
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan waktunya anggota keluarga Abimanyu untuk melakukan makan malam bersama.
Semua anggota keluarga berkumpul di meja makan termasuk Harsha. Kondisi Harsha sudah membaik. Dan memutuskan untuk ikut makan malam bersama dengan anggota keluarganya. Dikarenakan malam ini ada bibi dan adik kesayangannya.
"Bagaimana keadaan kamu Harsha?" tanya Evan.
"Sudah mendingan Papa. Rasa lelahku dan rasa sakit aku seketika hilang ketika melihat Papa Evan, Mama Utari, kakak Garry, kakak Danish dan Adam datang kesini." Harsha berucap dengan penuh kebahagiaan.
Mendengar jawaban dan melihat wajah bahagia dari Harsha membuat Evan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
Harsha melihat kearah Adam. Dirinya tersenyum ketika melihat wajah tampan adik sepupunya itu.
Adam yang menyadari bahwa kakak aliennya itu tengah menatap dirinya langsung kembali menatap kakaknya itu.
"Kenapa menatapku seperti itu? Naksir ya," ucap dan tanya Adam kepada kakak aliennya itu.
Mendengar pertanyaan dari Adam membuat Harsha seketika mendelik. Tatapan matanya menatap horor adik sepupunya itu.
"Jijik gue suka sama pemuda jelmaan siluman kelinci kayak lo," jawab Harsha.
Mendengar perkataan kejam dari Harsha membuat Adam langsung melempari Harsha dengan dua potong nugget. Dan lemparannya tepat mengenai wajah Harsha
"Makan tuh," ucap Adam kesal.
"Ini gue makan." Harsha menjawab perkataan Adam dengan langsung memasukkan nugget tersebut ke dalam mulutnya.
"Good... Good!" Adam berucap dengan manggut-manggut sembari mengacungkan ibu jarinya kearah Harsha.
Setelah mengatakan itu, Adam kembali melanjutkan makannya. Dia tidak peduli wajah kesal kakak sepupunya itu.
Sementara anggota keluarganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.
"Dasar dua manusia labil. Giliran tidak bertemu, nangis-nangis karena rindu." ucap Alin menggoda kedua keponakannya itu.
"Giliran berdekatan satu meja, berantem kerjaannya." Kamila juga ikut menggoda putranya dan keponakannya itu.
"Apaan sih Mama!" seru Adam dan Harsha bersamaan.
"Hahahaha."
Semua anggota keluarganya tertawa mendengar ucapan kompak Adam dan Harsha.
***
Keesokan harinya Adam sudah bersiap-siap untuk ke kampus. Adam bersama dengan kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya sudah berada di rumah kediaman Bimantara. Mereka kembali ke kediaman Bimantara setelah selesai makan malam bersama dengan anggota keluarga.
Setelah semua siap dan dalam keadaan rapi, Adam pun bergegas turun ke bawah.
Di meja makan Evan, Utari dan kedua putranya sudah dalam keadaan rapi dengan setelan kantor. Untuk Danish, pagi ini ada perkejaan di kantor. Sekitar pukul 12 siang barulah Danish akan ke kampus mengajar.
"Kalian sarapan lah dulu. Mama akan ke kamar Adam," ucap Utara setelah memberikan masing-masing teh hangat untuk suami dan kedua putranya.
Ketika Utari hendak berdiri, tiba-tiba terdengar suara orang yang mereka sayangi.
"Aku sudah turun Mama!"
Mereka semua tersenyum mendengar suara itu. Apalagi suara tersebut terdengar begitu semangat.
Mereka semua melihat keasal suara. Dapat mereka lihat Adam yang melangkah menuju ruang makan dengan seragam kampus yang melekat di tubuhnya.
Kini Adam sudah duduk di kursinya diantara Garry dan Danish. Keduanya meminta kepada Adam untuk duduk diantara mereka berdua. Dan Adam pun langsung mengiyakan keinginan kedua kakaknya itu.
Adam langsung mengambil roti tawar lalu mengolesinya dengan selai srikaya kesukaannya.
"Bagaimana tidurnya sayang?" tanya Evan.
Adam melihat kearah ayahnya yang juga tengah melihat dirinya. Seketika Adam tersenyum menatap wajah tampan ayahnya itu.
"Nyenyak Papa. Nyenyak sekali," jawab Adam.
Mendengar jawaban dari putra bungsunya. Apalagi ketika melihat wajah bahagia dan semangat putranya itu membuat hati Evan menghangat. Begitu juga dengan Utari. Mereka ingin putra bungsunya selalu seperti ini
"Syukurlah. Papa senang mendengarnya."
"Kamu pagi ini kuliahnya mau diantar lagi sama kakak atau pergi sendirian?" tanya Garry kepada adik bungsunya.
"Aku pergi sendirian saja kak."
"Yakin?"
"Sangat yakin!"
"Benar nggak mau diantar sama kakak, hum?"
Adam melihat kearah kakak sulungnya, lalu kemudian melihat kearah kakak keduanya.
Danish yang ditatap oleh adiknya itu balik menatap adiknya itu. Danish menatap adiknya itu intens. Dirinya berpikir bahwa adiknya saat ini tengah berpikir untuk menjahilinya pagi begini.
Setelah itu, Adam kembali menatap sarapannya sembari tersenyum di dalam hatinya.
"Sebenarnya sih aku mau diantar lagi sama kakak Garry. Tapi...."
Adam kembali melirik kakak keduanya sekilas. Setelah itu, Adam kembali memakan rotinya kembali.
Evan dan Utari yang melihat gerak-gerik putra bungsunya itu langsung paham. Mereka menyakini bahwa putra bungsunya itu akan membuat sebuah drama di pagi hari ini. Dan yang menjadi korbannya adalah putra keduanya.
"Tapi apa?" tanya Garry yang juga tahu gelagat adik bungsunya itu. Sama seperti kedua orang tuanya.
"Eemmm... Aku takut ada yang cemburu jika kakak Garry selalu mengantarku ke kampus," jawab Adam.
"Memangnya siapa yang akan cemburu kalau setiap hari kakak mengantar kamu ke kampus?" tanya Garry yang melirik kearah adik keduanya itu sembari tersenyum kala melihat tatapan kesal adiknya itu kearah adik bungsunya.
"Nih yang duduk di sebelah kananku," jawab Adam yang melahap sampai habis roti tawar ke dalam mulutnya.
Danish memberikan tatapan mautnya kearah Adam. Dirinya benar-benar kesal akan kelakuan jahil adiknya di pagi hari ini.
Tak..
Seketika Danish memukul kepala belakang Adam sehingga membuat Adam sedikit meringis.
Danish tersenyum seketika ketika melihat wajah adiknya. Apalagi ketika melihat kedua pipi adiknya menggembung. Menggemaskan! Itu menurut Danish. Begitu juga dengan Evan dan Utari.
"Telan dulu tuh yang ada di dalam mulut kamu itu. Udah kuliah, tapi kelakuan kayak anak TK," ucap Danish.
Mendengar perkataan dari kakak keduanya itu membuat Adam langsung menelan makanannya yang ada di dalam mulutnya.
Setelah habis, Adam mengambil susunya kemudian meminumnya hingga tandas.
Setelah selesai menghabiskan sarapannya, Adam langsung pamit ke Kampus kepada kedua orang tuanya dan kedua kakaknya.
Adam bangkit dari duduknya dan tak lupa mengambil tasnya. Setelah itu, Adam berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
Cup..
Cup..
Adam memberikan kecupan sayang di pipi kedua orang tuanya secara bergantian.
"Aku pergi Pa, Ma!"
"Hati-hati sayang," ucap Utari.
"Iya!"
"Jangan ngebut bawa motornya!" ucap Evan.
"Oke!"
"Adam! Tunggu!" seru Garry dan Danish bersamaan.
Seketika Adam menghentikan langkahnya ketika mendengar panggilan dari kedua kakaknya.
Adam seketika berbalik untuk melihat kearah kedua kakaknya itu.
"Apa?" tanya Adam yang seketika wajahnya berubah sepet.
"Kamu melupakan sesuatu!" seru Danish.
"Seperti nggak tuh. Nggak ada yang kelupaan," jawab Adam.
Mendengar jawaban dari adiknya itu membuat Garry dan Danish mendengus kesal. Sedangkan Evan dan Utari seketika tersenyum. Mereka tahu bahwa kedua putranya itu ingin dicium juga di pipinya.
"Coba pikir-pikir dulu," ucap Danish.
Mendengar perkataan dari kakak keduanya itu, Adam pun berpikir apa yang sudah dia lupakan.
Beberapa detik kemudian..
"Nggak ada kelupaan sama sekali," jawab Adam.
"Yakin?" tanya Garry.
"1000 persen yakin. Seorang Dirandra Adamka Bimantara tidak akan melupakan sesuatu jika ingin berangkat ke kampus."
Evan dan Utari seketika tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari putra bungsunya itu.
Garry mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, lalu memperlihatkan kepada adik bungsunya itu.
"Kalau dengan ini, bagaimana? Apa kamu ingat?" tanya Danish.
Tatapan mata Adam seketika membesar ketika melihat sesuatu yang banyak di tangan kanan kakak tertuanya. Adam seketika tersenyum lebar melihat itu.
Dan kemudian Adam melangkahkan kakinya menghampiri sang kakak dengan senyumannya yang semakin mengembang.
Evan dan Utari seketika geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra bungsunya di pagi hari ini. Putranya seketika berubah menjadi adik mata duitan.
Yah! Garry mengeluarkan beberapa uang yang nominal besar lalu memperlihatkannya kepada adik bungsunya itu.
Sreekk..
Adam langsung menarik uang yang ada di tangan kakaknya itu. Setelah itu, Adam memberikan dua ciuman di pipi kiri dan kanan kakaknya itu. Plus tambahan di keningnya sang kakak.
Garry yang mendapatkan tiga ciuman dari adik bungsunya seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Dirinya tidak menyangka jika adiknya itu akan memberikan tiga ciuman sekaligus.
"Terima kasih kakakku sayang. Makin sayang deh sama kakak Garry," ucap Adam sembari kembali menciumi pipi kanan kakaknya itu.
Setelah puas bersama dengan kakak sulungnya. Adam melihat kearah kakak keduanya itu yang sejak tadi hanya menatap dirinya dengan tatapan kesal.
Sementara Danish mendengus kesal akan kelakuan adiknya. Di dalam pikirannya, sejak kapan adiknya itu berubah menjadi adik yang mata duitan.
Adam tersenyum melihat wajah kesal kakak keduanya itu. Dirinya tahu bahwa kedua kakaknya itu juga ingin dicium seperti dirinya mencium pipi kedua orang tuanya. Hanya saja Adam sengaja pura-pura tidak tahu dan pura-pura melupakan kedua kakaknya sehingga berakhir kakak sulungnya memberikan sogokan berupa uang untuknya.
Melihat wajah kesal kakak keduanya itu membuat Adam tak tega. Kemudian Adam pun memberikan ciuman di pipi kiri dan juga di pipi kanan Danish.
Seketika mata Danish membelalak ketika mendapatkan ciuman dari adiknya. Seketika terukir senyuman manis di bibir Danish.
"Aku sayang kakak Danish. Jangan bosan untuk terus menyayangiku," ucap Adam dengan tatapan matanya menatap wajah tampan Danish.
Danish langsung berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap wajah tampan adiknya.
Kemudian Danish mengusap lembut pipi dan beralih mengusap lembut kepala adiknya.
"Tanpa kamu ucapkan kata itu, kakak tidak akan pernah bosan untuk selalu memberikan perhatian, kasih sayang dan pelukan ketika kamu lagi bersedih. Kakak sayang kamu melebihi apapun."
Adam tersenyum mendengar perkataan tulus dari kakak keduanya. Hatinya benar-benar menghangat.
Evan, Utari dan Garry tersenyum melihat kedua putranya/adiknya mengungkapkan rasa sayang satu sama lainnya.
"Tuhan. Aku mohon padamu. Jangan ada pertikaian antara putra keduaku dan putra bungsuku kelak. Tetap buat kedua putra-putraku rukun, harmonis dan saling menyayangi satu sama lainnya. Begitu juga dengan putra sulungku. Jadikan putra sulungku menjadi penengah dan menjadi orang yang selalu bersikap sabar, adil dan bijak dalam menghadapi kedua adiknya." Utari berbicara di dalam hatinya sembari berdoa.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku berangkat ke kampus. Udah telat nih!" seru Adam.
"Hati-hati!" seru Utari, Evan, Garry dan Danish bersamaan.
"Iya," jawab Adam.
Setelah itu, Adam pun pergi meninggalkan kediaman Bimantara untuk menuju kampusnya.