
Di sebuah ruangan latihan Taekwondo. Seorang pemuda tampan. Berwajah imut dan menggemaskan. Memiliki gigi menyerupai gigi kelinci. Bermata bulat yang sedang bermalas-malasan di ruang tersebut. Dia hanya ingin mencairkan otaknya yang sedang membeku. Mendinginkan hatinya yang sedang panas. Dirinya merebahkan tubuhnya di sofa empuk miliknya. Dirinya berusaha memejamkan matanya sejenak.
Disisi lain, para Kakaknya sudah berada di depan pintu ruang latihannya. Sakha meraih vas bunga yang ada di dinding, lalu mengambil kunci yang ada di dalamnya.
"Ketemu!" seru Sakha sambil menunjukkan kunci itu kepada yang lainnya, lalu dengan segera Sakha membuka pintu tersebut.
CKLEK!
Pintu berhasil di buka. Mereka langsung memasuki ruangan latihan itu.
"Ternyata yang cuma gelap ruangan bagian depannya saja. Untuk ruangan yang lain tampak terang," ucap Gala.
"Benar-benar, nih bocah. Dia berhasil ngibulin kita. Berhasil membuat kita cemas dan khawatir," ucap Ardi.
Harsha hanya tersenyum melihat tingkah adik sepupunya.
"Tuh, lihat." Gala menunjuk kearah dimana tersangka lagi tiduran di sofa. "Waah! Enak banget dia tidur-tiduran disini. Kita diluar sana sudah seperti cacing kepanasan mikirin dia," ucap Gala lagi.
Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum menyaksikan orang yang mereka sayangi sedang tertidur pulas di sofa.
"Sudahlah, Gal. Yang penting kita tahu kalau Adam baik-baik saja," ujar Arka.
Semuanya mengangguk..
^^^
Ardi, Harsha dan yang lainnya sudah berada di ruang latihan Taekwondo Adam. Mereka berkumpul disana. Mereka bercanda dan saling melempar lelucon kecil yang membuat mereka tertawa.
Namun hanya mereka berenam yang masuk dalam suasana itu. Sedangkan pemuda yang bernama Adam tidak menikmatinya sama sekali. Dirinya hanya menyaksikan dengan tatapan dingin.
"Kalian berisik sekali. Bisa tidak sehari saja kalian tidak menggangguku?" ucap Adam ketus.
"Adam, kak....!" ucapan Harsha terpotong.
"Aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu," sahut Jungkook.
"Adam. Kau masih marah sama kakak. Kakak tahu, kakak salah, Dam! Kakak tidak bermaksud menamparmu. Kakak hanya ingin menyadarkanmu saat itu. Saat itu kau seperti bukan dirimu. Kami berulang kali berteriak di depanmu dan kak Ardi juga berulang kali menggoyang-goyangkan tubuhmu, tapi kau tidak memberikan reaksi apapun. Makanya kakak menamparmu. Saat kakak menamparmu, kau langsung menolehkan wajahmu melihat kakak." Harsha berbicara dengan suara lirihnya.
"Sudah selesai kau bicara. Kalau sudah tinggalkan aku sendirian. Aku mau sendiri dan aku tidak mau bertemu dengan siapapun," ucap Adam dingin.
"Tapi, Dam." Harsha masih memohon kepada Adam.
"Tinggalkan aku sendirian, Ekawira Harsha Abimanyu!" bentak Adam.
"Baiklah, Dam. Kami pergi," ucap Arka.
"Kak Arka, bawa Harsha pergi. Ada yang mau aku sampaikan pada Adam," pinta Ardi.
Arka mengangguk "Ayo, Sha." Arka merangkul pundak Harsha dan membawanya menuju pintu keluar meninggalkan Adam dan Ardi.
Tinggallah Ardi dan Adam di dalam ruangan latihan itu.
"Dan. Kakak mengerti perasaanmu. Tapi kakak mohon, jangan siksa dirimu seperti ini. Kau harus kuat. Mana Adam yang kakak kenal dulu," ujar Ardi.
"Tinggalkan aku sendirian."
Hanya kata itu yang diterima oleh Ardi. Dirinya berharap ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Adam.
"Baiklah. Kakak akan pergi. Tapi kau akan tetap pulang ke rumah dan tidak akan kabur lagikan?" tanya Ardi memastikan.
"Ya, aku akan pulang," jawab Adam tanpa melihat Ardi.
Ardi hanya menghela nafas kasarnya. Dirinya bernafas lega karena Adam tidak akan kabur lagi dan dirinya akan pulang.
Sekarang tinggallah Adam sendiri dalam ruangan itu. Dirinya benar-benar ingin sendiri. Dirinya ingin menenangkan hati dan pikirannya. Hanya itu yang ia inginkan sekarang.
^^^
"Kakak, kenapa kita harus pergi meninggalkan Adam, kak? Aku masih mau berada didekat Adam," protes Harsha.
"Sha. kakak mohon. Cobalah kau mengerti situasi Adam saat ini? Kau jangan memaksakan kehendakmu untuk bicara dengan Adam. Yang Adam butuhkan sekarang hanya sendiri. Dirinya ingin sendiri dan dirinya tidak ingin diganggu. Coba kalau kau yang ada di posisi Adam, mungkin kau akan melakukan hal yang sama." Ardi berusaha meyakinkan Harsha.
"Apa yang dikatakan kak Ardi benar, Sha? Apa kau tidak melihat, bagaimana tatapan matanya? Tatapan matanya itu mengisyaratkan kesedihan dan juga kekecewaan. Kalau kau seperti ini terus, kau malah akan menyakitinya." Sakha juga berusaha menyakinkan Harsha.
"Biarkan dia sendiri dulu." Gala menambahkan.
"Apakah Adan akan pulang ke rumah, kak? Adam tidak akan kembali ke Apartemen Kakek lagikan?" tanya Harsha.
"Adam akan pulang ke rumah. Adam sendiri yang mengatakan itu pada kakak," jawab Ardi.
"Bagaimana kalau Adam boh..." perkataan Harsha terpotong.
"Adam akan pulang. Kakak percaya padanya. Seharusnya kau juga percaya padanya," ucap Ardi tersenyum.
"Kalau begitu kita kembali ke kelas," ajak Arka.
Dan mereka pun kembali ke kelas masing-masing.
^^^
Danish dan teman-teman sekarang berada di markas mereka. Mereka lagi-lagi membolos dan tidak pernah mengikuti pelajaran.
"Mama. Dimana Mama dan adikku sekarang tinggal? Aku merindukan kalian," batin Danish.
"Wooi! Melamun saja. Apa yang sedang kau pikirkan Danish?" tanya Arya.
"Tidak ada," jawab Danish.
"Ayolah! Ceritakan padaku ada apa?" tanya Arya.
"Baiklah. Aku merindukan ibuku dan adikku," jawab Danish.
"Uuhuk!" tiba-tiba Cakra dan empat temannya yang lain tersendak saat mendengar jawaban dari Danish.
"Hei, Danish. Apa kami tidak salah dengar, hah? Kau barusan mengatakan kalau kau merindukan ibumu dan adikmu?" tanya Indra.
"Memangnya, kenapa? Apa ada yang salah dari jawabanku barusan?" tanya Danish balik.
"Ya, adalah!" seru Rayan.
"Pertama, kau mengatakan kalau kau merindukan ibumu. Bagaimana bisa kau merindukannya? Sedangkan kau hampir setiap hari bertemu dengannya di rumah. Kedua, kau mengatakan kalau kau merindukan adikmu, padahal yang kami tahu kau putra kedua dari dua bersaudara," tutur Prana.
SKAK MAT!
Danish mati kutu. Apa yang dikatakan teman-temannya memang benar? Tapi mereka tidak tahu yang sebenarnya.
"Kenapa diam. Benarkan?" tanya Kavi.
"Iya, ya. Kalian benar," puji Danish, lalu mereka tersenyum puas.
"Tapi kalian ada salahnya," ucap Danish tiba-tiba sehingga membuat senyuman mereka memudar.
"Salah bagaimana?" tanya Cakra.
"Ayolah. Jangan buat kami penasaran." Arya memohon.
"Sebenarnya dia bukan ibu kandungku. Dan aku memiliki seorang adik laki-laki," sahut Danish.
Semua teman-temannya kaget ketika mendengar ucapan Danish.
"Apa itu benar?" tanya Cakra.
"Apa aku keliatan seperti sedang berbohong?" tanya Danish balik.
"Aku selama ini berusaha menutupi semuanya supaya tidak ada pertengkaran di rumah. Bagaimana pun ibuku yang sekarang ini, dia wanita yang sangat baik, penyayang, perhatian dan lembut? Aku tidak sampai hati menyakitinya," jawab Danish.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau akan diam saja atau kau akan mencari mereka?" tanya Indra.
"Aku tidak tahu. Aku benar-benar bingung. Disatu sisi aku sangat menyayangi mama Dhira, disisi lain aku juga sangat merindukan mama kandungku dan adikku!" seru Danish.
"Mantapkan hatimu. Lakukanlah sesuai hatimu Danish," ucap Prana menghibur.
"Bagaimana kalau kita ke Kantin?" ucap Rayan yang berusaha mencairkan suasana.
Semuanya mengangguk setuju. Lalu mereka pergi meninggalkan markas mereka munuju kantin.
^^^
Sudah hampir dua jam Adam berada di ruangan latihannya. Dan akhirnya dia memilih untuk keluar hanya sekedar mencari makan di kantin.
Saat dirinya baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, dirinya berpapasan dengan geng Bruizer. Mereka saling menatap satu sama lain. Tatapan mata yang begitu tajam. Seakan-akan ingin saling membunuh.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa tatapan matanya mirip dengan tatapan matanya Papa dan kak Garry," batin Danish saat menatap manik mata Adam.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau selalu mengusikku? Padahal aku tidak pernah mencari masalah denganmu," batin Adam yang terus menatap lawannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?!" bentak Danish.
"Memangnya kenapa? Aku menatapmu karena aku menyukaimu. Kau sungguh manis dan juga sangat cantik, Danish," jawab Adam yang sengaja membuat Danish emosi.
Adam berlahan mendekati Danish dan dengan sengaja merapat tubuhnya ke tubuh Danish, lalu Adam membisikkan sesuatu ke telinga Danish yang membuat Danish bergidik.
"Aku bisa memuaskanmu, Danish." Adam tersenyum menyeringai.
"Brengsek!" Danish mendorong kasar tubuh Adam dan untungnya Adam tidak terjatuh. Dirinya puas melihat amarah dalam diri Danish.
^^^
Ardi, Harsha dan teman-temannya saat ini berada di Kantin.
"Kak Ardi, apa Adam akan terus di ruangan latihannya itu? Ini sudah waktunya makan siang, tapi kenapa Adam belum datang juga? Adam boleh marah padaku, kak! Tapi aku tidak mau dia menyiksa dirinya," ucap Harsha yang khawatir dengan Adam.
"Apa yang dikatakan Harsha benar Ardi? Kita harus bujuk Adam untuk makan. Bagaimana pun caranya kita harus paksa dia," tutur Arka.
"Kak Ardi... Kak Ardi!" teriak pemuda itu.
"Ada, apa?" tanya Ardi.
"Itu.. Itu." pemuda itu yang sudah ngos-ngosan berlari.
"Hei, tenangkan dirimu," ucap Sakha.
"Sudah lebih baik?" tanya Sakha.
Pemuda itu mengangguk.
"Katakan apa yang ingin kau katakan pada kami?" tanya Ardi.
"Aku barusan melihat Adam, adik sepupumu sedang bersitegang dengan geng Bruizer. Mereka sekarang ada di depan," jawab pemuda itu.
"Brengsek! Mau apa lagi mereka?" emosi Ardi langsung berlari untuk menolong Adam disusul oleh yang lainnya.
"Terima kasih Informasinya!" teriak Sakha dari kejauhan.
^^^
Adam dan Danish saling menatap tajam.
"Kenapa? Belum puas dengan pertarungan dua hari yang lalu, hum? Apa kau ingin bertarung lagi denganku?" Danish tersenyum menyeringai.
"Dasar pecundang. Sekali Pecundang tetaplah pecundang. Seseorang bisa dikatakan laki-laki sejati itu bila melawan musunya satu lawan satu. Bukan seperti kalian yang beraninya main keroyokan. Tapi buktinya kalian semua K.O dihajar oleh kakak-kakakku." Adan tersenyum puas melihat wajah-wajah emosi Danish dan teman-temannya.
"Brengsek kau, Adam!" umpat Danish dan langsung melayangkan tinjunya ke wajah Adam.
Saat tangan Danish sedikit lagi mengenai wajah Adam dengan sigap Ardi menahan tangan tersebut, lalu mendorong tubuh Danish dan membuat Danish hampir tersungkur. Sedangkan Adam tidak beranjak dari posisinya.
"Kalian ini benar-benar kelewatan ya. Kalian beraninya main keroyokan. Apa nyali kalian menciut dan tidak berani melawan kami satu lawan satu? Sampai akhirnya kalian semua turun tangan untuk melawan satu orang, hah!" bentak Arka.
"Kalau kalian punya nyali, mari kita bertarung sekarang satu lawan satu." Kenzie menantang Danish dan teman-temannya.
"Bagaimana? Berani tidak?" Gala yang ikut memberikan tantangan.
"Brengsek," batin Danish.
"Ayoo, pergi!"
Danish dan teman-temannya pun memutuskan untuk pergi meninggalkan geng Brainer.
"Jadi kita tidak jadi ke kantin nih?" tanya Arya.
"Kita makan diluar. Biar aku yang traktir!" ucap Indra.
"Waah! Benarkah?" seru Prana.
"Iya. Ayoo, pergi!" seru Indra.
Akhirnya mereka semua pergi meninggalkan Kampus.
"Adam, kau tidak apa-apa?" tanya Harsha yang menatap adiknya dari atas sampai bawah memastikan tidak ada luka di tubuh sang adik.
"Aku baik-baik saja dan kau tidak perlu khawatir," ucap Adam ketus, lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan kakak-kakaknya itu.
"Aish, nih bocah! Tidak ada sopan-santunnya sedikit pun. Untungnya kau itu adikku dan aku sangat menyayangimu. Kalau tidak sudah kuceburkan kau kelaut," ucap Ardi kesal.
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa mendengar umpatan yang keluar dari mulut Ardi.
"Kakak, dia itu adikku. Coba saja kalau kau berani menceburkannya kelaut. Sebelum hal itu terjadi, aku yang akan menceburkanmu terlebih dahulu," sahut Harsha, lalu berlari sekuat tenaga untuk menghindari amukan dari kakak pucatnya itu.
"Yak! Harsha jangan lari kau. Adik kurang ajar." Ardi berlari mengejar Harsha yang sudah menjauh.
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa melihat aksi kedua kakak adik itu.