THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Merencanakan Pembalasan



Di pagi hari semua anggota keluarga sudah bangun dari tidurnya. Kini mereka semua sudah berada di meja makan termasuk Adam.


"Makan yang banyak sayang," ucap Utari sembari memasukkan sepotong ayam ke dalam piring putra bungsunya.


Adam tersenyum. "Terima kasih, Ma!"


"Sama-sama sayangnya Mama."


"Kok cuma Adam doang yang diambilkan ayam goreng sama Mama. Aku juga mau."


Danish memang sengaja berbicara seperti itu hanya untuk menghangatkan suasana. Danish tahu bahwa adiknya saat ini masih dalam keadaan tidak baik saja.


Mendengar perkataan Danish. Mereka semua tersenyum gemas. Sementara Adam mendengus geli ketika mendengar ucapan manja Danish.


"Kau itu punya tangan, Danelio Danish Bimantara! Jadi ambil sendiri. Kenapa menyuruh Mama?" Adam berucap dengan kejamnya.


"Hahahahaha." tawa Ardi, Harsha dan Vigo pecah. Mereka tertawa nista. Danish menatap tajam ketiganya.


Sementara Kakek, Nenek, para orang tua dan para kakak hanya tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari Adam dan melihat wajah melongo Danish.


Danish menatap adiknya seakan-akan dirinya ingin memakan adiknya itu hidup-hidup.


"Tidak usah menatapku seperti itu saudara Danelio Danish Bimantara. Aku tahu kalau aku ini lebih tampan darimu," ucap Adam.


"Hahahahaha."


Ardi, Harsha dan Vigo kembali tertawa. Mereka benar-benar puas melihat penderitaan Danish pagi ini. Apalagi yang menjadi pelakunya adalah kelinci bongsor mereka.


"Yak! Kalian benar-benar ya." Danish menatap kesal Ardi, Harsha dan Vigo.


"Sudahlah Danish. Terima saja nasibmu pagi ini. Anggap saja bonus untuk kami agar kami sarapan pagi lebih bersemangat lagi." Vigo berucap sambil menjahili Danish.


"Betul... Betul!" Ardi dan Harsha menganggukkan kepalanya bersamaan sambil mengunyah makanannya.


Ketika Danish ingin membalas ketiga saudaranya, tiba-tiba ponsel milik Adam berbunyi. Adan langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


Saat ponsel itu sudah berada di tangannya. Adam melihat nama 'Zelo' di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu lagi. Adan langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Zelo."


"Hallo, Dam. Aku ada kabar baik untukmu."


"Kabar baik apa, Zelo?"


"Aku dan anggotaku sudah berhasil membunuh dan membantai habis kelompok SCORPION kelompok yang dipakai oleh keluarga Kalyani dan keluarga Adiyaksa."


"Benarkah?"


"Benar, Dam! Dan saat ini kedua kakak adik itu tidak mengetahui bahwa kelompok itu sudah hancur."


"Jadi dengan kata lain. Kedua bajingan itu tidak memiliki bekingan lagi?"


"Iya. Dam! Anggotaku bahkan sudah mencari berapa banyak kelompok-kelompok tersebar di dunia ini. Kemudian anggotaku menyebarkan foto dua keluarga itu dan memberikan kepada kelompok-kelompok yang mereka temukan. Dan meminta semua kelompok itu untuk tidak ikut campur atau hanya sekedar menerima pekerjaan dari dua keluarga itu."


"Wah! Ini benar-benar berita yang membahagiakan Zelo. Aku sangat senang sekali."


"Sekarang apa rencanamu?"


"Eeemmm... apa kita sudah bisa langsung masuk ke intinya? Aku sudah tidak sabar untuk melakukan itu, Zelo! Aku ingin segera menyelesaikannya. Aku benar-benar lelah."


Mendengar perkataan dari Adam membuat mereka semua terkejut dan juga menatap khawatir Adam. Pikiran mereka sudah traveling kemana-mana. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu dengan Adam.


"Jika kau sudah siap. Besok kita sudah bisa melakukan penyerangan ke kediaman dua keluarga itu. Untuk keluarga Adiyaksa serahkan padaku dan anggotaku. Aku berjanji kepadamu untuk menghancurkan keluarga itu. Untuk keluarga Kalyani, itu urusanmu. Mau kau apakan mereka."


"Baiklah. Oh iya, Zelo! Untuk Dennis dan istrinya. Aku ingin mereka tetap hidup. Sepertinya kedua kakakku akan bermain-main terlebih dahulu dengan mereka berdua sebelum mengambil nyawa mereka."


"Dengan senang hati, Dam! Aku akan menjaga mereka dengan baik sampai kedua kakakmu datang ke markas. Atau kau punya rencana lain untuk bajingan itu?"


"Eemm. Bagaimana kalau kau membawa bajingan itu dan istrinya ke tempat dimana kakak Nicolaas dan papaku disekap?"


"Ide bagus. Baiklah! Besok sekitar pukul 7 pagi dua puluh anggotaku akan membawa mereka ke markas itu. Sekalian dua puluh anggotaku untuk membantu kedua kakakmu disana."


"Terima kasih, Zelo!"


"Sama-sama, Dam! Aku senang melakukannya. Kau sahabat terbaikku."


"Sudahlah, Dam! Jangan diingat-ingat lagi hal buruk itu. Sekarang kan kau sudah bersama dengan Ayah dan kedua kakak-kakakmu. Bukankah itu yang kau inginkan sejak dulu."


Mendengar perkataan dari Zelo. Adam tersenyum sembari menatap wajah Ayah dan kedua kakak-kakanya. Evan, Garry dan Danish yang melihat Adam yang tersenyum kepadanya membalas senyuman putranya/adiknya itu.


"Baiklah, Zelo! Kalau begitu aku tutup teleponnya. Aku dan yang lainnya akan memulai membahas rencana untuk menyerang dua keluarga brengsek itu."


"Baiklah."


PIP!


Setelah selesai berbicara dengan Zelo. Adam langsung mematikan ponselnya dan kembali memasukkan ke dalam saku celananya.


Setelah selesai sarapan pagi. Kini mereka semua sudah berada di ruang tengah. Mereka saat ini sedang membahas rencana untuk menyerang keluarga Adiyaksa dan keluarga Kalyani.


"Ada kabar baik untuk kita semua!" seru Adam.


Mereka semua melihat kearah Adam. Dapat mereka lihat ada sedikit kebahagiaan disana.


" Kabar baik apa, Dam?" tanya Ardi.


"Besok kita akan mulai dengan permainan kita. Kelompok SCORPION sudah mati. Mereka sudah dibantai habis oleh kelompok Zelo."


Mendengar jawaban dari Adam membuat mereka semua bahagia. Mereka semua memang sudah tidak sabar untuk menyelesaikan masalah ini agar mereka bisa hidup tenang dan bahagia tanpa ada gangguan lagi.


"Apa rencana kita, Allan?" tanya Vigo.


"Untuk bajingan Dennis dan istrinya. Aku serahkan kepada kak Nicolaas dan kak Vigo. Kalian berdua bebas mau melakukan apapun kepada mereka berdua. Jika kalian ingin membunuh mereka juga tidak apa-apa. Pihak kepolisian tidak akan menangkap kalian. Kalian bagian dari keluarga Bimantara bukan Adiyaksa."


Mendengar perkataan dari Adam membuat Nicolaas dan Vigo tersenyum. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.


"Terima kasih, Allan! Kakak sudah tidak sabar untuk bermain-main dengan pembunuh itu." Nicolaas berbicara sembari memikirkan apa yang akan dilakukan olehnya ketika sedang bermain-main dengan Dennis. Begitu juga dengan Vigo.


Baik Nicolaas maupun Vigo sangat dendam dengan keluarga Adiyaksa. Keluarga tersebut sudah menghancurkan keluarganya dan juga sudah merebut ayahnya untuk selamanya. Bahkan keluarga itu juga yang sudah memisahkan ayahnya dari keluarga kandungnya.


"Untuk anggota keluarga Adiyaksa lainnya, kelompok Zelo yang akan membereskannya. Zelo akan membawa Dennis dan istrinya ke tempat dimana kak Nicolaas dan Papa disekap. Ditempat itu lah kak Nicolaas dan kak Vigo bermain-main dengan kedua suami istri itu."


"Ini menarik sekali, Allan! Terima kasih. Kami pasti bahagia ketika bermain nanti," sahut Vigo.


"Jika kalian butuh bantuan. Hubungi saja sahabat-sahabat kalian. Jika mereka bergabung dengan kalian. Permainan akan tambah seru," usul Adam.


"Dengan senang hati. Kakak pasti akan mengajak mereka untuk bergabung dengan kakak, Allan!" seru Vigo.


"Iya. Kakak juga," sela Nicolaas.


"Baiklah. Untuk keluarga Kalyani. Kita akan langsung menyerang kediaman keluarga Kalyani. Di kediaman keluarga Kalyani terdapat sekitar 30 orang yang menjaga rumah itu. Pertama kita habisi dulu para penjaga tersebut. Setelah itu, kita harus memastikan di dalam. Jika sudah aman. Baru kita akan menyerang kedua kakak adik itu."


"Baik," jawab Danish, Ardi dan Harsha bersamaan.


"Kali ini aku tidak akan membiarkan perempuanmu hidup, Areta Dhira Kalyani! Aku pastikan kau akan benar-benar mati di tanganku," batin Adan dengan mengepalkan kedua tangannya kuat.


Anggota keluarganya yang melihat Adam yang mengepalkan kedua tangannya sangat paham. Pasti saat ini Adam sedang memikirkan untuk segera menghabisi kedua Kalyani bersaudara.


Baik Adam maupun seluruh anggota keluarga Abimanyu maupun keluarga Bimantara benar-benar marah dan dendam dengan keluarga Kalyani tersebut.


Adam melihat kearah Ardi dan Danish. "Kakak Danish. Kakak hubungi sahabat-sahabat kakak. Minta bantuan mereka untuk penyerangan besok. Lebih banyak yang menyerang keluarga Kalyani, maka lebih besar peluang kita menang."


"Baiklah. Kakak akan menghubungi mereka."


Danish langsung mengeluarkan ponselnya yang ada di saku celananya. Dan kemudian langsung menghubungi salah satu sahabatnya yaitu Cakra.


"Jangan lupa hubungi juga kelompok LILAX, kak Danish!"


"Hm." Danish menjawab dengan deheman.


"Kak Ardi. Kakak hubungi kak Arka, kak Kenzie, kak Sakha dan kak Gala. Katakan rencana kita ini ke mereka."


"Baiklah." Ardi langsung melakukan apa yang diminta oleh adiknya itu.


"Dan untuk kakak Harsha. Hubungi kelompok VAGOS."


"Baik, Dam!" Harsha mengangguk.


Harsha mengambil ponselnya dan langsung menghubungi salah satu anggota VAGOS.