
Keesokkan paginya semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Mereka semua akan melaksanakan sarapan pagi bersama. Lengkap dengan Adam kesayangannya Papa, Mama dan kedua kakaknya dan kakak-kakak sepupunya.
"Papa, kak Bagas, kak Davan!" Utari memanggil ayah dan kedua kakak laki-lakinya.
Mendapatkan panggilan dari Utari membuat Yodha, Bagas dan Davan secara bersamaan langsung melihat kearah putrinya dan adik bungsunya.
"Ada apa sayang?" tanya Yodha lembut.
"Begini Pa, kak! Evan mengajakku dan anak-anak untuk pulang ke rumah kami. Apa Papa mengizinkan?"
Mendengar perkataan serta wajah memohon putrinya itu membuat Yodha seketika tersenyum. Dirinya paham akan makna dari pertanyaan dari putrinya itu. Putrinya itu pasti tidak ingin membuat dirinya sedih.
Rumah yang dimaksud oleh Evan dan Utari adalah rumah pribadi Evan dan Utari ketika menikah dulu. Rumah dimana hanya ada Evan, Utari dan anak-anak mereka.
Sementara rumah yang selama ini ditempati oleh Evan, Dhira mantan istri keduanya, ibu dan kakak perempuannya itu adalah rumah keluarga besar Bimantara. Di rumah itulah Evan, mantan istri keduanya, ibunya dan kedua putranya tinggal.
Sejak berpisah dengan Utari. Dan berakhir menikah dengan Dhira. Evan sama sekali tidak pernah mengajak istri keduanya itu untuk tinggal di rumah tersebut. Bahkan Evan merahasiakan tentang rumah tersebut dari Dhira.
Walau saat itu kebenaran belum terungkap, di hati Evan masih tersimpan begitu besar cintanya untuk Utari. Begitu juga dengan putra bungsunya. Hati Evan mengatakan bahwa putra bungsunya itu adalah putra kandungnya. Evan tidak sepenuhnya mempercayai perkataan dari ibunya. Ditambah lagi Evan juga masih terus berpikir tentang apa yang dia lihat. Evan mempercayai istrinya.
"Jika Evan mengajak kamu dan anak-anak kamu untuk pulang ke rumah kalian. Papa tidak masalah. Papa tidak keberatan sayang. Justru Papa bahagia."
Mendengar jawaban dari ayahnya membuat Utari lega dan juga bahagia. Utari berpikir bahwa ayahnya akan sedih jika tidak ada dirinya dan ketiga putranya, terutama Adam cucu kesayangan di rumah besar Abimanyu karena Adam tinggal di rumah besar Abimanyu dari Adam masih bayi hingga tumbuh menjadi pemuda yang tampan.
"Sudah waktunya kalian kembali ke rumah kalian bersama putra-putra kalian, terutama Adam. Karena Adam belum pernah sekali pun tinggal bersama kalian di rumah kalian."
"Papa tahu jika dulu Evan ingin membawamu dan Adam untuk tinggal di rumah kalian, namun niat Evan tidak kesampaian karena Adam saat itu dinyatakan meninggal akibat ledakan tersebut. Dan berakhir hanya kamu yang ikut bersama Evan dan kedua putramu Garry dan Danish."
"Kamu kembali tinggal disini lagi demi Papa. Kamu tahu kalau Papa sangat kesepian akan kehilangan Adam dan kepindahan kamu ke rumah suami kamu. Sudah waktunya kamu pulang bersama ketiga putra kamu ke rumah kalian. Keluarga kecil kamu."
Yodha berbicara begitu lembut kepada putrimu. Dan jangan lupakan senyuman tulus Yodha ketika menatap wajah cantik putri satu-satunya itu.
Utari berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri ayahnya itu yang tersenyum menatap dirinya.
Grep..
Utari memeluk tubuh ayahnya dari belakang dengan erat lalu memberikan ciuman di pipi kanan ayahnya itu.
Yodha yang mendapatkan pelukan sekaligus ciuman dari putrinya merasakan kehangatan di hatinya.
"Aku sayang Papa. Jika pun aku kembali pulang bersama Evan dan ketiga putra-putraku. Aku akan sering-sering datang kesini mengunjungi Papa, kak Bagas, kak Davan dan semua anggota keluarga Abimanyu."
"Papa percaya!"
"Dan kamu tidak perlu khawatir. Kakak, Davan dan yang lainnya akan sering-sering mengunjungi kamu, Evan dan anak-anak kamu," ucap Bagas.
"Kalau perlu kita akan menginap di rumah kalian," sela Davan.
"Bahkan kami akan sering-sering merecoki hidupnya Adam dengan kehadiran kami!" seru Dzaky.
"Hm!" para kakak-kakaknya semuanya berdehem mengiyakan apa yang dikatakan oleh Juan.
Adam yang merasa dirinya dijadikan bahan obrolan seketika mendengus dengan memberikan tatapan mematikan kearah semua kakak-kakak sepupunya itu.
Sementara para kakak-kakak sepupunya itu hanya memperlihatkan cengiran khasnya masing-masing.
Setelah itu, Adam kembali menatap sarapannya yang ada di hadapannya. Adam bingung saat ini.
"Adam," panggil Evan lembut.
Adam langsung melihat kearah ayahnya. Dapat Adam lihat bahwa ayahnya itu tengah menatapnya sembari tersenyum.
"Kamu mau kan ikut pulang ke rumah kita. Ke rumah yang Papa siapkan untuk kamu, kedua kakak kamu dan Mama kamu."
"Aku mau, tapi...."
Adam seketika memperlihatkan wajah sedihnya di hadapan semua anggota keluarganya.
Mereka yang melihat wajah sedih Adam seketika menjadi khawatir, terutama Utari.
Utari berpikir bahwa putra bungsunya itu sulit meninggalkan kediaman Abimanyu karena bagaimana pun putra bungsunya itu sudah tinggal di keluarga Abimanyu sejak bayi.
"Tapi apa sayang?" tanya Evan.
Adam menatap wajah tampan ayahnya lalu berlahan menatap satu persatu wajah para kakak-kakak sepupunya.
"Jika aku ikut pulang bersama Papa dan tinggal bersama Papa, Mama, kak Garry dan kak Danish di rumah kita. Aku tidak akan bisa lagi setiap pagi mencari ribut dengan si beruang kutub dan si alien busuk itu," jawab Adam dengan wajah polosnya dan juga sedihnya.
Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Adam yang begitu kejam seketika membuat semuanya langsung tertawa keras, tak terkecuali para kakak-kakak kandung Ardi dan Harsha.
"Hahahahahaha."
Sedangkan Ardi dan Harsha seketika memberikan tatapan tajamnya kearah Adam. Mereka benar-benar kesal akan perkataan Adam barusan.
"Kalau masalah itu kamu tidak perlu khawatir Adam!" seru Rafig.
"Maksud kakak Rafig?" tanya Adam bingung.
"Jadi gini. Kan kamu tidak bisa lagi mencari ribut dengan kedua kakak kamu yang aneh itu setiap pagi di rumah ini? Kamu masih bisa mencari ribut dengan kedua kakak kamu itu selama di kampus. Buat aja mereka berdua kewalahan akan sikap kamu selama di kampus," ucap Rafig sembari menaik turunkan alisnya.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Adam ketika mendengar ide cemerlang dari kakak sepupunya itu.
Sedangkan Ardi dan Harsha sudah memberikan tatapan mautnya kepada Razig. Mereka tidak menyangka jika sang kakak akan memberikan ide licik seperti itu kepada Adam.
"Yak, kak Rafig! Bisa-bisa kakak memberikan ide licik tersebut kepada anak kelinci buluk itu! Disini ini aku yang adik kandungnya kakak. Kenapa justru kakak malah berpihak kepada siluman kecebong itu!" teriak Ardi kesal.
"Yak, kak Ardi! Aku ini manusia. Bukan siluman kecebong!" Adam tak kalah nyaring teriakannya.
Sementara anggota keluarga lainnya seketika menutup telinganya masing-masing ketika mendengar teriakkan dari Ardi dan Adam.
Ardi dan Adam saling memberikan tatapan mautnya dengan disertai mulutnya yang bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan.
Ketik Ardi hendak mengeluarkan jurus andalannya, tiba-tiba terdengar suara dan juga ucapan kejam dari salah satu anggota keluarganya.
"Manusia kulkas! Siluman kelinci kurap! Lanjutkan sarapan kalian!"
Seketika Ardi dan Adam menatap dengan wajah syok kearah Juan. Keduanya tidak menyangka jika kakaknya/kakak sepupunya akan memanggilnya dengan nama ejekan.
Sementara Juan hanya memperlihatkan wajah sok polosnya tak berdosa di hadapan kedua adiknya.
Bagaimana dengan anggota keluarga lainnya? Sudah pasti semua anggota keluarganya tersenyum gemas ketika melihat wajah kesal dan wajah syok Ardi dan Adam akan perkataan dari Juan.