THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Memulai Penyerangan



Di sebuah rumah kecil yang disewa oleh seorang pria paruh baya bersama dengan satu tangan kanannya sedang merencanakan untuk membunuh Adam dan Saga sekaligus. Pria itu sudah tidak peduli lagi akan hubungan dirinya dengan pemuda yang bernama Saga. Sejak dulu memang pria paruh baya itu tidak peduli dengan Saga. Yang dia pedulikan adalah bagaimana caranya untuk merebut perusahaan yang dipimpin oleh Saga.


Pria itu dan tangan kanannya sedang mempersiapkan untuk menyerang Adam dan Saga. Keduanya sudah mengetahui keberadaan Adam dan Saga.


Pria itu dan tangan kanannya membayar beberapa preman jalanan untuk dijadikan anak buahnya sehingga dia dan tangan kanannya memiliki anggota ketika menyerang Adam dan Saga.


"Bagaimana? Kalian sudah siap?"


"Siap, tuan!" para preman-preman yang dibayar itu langsung menjawab pertanyaan dari pria tersebut.


"Baiklah. Kita berangkat sekarang. Aku sudah tidak sabar untuk menghabisi kedua bocah ingusan itu."


"Saga, sebentar lagi kau akan bertemu dengan ayahmu di akhirat. Kau tidak akan pergi sendirian, melainkan bersama teman barumu itu yang bernama Adam." pria itu berbicara di dalam hatinya.


***


Di kediaman Evan Bimantara dimana semua anggota keluarga berkumpul. Bukan hanya anggota keluarga saja yang berkumpul disana, melainkan para sahabat dari Adam dan para kakak-kakaknya Adam. Bahkan kelompok Vagos, kelompok Lilax dan kelompok Kartel yang diwakili oleh Rasky juga ada disana.


"Apa kita berangkat sekarang?" tanya Ricky dengan tatapan matanya menatap kearah Adam yang sejak tadi hanya diam. Ekspresi wajahnya pun tak baik-baik saja.


Semuanya menatap Adam dengan tatapan khawatir. Mereka seketika memiliki perasaan tak enak terhadap Adam. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kesayangannya itu.


"Sayang," ucap Utari meremat tangan suaminya dengan tatapan matanya menatap kearah putra bungsunya.


"Tenang, oke! Semuanya akan baik-baik saja," hibur Evan.


Evan sama seperti istrinya yang seketika memiliki perasaan tak enak ketika menatap wajah putra bungsunya itu.


Mereka semua masih terus menatap kearah Adam yang masih diam tanpa mengeluarkan kata-kata apapun.


Namun detik kemudian...


"Aakkhhh!"


Tiba-tiba Adam mengerang kesakitan sembari tangannya meremat kuat rambutnya sehingga membuat anggota keluarganya dan yang lainnya berteriak sembari memanggil namanya.


"Adam!"


Evan dan Utari langsung mendekati putra bungsunya itu. Keduanya duduk di samping kiri dan kanan putranya.


"Sayang," ucap Evan dan Utari bersamaan.


"Sayang, lepaskan tangan kamu. Janga ditarik rambutnya," ucap Evan sembari melepas tangan putranya itu dari rambutnya.


"Pa-papa sa-sakit," ucap Adam dengan suara lirih dan terbata-bata.


Seketika Evan dan Utari menangis ketika mendengar aduan dan keluhan Adam yang mengatakan bahwa kepalanya sakit.


"Aakkhhh!" teriak Adam lagi.


"Adam... Hiks... sayang," ucap Utari sembari terisak dengan tangannya mengusap lembut kepala belakang putranya.


"Adam!"


Semuanya menatap khawatir terhadap Adam. Mereka bahkan ikut menangis ketika melihat Adam yang kesakitan di bagian kepalanya. Mereka semua menatap kearah Adam dengan berurai air mata.


Garry dan Danish seketika mendekati adiknya itu. Keduanya menangis melihat kondisi adiknya saat ini, ditambah lagi ketika mendengar teriakan kesakitan adiknya.


"Adam."


Garry dan Danish menggenggam tangan adiknya itu untuk sekedar memberikan kekuatan kepada adiknya sehingga keduanya merasakan genggaman kuat yang diberikan oleh adiknya itu.


Air mata mereka makin deras jatuh membasahi pipinya ketika merasakan genggaman kuat yang diberikan oleh adiknya.


Garry dan Danish menangis terisak. Hati mereka sakit ketika tangannya digenggam kuat oleh adiknya. Mereka meyakini bahwa adik bungsunya benar-benar merasakan sakit luar biasa di kepalanya.


"Dam," ucap lirih Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.


Seketika Adam menjatuhkan kepalanya di bahu ayahnya dan detik kemudian, kesadarannya mengambil alih tubuhnya.


"Adam," panggil Evan sembari menepuk pelan pipi putra bungsunya.


"Adam!" teriak semua orang yang ada di ruang tengah tersebut ketika melihat Adam yang tak sadarkan diri.


Melihat kondisi Adam yang tak baik-baik saja membuat Juan langsung menghubungi Pamannya Dokter Nurman dan memintanya datang ke kediaman Evan Bimantara.


Garry, Danish dan Reza mengangkat tubuh Adam dan meletakkan di punggung Dzaky. Setelah dipastikan aman, Dzaky pun berdiri dan membawa Adam ke kamarnya di lantai dua, diikuti oleh Utari, Alin, Kamila, Zaina, Celena, Garry dan Danish.


Sementara untuk yang lainnya tetap di ruang tengah. Mereka masih membahas penyergapan untuk Pamannya Saga.


"Tanpa Adam kita tetap melanjutkan rencana ini," sahut Saga yang saat ini benar-benar marah dan dendam terhadap laki-laki yang berstatus Pamannya.


"Ya, kita tetap melanjutkan rencana tersebut, walau tanpa Adam. Jika tidak dilakukan secepatnya, masalah ini tidak akan selesai. Disini Adam yang akan tertekan dengan masalah ini," sahut Harsha.


Ketika mereka tengah membahas untuk penyergapan terhadap Pamannya Saga, tiba-tiba saja ponsel milik Saga berbunyi.


Saga yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya.


Saga melihat nama tangan kanannya sekaligus tangan kanan ayahnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Saga segera menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, tuan! Saya ingin memberitahu bahwa tuan Torrik bersama tangan kanannya dan sekitar 50 anggota barunya dalam perjalanan menuju kediaman keluarga tuan Adam."


"Apa?!"


Saga seketika berteriak ketika mendengar penuturan dari tangan kanannya itu. Dia tidak menyangka jika Pamannya itu akan menyerang Adam sampai mendatangi kediaman Adam.


"Berapa jumlah anggotanya? Dan dari mana dia mendapatkan anggota?"


"Anggotanya sekitar 50 orang. Dia merekrut para preman jalanan."


"Baiklah. Pantau terus bajingan itu."


"Baik, tuan!"


Selesai berbicara dengan tangan kanannya, Saga langsung mematikan panggilannya. Kemudian Saga menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.


"Seperti kita tidak jadi untuk pergi menyergap bajingan itu?"


"Kenapa?" tanya Arka.


"Bajingan itu dalam perjalanan menuju kesini. Dia membawa sekitar 50 anggota. Dia mendapatkan anggota dengan cara merekrut para preman jalanan," sahut Saga.


"Tidak perlu khawatir. Kebetulan aku membawa sekitar 30 orang anggota Kartel kesini," sela Rasky.


"Dan aku juga sudah mempersiapkan sekitar 30 anggota ketika aku datang kesini dan memilih menginap disini," sahut Saga.


"Begitu juga denganku," pungkas Ricky.


"Untuk yang lainnya tetap berada di dalam rumah. Setidaknya berada di lantai dua. Biarkan kami yang menghadapi bajingan itu!" Rasky.


"Baiklah!" jawab para orang tua lalu mereka pun pergi ke lantai dua yaitu kamar Adam.


Sementara untuk yang lainnya, mereka membagi dua kelompok. Kelompok pertama bertugas untuk berjaga-jaga di sekitarnya. Baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Kelompok kedua bertugas sebagai penyerang.


Rasky memerintahkan anggotanya untuk bersembunyi di sekitar kediaman Evan Bimantara sembari memperhatikan sekitarnya. Begitu juga dengan anggotanya Saga dan Ricky. Jika sudah terdesak, barulah para anggotanya itu keluar dan menyergap laki-laki tersebut.


"Kalian sudah siap semuanya?" tanya Cakra.


"Kita sudah siap sejak Adam mendapatkan masalah ini," jawab Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.


"Kita juga siap. Kita siapa bertempur demi membela pemuda baik seperti Adam," sahut Prana.


"Iya, kita siap bertemu demi membela Adam!" seru Kenzie.


"Jangan ada yang terluka. Dan jangan lengah," ucap Saga.


"Kami mengerti!"


Setelah itu, mereka semua pun bersiap-siap dalam formasi masing-masing dan tugasnya masing-masing.