THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Ingatan Masa Kecil Adam



Masih suasana di dalam kelas. Adam beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Sonia.


PUK!


Sebuah tangan menepuk kepala Sonia dan dengan takut-takut dirinya mendongakkan kepalanya dan melihat orang yang berdiri di sampingnya. Ternyata orang yang menepuk kepalanya itu adalah Adam, orang yang telah menolongnya cengkraman Danish tadi pagi.


Adam tersenyum padanya menandakan bahwa Sonia tidak perlu khawatir akan ancaman Danish dan Sonia pun membalas senyuman Adam.


Adam kemudian mengusap-usap kepala Sonia, lalu Adam kembali lagi menuju bangkunya yang terletak di pojokkan kelas.


BRAAAKKK!


Kursi milik Adam terlempar dari tempat asalnya dan tangan Danish menggebrak meja Adam, menghentikan langkah Adam tepat di depan bangku miliknya.


Danish mengulum dengan tempo cepat permen karet yang ada di dalam mulutnya seraya menatap tajam kearah Adam. Bahkan tatapan itu tidak membuat seorang Adam takut. Justru Adam juga menatap tajam kearah Danish. Mereka saling memberikan tatapan. Tatapan yang sulit diartikan. Tatapan yang menyimpan sebuah rahasia. Tidak ada bedanya dengan Harsha, Lino, Robin dan Torry. Mereka juga sedang saling memberikan tatapan dengan Arya, Indra, Prana, Kavi dan Cakra.


Suasana di dalam kelas terlihat sangat mencekam. Aura hitam berkoar-koar dimana-mana membuat seisi kelas tidak sanggup menelan ludah mereka hingga pada akhirnya dosen mereka masuk ke dalam kelas.


"Kalian semuanya DUDUK!!" teriak sang dosen


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Adam saat ini sedang dalam perjalanan menuju sebuah toko ISTANA DIGICAM. Toko yang menyediakan berbagai macam kamera.


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Adam pun sampai di toko tersebut.


Sesampainya di toko itu, Adam langsung melangkah masuk dan melihat serta memilih beberapa kamera.


Beberapa menit Adam melihat-lihat berbagai macam jenis kamera. Akhirnya, Adam mendapatkan kamera yang diinginkannya. Sebuah kamera pengintai berukuran mini.


Kamera yang dipilih oleh Adam adalah Kamera Spy Cctv Spy Cam Wifi Kecil, Kamera Pengintai Mini Ip Camera Wireless, Kamera Cctv Pinhole Ahd 2Mp, Kamera Tersembunyi Pinhole 2Mp AHD Spycam.


Ada 5 buah kamera yang menjadi pilihan Adam. Adam mengambil masing-masing jenis kamera itu sebanyak 5 buah. Jadi total semuanya adalah 25 buah.


Setelah selesai memilih beberapa macam kamera. Adam pun membawa kamera-kamera itu ke kasir. Kamera-kamera tersebut sudah dicoba sebelum Adam menuju kasir.


Selesai urusan bayar membayar, Adam pun pergi meninggalkan toko tersebut untuk kembali ke Apartemen Kakeknya.


Adam masih kekeh untuk tetap di Apartemen Kakeknya. Adam belum mau pulang ke rumah.


***


Adam sudah berada di Apartemen Kakeknya. Kini dirinya tengah duduk di ruang tengah untuk sekedar melepaskan rasa lelahnya sembari memejamkan kedua matanya.


FLASHBACK ON


Adam sedang berada di taman bersama ibunya. Setiap sabtu dan minggu Adam dan ibunya selalu menghabiskan waktu bersama. Ibunya selalu meluangkan waktu untuknya.


"Wah, Mama. Ini indah sekali!" seru Adam.


"Adam suka, sayang?" tanya Utari.


"Suka, suka!" Adam menjawab dengan disertai anggukkan kepalanya antusias.


Melihat putranya yang begitu bahagia, Utari ikut merasakan kebahagiaan tersebut.


"Mama senang jika kamu suka, sayang. Setiap sabtu dan minggu kita akan pergi berkencan. Apa Adam mau berkencan dengan Mama?"


"Tentu. Aku tidak akan bisa menolak pergi berkencan dengan perempuan secantik Mama," jawab Adam.


Utari tersenyum mendengar jawaban dari putra bungsunya.


"Saat kita pergi berkencan. Aku mau Mama membelikan semua yang aku mau," ucap Adam


"Pasti. Apapun untuk putra Mama yang tampan ini," jawab Utari.


Adam tiba-tiba melihat kearah orang yang sedang berjualan gulali. Setelah itu, terukir senyuman manis di bibirnya. Dan kemudian, Adam mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah ibunya.


"Mama, aku mau itu!" Adam berucap sambil tangannya menunjuk kearah orang yang menjual gulali tersebut


Utari mengalihkan arah pandangnya melihat arah tunjuk putranya. Seketika Utari tersenyum.


"Baiklah. Mama akan belikan. Adam tunggu disini, oke. Jangan kemana-mana. Jangan berbicara dengan orang asing dan jangan menerima apapun dari orang itu."


"Baik, Ma."


Setelah itu, Utari pergi untuk membelikan gulali untuk putranya.


Beberapa menit kepergian ibunya, tiba-tiba datang beberapa orang menghampiri Adam.


"Hei, lihatlah!" seru seseorang sembari menunjuk kearah Adam


"Bukankah dia Adam, ya!" seru yang lainnya


Adam yang mendengar suara orang-orang itu hanya acuh dan tidak peduli sama sekali.


Orang-orang itu adalah teman-teman satu sekolah dengan Adam dan tiga dari orang-orang itu teman sekelas Adam.


"Hei, Adam. Kamu ngapain disini?"


"Kenapa kau sendirian, hah? Mana orang tuamu?"


"Oh, jangan-jangan orang tuamu pergi meninggalkanmu."


"Apa ibumu juga pergi meninggalkanmu, ya?"


"Wah, malang sekali hidupmu, Dam."


"Ayahmu pergi meninggalkanmu. Sekarang ibumu."


"Apa mereka tidak mengharapkan kehadiranmu di dunia ini, hum?"


"Kau lihat disana. Kedua orang tua dan anaknya begitu bahagia. Apa kau tidak iri melihatnya, Adam?"


"Kalau aku berada diposisimu. Aku lebih memilih untuk mati. Untuk apa aku hidup, jika tidak ada yang menginginkanku."


"Hahahaha." mereka semua tertawa


Dan detik kemudian, terdengar ejekan yang keluar dari mulut mereka dengan cara berteriak.


"Adam tidak punya Ayah.."


"Adam tidak punya Ayah.."


"Adam tidak punya Ayah.."


Melihat putranya yang tidak baik-baik saja, Utari pun menghampiri putranya itu.


"Sayang, Adam." Utari berucap dengan suara lirihnya.


"Kita pulang." Adam tiba-tiba berdiri dan pergi begitu saja tanpa mempedulikan ibunya.


Utari yang melihat kepergian putranya pun pergi menyusulnya.


"Maafkan Mama, sayang. Maafkan Mama tentang Papamu," batin Utari.


FLASHBACK OFF


Seketika Adam membuka kedua matanya setelah teringat kenangan menyedihkan saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Adam menangis setiap mengingat kejadian dimana dirinya selalu diejek oleh teman-teman karena tidak memiliki orang tua lengkap.


Adam menyeka air matanya. Kemudian Adam beranjak dari duduknya dan berlalu pergi menuju kamarnya.


***


Ke esokan paginya, Adam sudah bersiap-siap dengan pakaian Kampusnya. Setelah dalam keadaan rapi, Adam pun langsung segera pergi ke Kampus.


Setiba di Kampus nanti, Adam akan sarapan di Kantin. Adam tidak sempat memasak untuk sarapan paginya karena Adam tidur sampai pukul satu pagi karena begadang memasang kamera-kamera yang sudah dibelinya di setiap sudut Apartemen Kakeknya.


***


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Adam pun sampai di Kampus. Sesampainya di Kampus, Adam disambut oleh para kakak-kakaknya.


Adam dan keenam kakak-kakaknya melangkah memasuki area Kampus setelah memarkirkan kendaraan mereka di parkiran.


Seperti biasa, semua pasang mata memandang kearah dua kelompok geng yang baru saja datang. Mereka yang tadinya berserakan di sepanjang koridor langsung menepi saat melihat dua geng Kampus tersebut. Tentu saja mereka harus melakukan itu, kalau tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


Kejam? Memang.. tapi bagi geng Bruizer, ini adalah makanan mereka sehari-hari selama berada di Kampus. Mereka tidak peduli. Para Dosen sering menegur mereka, tapi tak ada yang bisa mereka perbuat karena orang tua mereka termasuk donatur terbesar untuk di Kampus ini.


Beda dengan geng Brainer. Walaupun orang tua mereka juga punya kekuasaan di Kampus, tapi mereka tidak pernah melakukan kekerasan. Mereka itu sangat anti kekerasan. Mereka pernah adu kekuatan dengan geng Bruizer hanya karena membela para mahasiswa atau mahasiswi yang jadi korban bully para geng Bruizer. Bahkan juga kadang-kadang geng Bruizer sering terlebih dahulu mencari masalah dengan geng Brainer.


"Wooi. Kau lagi apa, sih? Dari tadi aku perhatikan matamu lagi mencari sesuatu? Apa yang sedang kau cari?" tanya Arya.


"Aku sedang mencari anak sialan itu," jawab Danish.


"Anak yang mana? Setahuku korbanmu bukan hanya satu?" tanya Indra.


"Aku mencari Sonia anak kutu buku sialan itu," jawab sinis Danish.


"Ooh! Gadis manis yang wajahnya yang sangat cantik itu. Mau ngapain kau mencarinya?" tanya Arya.


"Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran padanya karena sudah berani melawan padaku kemarin," jawab Danish.


***


"Ikut aku," ucap Prana yang menarik paksa tangan Sonia.


"Kau mau membawaku kemana, kak Prana?" tanya Sonia dengan suara yang bergetar.


"Tidak usah banyak tanya," jawab Prana yang sedikit membentak.


"Tempat apa ini, kak?" Sonia sudah mulai merasakan sesuatu yang aneh.


"Ayoo masuk." Prana mendorong tubuh mungil Sonia masuk ke sebuah gudang, lalu Prana menutup dan mengunci pintu gudang tersebut.


"Apa yang ingin kau lakukan padaku kak Prana?" tanya Sonia yang sudah ketakutan.


"Aku hanya ingin mencicipi tubuhmu, Sonia," jawab Prana dengan senyum menyeringai.


"Apaaa? Jangan lakukan itu kak Prana. Aku mohon," ucap Sonia yang sudah ketakutan.


"Aku tidak menerima penolakan, Sonia. Tenang saja. Aku akan bertanggung jawab jika kau sampai hamil." Prana menatap Sonia dengan tangan mengelus lembut wajah Sonia.


Prana menatap wajah cantik Sonia, lalu berlahan Prana mendekatkan wajahnya ke wajah Sonia. Ketika bibir Prana hampir menyentuh bibir pink Sonia, tiba-tiba terdengar gedoran pintu dari luar disertai suara teriakan.


DUG!


DUG!


DUG!


"Prana, aku tahu kau ada di dalam. Buka pintunya!" teriak orang itu.


Prana mendengar suara teriakan dari Cakra berdecak kesal.


"Ck. Kau mau apa, Cakra!" teriak Prana dari dalam.


"Buka pintunya dan biarkan aku masuk. Aku tahu kau saat ini bersama Sonia kan!" teriak Cakra.


Prana terkejut akan ucapan dari Cakra. Dirinya tidak menyangka jika Cakra mengetahuinya apa yang akan dilakukannya kepada Sonia.


"Dengar Prana. Kita memang bejat. Kita memang jahat dan suka membully. Tapi kita tidak sebejat itu sampai berbuat hal keji pada seorang perempuan. Aku tahu apa yang akan kau lakukan kepada Sonia. Jika Danish mengetahui perbuatanmu, dia akan marah besar padamu. Begitu juga dengan yang lainnya!" teriak Cakra.


Seketika Prana terdiam, kemudian Prana menatap wajah Sonia yang saat ini ketakutan.


"Pergilah," ucap Prana.


Sonia pun pergi meninggalkan Prana yang saat ini sedang berlawanan dengan pikirannya.


Setiba diluar, Sonia berpapasan dengan Cakra. "Terima kasih, kak."


Cakra tidak mempedulikan perkataan Sonia. Kemudian Cakra melangkah memasuki gudang tersebut untuk menghampiri Prana.


Setelah berada di dalam gudang dapat Cakra lihat Prana yang sedang berteriak.


"Aarrrggghh!" teriak Prana. "Kenapa aku bisa memiliki pikiran kotor seperti itu? Kenapa aku bisa sampai berbicara seperti itu pada gadis bodoh itu?"


PUK!


Cakra menepuk pelan bahu Prana. "Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Yang penting saat ini kau tidak benar-benar melakukannya, Prana. Buktinya, kau mau mendengarkan perkataan dariku." Cakra berusaha menenangkan Prana.


"Maafkan aku, Cakra."


"Tidak masalah. Itulah nama teman. Bukan begitu, hum? Sesama teman harus saling mengingatkan."


"Hm." Prana mengangguk.


"Ya, sudah. Kita ke markas sekarang!"


Setelah itu, Prana dan Cakra pun pergi meninggalkan gudang tersebut.