THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Masalah Kembali Datang



Saat ini Levi dan istrinya Celena sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Saat di dalam perjalanan, tiba-tiba mobil mereka dihadang oleh beberapa orang.


"Keluar!" teriak orang-orang di luar mobil Levi.


"Sayang, siapa mereka?" tanya Celena panik.


"Aku juga tidak, sayang." Levi menjawab pertanyaan dari istrinya.


"Apa mereka orang-orang suruhan Dennis?" batin Levi.


"Sayang. Kau tetaplah di mobil. Dan simpan ini." Levi berbicara pada Celena sembari memberikan flashdisk pada istrinya.


"Kau mau kemana?" tanya Celena  khawatir.


"Aku akan keluar menemui mereka. Kau sembunyilah di bawah kursi agar mereka tidak melihatmu. Jika situasinya sudah aman. Segera tinggalkan tempat ini dan temui anak-anak. Jangan lupa berikan flashdisk itu pada Allan. Kejadian ini juga ada hubungannya dengan Allan dan keluarga kandungnya." Levi berbicara sembari mengusap lembut wajah istrinya.


"Aku tidak mau," jawab Celena.


"Sayang dengarkan aku. Kalau mereka menangkap kita berdua. Tidak akan ada kesempatan kita untuk lari. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Pikirkan anak-anak. Mereka masih butuh salah satu dari kita. Terutama Nicolaas. Jangan sampai mereka memanfaatkan Nicolaas. Kau tahukan, aku tidak pernah menyuruh Nicolaas pergi keluar kota untuk mengurus Perusahaan disana. Jangan sampai orang-orang itu mengirim Nicolaas keluar kota. Makanya aku menyuruhmu bersembunyi dan menyelamatkan diri." Levi berusaha meyakinkan dan membujuk istrinya.


"Baiklah. Tapi kau harus berjanji. Kau harus baik-baik saja," kata Celena.


"Aku berjanji," jawab Levi.


Setelah Levi berhasil membujuk istrinya. Levi pun langsung keluar dari dalam mobilnya.


Saat melihat Levi keluar. Dua dari orang-orang itu menuju mobil yang ditumpangi oleh Levi. Mereka memeriksa jika ada orang lain selain Levi.


"Pria ini hanya sendirian, Bos!" teriak salah satu anak buahnya.


"Ya, sudah! Ayo, bawa dia." perintah dari pimpinan tersebut.


Dan mereka pun membawa dan memaksa Levi untuk masuk ke dalam mobil mereka.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Beberapa menit yang lalu, Vigo mendapatkan telepon dari Nicolaas, kakak kesayangannya itu. Kakaknya itu mengatakan padanya jika dirinya tidak pulang. Kakaknya itu juga mengatakan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menuju kota Bandung.


"Kenapa kak Nicolaas tiba-tiba pergi ke Bandung? Setahuku kakak tidak pernah pergi keluar kota sendiri. Selama ini Papa tidak pernah menyuruh kakak pergi ke luar kota kalau bukan bersama Papa. Apa ada sesuatu yang terjadi?" monolog Vigo.


"Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Vigo.


Vigo saat ini berada di ruang tengah. Dirinya benar-benar mengkhawatirkan kakaknya itu. Ketika pikiran sedang tertuju pada sang kakak. Tiba-tiba Vigo dikejutkan bunyi Bell rumahnya, lalu salah satu pelayan berlari untuk membukakan pintu.


"Vigo," panggil seseorang.


Vigo yang dipanggil pun menolehkan wajahnya melihat keasal suara.


"Mama!" seru Vigo saat melihat kepulangan ibunya.


Celena melangkah menuju ruang tengah dan duduk di samping Vigo.


"Mana kakakmu, Vigo?" tanya Celena khawatir.


"Kakak belum pulang, Ma! Awalnya kakak bilang padaku kalau kakak akan pulang malam. Tapi satu jam yang lalu kakak meneleponku. Katanya kakak dalam perjalanan ke kota Bandung."


"Apa?" Celena terkejut saat mendengar jawaban dari Vigo.


Melihat keterkejutan ibunya membuat Celena bingung dan menatap ibunya khawatir.


"Ada apa, Ma?" tanya Vigo.


"Sayang. Apa kau yakin jika kakakmu pergi ke Bandung? Mama benar-benar khawatir terhadap kakakmu."


"Iya, Ma! Kakak sendiri bilang padaku. Aku juga udah bilang ke kakak, Papa tidak bakal ngizinin kakak untuk pergi keluar kota. Tapi kakak bilang kalau Papa yang nyuruh."


"Ya, Tuhan! Ternyata apa yang ditakutkan oleh suamiku benar-benar terjadi," ucap Celena pelan. Dan ucapannya itu didengar oleh Vigo.


"Ada apa sebenarnya, Ma? Katakan padaku."


"Papamu tidak pernah menyuruh kakakmu untuk pergi keluar kota. Sesuatu terjadi pada kakakmu, Vigo! Berarti sebelum menangkap Papamu mereka sudah terlebih dahulu menangkap kakakmu."


"Apa maksud, Mama?"


"Tapi sekarang kakakmu berhasil dibawah oleh mereka. Mama gagal melindungi kakakmu. Dan Mama juga gagal menjalankan perintah dari Papamu," lirih Celena.


Mendengar suara lirih ibunya membuat Vigo menjadi sedih. Lalu Vigo menarik tubuh ibunya ke dalam pelukannya.


"Mama tidak salah. Mama udah berusaha. Siapa tahu saat Papa menyuruh Mama bersembunyi tanpa kalian ketahui bajingan-bajingan itu sudah terlebih dahulu membawa kakak." Vigo berusaha meyakinkan ibunya.


"Allan," ucap Celena.


Celena melepaskan pelukannya dari putranya.


"Apa Allan masih di rumah keluarganya?"


"Iya, Ma! Dan Allan akan kesini setelah makan malam."


"Mama tidak bisa menunggu. Lebih baik kita yang kesana, Vigo!"


"Tapi aku tidak tahu rumahnya Allan, Ma!"


"Kau telepon Allan sekarang. Katakan padanya kalau kita akan kesana, lalu minta alamat rumahnya."


"Baiklah, Ma!"


Vigo pun langsung menghubungi Allan.


***


Adam berada di dalam kamarnya. Dirinya saat ini benar-benar kesal saat melihat kehadiran orang yang sangat dibenci dalam hidupnya. Ya! Orang itu adalah sang Nenek, Amirah.


"Kenapa perempuan tua itu datang kesini? Aish! Mengganggu kebahagiaan orang saja," gerutu Adam.


Saat Adam sedang mengomel sendirian. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Adam langsung mengambil ponselnya dan melihat nama 'Kakak Vigo' di layar ponselnya.


"Ngapain lagi sikurus itu menghubungiku? Bukankah aku sudah bilang setelah makan malam aku akan pulang," kesal Adam.


Tidak mau terlalu lama membiarkan ponselnya berbunyi, Adam langsung menjawabnya.


"Kan aku sudah bilang setelah selesai makan malam aku akan pulang ke keluarga Adiyaksa. Kenapa kakak menelponku lagi?"


"Yak! Dengarin dulu ngapa. Jangan langsung nyerang gitu aja," kesal Vigo.


"Hehehehe. Sorry! Ada apa? Udah kangen sama aku. Atau kakak takut sendirian di rumah ya!" ejek Adam.


Saat Vigo ingin membalas perkataan Adam. Celena langsung mengambil paksa ponsel Vigo.


"Hallo, Allan sayang. Ini Mama."


Mendengar suara Celena, ibu angkatnya. Jungkook langsung bangun dari tidurnya. Dan memposisikan dirinya untuk duduk.


"Mama. Ada apa?"


"Sayang. Mama malam ini mau ke rumahmu. Bolehkan?"


"Kenapa Mama mau ke rumahku? Apa kakak Vigo tidak bilang ke Mama kalau aku akan pulang ke keluarga Adiyaksa malam ini?"


"Sudah sayang. Kakakmu sudah bilang ke Mama. Tapi Mama tidak bisa menunggu sampai kamu selesai makan malam. Mama harus segera bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan padamu dan juga ingin memberikan titipan dari Papamu untukmu."


Adam terdiam sejenak dan memikirkan apa yang barusan yang dikatakan oleh Ibu angkatnya itu.


"Ada sesuatu yang ingin dibicarakan padaku? Dan sesuatu yang dititipkan Papa untukku?" batin Adam


"Hallo, Allan sayang. Kamu masih disana, Nak?"


Adam tersadar saat mendengar suara sang ibu.


"Ach. Iya, Ma! Baiklah. Aku akan menyuruh sopir untuk menjemput Mama dan kakak Vigo. Mama dan kakak Vigo bersiap-siaplah."


"Baiklah, sayang!"


Setelah selesai berbicara dengan Ibu angkatnya, Adam pun langsung mematikan panggilan tersebut. Setelah itu Adam langsung keluar dari kamarnya untuk menuju lantai bawah.