THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kesedihan Gino



Di sebuah pasar tradisional yang terkenal di kota Jakarta yang begitu ramai terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari keluarganya.


Wanita paruh baya itu adalah Bhoomi Bimala Tibra, ibu dari Mahiza Nararya Tibra, yang biasa dipanggil dengan panggilan Arya.


Bhoomi datang tidak sendirian, melainkan bersama putra sulungnya yaitu Diyaksa Abiyya Tibra atau dengan nama panggilan Aksa.


Ketika Bhoomi sedang fokus berbelanja. Tanpa Bhoomi sadari dua orang pria tengah menatap kearah tas yang tergantung di bahunya.


Kedua pria itu saling memberikan kode untuk merampas tas milik Bhoomi.


Setelah saling memberikan kode, kedua pria itu pun beraksi. Yang pria pertama berperan sebagai pengangkut barang belanjaannya. Sedangkan pria yang satunya yang akan mengambil tas milik Bhoomi.


Disaat dua pria itu berusaha untuk mengambil tas milik Bhoomi. Tanpa diketahui oleh kedua pria itu, ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi keduanya. Lebih tepatnya mengawasi Bhoomi yang sedang berbelanja.


"Tidak, terima kasih! Saya bisa sendiri," ucap Bhoomi lembut.


"Tidak apa-apa nyonya. Saya ikhlas membantu nyonya. Tidak dibayar pun saya tidak apa-apa. Saya menolong nyonya karena saya kasihan melihat begitu banyak bawaan nyonya," ucap pria itu yang berusaha menarik perhatian Bhoomi.


Bhoomi yang melihat laki-laki di depan seperti tulus. Pada akhirnya menyerah dan memberikan beberapa belanjaannya kepada laki-laki itu untuk dibawa ke mobilnya.


Ketika Bhoomi hendak memberikan barang belanjaannya, tiba-tiba pria yang lainnya langsung menarik tas milik Bhoomi sehingga membuat Bhoomi berteriak keras dan mengundang tatapan para pedagang dan pembeli lainnya.


Sedangkan pria yang menawarkan diri untuk membawa barang-barang belanjaannya masih bersama dirinya, masih bersandiwara menjadi pria baik.


"Saya akan kejar laki-laki itu Nyonya!"


"Tolong rebut kembali tas saya."


"Baik nyonya."


^^^


Masih di sekitar pasar. Pria yang berhasil merebut tas milik Bhoomi masih berlari sehingga membuat para pembeli terkejut dan seketika harus menepi.


Seseorang yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik kedua pria itu kini mulai bertindak. Tatapan matanya mencari sesuatu, lalu berhenti ketika melihat sebuah balok kayu.


Berlahan orang itu berjalan menuju balok kayu itu. Setelah tiba disana, orang itu mengambil balok kayu tersebut.


Orang-orang yang melihatnya seketika menatapnya ketakutan. Mereka juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang itu dengan balok kayu tersebut.


Setelah mendapatkan balok kayu itu, orang itu kembali ke tempat semula dengan tatapan matanya menatap kearah dimana seorang pria berlari sambil membawa tas milik Bhoomi di tangannya.


Bugh..


Orang itu langsung mengarahkan balok kayu itu kearah pria yang berlari tepat di hadapannya dan memukuli punggung pria itu dengan sangat keras sehingga membuat pria itu berteriak kesakitan dan berakhir terjatuh di tanah.


Setelah itu, orang itu melangkah sedikit hanya untuk sekedar mengambil tas tersebut.


Sementara orang-orang yang ada di sekitar pasar seketika terkejut dan syok. Bahkan ketakutan ketika melihat apa yang dilakukan oleh orang tersebut.


Orang itu melangkah mendekati pria yang sudah kesakitan itu dengan tatapan matanya menatap tajam. Dan jangan lupa balok kayu yang masih dipegang olehnya di tangan kanannya dan tas milik Bhoomi di tangan kirinya.


"Acting yang sangat luar biasa. Yang satu berperan sebagai jasa angkut barang. Dan yang satunya sebagai perampok alias maling tas para pembeli yang ada di pasar ini!"


Deg..


Pria itu seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari laki-laki yang berdiri di hadapannya itu. Dia itu tidak menyangka jika rencananya dan rekannya bisa diketahui oleh laki-laki itu.


Sementara para pembeli yang ada di pasar itu tak kalah terkejutnya ketika mendengar ucapan dari orang itu.


Ketika orang itu hendak melayangkan kembali balok kayu itu kearah pria tersebut, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil namanya.


"Aksa!"


Yah! Orang yang memukul pria yang mengambil tas milik Bhoomi adalah Diyaksa Abiyya Tibra alias Aksa putra sulungnya Bhoomi.


Semua orang melihat kearah wanita paruh baya berlari kecil sembari membawa beberapa belanjaannya di kedua tangannya mengarah kearah Aksa.


"Mama."


Rasa penasaran para penjual dan juga pembeli seketika terobati. Mereka semua tahu bahwa laki-laki yang memukul seorang pencuri tersebut adalah putra dari perempuan yang tasnya dicuri.


"Sudah ya. Buang kayu baloknya. Kan kamu sudah mendapatkan tasnya Mama. Jadi sudah cukup!"


Mendengar perkataan dari ibunya membuat Aksa pun langsung menuruti keinginan ibunya itu.


"Baiklah," jawab Aksa.


Setelah mengatakan itu, Aksa mengambil barang semua barang belanjaan ibunya. Kemudian meminta ibunya untuk berjalan terlebih dahulu lalu dirinya mengikuti di belakang.


Melihat apa yang dilakukan oleh Aksa dan apa yang dikatakan oleh Aksa membuat para pembeli menatap takut sekaligus menatap kagum Aksa. Takut ketika melihat bagaimana cara Aksa menangani musuhnya. Kagum bagaimana cara Aksa yang begitu menghargai dan menghormati ibunya.


***


Adam dan keenam sahabatnya sedang berada di kantin. Setelah mengikuti materi kuliah pertama dan kedua. Adam dan keenam sahabatnya langsung menuju kantin untuk mengisi perutnya.


"Dam," panggil Gino.


"Hm!" Adam menjawab dengan deheman. Dirinya fokus pada makannya.


"Habis kuliah lo selesai. Lo mau kemana?" tanya Gino.


"Gue langsung balik kayaknya. Kenapa?" ucap dan tanya Adam yang melirik sekilas kearah Gino lalu kembali menatap makanannya.


"Gue malam ini nginep di rumah lo ya!" Gino mengatakan hal itu dengan menatap wajah Adam.


Seketika Adam menghentikan acara makannya. Begitu juga dengan Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando. Mereka menatap wajah Gino. Dan mereka bisa melihat dari tatapan mata Gino, ada kesedihan dan juga kekecewaan disana


"Ada apa? Lo ada masalah?" tanya Adam dengan menatap lekat wajah Gino.


Seketika Gino menundukkan kepalanya. Dirinya tidak berani menatap wajah Adam. Begitu juga dengan sahabatnya yang lain.


Adam, Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando menatap Gino yang tiba-tiba menundukkan kepalanya. Mereka meyakini bahwa Gino ada masalah.


"Hiks... Hiks." Seketika terdengar isakan dari bibir Gino.


Deg..


Adam, Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando terkejut ketika mendengar isakan dari Gino.


"Gino!" seru mereka bersamaan.


"Gino, ada apa? Ceritakan pada kami!" ucap Leon.


"Ayolah Gino!" sahut Vino dan Zio.


"Gue... Gue benci bokap gue!" Gino berucap disela isakannya.


Deg..


Adam, Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando kembali terkejut. Kali ini yang buat mereka terkejut adalah perkataan Gino.


"Gino, lihat gue!" ucap tegas Adam.


Seketika Gino menatap wajah Adam dengan wajah basahnya.


Adam yang melihat Gino yang menatap dirinya dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya menjadi kasihan dan juga iba.


"Ada apa? Katakan sama gue kenapa lo benci ayah lo sendiri?" tanya Adam.


Vando yang kebetulan duduk di samping Gino mengusap-usap lembut punggung Gino.


"Bokap gue... Hiks... Selingkuh dengan perempuan lain. Dan lebih parahnya... Hiks... Perempuan itu... Perempuan itu hamil anak dari bokap gue," ucap Gino terisak.


Seketika Adam, Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando membelalakkan matanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Gino. Mereka tidak menyangka jika ayahnya Gino mengkhianati ibunya Gino.


"Lo yakin jika anak itu anak dari bokap lo?" tanya Adam.


"Perempuan itu yang bilang sendiri di depan gue, nyokap gue dan bokap gue! Kalau anak yang dalam kandungannya itu adalah anak dari bokap gue."


"Apa reaksi bokap lo ketika perempuan itu mengaku di depan lo dan nyokap lo?" tanya Melky.


"Bokap gue hanya diam," jawab Gino.


"Lantas lo percaya sama apa yang dikatakan oleh perempuan tersebut?" tanya Adam.


"Awalnya gue nggak percaya sama pengakuan dari perempuan itu, Dam! Tapi ketika perempuan itu nunjukin buktinya dan ditambah lagi permintaan maaf dari bokap gue. Dari situlah gue percaya akan pengakuan perempuan itu."


"Nyokap gue marah besar. Setelah mengeluarkan semua amarahnya, nyokap gue pergi ninggalin rumah dan pulang ke rumah keluarga dari pihak nyokap gue."


"Aku nggak percaya kalau Paman Yoga mengkhianati Bibi Maya," batin Adam.


Seketika Adam teringat akan perkataan dan sumpah dari Yoga ketika untuk pertama kalinya Adam diajak oleh Gino mengunjungi perusahaan ayahnya ketika di Amerika dulu.