
[Australia]
Kelompok mafia CAMORRA sudah berada di lokasi tempat tinggal keluarga Melky. Mereka berhasil mendapatkan letak petunjuk tempat tinggal Melky dan keluarganya.
Kelompok mafia CAMORRA ini bukan sembarang kelompok. Para penjahat yang ada di dunia ini takut dan tak berkutik setiap kali berhadapan dengan para anggota dari kelompok mafia CAMORRA. Termasuk penjahat yang dikenal kejam dan sadis di dunia.
Itu baru para anggotanya saja, belum dengan para tangan kanannya dan para Prince. Apalagi ketika melawan ketuanya langsung.
Para penjahat yang ada di dunia ini tidak akan bisa melacak keberadaan Markas mafia CAMORRA dan juga tidak bisa melacak keberadaan mereka ketika sedang dalam penyerangan, karena kelompok mafia CAMORRA selalu dalam penyamaran.
"Kau yakin itu rumah tuan Jordan?"
"Saya yakin King!"
"Baiklah. Kita masuk!"
Setelah mengatakan itu, sang ketua pun pergi untuk menuju rumah milik keluarga Melky dan diikuti oleh anggotanya di belakang.
^^^
Melky bersama dengan kedua orang tuanya sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Jadi benar itu sayang. Kalau Adam sudah mengetahui permasalahan kita disini?" tanya Jordan kepada putra keduanya.
"Benar, Pi! Ini Papi lihat sendiri pesan dari Adam," ucap Melky lalu memberikan ponselnya kepada ayahnya.
Jordan mengambil ponsel milik putranya lalu membaca pesan yang tertera di layar ponselnya milik putranya itu.
Seketika Jordan menangis ketika membaca pesan dari sahabat putranya. Dirinya tidak menyangka jika sahabatnya itu telah menyiapkan semuanya demi putranya.
Ketika Jordan dan keluarganya tengah memikirkan masalah yang tengah dihadapi, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
"Siapa yang datang?" tanya Ghiska seketika dirinya ketakutan. "Sayang," lirih Ghiska.
"Kamu tenang, oke!" Jordan berusaha menghibur istrinya.
"Melky, jaga Mami kamu. Biarkan Papi yang bukakan pintunya."
"Tidak, Pi! Biarkan aku saja."
"Dengarkan Papi! Duduk disini dan temani Mami!"
"Ba-baiklah, Pi!"
Setelah itu, Jordan pun pergi meninggalkan istri dan putranya untuk menuju ruang tamu guna membukakan pintu.
^^^
Jordan sudah berada di ruang tamu. Dirinya sedikit ragu untuk membukakan pintu, takut tiba-tiba saja anak buah dari orang yang tidak menyukainya itu menyerang.
"Kalian siapa?!" tanya Jordan dari dalam.
"Tuan tidak perlu takut. Kami tidak akan menyakiti tuan. Apalagi putra tuan. Justru tujuan kedatangan kami kesini adalah untuk membawa kembali tuan bersama keluarga tuan untuk kembali ke Jakarta."
"Tapi disana kami sudah tidak aman. Orang-orang itu mengincar putraku!"
"Maka dari itu buka dulu pintunya tuan! Percayalah! Kami tidak akan menyakiti tuan!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari orang yang tidak dikenal oleh Jordan membuat Jordan berusaha untuk mempercayai orang itu.
Berlahan Jordan membuka pintu rumahnya dengan sedikit bergetar.
Cklek..
Pintu rumahnya pun terbuka. Dan dapat dilihat oleh Jordan ada beberapa orang berdiri di depan rumahnya yang sebagian sedang melihat-lihat ke sekelilingnya dengan menggunakan pakaian biasa.
"Saya Raafe Maroun, sahabat dari Zelo yang sekarang ini berada di Jakarta. Sementara Zelo itu adalah sahabat dari tuan Adam."
Jordan hanya diam sembari mendengarkan ucapan dari laki-laki yang ada di hadapannya.
"Ma-mari masuk!"
Raafe pun kemudian melangkah memasuki rumah milik Jordan dan diikuti oleh orang-orangnya.
***
[Kampus]
"Jadi kalian sudah bertemu dengan kakak kandung Melky?" tanya Alon.
"Iya. Kita sudah bertemu dengan kakak kandungnya Melky. Namanya adalah Faas Gerard Pramana. Panggilan Gerard," sahut Danish.
"Wajahnya juga mirip dengan Melky. Apalagi ketika tersenyum," sela Ardi.
Yah! Danish, Ardi dan Harsha sudah menceritakan tentang kedatangan Gerard kakak kandung Melky ke kediaman keluarga Abimanyu. Dan mereka juga sudah cerita kepada sahabat-sahabatnya tentang awal mulanya Gerard berpisah dengan kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya.
"Dam," panggil Zio.
Adam langsung melihat kearah Zio dengan wajah yang sedikit lesu dan tak bersemangat.
"Apa lo ada ngasih tahu kak Gerard tentang Melky yang tidak tahu sama sekali tentang kakaknya?" tanya Zio.
Adam langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku nggak tega ngasih tahu kak Gerard. Dia sudah jauh-jauh dari luar negeri hingga sampai ke Jakarta ini hanya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya. Hatinya pasti sakit kalau sampai dia tahu bahwa adiknya tidak mengingat dia."
Adam menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya, sahabat-sahabat kakak-kakaknya dan juga kakak-kakaknya secara bergantian.
"Kalian bayangkan saja. Hatinya udah sakit dan terluka ketika aku mengatakan bahwa kedua orang tuanya dan adiknya sudah pergi ke Australia dan meninggalkan kota Jakarta. Apa aku tega mengatakan bahwa adiknya tak mengingat dia?"
Hening..
Tidak ada yang bersuara satu pun. Saat ini mereka tengah memikirkan keadaan Melky dan keluarganya di Australia. Bagaimana pun mereka semua sudah terlanjur sayang dengan Melky.
Ketika mereka sedang memikirkan Melky, tiba-tiba ponsel milik Adam berbunyi menandakan panggilan masuk.
Adam yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di saku Almamater nya.
Setelah ponselnya ada di tangannya. Adam melihat nama 'Zelo' di layar ponselnya itu. Dan Adam pun langsung menjawab panggilan dari Zelo.
"Hallo Zelo."
"Aku ada kabar baik untukmu Adam!"
"Kabar baik apa Zelo? Katakan padaku! Buruan!"
"Ini tentang Melky dan keluarganya. Raafe Maroun sahabatku sudah bertemu dengan keluarga Melky. Dan mereka berencana untuk membawa pulang Melky beserta keluarganya."
Tes..
Seketika air mata Adam jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan dari Zelo yang mengatakan bahwa sahabatnya itu akan membawa kembali sahabatnya dan keluarganya kembali ke Jakarta.
Melihat Adam yang tiba-tiba menangis membuat Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya menatap Adam khawatir.
Danish berdiri dari duduknya dan berpindah duduk di samping adiknya itu. Kemudian tangannya mengusap-usap lembut punggung adiknya tersebut.
"Apa itu benar Zelo? Kau sedang tidak bercanda kan?"
"Ini serius. Raafe Maroun sendiri yang bilang padaku. Bahkan saat ini mereka sudah dalam pesawat pribadi milik Raafe Maroun menuju Jakarta."
Tes..
Air mata Adam makin deras mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan dari Zelo.
"Dan bukan itu saja Adam. Aku dan kelompokku sudah menangkap semua anak buah dari orang yang tidak menyukai Paman Jordan dan orang yang sudah membuat Paman Jordan, putra sulungnya dan Melky kecelakaan tragis 13 tahun yang lalu."
"Ternyata semua anak buahnya orang itu sudah tersebar di setiap kecamatan yang ada di Jakarta ini."
"Dimana saja bajingan itu menempatkan anak buahnya?"
"Rawasari Cempaka putih, Cideng Gambir, Kemayoran, Tanah Abang dan Menteng."
"Pantas saja kenapa Paman Jordan terpaksa pergi meninggalkan kota Jakarta. Ternyata Paman Jordan telah mengetahui bahwa orang itu sudah menempatkan anak buahnya di setiap kecamatan."
"Ya, kau benar Adam!"
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Untuk saat ini aku belum memikirkan apa-apa. Rencana ini akan segera dimulai ketika Melky dan keluarganya sampai di Jakarta. Setelah mereka tiba di Jakarta, aku ada kejutan untuk Paman Jordan dan Bibi Ghiska."
"Eemm... Baiklah!"
Setelah itu, baik Adam maupun Zelo sama-sama mematikan panggilannya. Dan kemudian, keduanya sama-sama memikirkan langkah selanjutnya. Terlebih lagi untuk Adam.
"Apa yang dikatakan Zelo padamu?" tanya Danish.
Mendapatkan pertanyaan dari kakaknya, Adam langsung melihat ke samping. Dapat dilihat oleh Adam, kakaknya itu tersenyum menatap wajahnya.
"Mereka akan kembali lagi kesini," jawab Adam.
"Mereka?!"
"Melky dan keluarganya?!"
Mereka secara bersamaan bertanya kepada Adam dengan menatap wajah Adam.
"Iya," jawab Adam.
"Lalu?" tanya Danish.
"Aku akan langsung mempertemukan kak Gerard dengan keluarganya. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama dan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Aku harus segera menyelesaikannya. Kasihan Melky dan keluarganya."
"Setelah kau mempertemukan kak Gerard dengan keluarganya. Apa rencanamu selanjutnya Allan?" tanya Vigo.
"Rencana itulah yang akan kita bahas sama-sama dengan Melky, keluarganya, Zelo dan beberapa anggota dari Raafe Maroun sahabatnya Zelo."
"Lalu bagaimana dengan Melky? Bukankah Melky tidak ingat dengan kakaknya?" tanya Gala.
"Itu kita serahkan sama Paman Jordan dan Bibi Ghiska untuk memberitahu Melky. Itu urusan mereka. Kita tidak akan ikut campur," jawab Adam.
"Baiklah."
Mereka semua mempersiapkan diri masing-masing untuk rencana selanjutnya. Rencana untuk membantu Melky dan keluarganya terlepas dari orang yang tidak menyukai ayahnya Melky yaitu Olaf Jordan Pramana.