THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Penyiksaan



Di gudang yang kumuh dan kotor dimana Adam disekap.


"LEPASKAN AKU BRENGSEK!" teriak Adam.


"Melepaskanmu itu sama saja kami cari mati. Kami diperintahkan untuk membunuhmu. Tapi sebelumnya kami akan bermain-main denganmu manis." salah satu suruhan Dhira menyeringai menatap Adam.


SREETT!


BUUGGHH!


"AAKKHHH!" Adam menjerit dan kepalanya mengeluarkan darah.


"Bagaimana? Apa ingin lagi, hum?" tanya pria yang tangannya mengelus pipi mulus Adam.


"Jangan sentuh aku brengsek! Aku tidak sudi disentuh oleh manusia iblis sepertimu!" bentak Adam.


PLAAKKK!


"AAAKKKHHH!" Adam meringis kesakitan saat pria itu menamparnya sangat keras. Pipinya benar-benar panas.


"Seperti nya kau ingin bermain-main dengan kami rupanya."


"KALIAN GILA!"


"Kau baru sadar, ya!" Smirk pria itu dan mengangkat tongkatnya dan mengayunkannya sehingga.


BUUGGHH!


"Aaakkkhhh!"


Pria itu tertawa setan. Pria itu terlihat senang melihat sanderanya tersiksa.


"Pasti Bos akan senang dengan pekerjaanku ini," batinnya tersenyum sinis.


"Bagaimana? Menyenangkan bukan?"


"B.. Breng.. sekhhh." Dan Adam kehilangan kesadarannya. Pria itu tersenyum puas akan pekerjaannya.


***


Prana dan dua teman Garry masih setia mengikuti mobil Dhira dari belakang.


"Sialan kau, Evam. Beraninya kau menamparku. Awas saja kau. Lihat saja kejutan apa yang akan kuberikan padamu," ucap Dhira emosi.


Disaat dirinya sedang kesal dan marah. Matanya tak sengaja melihat dari kaca spionnya. Sebuah mobil yang berada di belakangnya sepertinya sedang mengikutinya.


"Sepertinya mobil di belakangku itu tengah membuntutiku. Eeemm! Danish itu pasti kerjaanmu. Kau menyuruh teman-temanmu untuk membuntuti Mama ternyata." Dhira menyeringai.


Saat Dhira menyadari kalau dirinya sedang diikuti seketika Dhira memberhentikan mobilnya di tepi. Dhira pun menghubungi putra kesayangannya


itu.


Panggilan tersambung..


"Hallo, sayang. Mama tahu kau sudah menyuruh teman-temanmu untuk membuntuti Mama. Mama kasih saran padamu. Suruh teman-temanmu kembali. Atau adikmu celaka." Dhira memberikan ancaman kepada Danish.


PIP!


***


Saat ini Danish Garry dan yang lainnya fokus menatap layar laptop milik Kavi. Lalu terdengar bunyi ponsel berdering. Ponsel itu milik Danish.


DRTT!


DRTT!


Danish merogoh ponselnya yang ada di saku celananya. Dan tertera nama 'Mama Dhira' di layar ponselnya.


"Mama," batin Danish dan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, sayang. Mama tahu kau sudah menyuruh teman-temanmu untuk membuntuti Mama. Mama kasih saran padamu. Suruh teman-temanmu kembali. Atau adikmu celaka." Dhira memberikan ancaman kepada Danish.


TUTT!


TUTT!


"Brengsek!" teriak Danish.


"Ada apa, Danish?" tanya Garry. Tapi tak ada jawaban dari sang adik. Danish segera menghubungi Prana.


Dan panggilan tersambung.


"Hallo, Danish. Ada apa?"


"Kembalilah sekarang. Perempuan gila itu mengetahui kita mengikutinya!"


"Sial. Baiklah!"


PIP!


"Brengsek!" teriak Garry saat mendengar apa yang dikatakan adiknya.


Kavi masih fokus dengan laptopnya. "KETEMU!" teriak Kavi dan Arya bersamaan saat mereka berhasil menemukan lokasi penyekapan Adam.


Semua yang mendengar teriakan Kavi dan Arya tersenyum bahagia. Mereka semua sudah tidak sabaran untuk pergi menyelamatkan kelinci nakal kesayangan mereka itu, terutama Garry dan Danish.


"Tunggu kami, Adam. Bertahanlah sampai kami datang," batin kakak adik ini.


Mereka menatap layar laptop milik Kavi.


"150 m dari sini. Kita harus bergegas!" ucap Arya.


"Tunggu apalagi. Ayo, buruan kita pergi. Adam membutuhkan kita!" seru Kavi.


"Kalian pergilah. Aku akan disini sambil menunggu Prana dan dua temannya kak Garry kembali. Dan kau Danish, hubungi Rayan, Indra dan Cakra." Arya berucap.


"Jangan lupa, hubungi juga Ardi, Harsha, Arka, Sakha, Kenzie dan Gala. Beritahu mereka kalau kita sudah mendapatkan lokasi tempat penyekapan Adam," ucap Arya lagi.


"Eeemmm!" Danish mengangguk. Dan mereka pun pergi ke lokasi penyekapan tersebut untuk menyelamatkan Darren.


***


Di Apartemen keluarga Abimanyu tampak seorang wanita cantik yaitu Utari yang sedang menatap sebuah bingkai foto. Bingkai foto putra bungsunya. Tanpa diminta air matanya berlomba-lomba keluar dari mata indahnya.


"Sayang. Mama mohon bertahanlah di sana sampai saudara-saudaramu datang menyelamatkanmu. Jangan pernah meninggalkan Mama." Utari berbicara sambil mengelus bingkai foto putra bungsunya itu.


"Aish. Kenapa tidak ada kabar sama sekali dari mereka? Apa Danish dan yang lainnya sudah berhasil menemukan lokasi penyekapan Adam?" gerutu Harsha.


DRTT!


DRTT!


Ponsel Ardi berbunyi. Ardi yamg mendengar suara ponselnya langsung mengangkatnya. Tidak peduli siapa yang menghubunginya. Saat ini hanya Adam dan Adam yang ada di pikirannya.


"Halloo, Di. Aku dan yang lainnya sudah berhasil menemukan dimana Adam disekap."


"Benarkah?"


"Eeemmm. Aku akan mengirimkan lokasinya melalui pesan."


"Baiklah."


TUTT!


TUTT!


Beberapa detik kemudian, Ardi mendapatkan lokasi penyekapan Adam dari Danish.


Setelah Ardi mendapatkan alamat tempat Adam disekap. Ardi pun segera beranjak dari duduknya dan menemui Utari.


"Danish dan yang lainnya sudah berhasil menemukan lokasi penyekapan Adam," ucap Ardi sumringah.


"Benarkah, kak?" tanya Harsha


"Eeemm."


TOK!


TOK!


TOK!


"Ma, ini Harsha. Ada kabar gembira. Danish dan teman-temannya sudah berhasil menemukan dimana Adam disekap. Kita akan kesana. Apa Mama mau ikut?"


CKLEK!


"Benarkah itu, Harsha?"


"Benar, Ma. Barusan Danish menghubungi kak Ardi."


"Ayo! Kita pergi sekarang juga Harsha. Adikmu menunggu kita disana."


Ardi, Harsha dan Utari bergegas pergi menuju lokasi penyekapan Adam.


***


Dhira sudah berada di dalam gudang tersebut. Dirinya menatap penuh amarah pada pemuda yang kini tak sadarkan diri.


"Bangunkan dia!"


BYUURRR!


Adam tersentak dan mengerjakan matanya yang wajahnya baru saja disiram dengan air dingin. Dan hal pertama yang dapat dilihat olehnya adalah beberapa orang yang berdiri di hadapannya dan seorang wanita. Dan selebihnya berjaga di luar.


"Cukup tidurnya anak manis. Ayo, kita bermain-main dan bersenang-senang!" seru Dhira dengan senyum sinisnya.


"Mau apa kau perempuan gila. Jangan macam-macam kau sialan!" Adam berteriak di depan wajah Dhira.


Sedangkan Dhira hanya tersenyum penuh seringai.


"Pedas sekali mulutmu manis. Bagusnya aku apakan ya dirimu, hum?"


"Hei, kalian. Apakah kalian berminat dengan bocah ini?!" teriak Dhira pada orang suruhannya.


"Bagaimana kalau kami melakukan hal itu padanya, Bos!" seru salah satu pria disana dan mengundang lapar pria-pria lain.


"Terserah kalian. Lakukanlah sesuka hati kalian. Bersenang-senanglah. Aku akan ke ruanganku." Dhira pun langsung pergi meninggalkan mereka semua.


Pria tersebut mendekati Adam dan menyentuh pipi mulus Adan.


"Lihatlah. Dia sangat cantik. Padahal dia laki-laki. Ditambah lagi bibirnya yang.. eemmm.. waw.. itu pasti membuat milik kita hangat berada di dalam mulutnya!" seru pria yang lainnya.


"KALIAN GILA!" teriak Adam.


"Bahkan tubuhnya begitu.. eemm.. menggairahkan!"


"LEPASKAN AKU BRENGSEK!"


"Melepaskanmu sama saja melepaskan satu makanan terlezat kami," ucap pria itu sambil mencolek dagu Adam dan tangannya mengerayap di dada bidang Adam.


"CUIH! JANGAN SENTUH AKU!" ucap Adam yang menyempatkan meludahi pria tersebut.


PLAAKK!


"Aakkhh!" Adam meringis merasakan panas di pipinya.


SREETTT!


Wajah Adam mendongak ke atas saat rambutnya ditarik kuat ke atas oleh sipenampar.


"Berani sekali kau meludahiku! Ingin kupotong lidahmu itu, hah?"


Adam hanya terkekeh mendengar ucapan laki-laki itu.


"Berani kau memotong lidahku. Aku akan potong habis tubuhmu. Jantungmu akan aku jadikan pajangan di museum, pusaka kesayanganmu aku jadikan petasan roket, bola matamu aku jadikan kalung anjing, kepalamu aku jadikan pajangan dinding di rumahku dan sisanya akan aku jadikan sarapan untuk anjing peliharaanku!" ucap Adam dengan tatapan matanya yang tajam.


Mereka yang mendengar ucapan Adam bergidik ngeri.


"Kau ingin mutilasi kami, hah! Cih! Anak imut dan cantik sepertimu itu bisa apa?" ucap pria itu remeh. Adam tersenyum menyeringai.


"Yang jelas aku bisa memotong-motong tubuh jelekmu itu, sialan!" jawab Adam santai.


PLAAKK!


Dan kali ini pipi kirinya yang jadi sasaran tamparan laki-laki yang ada di depannya. Dan dirinya yakin kedua pipinya sudah pasti memar mendapatkan beberapa kali tamparan keras.


Mereka semuanya tertawa puas melihat Adam tersiksa.


"Tertawalah sepuas kalian. Kalau aku berhasil bebas dari sini. Aku pastikan kalian semua tidak akan menghirup udara bebas lagi. Kalian akan mati di tanganku!"


"Kau benar-benar kurang ajar."


BUGH!


Pria itu memberikan pukulan keras di bagian perut Adam.


"Uuhuukkk!"


Adam memuntahkan darah dari mulutnya.


"BRENGSEK! BAJINGAN!" umpat Adam.


BUGH!


"Aakkhh! Uuhuukkk!" Adam lagi-lagi memuntahkan darah dari mulutnya.