
Di kampus Harsha dan Gala telah selesai mengikuti kuliah terakhirnya. Kini Harsha dan Gala tengah melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor untuk menuju lobi depan kampus.
Harsha dan Gala kesana sekalian menunggu Adam karena Adam mengirim pesan kepada Harsha ingin pulang bersama. Ditambah lagi Adam mengatakan di dalam pesan itu bahwa dia tidak membawa kendaraan. Pergi ke kampus dia diantar oleh Garry, kakak tertuanya.
Mendapatkan pesan dari Adam membuat Harsha tersenyum bahagia. Ditambah lagi Adam yang ingin pulang bersama dengan dirinya. Harsha benar-benar bahagia saat ini.
"Apa yakin Adam akan kesini, Sha?" tanya Gala.
"Iya, Gal! Adam sendiri yang bilang sendiri ketika dia ngirim pesan padaku," jawab Harsha.
"Apa kau akan langsung pulang bersama Adam?" tanya Gala.
"Sepertinya iya. Tubuhku benar-benar lelah hari ini. Rencananya aku ingin ajak Adam jalan-jalan, tapi tiba-tiba saja tubuhku nggak bisa diajak kompromi."
Mendengar perkataan dari Harsha membuat Gala menatap khawatir Harsha. Gala berpikir bahwa Harsha dalam keadaan tak baik-baik saja.
Setelah menunggu beberapa menit, orang yang mereka tunggu pun datang sembari berteriak.
"Kak Harsha! Kak Gala!" panggil Adam sembari berlari kecil menghampiri Harsha dan Gala.
Mendengar panggilan dari Adam membuat Harsha dan Gala langsung melihat keasal suara sembari tersenyum.
"Udah lama nunggunya?" tanya Adam setelah berada di dekat kedua kakaknya itu.
Harsha dan Gala tersenyum mendengar pertanyaan dari Adam, lalu keduanya secara kompak mengusap-usap lembut kepala Adam.
"Kami baru aja tiba," jawab Harsha dan Gala bersamaan.
Mendengar jawaban kompak dari Harsha dan Gala membuat Adam tersenyum.
"Ya, udah! Yuk, langsung pulang. Kak Gala mampir dulu yuk ke kediaman Abimanyu," ucap Adam.
Gala tersenyum mendengar ucapan sekaligus tawaran dari Adam, lalu tangannya kembali mengusap lembut kepala Adam.
"Lain kali aja. Kalau perlu jika kakak ada waktu. Kakak akan main ke kediaman Bimantara," sahut Gala.
"Benarkah?" tanya Adam.
"Hm!" Gala berdehem sebagai jawabannya.
"Baik, aku tunggu waktu itu tiba. Awas aja kalau sampai kakak Gala ingkar janji atau sampai melupakannya."
"Tidak akan," jawab Gala.
"Udah yuk!" seru Harsha.
Setelah itu, ketiganya pun pergi meninggalkan kampus untuk pulang ke rumah masing-masing. Adam pulang bersama Harsha ke kediaman Abimanyu.
Baru beberapa langkah Gala, Harsha dan Adam melangkah meninggalkan Kampus, tiba-tiba Harsha jatuh tak sadarkan diri di tanah sehingga membuat Adam dan Gala berteriak.
"Kakak Harsha!"
"Harsha!"
Adam mengangkat kepala Harsha lalu meletakkannya di atas pahanya. Air matanya sudah berlomba-lomba jatuh membasahi wajah tampannya ketika melihat kakak alien kesayangannya jatuh tak sadarkan diri untuk pertama kalinya di depan matanya.
"Hiks... Kakak Harsha bangun. Kakak kenapa? Apa yang terjadi pada kakak?"
"Sha, ada apa sama lo? Kenapa lo jadi gini?" tanya Gala.
Adam melihat kearah Gala. "Kakak Gala, kakak Harsha kenapa? Bukannya kakak Gala sekelas sama kakak Harsha.
"Kakak juga nggak tahu Adam. Tapi tadi Harsha sempat mengatakan pada kakak bahwa tubuhnya tiba-tiba lelah. Dan Harsha juga bilang sama kakak bahwa Harsha ingin ajak kamu jalan-jalan jika seandainya tubuhnya dalam keadaan baik."
Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Gala membuat Adam makin meneteskan air matanya dengan tatapan matanya menatap sendu wajah Harsha yang terlihat sedikit pucat.
"Ya, sudah. Lebih baik kita bawa pulang Harsha biar Harsha bisa istirahat," ucap Gala.
Adam langsung mengangkat tubuh Kakak dalam gendongannya. Dan kemudian membawa menuju mobil milik Harsha yang ada di parkiran.
"Kakak Gala ikut pulang bersamaku ke kediaman Abimanyu ya. Kakak ikuti aku di belakang mobil kakak Harsha."
"Baiklah," jawab Gala.
***
Di dalam perjalanan, Adam sesekali melihat kearah kaca spion yang ada di depannya guna untuk melihat Harsha yang duduk di belakang. Dapat Adam lihat bahwa kakaknya itu masih menutup kedua matanya dengan posisi tertidur di kursi belakang.
"Kakak," lirih Adam.
Drrtt...
Drrtt...
Tiba-tiba Adam dikejutkan dengan bunyi ponselnya yang menandakan panggilan masuk.
Adam menghentikan laju mobilnya guna untuk mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Setelah ponselnya berada di tangannya. Adam melihat nama ibunya di layar ponselnya itu. Adam kemudian menjawab panggilan dari ibunya dengan cara meloadspeaker panggilan tersebut agar Adam lebih mudah berbicara dengan ibunya sambil menyetir.
Setelah itu, Adam kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sembari berbicara dengan ibunya.
"Hallo, Mama!"
"Hallo sayang. Kamu dimana? Kenapa belum pulang?"
"Maafkan aku yang sedikit terlambat. Aku sama ini sedang dalam perjalanan pulang, tapi aku pulang ke kediaman Abimanyu. Aku tidak sendirian, melainkan bersama kakak Harsha. Sekarang kakak Harsha pingsan."
***
"Apa? Harsha pingsan?! Kenapa sayang? Apa yang terjadi?"
Mendengar teriakkan serta perkataan Utari. Evan, Garry dan Danish yang sudah berada di ruang seketika terkejut. Mereka yang tadinya berada di ruang tengah langsung berlari menuju dapur dimana Utari sedang memasak makan siang.
"Sayang, ada apa?"
"Mama, Harsha kenapa?" tanya Garry dan Danish bersamaan.
Mendapatkan pertanyaan dari suami dan kedua putranya. Utari langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
Evan, Garry dan Danish langsung paham akan kode yang diberikan oleh istrinya/ibunya.
"Aku nggak tahu. Kakak Harsha tiba-tiba jatuh pingsan ketika kita hendak menuju parkiran. Mama, aku takut! Ini untuk pertama kalinya aku melihat kakak Harsha pingsan. Selama ini kakak Harsha selalu dalam keadaan baik-baik saja."
Mendengar perkataan serta nada lirih putra bungsunya membuat Utari merasakan kesedihan mendalam. Utari membenarkan apa yang dikatakan oleh putra bungsunya itu tentang Harsha yang selama ini selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Utari sangat meyakini jika saat ini putra bungsunya itu syok melihat kakak yang selama ini selalu ada untuknya dan selalu menemaninya dari kecil jatuh pingsan di hadapannya.
"Sayang, dengarkan Mama. Semoga kakak Harsha baik-baik saja. Mama tahu ketakutan kamu. Tapi percayalah. Semuanya akan baik-baik saja!"
"Oh iya! Apa kamu hanya berdua saja sama kakak Harsha, hum?"
"Iya. Aku yang nyetir mobil kakak Harsha. Sementara kakak Harsha ada di belakang masih belum sadar. Dan di belakang mobil kakak Harsha ada mobil kakak Gala."
"Hati-hati ya. Jangan ngebut. Mama, Papa, kakak Garry dan kakak Danish akan langsung pergi ke kediaman Abimanyu. Sampai disana Mama akan menghubungi dokter keluarga Abimanyu. Jadi nanti ketika kamu dan kakak Harsha datang. Kakak kamu bisa langsung diperiksa."
"Terima kasih Mama."
"Sama-sama sayang."
Setelah mengatakan itu, baik Utari maupun Adam sama-sama mematikan panggilannya.
"Tuhan! Selamatkan keponakanku dan putraku sampai ditujuan," batin Utari berdoa.
Puk..
Evan menepuk pelan bahu istrinya. Dia yakin jika istrinya itu khawatir akan putra dan keponakannya.
"Semoga putra bungsu dan keponakan kita baik-baik saja. Semoga Adam bisa konsentrasi membawa mobilnya," ucap Evan.
"Aku harap begitu. Adam sangat dekat dengan Ardi dan Harsha. Mereka berdua selalu ada untuk Adam. Apapun akan mereka lakukan untuk Adam. Aku yakin saat ini Adam pasti syok ketika melihat Harsha jatuh tak sadarkan diri di depan matanya. Ini adalah untuk pertama kalinya Harsha pingsan."
"Ya, sudah! Kalau begitu kita bersiap-siap untuk pergi ke kediaman Abimanyu!"
"Hm!" Utari, Garry dan Danish menganggukkan kepalanya bersamaan.