THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Mama, I Miss You



Adam sudah berada di toilet. Setelah selesai dengan urusan alamnya, kini Adam berdiri di sebuah kaca dan memandang wajahnya di sana. Adan membuka keran air yang ada di hadapannya, lalu menampung air itu dengan kedua telapak tangannya. Setelah itu, Adam membasuh wajahnya dengan air tersebut.


Adam merasa segar saat wajahnya terkena air. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika bayangan wajah ibunya terlintas di dalam cermin.


"Mama, aku menyanyangimu. Selamanya. Maafkan aku."


Setelah puas dengan urusannya, Adam pun memutuskan untuk kembali menemui para kakaknya.


Kini Adam sudah berada di luar toilet. Adam melangkah kakinya menyusuri koridor. Ketika Adam sedang berjalan, dirinya tidak sengaja berpapasan dengan Sonia. Tapi Adam memilih mengabaikan gadis itu. Dirinya sudah malas untuk berurusan dengannya apalagi hanya sekedar menyapa.


"Adam," panggil Sonia.


Adam menghentikan langkahnya. "Aku sudah tidak mau berurusan denganmu. Kau mengerti!" bentak Adam.


"Aku tahu! Tapi aku hanya ingin memberitahumu sesuatu. Ini juga tentang keselamatanmu," jawab Sonia.


Adam berbalik dan menghadap kearah Sonia "Apa maksudmu?" tanya Adam dengan nada ketusnya.


"Danish dan gengnya ingin menjebakmu, lalu memaksamu untuk Fight dengannya. Aku mengatakan ini karena kau pernah menolongku. Anggap saja ini balas budiku," jawab Sonia.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua.


"Terima kasih atas informasinya," jawab Adam dan langsung pergi meninggalkan Sonia sendiri yang kebetulan Sonia juga hendak ke toilet.


...^^^...


Danish dan kelima teman-temannya sedang bersantai, lalu tiba-tiba seseorang membuka pintu markas dengan paksa.


BRAAKK!


Para anggota yang berada di dalam tersentak kaget. Dan semua menatap kearah Arya.


"Yak! Bisa tidak kalau kau masuk itu tidak perlu dengan membanting pintu, Arya." Prana berucap kesal.


"Sorry. Aku hanya kesal," jawab Arya.


"Kau kesal kenapa? Habis diputusin pacar, ya." Cakra menggoda Arya.


"Apa yang kau bilang, Cakra? Punya pacar saja belum. Bagaimana bisa dia diputusin sama pacarnya?" Rayan berbicara sambil tertawa.


"Hahahahaha." Semuanya ikut tertawa mendengar ucapan dari Rayan.


"Dasar sialan kalian semua," umpat Arya.


"Oke, oke! Kami minta maaf. Sebenarnya apa yang membuatmu kesal, hah? tanya Danish.


"Sonia!! Dia berani melawan kita. Kau mau tahu apa yang telah dilakukannya?" tanya Arya kepada Danish.


"Apa?" tanya Danish.


"Dia sudah berani membeberkan rencana kita pada Adam," jawab Arya.


"Apa?" teriak mereka semua.


"Brengsek!" emosi Danish.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Indra.


"Kebetulan dia ada di toilet," jawab Arya.


"Ayo! Kita temui dia dan memberikan sedikit pelajaran padanya," ajak Danish.


Mereka semua pun memutuskan untuk pergi meninggalkan markas dan menuju toilet.


...^^^...


Di sebuah toilet Kampus, seorang gadis terjebak antara dinginnya tembok dan dinginnya tujuh pasang mata yang menatapnya tajam. Gadis itu bernama Sonia, dia termasuk salah satu mahasiswi yang cantik di kampusnya.


Dikarenakan dirinya yang sudah melaporkan tentang rencana Danish dan gengnya yang ingin menjebak Adam menjadi gagal. Maka dengan itu dia berurusan dengan tujuh pemuda yang paling ditakuti di kampusnya. Danish maju mendekati Sonia, tanpa menghentikan tatapan tajamnya.


"Sonia, bukankah aku sudah berjanji padamu aku tidak akan mengganggumu lagi. Dan aku sudah membuktikannya. Tapi kenapa sekarang kau ikut campur urusanku, hah? ucapnya dingin." Apa kau ingin aku membullymu lagi seperti biasa?" sambungnya.


Sonia hanya menunduk. Dalam hatinya dirinya ingin sekali berteriak dan melawan mereka. Tiba-tiba tangan orang yang di depannya menjambak rambutnya.


"Aaakkhh! Danish maafkan aku ini sakit Danish, lepaskan kumohon." Sonia berbicara dan memohon pada Danish.


Namun, Danish menjambaknya lebih kuat dan menyeringai. Setelah dijambak, Sonia dibenturkan ke dinding dan yang membuat Sonia lebih sakit adalah ketika dirinya ditampar dengan keras. Tak hanya itu, Sonia pun mendapatkan pukulan di wajahnya bahkan sekarang bibirnya mengeluarkan darah.


"Danish, aku mohon hentikan, maafkan aku," pinta Sonia kepada Danish.


Sonia memegang wajahnya dan menunduk. Sementara Danish, orang yang ada di hadapannya menatapnya dingin.


"Inilah akibatnya karena kau sudah menggagalkan rencanaku Sonia. Bukankah sudah kubilang jangan sampai rencana ini bocor pada geng Brainer, tapi kau tetap nekat melakukannya," ucap Danish tajam sembari menarik meremat kuat rahang Sonia.


"Kalau kau tidak membocorkan rencanaku ini pasti hal ini tidak akan terjadi padamu," ucap Danish, lalu Danish mendorong Sonia dan pergi.


"Lain kali jangan kau ulangi lagi hal seperti ini. Jika kau masih mengulanginya lagi, maka kau akan tahu apa yang alan terjadi padamu selanjutnya. Camkan itu."


Setelah mengatakan hal itu, Prana melepaskan tarikan di rambut Sonia, lalu Prana pergi meninggalkan Sonia dalam keadaan kacau dan babak belur.


...***...


Adam sekarang berada di ruang latihan. Dirinya selalu berada disana untuk meningkatkan ilmu bela dirinya. Paling tidak bisa untuk melindungi dirinya sendiri. Satu jam Adam melakukan latihan dan dirinya memutuskan untuk istirahat sebelum kembali ke kelas.


Hari ini dirinya akan mengikuti mata kuliah karena sudah dua hari membolos. Setelah puas istirahat, Adam mengganti bajunya, lalu pergi meninggalkan ruang latihan tersebut.


Saat Adam berada di halaman Kampus menuju kelas, dirinya berpapasan dengan Danish dan gengnya. Adam berusaha untuk tidak memperdulikan mereka. Dirinya tetap melangkahkan kakinya menuju kelas. Tapi malah justru Danish dan gengnya menghadang jalannya.


Adam dan Adam saling menatap. Mata mereka saling bertemu dan saling memberikan tatapan tajam. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang menyaksikannya hanya bisa membungkam melihat dua reflika ciptaan Tuhan yang saling menatap. Mereka adalah dua sosok yang ditakdirkan bertemu di dalam satu kelas bahkan satu kampus.


"Mau apa lagi, hah?" tanya Adam sinis.


"Aku ingin Fight denganmu. Yang kemarin aku belum mengaku kalah," jawab Danish.


"Aku tidak mau," jawab Adam singkat, lalu pergi. Namun, lagi-lagi mereka menghadang Adam.


"Kau takut, hah?" tanya Danish tersenyum sinis.


"Aku tidak pernah takut denganmu apalagi dengan geng bodohmu itu," jawab Adam mengejek.


"Apa yang kau katakan, hah?!" bentak Danish sambil menarik kasar kerah ke meja Adam.


Dengan tenaga yang kuat, Adam melepaskan tangan Danish dari kerah bajunya dan menghentakkan dengan kasar.


"Jangan pernah menggangguku lagi. Aku tidak mau berurusan denganmu. Terserah kau mau melakukan apa di Kampus ini? Asal jangan menggangguku dan juga geng Brainer." Adam berucap dengan nada dinginnya.


Setelah itu, Adam pun berlalu pergi meninggalkan mereka semua.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa Rektor terlalu menurut denganmu?!" teriak Danish.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku? Nanti kau akan tahu sendiri!" teriak Adam tak kalah nyaring.


...***...


Ayden Garry Bimantara sekarang berada di sebuah Cafe Grill5taco. Setelah beberapa menit yang lalu baru menyelesaikan rapatnya yang begitu melelahkan. Dirinya ingin memanjakan perutnya yang sudah menari-nari sedari tadi minta diisi.


Setelah selesai memanjakan perutnya di Cafe itu, Garry berniat untuk segera pulang ke rumah karena dirinya lelah dan butuh istirahat.


Saat Garry menuju mobilnya, dirinya tak sengaja melihat sosok wanita yang sangat familiar. Wanita yang sangat dirinya rindukan.


"Mama," lirih Kim Garry.


Garry ingin mengejar wanita tersebut. Tapi saat dirinya berlari, dia tidak sengaja menabrak seseorang. Mau tidak mau, Garry harus menolong orang tersebut dan meminta maaf. Tapi sayangnya wanita yang dilihatnya sudah menghilang.


"Aku sangat yakin kalau yang aku lihat tadi benar-benar Mama," batin Garry.


Garry kembali ke mobilnya. Dirinya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dirinya ingin segera sampai di rumah dan tidur.


...***...


Di sebuah Perusahaan besar dan terkenal di Indonesia yaitu Ev'Corp, terlihat seorang pria paruh baya sedang berada di ruang kerjanya. Matanya fokus memandangi foto dirinya bersama istri dan ketiga putra-putranya yang satunya masih bayi. Walaupun dirinya sudah menikah untuk yang kedua kalinya, pernikahannya ini tidak didasari oleh cinta, tapi perjodohan yang dilakukan ibu dan kakak perempuannya. Sampai detik ini di hatinya masih tersimpan rapat nama istri pertamanya. Bagaimana pun mereka belum bercerai?


"Utari. Kau ada dimana sekarang? Bagaimana keadaanmu dan putra bungsu kita? Apa kalian hidup sehat?" batin Evan.


"Aku sangat merindukan kalian," ucap Evan.


TOK!


TOK!


"Masuk!" teriam Evan dari dalam.


Cklek!!


Pintu terbuka dan masuklah seseorang ke dalam ruangan tersebut.


"Silahkan duduk. Informasi apa yang kau dapat?" tanya Evan.


"Untuk saat ini yang saya ketahui kalau putra bungsu Tuan seorang mahasiswa. Dia kuliah di Kampus yang sama dengan Kampus tempat kuliah putra kedua anda Tuan Danish. Bahkan mereka sekelas. Dia juga baru pindah dari Amerika. Dia berada di Indonesia ini baru satu bulan. Tapi saya minta maaf, Tuan! Untuk wajahnya seperti apa? Namanya siapa? Saya belum mengetahuinya. Dikarenakan keluarganya menutup rapat identitasnya," ucap pria itu.


"Ya. Aku tahu! Waktu aku menikah dengan istri pertamaku Utari, dia tidak pernah sekalipun memberitahu tentang keluarganya bahkan nama marganya. Jadi, aku tidak tahu apa nama marga keluarganya. Kalau seandainya dia memberitahu marga keluarganya, mungkin sekarang pencarian akan lebih gampang," ujar Kim Evan.


"Tuan jangan khawatir. Saya akan berusaha semampu saya untuk terus mencari keberadaan putra bungsu anda, Tuan," ucap laki-laki itu.


"Terima kasih," jawab Kim Evan.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan," ucap laki-laki itu, lalu beranjak pergi.