THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Menceritakan Tentang Adam



"Jadi benar kalau perusahaan kakak diserang oleh beberapa orang?" tanya Utari yang syok mendengar cerita dari keponakannya itu.


"Iya, Utari!" jawab Bagas.


"Ya, Tuhan!"


Semuanya terkejut ketika Dzaky dan Bagas bercerita tentang perusahaannya diserang oleh beberapa orang.


"Apa yang terjadi ketika orang-orang itu menyerang perusahaan kamu, Bagas?" tanya Yodha yang menatap putra sulungnya dengan tatapan sedih.


Mendengar pertanyaan dari ayahnya, apalagi ketika melihat wajah sedih ayahnya membuat Bagas menjadi tidak tega.


"Ini semua berkat cucu kesayangan Papa itu," sahut Bagas sembari tersenyum.


"Adam." Yodha langsung menyebut nama cucu kesayangannya itu.


"Iya, Pa!" Bagas menjawab sembari tersenyum membayangkan bagaimana orang-orang itu mati akibat tembakan yang tak terlihat.


"Apa yang terjadi Pa? Tolong ceritakan pada kamu," ucap dan mohon Ardi dan diangguki oleh Rafig dan lainnya.


"Kalian masih ingatkan ketika kita mengobrol sama Adam yang mana saat itu Papa dan Papa Davan terkejut lalu berkata kepada Adam dari mana dia mengetahui akses keamanan perusahaan?" tanya Bagas.


"Iya," jawab Ardi, Harsha, Danish dan semuanya. Termasuk Yodha, Utari, Evan dan para orang tua lainnya.


"Adam sudah merubah semua sistem yang kami buat di perusahaan yang kami pimpin. Bagaimana cara Adam melakukannya, kita belum tahu karena Adam belum cerita," ucap Davan.


"Dan berkat Adam yang merubah semua sistem operasi dan lainnya yang ada di perusahaan membuat siapa saja tidak bisa menyentuh atau pun sekedar menyabotase," ucap Bagas.


"Kejadian beberapa jam yang lalu di perusahaan itu semua berkat sistem operasi yang sudah Adam ganti. Jadi ketika orang-orang itu hendak masuk ke dalam dua ruangan dimana dua ruangan itu adalah ruangan penyimpanan uang dan ruangan data-data perusahaan seketika terdengar suara tembakan dan tembakan itu tepat mengenai orang-orang tersebut." Bagas berucap sembari menjelaskan kejadian tersebut.


"Semua tewas seketika dengan jantung, perut dan kepala yang dalam keadaan bolong," ucap Dzaky menambahkan.


Mendengar cerita dari Bagas dan Dzaky membuat semuanya terkejut dan syok. Mereka tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu di perusahaan Bagas.


Seketika mereka semua tersenyum. Mereka tersenyum sembari membayangkan wajah Adam. Yah! Mereka semua bangga akan kepintaran, kejeniusan dan kelicikan Adam.


"Adam itu memang pintar dan jenius," sahut Juan.


"Tambah satu lagi. Licik," sela Reza.


"Iya, kau benar Reza!" ucap Dzaky.


"Kakek ingat ketika dulu Adam baru kembali dari Amerika. Saat itu Ardi dan Harsha terlambat menjemputnya dan berakhir Adam kabur dan milih pulang ke Apartemen kakek. Tanpa kita semua ketahui bahwa Adam sudah memasang kamera pengintai sehingga Adam tahu akan kedatangan anak buah kakek dan anak buah ibunya."


Mendengar ucapan dari Yodha membuat mereka tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mengingat momen tersebut.


"Dan aku sangat yakin jika Adam memiliki banyak orang-orang pintar, orang-orang jenius dan orang-orang kejam di belakangnya selain Zelo beserta kelompoknya!" seru Ardi.


"Dan aku juga yakin jika Adam memiliki banyak sahabat. Sahabat-sahabatnya Adam bukan hanya Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando saja. Contohnya Jasmine dan Ariel. Mereka berdua sahabatnya Adam dari SMP dan SMA. Kemungkinan diluar sana masih banyak sahabat-sahabatnya Adam." Harsha berucap sembari mengingat sifat dan karakter adik sepupunya.


"Satu lagi, Adam itu memiliki sifat peka akan sekitarnya dan memiliki perasaan yang kuat akan orang-orang terdekatnya. Dia bisa merasakan jika terjadi sesuatu diantara orang-orang terdekatnya. Adam juga memiliki sifat yang murah beradaptasi dan bergaul dengan orang yang baru dia kenal. Dengan kata lain, Adam bisa membedakan mana yang baik mana yang jahat. Contohnya ketika pertama kali Melky menawarkan persahabatan dengan Adam yang mana Melky dikenal pemuda yang selalu menolak untuk punya teman dan selalu sendirian."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Harsha membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Harsha tentang Adam.


Ketika mereka tengah tersenyum bahagia dan bangga akan Adam, tiba-tiba mereka semua mendengar suara derab langkah kaki disertai dengan suara orang bicara menuju ruang tengah. Mereka bahkan tidak mendengar suara mobil Adam yang memasuki pekarangan rumah besar dan mewah Abimanyu.


"Baiklah kalau itu yang mereka inginkan. Persiapkan semuanya. Bunuh keluarganya jika mereka sampai mengusik keluargaku."


"...."


"...."


"Sekarang tugas kamu, incar anak perempuan mereka. Berikan sedikit polesan-polesan indah di wajahnya lalu kirim kepada kedua bajingan itu."


"...."


Setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon, Adam pun langsung mematikan panggilannya itu. Adam tidak sadar bahwa dia sudah berada di ruang tengah. Dan perkataannya barusan didengar dengan sangat jelas oleh semua anggota keluarganya.


"Kalian sudah melampaui batasan dengan membawa-bawa keluargaku. Ini yang ketiga kalinya kalian mengusik keluarga Abimanyu. Bahkan kalian juga ingin mengusik keluarga Palavi dan keluarga Bimantara. Untuk kali ini aku nggak akan tinggal diam. Aku juga akan bermain-main dengan keluarga kalian. Tunggu saja apa yang akan aku perbuat dengan anggota keluarga kalian."


Anggota keluarganya yang mendengar ucapan demi ucapan dari Adam merasakan kekhawatiran terhadap Adam terutama Utari, Evan, Garry dan Danish. Mereka tidak ingin kesayangannya kenapa-kenapa.


Adam melangkah menuju ruang tengah dan matanya menatap semua anggota keluarganya sudah berkumpul disana. Dalam hati Adam mengatakan 'Apakah anggota keluarganya itu mendengar semua yang dia katakan barusan?'


Setelah tiba di ruang tengah, Adam langsung menduduki pantat di sofa. Adam duduk di samping ibunya.


"Mama, aku lelah banget hari ini."


Utari tersenyum lalu tangannya mengusap lembut kepala putra bungsunya itu. Dan kemudian, Utari memberikan ciuman di kening putih putranya.


"Kamu mau makan apa? Mama akan buatkan untuk kamu."


"Apa aja yang penting enak. Tapi sebelumnya aku mau susu coklat. Boleh?"


Utari tersenyum gemas melihat wajah lucu, wajah manis dan wajah menggemaskan putra bungsunya itu ketika meminta susu coklat.


Bagaimana dengan Evan dan anggota keluarga yang lainnya? Mereka sama seperti Utari. Mereka tersenyum gemas melihat wajah lucu dan menggemaskan Adam. Adam bertingkah layaknya seorang anak kecil berusia 5 tahun.


"Dengan senang hati. Ya, sudah! Mama akan ke dapur sekarang untuk buatkan kamu susu coklat," ucap Utari.


Utari pun pergi menuju dapur dan diikuti oleh Alin dan Kamila. Keduanya juga ingin membuatkan sesuatu untuk keponakannya itu. Anggap saja ungkapan terima kasih mereka atas apa yang telah Adam lakukan untuk mereka dan para suami mereka, walau mereka tahu bahwa Adam tulus melakukan semua itu.


"Mama buat dua gelas. Kalau cuma satu gelas, itu nggak buat rasa haus dan rasa lelahku hilang!" teriak Adam.


"Sesuai keinginan kamu, sayang!" balas Utari dengan sedikit berteriak.


Adam menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, lalu meletakkan kepalanya di kepala sofa. Kemudian Adam pun memejamkan matanya.


Dan detik kemudian...


Mereka semua mendengar dengkuran halus dari Adam. Dan mereka meyakini bahwa Adam ketiduran.


Evan berpindah duduk di samping putranya itu. Kemudian Evan mengusap wajah dan kepala putranya dengan lembut. Dan tak lupa Evan memberikan kecupan sayang di kening putranya itu.


"Sepertinya Adam benar-benar lelah, Pa!" seru Garry yang melihat adiknya itu begitu lelap dalam tidurnya. Dia sama sekali tidak terusik akan sentuhan ayahnya.


"Iya, sayang. Papa tahu. Maka dari itulah kenapa Papa memberikan usap-usapan lembut untuk Adam agar Adam makin lelap dan nyaman tidurnya. Papa tidak tega melihat ada yang tampak kelelahan."


"Apa tidak sebaiknya Adam dipindahkan ke kamarnya saja? Kasihan Adam tidur seperti itu," usul Celena.


"Kita biarkan dulu Adam benar-benar tertidur. Kalau sekarang kita pindahkan, takutnya Adam akan bangun. Jika Adam sampai bangun, sulit bagi Adam untuk bisa tidur lagi!" ucap Davan yang tahu bagaimana susahnya keponakannya itu untuk tidur lagi jika sudah bangun tiba-tiba.


Dan pada akhirnya, mereka semua pun sepakat membiarkan Adam untuk benar-benar tidur selama lima belas menit. Setelah itu, mereka semua pun akan membawa Adam ke kamarnya.