
Evan sudah bersama dengan putranya dan sudah berada di tengah-tengah karyawan dan karyawatinya. Tatapan matanya menatap satu persatu wajah para karyawan dan karyawati yang kini tengah ketakutan, terutama wanita yang menjadi resepsionis. Wanita itu menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah atasannya.
Setelah menatap semua karyawan dan karyawati yang di bagian lantai satu. Evan kembali menatap wajah putranya.
"Ada apa sayang? Tumben kamu kesini?"
"Aku bosan di rumah. Dan berakhir aku kesini. Jadi nanti dari sini aku akan langsung ke Kampus."
"Terus apa yang terjadi?"
Adam seketika menatap wajah wanita yang menolak dirinya untuk bertemu dengan ayahnya.
Evan yang melihat tatapan putranya menatap kearah karyawatinya yang bagian resepsionis seketika juga ikut menatap wanita itu.
"Papa tanya saja sama dia. Aku mau dengar, apa dia akan berkata jujur atau sebaliknya?"
Evan menatap kearah wanita itu dengan tatapan sulit diartikan.
"Silpa," panggil Evan.
Dengan rasa takut dan tubuh yang bergetar wanita yang dipanggil Silpa langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah atasannya.
"Apa yang kau lakukan ketika putra datang?"
"Sa-saya awalnya melayaninya dengan baik karena putranya Bos datang secara baik-baik dan bertanya pun dengan sopan."
"Terus?"
"Ketika saya menanyakan mau bertemu siapa. Lalu putra Bos menjawab ingin bertemu dengan ayahnya. Dan...."
Silpa tidak sanggup untuk meneruskan perkataannya. Dirinya menundukkan kembali kepalanya.
"Dan kau langsung menganggap remeh serta memandang rendah putraku. Itu kan yang ingin kau katakan? Dan kau mengusir dan menuduh putra buat onar disini!" bentak Evan.
Mendengar suara keras Evan membuat semua karyawan dan karyawati terkejut terutama Silpa. Dia yang paling terkejut akan suara keras atasannya.
"Seharusnya kau tetap melakukan pekerjaanmu dengan kau meminta security untuk menemui saya. Atau setidaknya kau menghubungi sekretarisku dan mengatakan jika ada pemuda yang mengaku sebagai putraku sekali pun kau mencurigainya."
"Dan aku paham kau melakukan itu semua karena tidak ingin ada yang membuat keributan di perusahaan ini. Dan kau juga tidak ingin terjadi sesuatu karena salah mempercayai orang."
"Ma-maafkan saya, Bos!"
Evan menatap semua karyawan dan karyawati dengan tatapan tajamnya.
"Dan kalian!" bentak Evan.
"Apa yang kalian lakukan saat melihat Silpa yang tidak sopan terhadap tamu. Yah! Anggap saja orang yang berdiri di hadapan kalian semua itu adalah orang lain bukan putraku!" teriak Evan.
Mendengar teriakkan dan pertanyaan dari atasannya membuat semuanya menundukkan kepalanya. Mereka semua benar-benar ketakutan saat ini.
"Melihat kalian semua diam. Aku bisa sudah bisa menyimpulkan bahwa kalian tidak berbuat apa-apa. Kalian pasti ikut memandang rendah putraku dan ikut menuduh putraku membuat onar di perusahaan ini?"
"Ma-maafkan kami, Bos!"
Semua karyawan dan karyawati berucap meminta maaf kepada atasannya.
"Ck! Sekarang mengemis minta maaf. Beberapa menit yang lalu berlagak seperti orang sombong seakan-akan berada diatas. Mana perginya keberanian kalian tadi! Kenapa tiba-tiba ciut. Apa harus tahu dulu identitas asli dari tamu kalian dari atasan kalian. Setelah itu, barulah kalian bersikap lemah lembut seperti penjilat."
Adam berbicara dengan ucapan yang begitu menusuk sehingga membuat semua karyawan dan karyawati terutama wanita di bagian resepsionis terdiam tanpa kata-kata.
"Jangan suka menilai seseorang dari penampilannya. Jangan juga menilai seseorang dari sikap buruknya. Karena sisi baiknya tersembunyi dari penampilan dan sikap buruknya itu."
"Buruk belum tentu buruk di mata kita. Baik juga belum tentu baik di mata kita. Satu yang kita harus lakukan, jangan berlebihan! Curiga boleh, tapi jangan sampai menuduh. Jika kita tidak menyukai seseorang. Itu hak kita, tapi jangan sampai menyakiti."
"Seperti yang dilakukan wanita itu kepadaku," ucap Adam sambil menatap kearah wanita yang bagian resepsionis.
"Tidak tidak menyukaiku. Dan dia juga mencurigaiku. Tapi aku pribadi tidak mempermasalahkan hal itu karena menurutku dia hanya ingin mengamankan perusahaan ini. Tapi caranya salah."
Adam kembali menatap wajah ayahnya lalu berkata, "Pa! Aku minta sama Papa untuk membatalkan kerja sama Papa dengan ketiga laki-laki itu!" Adam berbicara sambil menunjuk kearah tiga laki-laki yang berdiri tak jauh dari hadapan Evan sang ayah.
"Ini!" Adam memperlihatkan tiga map yang ada di tangannya. "Ini map yang sudah Papa tanda tangan. Nanti silahkan Papa cek setelah 4 jam. Papa akan langsung paham kenapa aku meminta Papa membatalkan kerja sama dengan ketiga laki-laki itu."
Adam kemudian memberikan tiga map itu kepada ayahnya dan langsung diambil oleh sang ayah.
"Baiklah sayang."
Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando sudah berada di Kampus. Mereka saat ini berada di halaman Kampus untuk menunggu kedatangan Adam.
Ketika mereka tengah menunggu Adam, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan delapan mahasiswi cantik. Baik Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando saling menatap curiga ke delapan mahasiswi itu.
"Hai!"
"Boleh kenalan?"
"Aku...."
"Lebih baik kalian pergi dari sini!" Melky seketika bersuara. Wajahnya terlihat dingin.
Seketika ke delapan mahasiswi itu terdiam karena ucapan dan wajah dingin yang diberikan oleh Melky.
Sementara Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando hanya bisa diam ketika melihat Melky yang ketus terhadap perempuan.
"Ach, maafkan sahabat kami." Leon berucap lembut sembari tersenyum.
Mendengar perkataan dan permintaan maaf dari Leon membuat kedelapan mahasiswi itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya terutama satu orang mahasiswi yang begitu menyukai Leon.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Kami sedang tidak ingin memiliki urusan dengan kalian," sahut Melky yang geram sejak tadi salah satu mahasiswi terus menatap dirinya.
Plak..
Gino seketika langsung memukul kepala belakang Melky karena kesal akan perkataan kejamnya itu.
Mendapatkan pukulan di kepala belakangnya membuat Melky langsung memberikan tatapan tajam kearah Gino dan justru dibalas tak kalah tajamnya oleh Gino.
"Apa?! Mau lagi?!"
"CK!"
Melky seketika mendengus ketika mendengar ucapan dari Gino. Setelah itu Melky kembali menatap ke depan.
Salah satu dari delapan mahasiswi itu berbisik ke telinga temannya.
"Kita pergi dari sini yuk. Kehadiran kita sepertinya nggak diterima disini. Lain kali aja kita mulai pendekatannya."
Mendengar bisikan dari temannya itu, gadis tersebut pun langsung bersuara.
"Ach, maaf karena sudah mengganggu. Kalau begitu kami pergi!"
Setelah mengatakan itu, kedelapan mahasiswi itu pun langsung pergi meninggalkan Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando untuk menuju kelasnya.
Melihat kepergian kedelapan mahasiswi itu membuat senyuman Melky terbit. Dirinya lega sekarang kedelapan mahasiswi itu akhirnya memilih pergi.
Sementara Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando menatap punggung kedelapan mahasiswi itu dengan tatapan bersalah karena ulah Melky si hitam tengil.
"Dasar hitam sialan!" teriak Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.
Teriakan mereka langsung terdengar orang beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sekitarnya. Mereka tersenyum ketika mendengar teriakkan dari Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
"Dasar para cumi-cumi busuk," balas Melky dengan disertai tatapan matanya menatap tajam Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
Ketika mereka semua sedang berperang mulut, tiba-tiba Adam datang dan langsung pukulan di kepala masing-masing sahabat-sahabatnya itu sehingga membuat sahabat-sahabatnya itu meringis.
"Masih pagi udah berantem," sahut Adam.
Plak..
Plak..
"Aww!" Adam meringis sambil mengusap-usap keningnya.
Vino dan Diego secara bersamaan memberikan jitakan tepat di kening putih Adam sehingga membuat Adam meringis.
"Udah kuliah, tapi bego masih tetap dipelihara." Vino berucap kejam.
"Udah rabun apa mata lo sehingga nggak bisa bedakan mana pagi mana siang!" ucap Diego menatap kesal Adam.
Sementara Adam hanya memperlihatkan wajah masamnya tanpa memberikan protes akan ucapan demi ucapan dari Vino dan Diego.