
Ardi dan Harsha sudah sampai di Kampus mereka. Saat mereka menginjakkan kaki mereka di halaman kampus, mereka dicegat oleh geng Bruizer.
"Hei, lihat siapa yang datang!" seru Arya.
"Ternyata geng Brainer," sindir Cakra.
"Oww, oww! Tunggu dulu. Ada yang kurang, nih!" ujar Indra.
"Ternyata geng Brainer cuma beranggotakan enam orang. Memangnya yang satunya lagi kemana?" tanya Rayan mengejek.
"Yah. Sayang sekali. Mainan kita tidak ada, Danish. Bagaimana ini? Tidak seru dong," ejek Kavi.
"Iya. Gak seru, nih." Prana berucap.
"Hahahaha." mereka pun tertawa
Geng Brainer masing-masing sudah mengepalkan tangan mereka kuat. Seakan-akan ingin memberikan bogem mentah ke wajah-wajah para geng Bruizer. Tapi mereka berusaha menahan emosi. Mereka tidak mau ribut atau pun berkelahi karena hari masih pagi. Tujuan mereka ke Kampus untuk belajar bukan berkelahi.
"Aku tahu. Pasti kalian bertengkar ya? Karena yang aku dengar hubungan kalian beberapa hari ini kurang baik," ejek Prana.
"Jangan asal bicara kalian. Kami tidak pernah bertengkar. Hubungan kami baik-baik saja. Brengsek!" bentak Ardi.
"Tidak bertengkar ya!" Prana berpikir sejenak bertujuan mengejek geng Brainer. "Kalau kalian tidak bertengkar, lalu kenapa kau menampar adikmu sendiri? Kau melakukannya di Kampus lagi," ucap Prana tersenyum sinis.
Geng Bruizer memandang remeh Geng Brainer. Sedangkan Geng Brainer berusaha mati-mati untuk menahan emosi, karena janji mereka pada si kelinci nakal kesayangan mereka itu.
"Atau jangan-jangan!" perkataan Arya terhenti sambil memperlihatkan senyuman setannya.
"Jangan-jangan apa maksudmu, hah?!" bentak Gala.
"Mati." Danish menjawab dengan singkat, padat, jelas sambil tersenyum mengejek.
"Apa yang kau katakan, hah?! Brengsek! Beraninya kau mengatai adikku mati!" bentak Ardi sambil menarik kasar kera ke meja yang dikenakan Danish.
Akhirnya terjadilah ketegangan antara kedua Geng tersebut. Mereka saling memberikan tatapan maut mereka satu sama lainnya.
"Jaga ucapanmu bajingan! Jangan pernah mengatai adikku. Kalau sampai terjadi apa-apa pada adikku? Aku akan membunuhmu!" Ardi berbicara dengan nada mengancam.
Sedangkan mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kedua Geng ini, lebih memilih menyelamatkan diri mereka masing-masing. Mereka tidak berani untuk melerai pertengkaran kedua Geng tersebut.
"Waaw," ejek Danish. "Kenapa tidak sekarang saja kau membunuhku? Mumpung aku ada disini. Kita bertarung saat ini juga," ucap Danish.
"Tapi itu tidak seru, Danish. Kita bertujuh sedangkan mereka hanya berenam. Jadi akan ada satu orang yang menjadi obat nyamuk dan menyaksikan perkelahian kita. Yang akan menjadi obat nyamuk itu salah satu dari kita," tutur Rayan.
"Yang dikatakan oleh Rayan ada benarnya juga. Pertarungan kita tidak bakal seru kalau tidak ada bocah sialan itu. Bukankah lawanmu bocah sialan itu, Danish?" Indra berbicara sambil melirik sekilas Danish, lalu mengedipkan matanya.
"Eeeemmm." Danish memikirkan perkataan sahabatnya itu. "Kau benar Indra. Kalau kita bertarung hari ini. Lalu lawanku, siapa? Kalau begitu kita tunda dulu pertempuran kita kali ini, oke! Aku menunggu bocah sialan itu," ucap Danish sambil menepuk-nepuk pipi Ardi.
Setelah mengatakan itu, geng Bruizer pun pergi meninggalkan geng Brainer.
"Brengsek kau, Danish!" umpat Ardi emosi.
Arka memegang bahu Ardi dan berusaha menenangkan amarah Ardi. "Sudahlah, Di. Kitakan sudah berjanji pada Adam untuk tidak cari masalah dengan mereka."
"Tapi mereka yang cari masalah dengan kita, kak Arka." Ardi menjawab perkataan Arka.
"Iya, kakak tahu. Maka dari itu kita jangan sampai terpancing emosi," ucap Arka.
"Ya, sudahlah. Lebih baik kita ke kelas saja!" seru Harsha.
"Sha. Kau kan sekelas dengan Danish. Kakak minta jangan sampai terpancing atas ucapan mereka nanti. Sebisa mungkin kau harus menghindar. Selama mereka tidak menyakitimu, kau harus bisa menahan emosimu," ucap Sakha.
"Aku mengerti, kak." Harsha menjawabnya.
***
Adam yang merasa bosan di kamarnya. Dirinya uring-uringan tak karuan. Semua aktivitas sudah dilakukannya. Mulai dari main Game di ponselnya, lalu berpindah ke laptopnya. Kemudian menonton televisi yang berada di ruang tengah lantai bawah. Walaupun di kamarnya juga ada tersedia televisi, tapi dia lebih memilih menonton di bawah.
"Aaiisshh. Ini sangat-sangat membosankan. Kalau begini terus aku bisa gila. Sebenarnya Mama melarangku kuliah sampai berapa hari sih? Semua orang memiliki kegiatan masing-masing. Mereka semua berada di kantor. Sedangkan dua kakak yang menyebalkan itu berada di Kampus. Lalu aku? Aaaarrrggghhh!" teriak frustasi Adam.
Teriakannya itu terdengar oleh ibunya yang kebetulan sudah berada di depan pintu rumah. Utari memang sengaja pulang cepat demi putranya karena dirinya tahu bagaimana sifat putra bungsunya itu? Lalu Utari bergegas masuk ke dalam rumah saat mendengar suara teriakan putranya.
Ketika Utari sudah berada di dalam rumah, Utari melihat putranya sedang duduk di sofa ruang tengah dengan kepala bersandar di sandaran sofa dengan mata terpejam. Kemudian Utari mendekati putranya itu.
"Sayang," sapa Utari yang tangannya sudah berada di atas kepala putranya dan membelai lembut rambut putranya.
Adam membuka matanya dan melihat kearah mamanya. "Mama."
"Kenapa? Apa Adam bosan di rumah? Mama tadi dengar teriakan kamu loh." Utari berbicara lembut sedangkan tangannya masih setia membelai rambut putranya.
"Menurut Mama, bagaimana?" tanya Adam balik tanpa melihat sang ibu.
Utari hanya tersenyum. "Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan keluar? Tapi sebelumnya, Mama mau mengajak kamu ke kantor Mama dulu. Kamu kan sudah lama tidak main ke kantor Mama."
"Baiklah. Kalau begitu aku ke kamar mau ganti baju," jawab Adam, lalu pergi meninggalkan ibunya.
"Jangan hanya ganti baju saja sayang. Kalau perlu mandi sekalian karena kamu itu bau," ejek Utari.
"Aish. Mama menyebalkan," ucap Adam mempoutkan bibirnya.
***
Sekarang ini Adam sudah berada di depan kantor Kakeknya Yodha. Utari mengajak putranya ke Perusahaan besar milik Ayahnya.
"Kenapa hanya berdiri saja? Ayoo, masuk!" ucap Utari yang sukses membuat anaknya terkejut.
"Ach, Mama. Ngagetin aja. Kalau aku jantungan bagaimana?" protes Adam.
"Siapa suruh melamun,?" ejek Utari.
Setelah itu, mereka pun melangkahkan kaki memasuki Perusahaan tersebut. Setiba di dalam Perusahaan semua mata tertuju pada mereka berdua, terutama pada Adam. Dan juga terdengar suara-suara yang sedang membicarakan dirinya.
[Wah, Siapa dia?]
[Tampan sekali pemuda itu. Siapa sih dia?]
[Apa pemuda itu kekasihnya ibu Utari, ya?]
[Tidak mungkin. Dia terlihat seperti anaknya!]
Seperti itulah kata-kata yang didengar oleh Utari dan Adam.
Utari yang menyadari kalau putra sedikit risih atas tatapan para karyawannya hanya tersenyum.
"Santai saja, sayang. Mereka tidak galak kok. Mereka semua sudah jinak," goda Utari.
"Iih! Apaan sih, Ma. Mama pikir mereka hewan buas," sahut Adam kesal. Utari hanya tersenyum melihat putranya gugup.
Terlihat dari jauh Yodha dari arah berlawanan sedang menuju kerarah Utari dan Adam.
"Nah, itu Kakek!" tunjuk Utari.
Adam pun mengalihkan pandangannya melihat arah yang di tunjuk oleh ibunya. Adam tersenyum melihat sang kakek.
"Hei, cucu kakek yang tampan!" seru Yodha saat melihat Adam dan langsung memeluk cucunya serta mencium keningnya.
[Ooh, jadi pemuda itu cucunya tuan Yodha. Berarti nyonya Utari itu ibunya]
Ucapan salah satu karyawan wanita saat melihat dan mendengar perkataan Yodha.
"Tumben sekali kamu kesini, sayang? Biasanya kamu paling susah untuk diajak ke perusahaan." tanya Yodha.
"Justru cucu Papa ini yang memaksaku untuk mengajaknya kesini. Katanya ingin belajar bisnis sama Papa," goda Utari.
"Wah, benarkah? Kakek senang mendengarnya!" seru Yodha.
Adam menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap ibunya. Sedangkan Utari tersenyum puas melihat putranya salah tingkah di depan Ayahnya.
Adam mendekatkan wajahnya ke telinga ibunya dan berbisik. "Aku akan mogok bicara sama Mama selama aku mau!"
Setelah mengatakan itu, Adam memalingkan wajahnya dari ibunya alias pura-pura marah.
Seketika senyuman itu luntur di wajah cantik ibunya. Adam melirik sekilas ibunya, lalu tersenyum.
Dirinya berhasil membalas keusilan ibunya. "Satu sama, Ma." Adam membatin.
"Ya, sudah. Papa mau pergi dulu. Papa ingin bertemu dengan seseorang. Kalian bersenang-senanglah!" seru Yodha.
Setelah itu, Yodha pun pergi meninggalkan semua makhluk yang ada di kantor tersebut.
Utari menggandeng tangan putranya dan menatap wajah putranya dengan wajah memelas.
"Piiiissssss!"
Adam mengabaikan ibunya dan tidak memperdulikan wajah ibunya yang sedang memohon padanya. "Jangan pasang wajah seperti itu, Ma! Apa Mama tidak malu dilihatin sama karyawan-karyawan Mama."
"Biarkan saja. Peduli apa Mama sama mereka. Lagian mereka juga tidak akan berani macam-macam sama Mama," jawab Utari yang masih menggandeng mesra tangan putranya.
Para karyawan-karyawannya yang melihat interaksi Utari dan Adam hanya tersenyum. Mereka sangat bahagia melihat hubungan mereka.
"Disini yang anak itu siapa sih? Kenapa malah Mama yang jadi manja begini?" tanya Utari yang melihat kelakuan ibunya. Utari hanya tersenyum mendengar omelan putranya.
"Ma! Aku Lapar," ucap Adam.
"Ya, sudah. Kita makan di Cafe Favorit mama saja. Bagaimana?" tanya Utari.
"Terserah Mama saja," jawab Adam. Dan mereka pun pergi meninggalkan perusahaan Samsung Grup.
***
Garry putra pertama Evan berada di ruang kerjanya. Dirinya membantu Ayahnya di perusahaan.
"Kelar juga pekerjaanku. Dan saatnya aku pulang. Sebelum pulang, aku mau singgah dulu di cafe Sulbing. Tiba-tiba saja aku mau kesana," ucap Garry tersenyum.
Dan akhirnya Garry beranjak dari kursinya dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kantornya.