THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Cerita Adam Tentang Jasmine Dan Ariel



Adam berada di kamarnya. Dirinya saat ini duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Pikirannya tertuju satu hal yaitu mengingat pembicaraan beberapa jam yang lalu dengan Risky.


[Ini kenyataannya, Dam]


[Apa gue selama kenal sama lo gue pernah berbohong? Gue selalu menyampaikan berita yang benar dan akurat]


[Sekali lagi gue katakan sama lo, Dam! Ariel sudah meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan itu terjadi ketika Ariel hendak pergi untuk menemui lo. Dia tahu kalau lo sudah ingat semuanya. Dia tahu bahwa lo udah kembali. Alasan dia datang untuk menemui lo adalah ingin melepaskan rindunya sama lo dan juga ingin membawa lo pergi untuk menemui Jasmine]


[Jasmine habis mengalami kecelakaan. Dokter mengatakan bahwa Jasmine mengalami kelumpuhan, walau kelumpuhannya hanya sementara. Tapi tetap saja membuat hidup Jasmine tak bersemangat lagi. Jasmine selalu mikirin lo. Dari itulah kenapa Ariel pergi untuk menemui lo setelah dia tahu tentang kondisi lo]


"Hiks... Hiks... Ariel. Maafin gue. Seharusnya gue pergi menemui lo dan Jasmine karena gue sudah tahu dimana lo dan Jasmine berada. Tapi gue nggak langsung kesana karena gue sedang mempersiapkan kejutan buat lo dan Jasmine.


"Ariel, gue pernah janji sama Jasmine bakal nyari dia dan juga lo. Dan gue tepati janji gue. Satu bulan gue kuliah di kampus milik ibu gue. Gue sudah mulai mencari lo Jasmine. Tapi... Hiks..."


Adam menangis terisak ketika mengingat bagaimana dia setiap hari mencari keberadaan Ariel dan Jasmine. Bahkan Adam membayar beberapa orang untuk mencari kedua sahabatnya itu, namun usahanya tidak membuahkan hasil.


"Hiks... Pencarian itu terhenti karena masalah yang datang menimpa gue dan keluarga gue sehingga membuat gue melupakan lo, melupakan Jasmine dan melupakan semuanya. Bahkan gue berpisah dengan keluarga gue."


"Hiks... Seharusnya gue menemui lo dan Jasmine setelah ingatan gue kembali. Seharusnya gue langsung pergi menemui lo dan Jasmine ketika masalah gue selesai. Namun nyatanya gue nggak lakuin itu."


"Hiks... Hiks...Ariel... Hiks... Gue kangen lo. Gue nggak bisa lihat wajah lo lagi. Gue nggak bisa jitak kening lo lagi seperti dulu. Gue nggak bisa buat lo kesal akan ucapan gue."


"Riel! Gue janji sama lo. Gue bakal buat Jasmine bisa jalan lagi. Gue juga janji sama lo bakal buat Jasmine tersenyum seperti dulu lagi."


Tanpa Adam ketahui ada seseorang di balik pintu kamarnya yang mendengar semua yang dia ucapkan. Orang itu menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari mulutnya.


^^^


Di ruang tengah dimana semua anggota keluarga berkumpul termasuk Zaina, suaminya, kedua anak perempuannya, Amirah sang nenek, Celena dan kedua putranya Nicolaas dan Vigo.


Mereka semua saat ini tengah memikirkan Adam yang mengurung diri di dalam kamarnya. Sejak mendapatkan telepon dari Risky berujung mengamuk dan berakhir pingsan. Sejak itulah Adam tidak keluar kamar.


"Kira-kira Harsha berhasil nggak ya membujuk Adam untuk keluar dari kamarnya?" tanya Celena.


Ketika mereka semua tengah berpikir apakah Harsha berhasil membujuk Adam, salah satu dari mereka melihat Harsha menuruni anak tangga dalam keadaan wajah yang tampak sedih.


"Itu Harsha!" tunjuk Alia putri sulung Zaina dan Alex.


Mereka semua melihat kearah tunjuk Alia. Dan mereka semua dapat melihat Harsha yang berjalan menuju ruang tengah dengan mata berair.


"Harsha, kamu kenapa sayang?" tanya Alin kepada putra bungsunya.


"Kenapa nangis sayang? Apa Adam menyakiti kamu atau Adam mengatakan sesuatu yang......" perkataan Utari terhenti karena Harsha sudah terlebih dulu bersuara.


"Aku sudah tahu apa yang disampaikan oleh Risky ketika dia menghubungi Adam!"


"Apa sayang? Katakan kepada Papa?" tanya Evan dengan menatap wajah Harsha.


Semuanya menatap wajah Harsha. Mereka berharap Harsha menceritakan apa yang dia ketahui tentang Adam dan informasi dari Risky.


"Ariel sahabatnya SMP dan SMA nya Adam meninggal karena kecelakaan. Sementara Jasmine yang juga sahabat SMP dan SMA nya Adam mengalami kelumpuhan setelah mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu."


Deg..


Semua anggota keluarga terkejut ketika mendengar cerita dari Harsha. Yang lebih terkejut diantara mereka adalah Utari. Utari sangat mengenal kedua sahabat putra bungsunya itu.


"Ya, Tuhan! Ariel, Jasmine!" lirih Utari.


Seketika Utari menangis mendengar kabar duka tentang kedua sahabat putra bungsunya itu. Dia tidak menyangka jika kedua sahabat putra bungsunya itu mengalami hal buruk.


"Sayang," ucap Evan sembari mengusap kepala belakang istrinya.


"Aku kenal betul dengan Ariel dan Jasmine. Mereka berdua begitu dekat dengan Adam, apalagi Jasmine. Aku tahu dan sangat tahu jika Jasmine menyukai Adam layaknya kekasih."


"Aku tidak menyangka jika Ariel akan pergi secepat ini. Dan Jasmine... Hiks," Isak Utari.


"Wajar saja jika Adam terlihat marah dan tidak terima akan apa yang disampaikan oleh Risky. Ternyata kabar duka yang disampaikan oleh Risky kepada Adam," sahut Kamila.


Tap..


Tap..


Tap..


"Dam," panggil semua para kakak-kakaknya.


Namun Adam tidak mengindahkan panggilan dari semua kakak-kakaknya. Kakinya terus melangkah menuju ruang tamu. Ya! Adam ingin pergi.


Utari berdiri dari duduknya lalu mengejar putra bungsunya itu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap putra bungsunya itu jika dia membiarkan putra bungsunya itu pergi dalam keadaan pikiran belum tenang.


Sreekk..


Utari berhasil mencekal pergelangan tangan putra bungsunya itu. Setelah itu, Utari melangkah sedikit dan berdiri di hadapan putra bungsunya. Sedangkan Adam masih diam di tempat dengan tatapan matanya menatap wajah cantik ibunya.


Sementara Evan dan anggota keluarganya lain saat dalam keadaan berdiri dengan tatapan matanya menatap kearah Adam dan Utari.


"Mau kemana, hum?" tanya Utari lembut sembari mengusap lembut pipi putih putra bungsunya. "Kalau Adam mau pergi, nggak apa-apa. Mama nggak larang. Tapi kamu harus makan dulu. Sejak tadi kamu belum makan. Mama tidak ingin kamu jatuh sakit."


"Kamu mau ya, sayang!" mohon Utari dan tanpa diminta air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Atau begini saja. Ceritakan semuanya sama Mama. Apa yang kamu rasakan saat ini. Berbagilah sama Mama. Mama mohon, Dam!"


Tes..


Seketika air mata Adam jatuh membasahi pipinya. Adam menangis. Dan detik kemudian, tangisnya pecah dan kencang.


"Mama... Hiks... Hiks!"


Grep..


Utari langsung memeluk tubuh putra bungsunya dengan erat. Hatinya benar-benar sakit ketika mendengar tangisan yang begitu keras dari putra bungsunya. Kalau putra bungsunya sudah menangis seperti ini. Itu tandanya putra bungsunya sudah tidak kuat menampungnya lagi.


Sementara untuk Evan, Garry, Danish dan anggota keluarga lainnya juga sudah dalam keadaan menangis ketika mendengar tangisan keras dari Adam. Hati mereka sakit dan sesak ketika mendengar tangisan yang begitu keras dari Adam.


"A-ariel... Hiks... Ariel... Hiks."


"Kenapa dengan Ariel, hum?" Utari pura-pura belum mengetahuinya, walau dia sudah tahu dari Harsha.


"Mama... Ariel... Ariel udah nggak ada. Dia udah pergi ninggalin aku. Dia nggak akan pernah balik lagi... Hiks."


Air mata Utari tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya ketika mendengar ucapan demi ucapan serta isakan dan tangisan putra bungsunya. Hatinya merasa sesak saat ini.


"Jasmine... Jasmine tidak bisa berjalan lagi. Gadis yang selama ini aku cinta sekarang lumpuh, Ma! Dan itu semua gara-gara aku!"


Deg..


Utari terkejut ketika putra bungsunya mengatakan bahwa dia mencintai Jasmine selama ini. Bukan Utari saja yang terkejut, melainkan Evan dan anggota keluarganya juga terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus pengakuan dari Adam.


Utari berlahan melepaskan pelukannya, lalu tatapan matanya menatap wajah tampan putra bungsunya itu.


"Sejak kapan kamu mencintai Jasmine? Kenapa Mama tidak tahu hal itu?"


"Aku tahu kalau Jasmine selama ini menyukaiku dan ingin menjadikan aku kekasihnya. Ketika aku mengetahui perasaan Jasmine, aku tidak keberatan. Justru aku senang."


"Lalu kenapa kamu nggak jujur sama Jasmine kalau kamu....."


"Aku sengaja. Aku melakukan itu semua untuk kebaikan kami berdua. Pertama, biar kami fokus dulu sama sekolah. Kedua, aku mau melihat sampai dimana Jasmine yang mencintai aku secara diam-diam. Apakah dia akan memperjuangkan cintanya atau menyerah?"


"Apa kamu sudah mendapatkan jawabannya?" tanya Utari.


"Sudah. Ternyata Jasmine benar-benar mencintaiku. Saat lulus sekolah aku membawa Jasmine ke suatu tempat. Di tempat itu aku mengatakan semuanya sama Jasmine."


"Apa itu?" tanya Utari.


"Seperti yang Mama sudah ketahui bahwa dulu hubungan kita nggak baik karena Mama sudah sering kali membohongiku tentang keberadaan Papa. Dan Mama juga tahu bahwa setelah aku lulus SMA, aku mau kuliah di Amerika. Alasannya adalah aku sedang marah sama Mama. Aku menceritakan semuanya itu sama Jasmine. Dan Jasmine menerimanya dengan sangat baik. Aku meminta Jasmine untuk menungguku. Pulang aku dari Amerika, aku akan mengatakan perasaanku yang sesungguhnya kepada Jasmine. Aku juga meminta kepada Jasmine untuk menjaga hatinya untukku."


"Lalu Jasmine jawab apa, hum?" tanya Utari yang tangannya menghapus air mata putranya yang tak henti-hentinya mengalir.


"Jasmine bilang kalau dia akan menungguku pulang. Dan Jasmine juga berjanji akan selalu menjaga hatinya buat aku."


"Apa kamu menepati janji kamu kepada Jasmine dan juga Ariel?" tanya Utari.


"Iya. Satu bulan aku kuliah di kampus Mama. Aku sudah mulai mencari keberadaan Jasmine dan Ariel. Bahkan aku membayar beberapa orang untuk mencari mereka berdua. Pencarian itu terhenti disaat masalah datang menghampiriku dimana perempuan itu ingin menghancurkan kebahagiaanku dan Mama. Dan berakhir aku terpisah dari keluargaku dan berujung amnesia."


Mendengar cerita dari putra bungsunya membuat Utari tak bisa menahan kesedihannya. Air matanya berlomba-lomba keluar membasahi pipinya. Begitu juga dengan Evan, Garry, Danish dan anggota keluarga lainnya. Mereka semua menangis.