
Adam sedang berada di kamarnya. Dia memilih mengistirahatkan tubuhnya di kasur kesayangannya dikarenakan merasakan sakit di kepalanya. Detik kemudian, terdengar pintu kamar yang dibuka oleh seseorang.
CKLEK!
Pintu pun terbuka. Dan menampakkan dua pemuda tampan yang langsung melangkahkan kaki memasuki kamar tersebut dan menghampiri Adam yang sedang berbaring di kasur.
"Dam," panggil Ardi sambil mengusap rambut Adam lembut.
Adam pun membuka matanya berlahan dan melihat dua orang kakaknya sudah berada di dalam kamarnya.
"Beruang kutub dan siluman alien. Kenapa kalian ada di kamarku?"
Ardi dan Harsha membelalak mata mereka saat mendengar ucapan kejam dari Adam.
"Yak! Dimana sopan-santunmu sebagai adik, hah? Kami ini kakak-kakakmu," protes Ardi dengan wajah kesalnya.
"Dan satu lagi dan kau harus ingat, aku bukan alien atau siluman alien yang kau katakan barusan. Aku ini asli manusia." Harsha tak kalah kesalnya terhadap Adam.
Adam tidak mempedulikan aksi protes kedua kakaknya yang ditujukan padanya. Dirinya kembali memejamkan matanya, lalu menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Yaahh, Dam! Kenapa tidur lagi sih? Kau tidak pergi kuliah?" tanya Harsha.
"Kalian berdua pergi saja kuliah. Kenapa repot-repot mengajakku? Hari ini aku memutuskan untuk tidak pergi ke Kampus. Kepalaku sakit," jawab Adam tanpa membuka selimutnya. "Lagian juga aku masih marah dengan kalian dan aku belum memaafkan kesalahan kalian berdua. Kalian tidak lupakan kesalahan kalian apa?"
Ardi dan Harsha saling memberikan tatapan. Mereka hanya bisa menghela nafas panjang.
"Haaaaaaah. Kami pikir kau sudah memaafkan kami," sahut mereka kecewa.
"Hanya dalam mimpi," jawab Adam.
"Apa yang harus kakak lakukan agar kau mau memaafkan kakak, Dam?" tanya Ardi.
"Itu urusan kalian berdua. Kenapa bertanya padaku?" jawab Adam.
"Ya, sudah. Kau istirahatlah. Kami akan kebawah," ucap Harsha.
Setelah itu, Ardi dan Harsha pun pergi meninggalkan Adam sendiri di kamarnya dengan wajah ditekuk.
^^^
Saat tiba di bawah tepatnya di meja makan. Para anggota keluarga menatap keduanya dengan tatapan bingung. Baru saja lima menit yang lalu wajah mereka berseri-seri tapi sekarang sudah seperti baju kusut minta disetrika.
"Kenapa dengan wajah kalian berdua? Kenapa ditekuk seperti itu? Habis diputusin pacar ya?" ledek Reza.
"Apaan sih, kak? Punya pacar saja belum. Bagaimana mau diputusin?" jawab Harsha kesal dengan bibirnya yang dimanyunkan.
"Terus kenapa wajah kalian seperti itu? Seperti anak yang kehilangan induknya," celetuk Dzaky.
"Ini ulahnya kelinci buntel itu!" seru Harsha.
"Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh siluman kelinci itu sampai membuat kalian berdua terlihat jelek seperti ini? "tanya Bagas mengejek.
"Aish, Papa!" kesal Ardi.
"Sikelinci buntel itu ternyata belum memaafkan kami. Saat kami ke kamarnya, sikelinci itu masih tidur. Lalu kami membangunkannya, tapi justru dianya marah," ucap Ardi.
"Dan dia juga bilang kalau dirinya tidak akan ke Kampus hari ini. Katanya kepalanya sakit," kata Harsha.
"Ya, sudah kalau begitu. Berarti hari ini kalian ke kampusnya tanpa Adam. Kalau memang Adam tidak ke Kampus hari ini, kalian izinkan dia," ucap Utari.
"Buruan habiskan sarapan kalian dan segeralah ke Kampus. Nanti kalian terlambat!" seru Alin.
"Kami sudah selesai. Kalau begitu kami berangkat," pamit Harsha dan Ardi.
Lima belas menit setelah kepergian kedua kakaknya. Adam pun turun dan sekarang dirinya sudah berada di meja makan.
"Sayang, bukannya tadi kau mengatakan bahwa kepalamu sakit dan tidak akan pergi kuliah hari ini?" tanya Utari menatap bingung putranya.
Semua yang berada di meja makan menatapnya. Mereka menatap Adam dengan penuh kekhawatiran.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Adam santai.
"Harsha dan Ardi," jawab Utari.
"Lalu Mama percaya. Aku hanya mengerjai mereka. Aku belum memaafkan kesalahan mereka, tapi mereka malah membuat kesalahan lagi. Dan sampai detik ini mereka tidak menyadari kesalahan mereka padaku," ucap Adam yang masih fokus sama sarapannya.
Sedangkan mereka yang mendengar perkataan Adam hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ternyata perang saudara masih berlanjut," kata Davan, sang Paman mengejek.
"Pastinya akan berakhir dengan adanya perang mulut di rumah ini," ucap Kamila, sang bibi.
"Aku selesai. Aku berangkat dulu," ucap Adam, lalu bangkit dari duduknya.
Dan saat dirinya baru melangkah beberapa langkah. Adam berhenti saat mendengar ucapan kakak sepupunya, Juan.
"Di Kampus nanti jangan sampai perang ya. Kalau mau perang di rumah saja. Nanti kakak akan siapkan tempatnya!" teriak Juan sambil menahan tawanya.
Adam kembali melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan mereka semua. Sedangkan mereka semua hanya tersenyum bahagia melihat aksi kesal sikorban.
***
Di kediaman keluarga Bimantara. Di sebuah kamar yang mewah terlihat seorang pria paruh baya tapi masih terlihat begitu tampan. Dia adalah Evab. Dia sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya sambil tangan memegang sebuah foto dimana dirinya bersama orang-orang yang dicintainya. Istri dan ketiga putranya.
"Utari, maafkan aku yang telah melukai hatimu dan putra bungsu kita. Maafkan aku yang saat itu tidak mempercayaimu dan bahkan aku tidak mau mengakui putraku sendiri. Aku terlalu bodoh. Aku terlalu egois sampai rela melepaskan kalian berdua. Utari! Aku bahagia bisa bertemu dengan kalian berdua. Aku bahagia dan bersyukur Tuhan memberikan kesempatan untukku bisa bertemu dengan kalian lagi. Dan aku sangat berterima kasih, kau tidak membenciku dan bahkan kau dengan ikhlas memaafkanku. Tapi..."
Evan menghentikan kata-katanya sejenak. Air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. "Aku takut kalau putra bungsuku tidak mau memaafkanku dan tidak mau menerimaku setelah apa yang aku lakukan padanya? Seharusnya aku menyadarinya dari awal kalau Adam itu adalah putraku. Tapi karena kebodohanku, aku melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Utari! Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa merebut hati putraku kembali seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya?"
Tanpa disadari oleh Evan, ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya dari luar kamarnya. Orang itu menatapnya tajam.
"Brengsek. Ternyata mereka telah bertemu diam-diam dibelakangku. Berarti Danish sudah mengetahui tentang ibu dan adiknya. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Kalau dibiarkan saja, pasti mereka akan bersatu kembali, lalu aku bagaimana? batinnya berteriak.
"Aku tidak akan membiarkanmu kembali bersatu dengan istri dan putra bungsumu. Tidak segampang itu kalian akan bersatu. Kali ini aku akan bermain dengan Adam putra bungsumu, Evan! Kebetulan putramu itu belum mengetahui kalau kau adalah Ayah kandungnya. Aku akan membuat kau dibenci oleh putramu sendiri. Bukankah kau sendiri yang tidak mau mengakuinya sebagai putramu." seringai wanita itu.
***
Hari ini Garry mengantar adiknya Danish ke Kampus. Setelah sampai di gerbang Kampus. Danish langsung turun dan diikuti oleh kakaknya. Garry berniat ingin mengantarkan Danish sampai di halaman Kampus.
Ketika mereka ingin melangkahkan kaki memasuki halaman Kampus, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Adam. Mereka sama-sama kaget. Tak terkecuali Adam.
"Sial. Kenapa aku harus berpapasan dengannya, sih. Apes banget hidupku pagi ini," batin Adam.
"Terima kasih Tuhan kau telah memberikan kebahagiaan di hatiku pagi ini. Aku bisa melihat adikku yang tengah berdiri di hadapanku," batin Danish.
Adam dan Danish saling memberikan tatapan mereka. Tapi kali ini bukan tatapan saling membunuh, tapi tatapan yang berbeda. Terutama Danish. Tatapan mata Danish merupakan tatapan kerinduan pada adiknya.
"Adam. Dirandra Adamka Abimanyu!" sapa Garry.
Sontak membuat Adam maupun Danish menolehkan wajah mereka menatap wajah Garry.
"Kakak Garry," ucap Adam.
"Jadi kamu kuliah disini juga, Dam?" tanya Garry.
"Iya. Lalu kakak kenapa ada disini?" tanya Adam balik.
"Ooh, ini. Kakak mengantarkan Danish, adik kakak. Karena Danish belum diperbolehkan membawa kendaraan sendiri sejak kejadian itu," jawab Garry.
"Oooh," jawab Adam.
"Jadi kakak Garry kakaknya Danish. Kok beda sekali sifatnya," batin Adam.
"Ooh ya, kak. Aku ke kelas dulu ya. Senang bertemu denganmu," ucap Adam dan langsung pergi meninggalkan kakak beradik itu.
"Kakak," panggil Danish. Garry langsung melihat kearah adiknya
"Ada apa?"
"Sejak kapan kakak mengenal Adam dan kenapa tidak memberitahukanku?" tanya Danish.
"Kakak mengenal Adam saat itu Adam jatuh dari motornya. Sepulang kakak dari kantor. Kakak menemukan seseorang tergeletak di jalan, lalu kakak menolongnya dan membawa pulang ke rumah. Dan pertemuan kedua di sebuah Cafe. Kakak dan Adam tidak sengaja bertemu disana," jawab Garry.
"Kakak. Ada sesuatu yang harus kakak tahu," ujar Danish.
"Apa itu Danish?" tanya Garry penasaran.
"Aku dan Papa sudah bertemu dengan Mama dan adik kita," jawab Danish.
"Apa? Kau tidak lagi berbohongkan, Danish?" tanya Garry menatap dengan wajah bahagianya.
"Aku serius kakak. Aku tidak berbohong," jawab Danish lagi.
"Siapa dia? Dan dimana dia sekarang?" tanya Garry antusias dan juga bahagia.
"Kakak sudah bertemu dengannya. Bahkan ini pertemuan ketiga kakak dengannya," balas Danish.
"Ma-maksudmu... A-adam." Garry berucap terbata-bata.
"Iya, kak. Adan adik kita. Adik yang selama ini kita cari," ucap Danish yang sudah meneteskan air matanya.
"Pantesan saja. Saat kakak menemukannya di jalan dan merawatnya di rumah. Senyumannya itu mirip kamu. Mata dan wajahnya mirip Papa. Dan saat itu juga kakak merasakan kenyamanan berada didekatnya," ucap Garry yang sangat bahagia. Orang yang sudah dianggap adik olehnya ternyata adiknya sendiri.
"Terima kasih Tuhan. Kau sudah mempertemukanku dengan adik bungsuku," batin Garry bahagia.
"Ya, sudah kak. Aku masuk kelas dulu," pamit Danish.
"Belajarlah dengan rajin. Pastikan tahun ini kamu berhasil!" seru Garry sambil mengacak-acak rambut adiknya.
"Aku berjanji kak. Kali ini aku tidak akan mengecewakanmu dan Papa," jawab Danish dengan penuh keyakinan.
Danish melangkahkan kakinya memasuki halaman Kampus untuk menuju kelasnya dengan raut wajah yang begitu berseri-seri.