THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kabar Dari Zelo



"Bagaimana keadaan putraku, Nurman?" tanya Davan.


"Harsha baik-baik saja. Dia hanya kelelahan sehingga jatuh pingsan," jawab Nurman selaku dokter pribadi keluarga Abimanyu.


"Kamu yakin kan Nurman kalau putra bungsuku baik-baik saja?" tanya Kamila.


Nurman tersenyum menatap wajah kakak perempuannya. Yah! Nurman adalah adik laki-laki dari Kamila.


"Iya, kak! Harsha baik-baik saja. Kakak tidak perlu khawatir," jawab Nurman.


"Oh iya! Ini ada beberapa vitamin dan resep obat untuk Harsha. Vitamin ini langsung diberikan kepada Harsha ketika sadar nanti. Untuk obat yang sudah aku catat, segera ditebus agar bisa Harsha bisa meminumnya."


"Baiklah Nurman!"


"Baiklah, Paman!"


Juan mengambil kertas resep yang ada ditangan Nurman lalu dia bergegas pergi ke Apotek untuk menebus obat tersebut.


"Kamila tak henti-hentinya mengusap lembut kepala putranya dan juga memberikan kecupan sayang di keningnya.


"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu mau kembali ke rumah sakit lagi," sahut Nurman.


"Hati-hati di jalan," ucap Davan.


"Hm!" Nurman menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Nurman pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Abimanyu untuk kembali ke rumah sakit.


Semua anggota keluarga Abimanyu menatap kearah Harsha yang masih setia menutup matanya. Mereka menatap dengan tatapan sedih kearah Harsha, termasuk Adam.


"Lebih baik kita keluar. Biarkan anak-anak yang ada di kamar Harsha," sahut Bagas.


Mendengar perkataan dari Bagas. Mereka pun memutuskan untuk keluar meninggalkan kamar Harsha.


Kini tinggal Dzaky, Rafig, Ardi, Reza, Garry, Danish dan Adam. Ada Gala juga di kamar Harsha.


Adam duduk di samping ranjang Harsha. Tangannya menggenggam tangan kanan Harsha. Dan jangan lupa air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. Sejak tadi Adam tak henti-hentinya menangis.


"Kakak Harsha... Hiks," Isak Adam.


Mendengar isakan dari Adam membuat mereka juga ikut menangis. Mereka semua tahu kecuali Garry dan Danish bagaimana kedekatan Adam dan Harsha. Begitu juga dengan Ardi. Baik Ardi maupun Harsha dan Adam. Ketiganya begitu dekat sejak masih kecil dulu.


Adam yang tidak mengetahui seperti apa wajah ayah kandungnya dan seperti apa wajah kedua kakak laki-lakinya. Ardi dan Harsha berbagi kasih sayang dan perhatian ayah-ayahnya kepada Adam.


Ardi dan Harsha berperan sebagai kakak kandung untuk Adam. Keduanya memberikan semua yang dibutuhkan Adam. Bahkan mereka ikut menjaga Adam dan merawat Adam hingga Adam tumbuh dewasa.


Karena alasan itulah membuat seorang Adam yang begitu takut ketika melihat Harsha yang tiba-tiba pingsan untuk pertama kalinya tepat di hadapannya.


Ardi yang berada di sampingnya langsung mengusap-usap lembut punggung Adam. Ardi sangat tahu apa yang saat ini Adam pikirkan.


Merasakan usapan lembut dan punggungnya, seketika Adam langsung melihat kearah Ardi yang juga menatap dirinya.


Adam makin memperlihatkan wajah sedihnya di hadapan Ardi sembari mengumandangkan nama kakak aliennya itu.


"Kakak Ardi, kakak Harsha... Hiks," ucap Adam terisak.


"Kamu tenang, oke! Bukannya tadi Paman Nurman bilang kalau Harsha baik-baik saja. Jadi kamu tidak perlu khawatir ya," ucap Ardi sembari menghapus air mata Adam.


Garry dan Danish yang melihat Adam yang begitu ketakutan akan Harsha merasakan kecemburuan di dalam hatinya.


Namun mereka seketika menepis rasa cemburu tersebut dan berpikir positif. Baik Garry maupun Danish berpikir jika apa yang dilakukan oleh Adam itu wajar karena Adam, Harsha dan Ardi sudah bersama sejak kecil. Bahkan Ardi dan Harsha melakukan tugas mereka layaknya kakak-kakak kandung Adam. Jadi mereka tidak ada alasan untuk cemburu terhadap Ardi dan Harsha.


Garry dan Danish merasa bangga dan bersyukur karena Ardi dan Harsha masih menyayangi Adam, walau Adam sudah berkumpul dengan kedua kakaknya dan ayahnya. Bahkan kasih sayang Ardi dan Harsha makin besar terhadap Adam ketika Adam bertemu dengan kedua kakak kandungnya. Ardi dan Harsha seakan-akan tak rela Garry dan Danish merebut Adam dari mereka.


Ketika semuanya tengah bersedih melihat Harsha, tiba-tiba ponsel milik Adam berbunyi.


Mendengar bunyi ponselnya, Adam langsung mengambil alih di dalam saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Adam melihat nama 'Zelo' di layar ponselnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Adam langsung menjawab panggilan dari Zelo.


"Hallo, Zelo."


"Kamu dimana Adam?"


"Di kediaman Abimanyu. Kenapa?"


"Aku ada berita bagus untuk kamu."


"Berita bagus? Apa itu?"


"Ini mengenai perempuan yang mengaku telah hamil anak dari ayahnya Gino."


"Kenapa dengan perempuan itu? Apa kecurigaanku benar tentang dia?"


"Eemm.. menurutmu, bagaimana?"


"Tak, Zelo! Aku yang terlebih dahulu memberikan pertanyaan kepadamu. Seharusnya kau menjawab pertanyaanku dulu baru memberikan pertanyaan kepadaku!"


"Hahahaha." Zelo seketika tertawa di seberang telepon ketika mendengar perkataan serta nada kesal Adam.


Bukan hanya Zelo saja tertawa, melainkan para kakak-kakaknya dan Gala yang mendengar ucapan dari Adam juga ikut tertawa. Hanya saja mereka tertawa kecil karena tidak ingin membuat Adam makin kesal dan juga tidak ingin membuat Harsha terganggu.


Mendengar teriakkan dari Adam membuat mereka semua menutup telinganya masing-masing.


Dan beberapa detik kemudian, Danish dengan kejamnya memukul kepala belakang adiknya itu.


Plak..


"Aww." Adam seketika meringis sembari mengusap-usap kepala belakangnya.


"Dasar kurus sialan," umpat Adam.


Danish seketika melotot ketika mendengar ucapan serta umpatan dari Adam.


"Apa kau bilang?" tanya Danish.


"Nggak ada siaran ulang," jawab Adam.


Setelah itu, Adam kembali berbicara dengan Zelo.


"Hallo, Zelo. Apa kamu masih disana?"


"Iya, aku masih disini."


"Maaf tadi ada gangguan teknis. Ada beberapa makhluk tak jelas yang mengganggu obrolan serius kita," ucap Adam seenaknya.


Sementara para kakaknya dan Gala seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Adam.


Ardi melotot kearah Adam lalu tangannya hendak memukul kening Adam, namun Adam langsung bersuara.


"Apa? Mau mukul kepalaku juga? Mau buat aku Amnesia lagi, hah? Giliran orang sehat dijahati. Giliran orang sakit bahkan lupa, nangis-nangis. Dasar orang tua aneh."


Setelah mengatakan itu, Adam beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan semua kakak-kakaknya.


Adam keluar dari kamar Harsha. Dirinya tidak peduli panggilan dari Gala dan para kakak-kakaknya, terutama Garry dan Danish.


^^^


Kini Adam sudah berada di Game Room. Ada duduk di sofa yang ada di dalam Game Room itu.


"Katakan padaku sekarang Zelo."


"Baiklah. Begini, Dam! Perempuan itu memang benar-benar hamil, tapi bayi itu bukan bayinya ayahnya Gino. Perempuan itu sudah menikah alias punya suami. Kehamilan perempuan itu adalah kehamilan kedua. Di depan semua orang mereka berperan sebagai kakak adik kandung. Tapi ketika mereka berada di satu rumah, maka mereka berperan sebagai suami istri."


Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Zelo membuat Adam terkejut.


"Tujuan perempuan itu mengaku hamil anak dari ayahnya Gino adalah untuk merebut kekayaan keluarga Gennaro. Baik perusahaan maupun rumah mewah yang ditempati oleh Gino dan keluarganya. Termasuk yang ada di Amerika."


Adam seketika mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan dari Zelo. Adam tidak menyangka jika perempuan itu bersama suaminya tega melakukan hal menjijikkan terhadap keluarga dari salah satu sahabatnya.


"Perempuan itu akan datang ke kediaman keluarga Gennaro lusa. Berarti jatuhnya hari rabu."


"Apa rencana perempuan itu?"


"Dia ingin meminta kepada ayahnya Gino untuk mau mengakui anak yang dia kandung di depan ibunya Gino. Dia juga meminta kepada ayahnya Gino untuk menerima dia tinggal satu rumah dengan ibunya Gino. Dia ingin minta diperlakukan sama dengan ibunya Gino."


Seketika Adam tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan demi ucapan serta penjelasan dari Zelo.


"Rencana yang sempurna."


"Apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui tentang rencana perempuan itu terhadap keluarga Gennaro?"


"Aku akan rundingkan masalah ini kepada Gino. Nanti biar Gino yang membahasnya kepada kedua orang tuanya."


"Baiklah kalau begitu."


"Bagaimana dengan suaminya?"


"Sedangkan dalam proses pencarian."


"Semoga berhasil."


"Terima kasih doanya."


"Siapa juga yang mendoakanmu. Aku mengatakan itu agar kau dan antek-antekmu segera menemukan laki-laki itu agar masalah cepat selesai."


"Sialan lo, Dam!"


"Hahahaha"


Adam seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan dan nada kesal dari Zelo.


"Ya, sudah! Aku tutup teleponnya."


"Iya. Kau dan yang lainnya hati-hati ketika menjalankan tugas. Jangan sampai terluka."


Zelo tersenyum ketika mendengar ucapan dari Adam. Dirinya bahagia memiliki sahabat seperti Adam.


"Terima kasih. Aku janji akan hati-hati."


Setelah selesai berbicara, baik Adam maupun Zelo sama-sama mematikan panggilannya.