adam.
"Ingat apa janji lo sama Zelo! Lo janji sama Zelo untuk tidak hanyut dalam masalah ini. Zelo minta sama lo buat lo fokus sama kuliah saja," ucap Gino mengingatkan.
"Dan satu lagi. Zelo dan kelompoknya sedang berusaha untuk membantu Melky dan keluarganya. Dan lo bantu Zelo dengan doa. Dengan kita berdoa, semoga Tuhan melancarkan usaha Zelo dan kelompoknya dan melindungi mereka semua," sahut Vino.
Seketika Adam tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan dari keenam sahabat-sahabatnya.
***
Di markas Kartel terlihat beberapa orang berkumpul di bagian Aula. Mereka tengah mempersiapkan rencana untuk menciduk beberapa anak buah dari orang yang tidak menyukai Jordan ayahnya Melky yang berada di beberapa lokasi di kita Jakarta.
"Bagaimana? Dimana saja lokasi dari anak buah bajingan itu?" tanya Zelo.
"Ada lima titik Bos. Pertama berada di lokasi di Cempaka Putih, lokasi kedua berada di lokasi Kemayoran, lokasi ketiga berada di Tanah Abang, lokasi keempat berada di Menteng dan lokasi kelima berada di Gambir."
"Lokasi Cempaka Putih itu ada dua. Sementara yang lokasi Gambir ada 4. Yang mananya?" tanya Zelo.
"Ach, iya! Maafkan saya Bos. Untuk Cempaka Putih berada di Rawasari. Dan Gambir berada di Cideng."
"Eemm! Baiklah kalau begitu. Kalian bawa anggota yang banyak. Masing-masing kalian bawa sekitar 50 orang dan lengkap dengan senjata untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu pihak musuh melawan."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, masing-masing tangan kanan dari Zelo pun pergi dengan membawa masing-masing 50 anggota untuk menunggu titik yang sudah ditentukan.
Para tangan kanan serta para anggota Zelo menggunakan samaran. Mereka menyamar sebagai pedagang keliling. Dengan begitu para musuh tidak tahu bahwa mereka sedang diciduk.
***
Di perusahaan BIma'Ntara terlihat seorang pemuda tampan sedang fokus pada berkas-berkas kerjanya. Begitu banyak berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Pemuda tampan itu adalah Ayden Garry Bimantara.
Garry sedang mengecek beberapa data keuangan perusahaan BIma'Ntara dan juga berkas proyek kerjasama yang diajukan oleh rekan kerjanya pada perusahaan Utama BIma'Ntara.
Sebelum Garry memutuskan untuk menerima proyek tersebut. Garry terlebih dahulu mengecek isinya. Dan Garry juga akan menambahkan beberapa poin disana.
Setelah mengecek dan membaca beberapa poin yang ada di dalam berkas tersebut. Garry menambah beberapa poin lagi. Poin dari dirinya.
Jika CEO perusahaan tersebut setuju dengan poin-poin yang diajukan olehnya itu, maka Garry akan menerima proyek kerjasama itu.
Jika CEO perusahaan tersebut menolak, maka Garry akan langsung menolak untuk bekerjasama. Adil bukan?
Poin-poin yang akan diberikan oleh Garry adalah rencana kerja dan syarat-syarat kerja, Rencana anggaran biaya, surat perjanjian kontrak, surat perintah mulai kerja, time schedulle dan surat penunjukan penyedia barang atau jasa. Serta keuntungan yang akan didapat dari kedua belah pihak.
Selesai dengan menuliskan beberapa poin tersebut, Garry pun menyimpan berkas tersebut di dalam laci kerjanya.
Selesai dengan semua urusannya, Garry merapikan semua berkas-berkas tersebut dan meletakkan berkas-berkas itu di pinggir kiri meja kerjanya agar sekretarisnya lebih mudah mengambilnya.
"Ach, selesai juga! Waktunya pulang. Udah kangen sama rumah dan sama semuanya terutama si bontot kesayanganku!" seru Garry sembari tersenyum manis.
Garry kemudian beranjak dari duduknya. Kemudian kaki jenjangnya melangkah menuju pintu.
Cklek..
Pintu terbuka. Dan Garry pun langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya dan tak lupa menutup pintu ruang kerjanya kembali.