THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kekesalan Adam



"Bagaimana? Apa masih pusing kepalanya?" tanya Danish sembari membelai rambut adiknya sayang.


"Sedikit," jawab Adam.


Adam saat ini berada di ruang kesehatan bersama kakak-kakaknya, sahabat-sahabat kakak-kakaknya dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Adam bisa berada di ruang kesehatan karena tiba-tiba tubuhnya ambruk tak sadarkan diri akibat pusing yang menyerang kepalanya.


Adam tiba-tiba hendak bangun, Danish yang melihatnya langsung membantu adiknya untuk duduk.


"Kamu pulang aja ya!" pinta Ardi kepada adik sepupunya itu.


"Nggak mau. Aku mau mengikuti materi kuliah yang terakhir," jawab Adam.


"Ayolah, Dam! Sekali-kali nurut kek," ucap Vigo kesal.


"Yak! Kenapa kakak Vigo yang sewot. Yang sakitkan aku," jawab Adam ketus.


"Kita seperti ini karena kita khawatir sama kamu Adam! Kita nggak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Harsha.


"Kalian saja yang lebai. Aku cuma sakit kepala, tapi kekhawatiran kalian sudah diatas rata-rata," ucap Adam.


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Adam membuat mereka semua mendengus kesal.


Adam beranjak dari tempat tidurnya. Dia hendak turun dan pergi meninggalkan ruang kesehatan. Dia sudah benar-benar bosan berada di ruang kesehatan dan dia ingin ke kelasnya.


"Dam, kamu mau kemana?" tanya Danish.


"Ke kelas. Bosan disini lama-lama." Adam menjawab pertanyaan dari Danish.


Adam pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu keluar dengan tangannya masih sesekali memijit-mijit keningnya karena rasa pusing tersebut masih terasa.


Cklek..


"Adam!" panggil Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya lalu mengejar Adam.


^^^


Kini Adam sudah berada di luar. Kakinya terus melangkah menuju kelas dan menghiraukan panggilan dari kakak-kakaknya.


"Adam!"


Danish berlari sekencang mungkin agar bisa menggapai adiknya itu.


Sreekkk..


Danish akhirnya berhasil meraih pergelangan tangan adiknya, lalu Danish menarik tubuh adiknya agar bisa menatap wajah adiknya itu.


"Kakak mohon sama kamu, jangan seperti ini. Kakak sayang sama kamu. Dan kakak juga khawatir sama kamu. Wajah kamu masih sedikit pucat. Kamu pulang dan istirahat jika kamu bosan di ruang kesehatan."


"Dam, dengarkan dong omongan kita. Ini juga buat kebaikan kamu. Jangan maksain buat ngikutin materi kuliah," ucap Arka dengan tatapan lembutnya.


"Aku seolah-olah laki-laki lemah di mata kalian. Kenapa aku harus dilahirkan, jika hidup aku seperti ini. Menyusahkan orang lain."


Setelah mengatakan itu, Adam langsung pergi meninggalkan kakak-kakaknya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan sahabat-sahabat kakaknya.


"Adam, mau kemana?!" teriak Danish.


"Pulang!" teriak Adam tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Kakak antar ya?!"


"Terserah!"


"Hah!" Danish hanya bisa menghela nafas pasrahnya ketika mendengar jawaban adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ya, sudah! Kalau begitu aku antar Adam pulang dulu. Nanti salah satu dari kalian bawa mobil Adam pulang."


"Baiklah!"


Setelah itu, Danish pun menyusul adiknya yang keras kepala itu. Adiknya pasti sudah menunggu di parkiran.


***


Saga saat ini berada di kantor bersama Reres yang seperti biasa duduk di sofa memerhatikannya. Tak ada yang Reres lakukan selain menemani Saga, sesekali memainkan ponsel dan membaca buku.


Sejak SMA Reres mengurus Saga di rumah bahkan sampai urusan makan siang. Saat kuliah Reres sering datang untuk sekadar membawakan bekal atau membawakan benda-benda milik atasannya itu yang tertinggal di rumah hingga teman-teman kampus Saga memanggil gadis itu baby sitter nya.


Namun seperti biasa Reres bukan orang yang terlalu mempedulikan apa kata orang. Cenderung cuek. Hanya sesekali merasa tak percaya diri.


Pagi tadi keduanya telah mempersiapkan pakaian yang akan mereka bawa sebagai persiapan seminggu di Bali. Siang nanti keduanya akan berangkat untuk memenuhi keinginan Reres.


Saga masih sibuk dengan dokumen- dokumen yang masuk, menumpuk di meja kerjanya yang kini tengah ia tandatangani satu per satu. Ia terlihat berbeda ketika berada di perusahaan. Berwibawa, tegas dan dingin. la melirik Reres yang kini terlihat resah, kemudian kembali membaca dokumen di hadapannya.


Reres menatap Saga kemudian mengangguk. "Yakin."


Saga mengambil ponsel, lalu menghubungi Haris, orang kepercayaannya. Meminta pria itu datang ke ruangan untuk menitipkan kantor selama dia berada di Bali.


Haris sudah bekerja sejak Saga menjabat sebagai CEO Candramawa dan berlangsung hingga saat ini. Yang Saga ketahui Haris memang dipilih oleh sang ibu karena ayah dari pria itu sebelumnya adalah orang kepercayaan perusahaan.


Pintu diketuk, sang atasan mempersilakan masuk. Haris pun berjalan masuk.


Jika diperhatikan Haris begitu menawan dengan garis mata tegas, memiliki lesung tipis di kedua pipi, alis tebal, rahang yang tegas dan bahu yang lebar.


Pria itu berjalan mendekat pada meja kerja Saga seraya melirik sekilas pada Reres yang tersenyum padanya membuat ia tersenyum tipis.


"Ris, tolong saya untuk urus semua keperluan perusahaan seminggu kedepan. Hari kamis ada rapat dewan, tolong batalkan." Saga memberi perintah sambil membereskan dokumen yang telah selesai ia tandatangani.


"Loh. Memang ada apa, Pak?"


Haris bertanya heran. Tumben sekali Saga memintanya mengurus semua, padahal tak ada rencana sebelumnya. Ini terlalu mendadak, pikirnya.


"Saya mau ke Bali. Ada urusan penting, mendesak. Serius dan harus disegerakan," jawab Saga sambil melirik cepat ke arah Reres yang memilih memalingkan wajah.


"Sama Reres?" tanya Haris lagi sambil menoleh ke arah Reres.


Pertanyaan itu mendapat anggukan kepala dari Saga. "Iya, tentu. Saya percayakan semua padamu."


Saga kemudian berdiri membawa dokumen-dokumen di tangannya, lalu menyerahkan pada sang tangan kanan.


"Saya bisa hubungi Bapak kan kalau ada sesuatu?"


Saga berjalan ke luar ruangan, diikuti Reres di samping Haris yang tampak benar-benar bingung.


Sang CEO berkulit putih itu lalu menjawab pertanyaan orang kepercayaannya. "Tidak, saya tidak mau dihubungi seminggu ini."


"Loh, kalau direksi minta rapat tetap berjalan?"


Haris bingung dengan kelakuan Saga yang kali ini benar- benar mendadak.


Langkah Saga terhenti, menatap Haris yang berjalan di belakangnya. "Saya akan hubungi mereka dalam perjalanan. Saya pastikan rapat hari kamis lusa batal."


"Tapi..."


Saga mendekati Haris, kemudian menutup bibir Haris dengan telunjuk kanannya. "Cukup, enough." Saga berucap dengan nada yang dibuat-buat dan itu membuat Reres terkekeh.


Saga melepaskan jarinya dari bibir Haris membuat pria itu mengusap bibirnya cepat.


Reres berjalan mengikuti langkah Saga, kemudian menoleh dan melambaikan tangan sebagai perpisahan pada Haris yang tersenyum sambil ikut melambaikan tangan.


***


Adam dan Danish sudah berada di rumah. Sesampainya Danish dan Adam di rumah. Adam langsung melangkah masuk ke dalam rumah, mengabaikan Danish yang memanggilnya.


Sampai di dalam rumah, Adam pun mengabaikan panggilan dari kedua orang tuanya dan kakak tertuanya sehingga membuat kedua orang tuanya dan kakak tertuanya menatap bingung dirinya.


"Kenapa tuh anak?" tanya Garry yang melihat adiknya yang pulang dalam keadaan wajah tak mengenakkan.


Tap..


Tap..


Tap..


Evan, Utari dan Garry melihat Danish yang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dengan wajah sedikit tak baik-baik saja.


Setelah Danish tiba di ruang tengah, Danish langsung menduduki pantatnya di sofa sembari menghela nafasnya.


"Ada apa dengan kamu? Terus kenapa dengan Adam? Kenapa pulang-pulang moodnya buruk begitu?" tanya Garry.


"Ada sedikit masalah di kampus. Awalnya Adam memang kesal padaku, Ardi dan Harsha dan Vigo karena kami meminta dia tidak ikut kegiatan KKN. Justru kami memintanya pulang."


"Memangnya kenapa?" tanya Utari.


"Adam dalam keadaan tak baik-baik saja. Adam itu demam. Wajah terlihat pucat. Tapi Adam keras kepala ketika kami menegurnya dan menyuruhnya pulang," jawab Danish.


"Terus?" tanya Danish.


"Adam dapat panggilan dari Ricky. Ricky meminta kepada Adam untuk membatalkan kegiatan KKN. Dengan kata lain jangan ada yang pergi untuk kegiatan KKN itu. Setelah mendapatkan panggilan dan mendapatkan informasi dari Ricky membuat kepala Adam menjadi semakin pusing. Sejak awal Adam memang merasakan pusing di kepalanya. Namun Adam tahan."


"Adam semakin bertambah kesal ketika aku dan yang lainnya menyuruhnya pulang dan tidak usah ikut kelas. Inilah yang terjadi. Aku diabaikan sejak dalam perjalanan sampai di rumah."


Mendengar cerita dari Danish membuat Utari dan Evan seketika mengkhawatirkan Adam. Mereka takut jika terjadi sesuatu terhadap Adam.