
Danish, Ardi dan Harsha sudah berada di ruang tengah bersama Adam adik mereka. Dan Adam juga sudah selesai dengan semua tugas-tugas kuliahnya.
Adam melihat kearah ketiga kakaknya yang kini juga tengah menatap dirinya tanpa suara sejak tadi.
"Kalian ngapain sih?" tanya Adam yang menatap garang ketiga kakaknya itu.
Mendengar pertanyaan serta melihat wajah kesal Adam seketika Danish, Ardi dan Harsha tersenyum.
Melihat reaksi ketiga kakaknya membuat Adam makin kesal. Kemudian Adam membereskan semua buku-buku kuliahnya beserta laptopnya.
Selesai membereskan semuanya, Adam pun langsung beranjak dari duduknya berniat ingin pergi meninggalkan tiga manusia menyebalkan.
Melihat Adam yang berdiri sambil memegang tugas-tugas kuliahnya, Ardi dan Danish secara bersamaan menahan tangannya. Sedangkan Harsha mengambil buku-buku dan laptop milik Adam dan meletakkan kembali di atas meja.
Adam Kembali duduk di sofa akibat ulah dari Danish dan Ardi. Tatapan matanya menatap tajam ketiga kakaknya. Dan jangan lupakan bibirnya yang digerak-gerakan mengeluarkan seribu sumpah serapahnya.
Sedangkan Danish, Ardi dan Harsha tersenyum geli ketika melihat wajah kesal Adam. Apalagi ketika melihat mulutnya yang tak berhenti bergerak-gerak.
"Kita mau ngomong!" seru Danish, Ardi dan Harsha bersamaan.
Adam hanya diam tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Hanya bola matanya saja yang bergerak melihat ketiga kakaknya itu secara bergantian.
Melihat reaksi dari Adam membuat Danish, Ardi dan Harsha menghela nafas pasrahnya.
"Kamu masih ingat dengan sahabat SMP sekaligus sahabat SMA kamu?" tanya Ardi.
Mendengar pertanyaan dari Ardi seketika membuat Adam mengingat siapa saja sahabatnya ketika dia di SMP dan SMA.
Detik kemudian...
"Jasmine dan Ariel," jawab Adam.
"Apa kamu tidak ingin tahu tentang kedua sahabat kamu itu?" tanya Harsha.
"Aku sudah lama putus kontak sama mereka berdua. Dan aku juga sudah tidak pernah lagi bertemu dengan mereka berdua. Apalagi dengan Jasmine."
Mendengar jawaban dari Adam, ditambah lagi perubahan wajah Adam yang tampak sedih membuat Danish, Ardi dan Harsha juga ikut sedih.
"Apa kamu masih ingat ketika kamu Amnesia. Datang dua orang asing yang tiba-tiba meluk kamu dan menyebut kamu Adam. Padahal pada saat itu nama kamu Allan!" seru Danish.
"Jangan bilang jika dua orang itu adalah.....?"
Perkataan Adam terpotong karena Ardi langsung menjawabnya Adam.
"Iya. Dua orang itu adalah Jasmine dan Ariel, kedua sahabat SMP dan SMA kamu."
"Apa yang terjadi?" tanya Adam.
"Yang jelas mereka berdua sedih dan terluka karena kamu tidak ingat mereka," jawab Ardi.
"Hati mereka makin sakit ketika melihat kamu yang tertawa lepas dengan sahabat baru kamu yaitu Melky," jawab Harsha.
"Karena mereka tidak ingin terlalu lama melihat kamu. Jasmine dan Ariel memutuskan pindah kuliah. Sampai sekarang kita tidak tahu keberadaan mereka dimana," sahut Danish.
Mendengar perkataan dari Danish kakaknya seketika membuat Adam tersenyum. Dia tahu dimana kedua sahabatnya itu berada.
Melihat Adam yang tersenyum membuat Danish, Ardi dan Harsha menatapnya dengan tatapan mencurigakan dan juga penasaran. Di dalam hati mereka masing-masing meyakini bahwa adiknya itu tahu sesuatu.
"Kamu tersenyum seperti itu, pasti sudah mengetahui dimana Jasmine dan Ariel berada?" tanya Ardi menebak.
Adam langsung menatap wajah kakak pucatnya itu. "Menurut kakak?"
"Kalau dilihat dari kamu tersenyum. Kakak meyakini bahwa kamu tahu dimana Jasmine dan Ariel berada," jawab Ardi.
"Salah. Aku tersenyum bukan karena tahu dimana keberadaan Jasmine dan Ariel. Aku tersenyum karena......" Adam sengaja menghentikan sejenak ucapannya itu dengan menatap satu persatu wajah ketiga kakaknya.
"Mencurigakan," batin Danish, Ardi dan Harsha bersamaan.
Ketika Adam hendak melanjutkan perkataannya tadi, tiba-tiba ponsel milik Ardi berbunyi menandakan panggilan masuk. Ardi pun langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah ada di tangannya, Ardi melihat nama kakak sulungnya tertera di layar ponselnya. Ardi pun segera menjawab panggilan dari kakak sulungnya itu.
"Hallo kak Dzaky."
"Hallo, Ardi. Tolongin kakak. Kakak dari tadi dikejar-kejar beberapa orang berkendara. Awalnya kakak pikir mereka akan berhenti mengejar kakak ketika kakak berhasil kabur dari mereka. Ternyata kakak salah. Justru mereka makin banyak, Di!
"Apa?!" Ardi seketika berteriak terkejut ketika mendengar penuturan dari kakaknya itu.
Mendengar Ardi yang tiba-tiba berteriak membuat Adam, Danish dan Harsha menatap khawatir Ardi. Dalam hati mereka meyakini bahwa terjadi sesuatu terhadap Dzaky.
"Kakak tidak tahu Ardi. Saat ini kakak benar-benar kalut. Mereka tidak berhenti mengejar mobil kakak."
Adam seketika merampas ponsel milik Ardi. Dia ingin bicara langsung dengan kakak sepupunya itu.
"Hallo kakak Dzaky. Ini aku, Adam! Sekarang kakak coba tenang. Jangan panik dan jangan kalut. Kalau kakak panik dan kalut, takutnya kakak kecelakaan nanti."
Mendengar ucapan sekaligus kata penenang dari adik sepupunya itu membuat Dzaky seketika berusaha untuk bersikap tenang. Dirinya membenarkan apa yang dikatakan oleh adik sepupunya itu.
"Hallo, kak Dzaky! Bagaimana?" tanya Adam.
"Kakak sudah sedikit tenang, Dam! Tidak seperti beberapa menit yang lalu."
Seketika terukir senyuman di bibir Adam ketika mendengar jawaban dari kakak sepupunya itu.
"Sekarang, coba kakak lihat-lihat keluar jendela. Apa yang bisa menjadi petunjuk disana?"
Sembari tetap fokus menyetir, mata Dzaky sesekali melihat kearah luar. Baik sebelah kiri maupun sebelah kanan. Bahkan Dzaky juga melihat ke belakang, para pengendara sepeda motor itu masih mengejar mobilnya.
"Dam."
"Iya, kak! Kenapa?"
"Kamu tahu lokasi pertambangan yang bermasalah itu?"
"Iya, aku tahu."
"Kakak memasuki lokasi itu. Pengendara sepeda motor itu makin banyak. Mereka terus mengejar mobil kakak. Bukan kakak tidak mampu menghadapi mereka. Kalau hanya dua atau sepuluh orang, kakak masih sanggup. Ini lebih dari sepuluh, Dam!"
"Berapa jumlah mereka?"
"Sekitar 100 orang. Yang awal hanya 16 orang."
"Brengsek!"
"Kakak usahakan terus tetap mengendarai mobilnya. Aku akan minta bantuan sama Zelo. Kakak tenang, oke!"
"Tapi jangan lama-lama."
"Tidak akan. Panggilan teleponnya jangan dimatikan. Biarkan tetap tersambung."
"Baiklah."
Adam memberikan ponselnya kepada Ardi, lalu dirinya mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Zelo.
"Hallo, Dam!"
"Zelo, gue butuh bantuan lo!"
Zelo yang di seberang telepon seketika terkejut ketika mendengar nada bicara Adam.
"Ada apa, Dam?"
"Kakak Dzaky dalam bahaya. Ada sekitar 100 orang pengendara sepeda motor mengejar mobilnya kakak Dzaky. Gue butuh sekitar 200 anggota KARTEL untuk segera pergi ke lokasi pertambangan yang bermasalah itu. Kakak Dzaky berada disana."
"Baiklah. Gue akan segera kerahkan 200 anggota gue untuk kesana. Lo tenang ya. Kakak sepupu lo itu bakal baik-baik saja. Percayalah!"
"Terima kasih, Zelo!"
"Sama-sama. Ya, sudah! Gue tutup teleponnya biar gue biasa bergerak sekarang."
"Baiklah."
Setelah itu, Adam dan Zelo sama-sama mematikan panggilannya masing-masing.
"Dam, bagaimana?" tanya Ardi.
"Kakak Ardi tenang ya. Zelo sudah memerintahkan anggotanya untuk ke lokasi dimana kakak Dzaky berada."
"Sembari menunggu anggotanya Zelo datang kesana. Ada baiknya kita susul kakak Dzaky," usul Harsha.
"Dam." Ardi melihat kearah Adam.
"Baiklah. Ayo, sekarang kita susul kakak Dzaky!"
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan kediaman Abimanyu untuk menuju lokasi pertambangan yang tak terpakai lagi untuk menolong Dzaky.
"Kakak, semoga kakak baik-baik saja dan berhasil mengecoh para pengendara sepeda motor itu." Ardi berbicara di dalam hatinya.