THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Lebih Suka Adam Yang Sekarang



[Bandara Soekarno Hatta]


Raafe Maroun, Prince, tiga tangan kanan dan 100 anggotanya sudah sampai di bandara.


Ketika menginjakkan kaki di tanah air, seketika tangis Melky pecah. Begitu juga dengan Jordan dan istrinya Ghiska. Mereka benar-benar kembali lagi ke Jakarta.


"Hiks... Hiks... Adam... Hiks," isak Melky.


Grep..


Ghiska langsung memeluk tubuh putranya erat. Dirinya sangat tahu bagaimana perasaan putranya saat ini.


"Mami kita pulang... Kita pulang... Hiks... Mami," isak Melky di pelukan ibunya.


"Iya, sayang! Kita pulang. Kita sudah berada di Jakarta lagi. Apa kamu bahagia, hum?"


"Sangat! Aku benar-benar bahagia Mami. Aku... Aku bisa berkumpul lagi Adam. Aku rindu Adam. Bagaimana kabar dia sekarang. Kita pergi ke Australia ketika Adam koma tiga hari di rumah sakit. Dan terakhir aku bicara dengan dia lewat telepon. Itu pun sudah lebih 4 bulan."


Ghiska tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan putranya. Tangannya mengusap-usap lembut kepala belakang putranya itu.


"Nanti setelah bertemu dengan Adam. Kau bisa menatap dan melepaskan rasa rindu kalian berdua."


"Aku akan memeluk Adam. Dan aku nggak akan lepasin dia."


"Kalau kamu nggak lepasin dia. Bisa nggak bernafas dong Adam nya," goda Ghiska tersenyum.


Seketika tawa Melky pun pecah ketika mendengar ucapan dari ibunya. Di dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh ibunya itu bahwa Adam tidak akan bernafas jika lama-lama dirinya peluk.


"Tuan, Nyonya! Lebih baik kita pergi sekarang! Jangan terlalu lama di Bandara!"


"Baiklah."


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan Bandara untuk menuju kediaman Abimanyu.


Kenapa mereka harus pergi ke kediaman Abimanyu bukan langsung pulang ke rumah keluarga Pramana? Pertama, mereka berpikir jika rumah keluarga Pramana sudah tidak aman lagi. Dan kedua, ini adalah permintaan Adam yang disampaikan oleh Zelo kepada Raafe Maroun.


***


Bugh.. Bugh..


Duagh..


Terdengar suara pukulan demi pukulan serta tendangan demi tendangan di sebuah ruangan yang bisa disebut sebagai ruangan penyiksaan.


Orang-orang yang menjadi korban pukulan dan tendangan itu adalah semua anak buah dari orang yang sudah membuat celaka keluarga Pramana. Dan yang menjadi tersangkanya adalah para anggota dari kelompok KARTEL, kelompok yang diketuai oleh Zelo. Kelompok yang terkenal dan sangat kejam dan paling berpengaruh di seluruh Indonesia. Dan kelompok yang ditakuti serta disegani kota Jakarta, baik Jakarta Pusat maupun Jakarta Selatan Jakarta Barat dan Jakarta Utara.


"Siapa Bos kalian! Jawab!"


Bugh..


"Sampai kami mati pun. Kami tidak akan memberitahu siapa Bos kami!" teriak salah satu dari anak buah orang itu.


"Brengsek! Bunuh dia!"


"Siap!"


Dor.. Dor..


Dor..


Dua anggota dari laki-laki yang ditugaskan untuk mengeksekusi para tahanan langsung memberikan masing-masing tiga tembakan. Tembakan itu mengenai jantung dan kepala dengan keadaan berlubang.


"Lakukan seperti itu jika mereka tidak mau buka mulut."


"Baik!"


Setelah mengatakan itu, laki-laki itu keluar meninggalkan ruangan penyiksaan tersebut untuk memberikan laporan kepada sang Bos.


***


Hari ini adalah hari minggu. Keluarga Abimanyu memutuskan untuk di rumah saja. Dan sekarang ini mereka semua sudah berada di ruang tengah lengkap dengan Adam.


Bukan hanya anggota keluarga saja yang ada di ruang tengah itu, melainkan para sahabat dari Adam, Danish, Ardi, Harsha dan Vigo juga ada disana.


Adam saat ini tengah menyenderkan kepalanya di bahu sang kakak tertuanya yaitu Garry.


Garry yang melihat adiknya yang manja kepadanya seketika tersenyum bahagia. Hatinya benar-benar menghangat. Berlahan tangannya mengusap-usap lembut pucuk kepala adiknya lalu memberikan ciuman disana.


"Kakak," panggil Adam.


"Ada apa, hum?"


"Kita pergi makan-makan lagi di cafe favorit kakak dan Mama itu yuk! Kangen kesana."


"Kapan?"


"Kapan kakak ada waktunya?"


"Kalau kamu bertanya kapan kakak punya waktu, maka jawabannya adalah kakak nggak akan ada waktu untuk leha-leha selain ngantor. Tapi jika kamu atau kakak kamu Danish yang minta, maka kakak akan mengosongkan semua jadwal kakak di kantor."


Mendengar jawaban dari kakaknya seketika terukir senyuman manis di bibir Adam. Dirinya benar-benar bahagia memiliki kakak seperti kakaknya yang sekarang ini.


Garry yang melihat senyuman manis adiknya merasakan kebahagiaan di hatinya. Dirinya merasa bahagia ketika bisa membuat adiknya tersenyum.


"Aku akan pikirkan kapan waktu yang cocok untuk kita pergi berkencan," ucap Adam.


"Berkencan? Maksudnya?"


"Iya, kencan? Kenapa? Apa ada yang salah jika seorang kakak yang ingin aja adiknya kencan. Kencan itu bukan untuk diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah punya kekasih atau yang sudah menikah. Kencan itu juga bisa untuk seorang kakak yang ingin aja adiknya jalan-jalan keluar. Dengan kata lain jalan-jalan special antara kakak dan adik."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Adam membuat mereka semua tersenyum. Di dalam hati mereka masing-masing juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Adam barusan.


"Iyain aja deh!" seru Vigo tiba-tiba.


"Ntar kalau kita nggak iyain. Bisa-bisa anak kelinci kita ini ngurung diri lagi berjam-jam dan bahkan berhari-hari di dalam kamar," ledek Harsha.


Mendengar perkataan dan sindiran dari kakak aliennya itu membuat Adam mendelik kesal.


"Diam lo alien tengil. Nggak usah pake nyindir segala lo," sahut Adam.


Harsha seketika melotot ketika mendengar Adam yang seenaknya jidatnya ngomong tanpa embel-embel kakak.


"Dasar adik terlaknat," ucap Harsha.


"Dasar si alien gosong, jelek dan dekil!"


Ketika Harsha ingin membalas perkataan Adam. Perkataannya itu langsung dibalas oleh Adam sehingga dirinya tidak memiliki kesempatan apapun.


"Berani membalas perkataanku. Putus hubungan kita. Ucapkan selamat tinggal kepada persaudaraan."


Harsha seketika langsung mengatub bibirnya rapat-rapat ketika mendengar ucapan dari Adam dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap syok kearah Adam.


"Hahahahaha."


Seketika semua orang tertawa keras ketika mendengar ucapan sadis dari Adam dan melihat wajah syok Harsha. Yang paling keras tertawanya adalah Danish, Ardi, Vigo dan sahabat-sahabatnya, termasuk sahabat-sahabatnya Adam.


Adam melirik wajah Harsha yang saat ini tengah kesal akan perkataannya itu. Dan detik kemudian, terukir senyuman di bibir Adam. Hari ini dirinya berhasil membuat kakak aliennya itu kesal. Bahkan super kesal.


Garry yang melihat senyuman manis adiknya seketika paham. Garry meyakini bahwa adiknya itu tengah bahagia karena sudah berhasil membuat salah satu kakak sepupunya kesal akan ulahnya itu.


"Kamu bahagia, hum?" tanya Garry.


"Maksud kakak?" tanya Adam yang tatapan matanya masih menatap wajah kesal dan wajah manyun kakak aliennya itu.


"Udah puas menjahili kakak alienmu itu?"


Seketika Adam langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah tampan kakak tertuanya itu.


Garry langsung memberikan ciuman di kening adiknya itu ketika adiknya menatap dirinya.


"Kok jahil banget jadi adik?"


Adam langsung cemberut ketika mendapatkan pertanyaan dari kakaknya itu. Setelah itu, Adam kembali ke posisi semula.


"Kan kak Harsha yang mulai duluan. Kenapa dia tadi nyindir aku? Ya, udah! Aku balas aja."


Garry kembali tersenyum. Dirinya benar-benar tak habis pikir akan jawaban dari adiknya itu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya dan para sahabat-sahabatnya. Mereka semua tersenyum melihat tingkah gemas Adam.


Setidaknya dengan mereka melihat tingkah Adam hari ini, Adam bisa sedikit rileks dan tidak terlalu memikirkan masalah yang menimpa Melky dan keluarganya. Sudah beberapa hari ini Adam banyak diam dan juga banyak melamun. Semua semangatnya seolah-olah telah dibawa pergi oleh Melky.


"Kakak lebih suka kamu yang seperti ini Adam. Dari pada Adam yang sepuluh hari yang lalu," batin Harsha.