THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Memutuskan Untuk Pulang



Setelah dari toilet, Gala tidak sengaja mendengar para mahasiswa dan mahasiswi sedang membicarakan hal tentang Adam.


"Aaiisshh! Mereka masih saja mengulangi kesalahan yang sama. Masih saja mengumpat dan menggosip," batin Gala.


"Jadi tujuan kalian kuliah disini hanya untuk bergunjing dan bergosip saja, hah!" bentak Gala.


Sontak mereka semua mengalihkan pandangan mereka masing-masing melihat kearah asal suara tersebut.


"Ka-kak Gala," jawab mereka gugup dan takut.


"Apa hukuman yang kalian terima itu belum cukup untuk menutup mulut kalian itu? Atau kalian mau menerima hukuman yang lebih parah dari pada ini? Kalian mau tahu hukuman apa yang akan kalian terima apabila Adam mendengar omongan kalian barusan?!" bentak Gala.


Semuanya menunduk dan tidak berani menatap Gala.


"Kenapa diam? Kalian mau tahu hukuman apa yang akan Adam berikan kepada kalian, apabila dia sampai mendengar perkataan kalian barusan?" tanya Gaka lagi yang sudah emosi.


"Ka-kami tidak tahu, kak/Gal!" jawab salah dari mereka.


"Memangnya hukuman apa yang akan diberikan oleh Adam kepada kami?" tanya salah satu mahasiswa tersebut.


"Dia akan mengeluarkan kalian dari Kampus ini dan setelah itu kalian tidak akan diterima di Universitas manapun. Bahkan universitas luar negeri sekalipun," jawab Gala sinis.


Mendengar jawaban dari Gala, sontak membuat mereka membelalakkan bola mata mereka. Mereka tidak percaya atas apa yang barusan mereka dengar.


"Kami tidak akan percaya begitu saja dengan perkataan kak Gala. Mana mungkin seorang Adam yang statusnya anak baru berani melakukan hal itu," sahut salah satu mahasiswa.


"Kalian semua tidak tahu siapa Adam yang sebenarnya. Kalian tidak tahu bagaimana watak dan sikap aslinya. Kalian tidak tahu apa statusnya di Kampus ini. Jika kalian tahu siapa itu Adam, maka kalian akan berpikir seribu kali untuk mencari masalah dengan Adam."


Gala menatap nyalang para mahasiswa dan mahasiswi tersebut.


"Apa yang tidak bisa kalian lakukan, tapi bisa dilakukan oleh Adam? Apa kalian lupa, bagaimana sikap dan perlakuan Rektor kepada Adam?


Rektor memberikan hukuman pada kalian semua itu atas perintahnya Adam. Itu sudah membuktikan bahwa status Adam sangat berpengaruh di Kampus ini. Jika tidak, Rektor itu tidak akan sudi mematuhi perintah Adam." Gala berucap dengan nada ketus dan tatapan mata yang tajam.


Mereka semua terdiam dan tidak berani melawan perkataan Gala. Dalam hati mereka masing-masing, mereka membenarkan perkataan Gala. Jika Adam tidak memiliki pengaruh apa pun di Kampus ini, Rektor tidak akan mematuhi perintah Adam.


Yang membuat mereka tambah bingung dan penasaran, siapa Adam sebenarnya? Kenapa Rektor begitu patuh dan menurut pada Adam. Dan status apa yang dipegang oleh Adam di Kampus ini?


...^^^...


Adam dan Harsha sudah berada di depan gerbang Kampus. Saat hendak memasuki halaman Kampus, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Lalu Adam mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan melihat nama 'Kakek Yodha' yang tertera di layar ponselnya itu. Adam pun langsung menjawabnya.


"Hallo, kakek."


"Hallo, cucuku yang paling tampan. Kau ada dimana sekarang?"


"Aku ada di Kampus, Kek! Ada apa kakek menelponku?"


"Apa kau tidak mau pulang. Apa kau tidak merindukan Kakek dan Mamamu? Mamamu sekarang sedang sakit, Adam. Dia selalu memikirkan dirimu. Pulanglah cucuku."


"Aku memang akan pulang, Kek. Selesai dari Kampus aku akan pulang bersama kak Harsha dan kak Ardi."


"Benarkah? Kau tidak bohongkan?"


"Benar, Kakek. Aku tidak bohong."


"Baiklah! Kakek akan menunggumu di rumah."


"Baik, Kek. Kalau begitu aku tutup teleponnya."


PIP!


"Kakak senang. Akhirnya kau mau pulang, Ren." Harsha tersenyum bahagia ketika mendengar Adam yang mau pulang.


Adam hanya tersenyum sebagai jawabannya.


"Ayo, buruan kita ke kelas," ajak Harsha.


Mereka berdua pun berlari disepanjang koridor Kampus. Mereka tidak memperdulikan tatapan para mahasiswa dan mahasiswi yang menatap mereka.


BRAAKK!


Terdengar suara pintu yang dibuka paksa. Siapa lagi kalau bukan Gala pelakunya.


"Yak!! Gala apa-apaan kau ini? Kau ingin membunuh kami, hah? Kau mengagetkan kami tahu," ucap Sakha kesal.


"Kau kenapa, hah? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Ardi.


"Aku tidak habis pikir dengan mereka semua," jawab Gala kesal.


"Mereka siapa maksudmu?" tanya Arka.


"Ya, siapa lagi kalau bukan para mahasiswa dan mahasiswi itu," jawab Gala.


"Kenapa dengan mereka?" tanya Kenzie.


"Mereka masih saja membicarakan tentang Adam," jawab Gala.


"Mereka mau nya apa sih sebenarnya? Adam tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa pada mereka. Awalnya semua baik-baik saja. Tapi semenjak foto Adam dan Sonia tersebar, mereka berubah menjadi membenci Adam," tutur Sakha.


"Ini semua gara-gara Danish dan gengnya. Dia bilang keroknya semua masalah ini. Sampai membuat Adam dibenci," ucap Ardi.


"Jangan sampai tahu apa, kak Arka?" tanya Adam yang tiba-tiba sudah berada di markas Brainer bersama Harsha.


DEG!


Mereka kaget melihat Adam yang tiba-tiba datang.


"Tidak apa-apa, Adam?" ucap Ardi mendekati Adam, lalu merangkulnya.


"Kenapa kalian terlambat? Biasanya kalian tidak pernah terlambat ke Kampus?" tanya Kenzie yang mengalihkan topik supaya Adam lupa dengan apa yang barusan dia dengar.


"Aku terlambat bangun. Badanku sakit-sakit semua. Sebenarnya aku hari ini malas kuliah, tapi kak Harsha memaksaku," jawab Adam tanpa dosa dan mengabaikan tatapan horror kakaknya itu.


"Yak! Apa yang kau katakan? Perasaan kakak tidak memaksamu. Kenapa kau justru memfitnah kakak, hah?" ucap Harsha kesal.


"Lalu siapa yang membangunkanku tadi? Oooh! Jangan-jangan di Apartemen Kakek ada penghuni yang tak kasat mata rupanya," ucap Adam.


"Apa yang kau katakan, hah? Kau pikir kakak ini hantu apa? Memang kakak yang membangunkanmu. Tapi kakak ini manusia bukan hantu kali," jawab Harsha singkat, padat dan jelas.


"Nah, itu ngaku. Kakak memang bukan hantu, tapi alien gosong yang membangunkanku, lalu memaksaku untuk kuliah. Coba kalau kakak tidak membangunkanku, pasti aku sedang tidur enak di Apartemen Kakek sekarang," kata Adam puas melihat wajah kesal kakaknya.


Harsha bungkam. Adam tersenyum kemenangan. Sedangkan kakak-kakaknya hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan Adam dan Harsha.


...^^^...


Geng Bruizer sedang berada di Rooftop. Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak Adam dan mengajak Fighting satu lawan satu. Dan pada saat itu juga, tanpa disengaja, Sonia datang dan mendengar perkataan mereka. Sonia sangat kaget dan memutuskan untuk pergi meninggalkan geng Bruizer. Tapi sayang dirinya ketahuan. Mereka mengancam Sonia untuk tidak membocorkan rencana mereka pada geng Brainer termasuk Adam.


"Dengarkan aku, Sonia. Kalau sampai geng Bangtan atau Adam tahu hal ini, aku akan membullymu habis-habisan. Kau mengerti!" bentak Danish.


"Ba-baik Danish," Sonia ketakutan saat ini.


"Bagus. Awas saja kalau kau sampai berani macam-macam," ancam Arya.


"Ayo, cabut dari sini."


Danish dan teman-teman pun pergi meninggalkan Sonia.


...^^^...


Geng Brainer berada di Kantin. Mereka ingin mengisi perut mereka yang sudah kelaparan. Beda dengan Harsha dan Adam. Mereka sudah sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke Kampus. Mereka ikut ke Kantin hanya ingin bergabung dengan kelima kakak mereka dan membolos jam pelajaran pertama.


"Kakak aku ada kabar baik untuk kalian. Terutama untukmu kak Ardi!" seru Harsha.


"Kabar baik apa, Harsha?" tanya Ardi.


"Adam mau kembali pulang ke rumah," jawab Harsha tersenyum kearah Adam.


Sedangkan Adam sedari tadi sedang melamun. Dipikirannya mengingat kata-kata yang dikirimkan oleh ibunya melalui sebuah pesan.


"Waah. Benarkah itu Adam? Kau akan pulang. Pasti mama Utari senang sekali," ucap Ardi.


"Dam," panggil Ardi.


"Dirandra Adamka Abimanyu," panggil Ardi lagi sambil menepuk pelan bahunya dan itu berhasil membuat lamunan Adam buyar.


"Aish! Kakak, kau ini mengagetkanku saja. Apa kau ingin aku mati muda karena serangan jantung, hah?" ucap Adam kesal yang mempoutkan bibirnya.


Sedangkan sipelaku hanya tersenyum dan ditambah kekehan dari yang lain.


"Siapa suruh kau melamun," jawab Ardi tanpa dosa.


"Aku tidak melamun Mahanta Ardiya Abimanyu," kesal Adam.


"Yakk! Apa yang kau katakan tadi? Kau menyebutku tanpa embel-embel kakak. Mau jadi adik durhaka, hah?" ucap Ardi yang pura-pura marah dan mengacak-acak rambut Adam.


"Aaiisshh! Kakak apa-apaan kau ini. Kau mengacak-acak rambutku," ucap Adam yang memanyunkan bibirnya lagi.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kedua kakak beradik Mahanta Ardiya Abimanyu dan Dirandra Adamka Abimanyu.


"Oh, ya. Dan! Tadi Harsha bilang, kalau kau akan pulang ke rumah. Apa itu benar?" tanya Arka


"Ya," jawab Adam singkat.


"Kakak ikut senang mendengarnya. Pasti Mama Utari sangat senang melihat kau pulang, Dam." Arka berucap lembut kepada Adam.


"Kau hanya sekedar pulang saja untuk melihat Mamamu atau kau benar-benar ingin pulang dan tinggal bersama dengan kita keluargamu, Dirandra Adamka Abimanyu?" tanya Ardi menyelidik dan penuh penekanan.


Adam hanya diam dan menatap wajah kakak sepupunya itu. Adan menarik nafas kasar.


"Haah! Iya aku ingin pulang dan benar-benar ingin pulang, kakak Mahanta Ardiya Abimanyu," jawab Adam.


Semuanya tersenyum bahagia mendengar ucapan yang keluar dari mulut Adam, terutama Ardi dan Harsha. Mereka tidak perlu lagi harus berbohong kepada keluarga yang mengatakan mereka tidak tahu dimana Adam tinggal.


Sebenarnya anggota keluarga tahu Adam ada dimana? Itu semua karena anak buah Kakek dan ibunya yang memberikan informasi. Tapi pada saat mereka mendatangi tempat dimana Adam berada, tempat itu kosong dan Adam sama sekali tidak ada.


Ya, Adam mengetahui bahwa keluarganya sedang mengawasinya. Dan dia berhasil mengecoh anak buah Kakek dan ibunya. Sampai-sampai ibunya kewalahan melihat sikap putra bungsunya yang selalu berhasil dari pengawasan anak buahnya.


"Aku mau ke mau ke toilet sebentar," ucap Adam dan langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka semua.