
Setelah mengingat momen-momen kebersamaannya dengan adik kelincinya. Ardi menangis.
"Dam. Semoga kau bahagia di sana. Kakak akan selalu mengingatmu. Kakak tidak akan pernah melupakanmu karena kau begitu berharga untuk dilupakan," lirih Ardi.
Tanpa disadari oleh Ardi. Harsha sedari tadi memperhatikannya. Harsha sudah menangis dalam diam. Menangis akan kerinduannya pada kelinci buntelannya.
"Dam," batin Harsha.
"Kakak," panggil Harsha.
Ardi yang merasa dipanggil segera menoleh. Dan dapat dilihat olehnya, Harsha adiknya yang sudah berdiri di depan pintu dengan mata sedikit merah. Ardi bisa pastikan bahwa adiknya itu juga sama sepertinya. Sama-sama merindukan adik manisnya.
Ardi beranjak dari duduknya dan menghampiri Harsha.
"Sejak kapan kau ada disini?"
"Sejak awal sampai selesai," jawab Harsha. "Aku juga merindukannya, kak! Sangat merindukannya," lirih Harsha.
"Kenapa harus Adam yang pergi, kak? Kenapa bukan orang lain saja?" tanya Harsha yang memang sedikit egois. "Hiks.. aku ingin Adam kembali, kak. Aku ingin dia kembali.. hiks."
Ardi menarik tubuh Harsha ke dalam pelukannya. "Kakak tahu, Sha! Ini sangat berat untuk kita dan keluarga. Tapi kita harus berusaha untuk ikhlas atas kepergiannya. Adam sudah bahagia di sana. Apapun yang terjadi, Adam selamanya adik kita dan akan selalu ada di hati kita dan keluarga." Ardi berbicara sembari menghibur Harsha.
Ardi melepaskan pelukannya. Lalu menatap wajah tampan adiknya itu.
"Lebih baik sekarang kita keluar. Mungkin orang tua kita dan kakak-kakak kita tengah menunggu kita di meja makan," ucap Ardi.
"Hehehe. Aku lupa, kak. Aku kesini karena ingin memanggilmu untuk makan siang."
"Dasar alien. Tidak salah Adam menyebutmu kakak alien," ejek Ardi.
"Sikelinci itu memang banyak kata dan ejekan untuk kita kak. Bukan julukan alien saja yang diberikan padaku, tapi julukan simuka kadal juga diberikannya untukku," protes Harsha.
"Bukan kau saja, kakak juga. Dari mulai julukan siberuang kutub, siwajah pucat, siwajah tampan berhati es, situkang tidur. Itu semua julukan dari sikelinci nakal itu," sahut Ardi.
"Ternyata lebih banyak kau kaka dari pada aku," ledek Harsh. Lalu mereka berdua tertawa.
"Hahahaha.."
Dan tawa mereka terdengar oleh para orang tua, para kakak dan Kakek mereka yang ada di ruang makan.
***
Allan sudah selesai dengan kuliahnya. Kini dirinya tengah duduk di halaman kampus sembari menunggu sang kakak.
"Aish. Benar-benar menyebalkan. Kakak Vigo mana sih. Lama sekali," gerutu Allan.
"Kau mahasiswa baru disini?" tanya Alon yang datang dengan empat temannya.
"Iy-iya. Kalian siapa?" tanya Allan.
"Hei, lihatlah wajahnya manis dan cantik. Padahal dia laki-laki loh!" seru Tian sembari mencolek dagu Allan.
"Apa-apaan kalian?!" bentak Allan menepis kasar tangan Tian.
"Tenanglah, cantik. Jangan galak-galak begitu," ujar Danest.
"Kalian gila!" teriak Allan lalu pergi meninggalkan orang-orang gila menurutnya.
"Mau kemana manis?" tanya Jose yang sudah mencekal tangan Jungie.
"Yak! Lepaskan tanganku brengsek!" teriak Allan dan..
BUGH!
Satu pukulan tepat mengenai wajah tampan Jose.
"Aakkhh!"
"Sial. Ternyata tenaga adiknya Vigo benar-benar kuat. Brengsek kau Vigo. Kau tidak mengatakan bahwa adikmu jago dalam pukul memukul," umpat Jose dalam hatinya.
"Hei, manis tenanglah." Danest berbicara lembut.
"Siapa kalian?" tanya Allan.
"Tenanglah. Lebih baik kau ikut dengan kami," ujar Alon.
"Aku tidak akan mau ikut dengan kalian. Memangnya kalian siapa?!" bentak Allan.
"Kau pasti sedang menunggu Vigo kan? Bukankah Vigo itu kakakmu?" tanya Tian.
"Iya. Aku memang sedang menunggu kakak Vigo. Dari mana kalian tahu tentang kakakku?" tanya Allan dengan menatap was-was orang-orang yang ada di hadapannya.
"Hahaha. Kakakmu itu ada pada kami. Kalau kau ingin bertemu dengannya. Maka menurutlah dengan kami," sahut Tian yang sudah memulai aksinya.
"Kalian apakan kakakku? Awas saja kalian kalau sampai kakakku kenapa-kenapa," sahut Allan dengan nada mengancam.
"Selama kau patuh pada kami. Selama itulah kakakmu akan selalu dalam keadaan baik-baik saja," jawab Jose.
"Mau apa kalian?" tanya Allan.
"Seperti yang kami katakan dari awal. Ikutlah bersama kami," jawab Danest.
"Kakak. Kakak Vigo," batin Allan.
"Bagaimana anak manis?" tanya Alon.
"Baik. Aku akan ikut dengan kalian," jawab Allan.
Tanpa diketahui Allan, mereka berempat tertawa puas.
"Ayo. Sekarang kita pergi dari sini. Jangan buang-buang waktu lagi. Kau ingin bertemu dengan kakakmu kan?" ucap Alon.
Akhirnya Allan pasrah dan mau ikut dengan keempat pemuda yang tak dikenalinya hanya ingin bertemu dengan kakaknya.
^^^
Vigo dan teman-temannya sedang berkumpul di markas ELITO. Dirinya sedang menunggu kedatangan adiknya.
"Bagaimana menurut kalian? Apa Alon, Tian, Danest dan Jose akan berhasil membawa adikku kemari? Secara adikku itu tidak gampang percaya dengan orang yang tak dikenalnya?" tanya Vigo.
"Kau tenang saja, Go. Mereka pasti berhasil membawa adikmu kemari," jawab Crisan.
Mereka sengaja mengerjai Allan. Dikarenakan Vigo ingin memberikan kejutan pada adiknya itu. Kejutan ulang tahunnya. Dikarenakan saat ulang tahun adiknya seminggu yang lalu, dirinya tak ada untuknya dan juga tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Makanya kejutan inilah sebagai gantinya.
"Aish. Kenapa mereka lama sekali?" tanya Vigo pada dirinya sendiri.
"Tenanglah, Vigo. Mereka pasti berhasil membawa adikmu kemari," ujar Carlo. Lalu terdengar suara ponsel. Ponsel milik Crisan.
DRTT!
DRTT!
"Hallo, Tian. Bagaimana?"
"Rencana pertama berhasil. Allan adiknya Vigo bersama kami. Lima menit lagi kami akan sampai di sana."
"Ok."
PIP!
"Ayo, kita bersiap-siap. Lima menit lagi sikorban akan tiba. Vigo kau sudah siap?" ucap dan tanya Crisan.
Vigo menganggukkan kepalanya. dan beberapa detik kemudian...
BRAAKK!
Pintu dibuka oleh Alon. Dan masuklah Allan ke dalam ruangan tersebut disusul oleh Alon, Danest dan Jose.
"Kakak!" teriak Allan saat melihat Vigo yang terikat di kursi dengan wajah sedikit memar dengan air mata yang sudah membasahi pipinya putihnya.
Allan berlari menghampiri Vigo dan berusaha melepaskan ikatan tali yang mengikat tubuh kakaknya.
"Hiks.. kakak. Bangunlah ini aku.. Hiks." Allan membangunkan kakaknya itu.
Tali yang mengikat tubuh kakaknya sudah terlepas dan sekarang tubuh kakaknya jatuh dalam pelukannya. Allan makin terisak melihat kondisi sang kakak.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara tepuk tangan dari sudut ruangan.
PROK!
PROK!
PROK!
Allan melihat kearah belakang dan dilihatnya sepuluh pemuda yang menyeringai dan menatap tajam padanya.
"Wah-wah. Jadi bocah manis ini adiknya Vigo, ya." Juna berucap ketus.
"Mau apa kalian? Dan.. dan kenapa kalian menculik kakakku? Lepaskan kakakku sekarang!" teriak Allan.
"Hahahaha." mereka tertawa.
"Apa? Lepaskan? Hei, bocah. Kita sudah susah-susah membawa kakakmu kesini dan kau menyuruh kami untuk melepaskannya. Yang benar saja!" bentak Luis.
"Kami akan melepaskan kakakmu itu. Asal..." Nigel berbicara disertai seringai di bibirnya.
"Apa mau kalian?" tanya Allan yang sudah merasakan aura-aura yang tidak baik.
Nigel mendekati Allan. Lalu Nigel mencolek dagu Allan bermaksud menggoda adik dari sahabatnya itu. Tapi diluar nalar mereka, Allan dengan gesitnya menangkap tangan Nigel lalu menekuknya kuat. Dapat dilihat olehnya Nigel yang kesakitan.
Detik kemudian Allan menghempaskan tangan Nigel.
"Waw! Tenaganya benar-benar kuat," batin Nigel.
"Jangan macam-macam denganku." Allan berbicara dengan menatap tajam Nigel.
"Menyerah saja manis. Kau tidak punya pilihan. Lihatlah kakakmu itu," sahut Viko sambil menunjuk kearah Vigo dengan dagunya.
Allan melihat ke belakang dan dilihatnya kakaknya sudah dipegang oleh dua orang. Vigo menatap adiknya dengan tatapan sayu nya.
"Al-allan," lirih Vigo.
"Ka-kakaakk.. hiks." Allan sudah tidak bisa membendung air matanya. Air matanya mengalir begitu saja.
"Sudah waktunya!" teriak Crisan.
Lalu detik kemudian Viko dan Carlo mendorong pelan tubuh Vigo tepat di hadapan Allan. Dan Allan langsung memeluk tubuh kakaknya. Dan dibalas pelukan erat oleh Vigo.
"Hiks.. kakak." Allan terisak saat memeluk tubuh kakaknya itu.
"Kau jelek sekali kalau sedang menangis, Allan," sahut Vigo tepat di telinga Allan.
Allan sontak langsung mendorong tubuh Vigo. Dan memasang wajah bingungnya.
"Adikmu benar-benar sangat imut dan menggemaskan, Vig!" seru Nigel.
"Wajah baby. Tapi tubuh Strong and Manly," ucap Juna.
Vigo menghampiri adiknya. "Hei," sapa Vigo sembari mengipas-ngipas telapak tangannya di depan wajah Allan.
"Kakak. Kau..." ucap Allan yang masih bingung.
"Iya," jawab Vigo. Allan menatap horor kakaknya itu.
Lalu...
BUGH!
Allan memukul tepat di perut Vigo sehingga membuat Vigo meringis.
"Sshhh."
"Kau benar-benar ya, kak! Aku benar-benar panik dan khawatir akan dirimu. Tapi justru kau baik-baik saja disini. Kau benar-benar menyebalkan, kak!" Allan menatap kesal Vigo.
Setelah mengatakan itu, Allan pun pergi meninggalkan markas ELITO. Namun, langkah terhenti ketika tangannya berhasil dicekal oleh seseorang.
"Oke! Kakak akui kalau kakak salah. Tidak seharusnya kakak melakukan hal ini kepadamu. Tapi kakak melakukan ini semua untukmu. Untuk memberikan kejutan untukmu, Allan."
Vigo membalik badan adiknya agar dirinya bisa melihat wajah tampan adiknya itu. Vigo tersenyum.
"Selamat ulang tahun. Semoga panjang umur. Maafkan kakak baru sekarang mengucapkannya," ucap Vigo.
Mendengar ucapan ulang tahun dari kakaknya membuat Allan terdiam seketika. Namun beberapa detik kemudian air matanya jatuh membasahi wajah tampannya.
"Jadi kakak melakukan semua ini hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukku?"
"Hm."
"Sekarang coba kau lihat di belakangmu," pinta Vigo.
Allan pun membalikkan badannya melihat ke belakang. Dapat dilihat olehnya sebuah meja dorong yang sudah dihias dan lengkap dengan jenis makanan dan minuman yang sudah tertata rapi.
"Maafkan kakak sudah mengerjaimu. Mereka semua adalah teman-teman kakak," ucap Vigo.
"Kau menyebalkan, kak." Allan mempoutkan bibirnya. Dan hal itu sukses membuat mereka semua tersenyum.