THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Sifat Patuh Adam Dan Harsha



Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kini semua anggota keluarga termasuk Adam berkumpul di ruang tengah. Saat ini mereka semua tengah membicarakan soal Adam yang sudah membobol sistem keamanan perusahaan milik Bagas dan perusahaan milik Davan, kejadian yang menimpa Adam beberapa hari yang lalu dan kejadian yang menimpa Dzaky dua hari yang lalu.


Semua anggota keluarga ingin mengetahui semua termasuk rencana Adam untuk membalas orang-orang tersebut. Mereka sudah sangat penasaran akan rencana Adam tersebut.


"Adam, sayang!" panggil Evan.


Adam langsung melihat kearah sang ayah, lalu tersenyum. "Iya, Pa!"


"Ceritakan semuanya sama Papa dan kita semua. Apa rencana kamu untuk membalas orang-orang yang sudah mengusik keluarga kita."


Mendengar pertanyaan dari ayahnya membuat Adam menatap wajah Ayahnya itu, lalu beralih menatap wajah anggota keluarganya bergantian.


"Aku sudah memulai pembalasan itu," jawab Adam.


Mendengar jawaban dari Adam membuat semua anggota keluarganya terkejut dan syok. Mereka tidak menyangka jika Adam sudah memulai pembalasan tersebut.


"Apa yang sudah kamu lakukan sayang?" tanya Davan.


"Sama seperti apa yang mereka lakukan terhadap perusahaan Papa Bagas, perusahaan Papa Davan, mencelakai aku dan mencelakai kakak Dzaky. Termasuk ingin merebut perusahaan Papa dan Papa Alex dengan menggunakan berkas yang ditulis dengan tinta yang bisa memudar dalam dua jam."


Mendengar ucapan dari Adam membuat mereka semua tidak menyangka jika Adam sudah merencanakan semua itu tanpa melibatkan mereka semua.


"Kenapa kamu bekerja sendiri, Adam?" tanya Nicolaas.


"Kenapa kamu tidak ajak kita untuk melakukan pembalasan tersebut?" tanya Vigo.


"Kita ini keluarga. Bagaimana bisa kamu bekerja sendiri?" sahut Ardi.


"Kita semua saudara-saudara kamu. Kita bahkan yang lebih tua dari kamu. Kenapa kamu justru tidak merundingkan rencana ini sama kita?" ucap dan tanya Harsha.


Dzaky, Rafig, Ardi, Juan, Reza, Harsha, Garry, Danish, Nicolaas dan Vigo menatap kecewa Adam. Mereka kecewa terhadap adik kesayangannya itu karena tidak melibatkan mereka.


Kalau boleh jujur, mereka semua bangga dan bersyukur atas apa yang dilakukan oleh Adam. Adam seperti itu karena Adam begitu menyayangi dan peduli terhadap semua anggota keluarganya. Adam tidak ingin terjadi sesuatu terhadap orang-orang yang dia sayangi. Bahkan mereka juga tahu kalau Adam akan melakukan apapun untuk melindungi keluarganya, walau nyawanya sebagai taruhannya.


Bukan hanya terhadap anggota keluarganya, Adam juga akan melakukan hal tersebut terhadap sahabat-sahabatnya. Adam juga tidak ingin melihat sahabat-sahabatnya disakiti oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.


"Maafkan aku. Bukan aku tidak ingin melibatkan kalian. Aku melakukan ini hanya untuk berjaga-jaga saja jika sewaktu-waktu orang-orang itu melakukan hal diluar pemikiran kita. Seperti yang dialami Papa Bagas dan Papa Davan. Awalnya kita berpikir bahwa dua pria busuk itu hanya mengincar perusahaan Papa Bagas dan perusahaan Papa Davan saja. Tapi nyatanya, kalian bisa lihat sendirikan. Mereka sudah berani mengusik dua diantara anak-anak kalian. Pertama aku dan kedua kakak Dzaky. Besok siapa lagi?"


Mereka semua terdiam ketika mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Adam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Adam.


"Jika aku merundingkan masalah ini kepada kalian. Sementara diluar sana kedua bajingan itu dan orang-orang tengah berencana untuk menyakiti anak-anak kalian, keponakan kalian dan cucu-cucu kalian. Maka dari itu aku langsung melakukan tindakan dengan cara yang sama."


"Jika memang seperti itu. Sekarang libatkan kami dalam aksi kamu itu, Dam!" mohon Rafig.


"Bagaimana bisa kami membiarkan kamu berjuang sendirian untuk membela keluarga. Sementara kami hanya duduk-duduk santai," sahut Reza.


"Siapa yang bilang kalau kalian hanya duduk-duduk santai? Kalian kan kerja," protes Adam.


"Itu perumpamaan, bodoh!" sahut Harsha dengan kejamnya.


"Yak, alien tengil sialan! Kalau gue ini bodoh, mana mungkin gue berhasil membobol sistem keamanan perusahaan Papa lo dan merubahnya dengan sistem keamanan dari gue! Kepintaran lo sebesar biji jagung!"


Mendengar ucapan sarkas dari Adam membuat Harsha seketika membelalakkan matanya. Dirinya tidak menyangka jika Adam akan berkata seperti itu.


Harsha menatap tajam kearah Adam. Begitu juga dengan Adam. Dirinya tak mau kalah dari Harsha. Sedangkan anggota keluarganya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kedua bungsu di keluarga Abimanyu jika sudah beradu argument.


"Dasar sombong," ejek Harsha.


"Bukan sombong. Hanya ingin memperjelas pemahaman tentang kata bodoh yang saudara Harsha sebutkan barusan," jawab Adam dengan wajah bangganya.


Harsha seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Adam. Harsha menatap Adam dengan tatapan syok.


"Hahahahahaha."


Seketika Garry, Danish, Juan, Reza, Dzaky, Rafig, Ardi, Nicolaas dan Vigo tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Adam dan melihat wajah syok Harsha.


"Hei, sudah-sudah! Ini kenapa malah perang mulut begini sih," lerai Alin.


"Salahkan putra bungsunya Mama tuh! Dia yang mulai duluan," asu Adam kepada Alin.


"Kenapa kamu nyalahin kakak. Kan kakak...."


Seketika perkataan Harsha terhenti ketika mendengar geraman dari ibunya. Harsha melihat kearah ibunya. Dan dapat Harsha lihat bahwa ibunya itu memberikan pelototan padanya.


"Aish! Disini yang putra bungsu dari Gauri Alindra Abimanyu, aku apa Adam? Kenapa Mama lebih memihak sama si anak kelinci buluk itu?"


Adam seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan kejam dari Harsha yang menyebut dirinya anak kelinci buluk.


Ketika Harsha ingin menjawabnya, Alin dan Utari secara bersamaan bersuara.


"Jika kamu masih membalas ucapan adik kamu. Mama benar-benar akan beralih kasih sayang sama Adam," ucap Alin menjahili putra bungsunya itu.


"Jika kamu masih melawan sama kakak kamu. Mama akan diami kamu selama satu tahun," ucap Utari yang juga menjahili putra bungsunya.


Baik Adam maupun Harsha sama-sama mengatub bibirnya masing-masing dengan tatapan matanya menatap kearah ibunya masing-masing. Sementara yang ditatap berusaha menunjukkan wajah seriusnya, walau di dalam hatinya sudah mati-matian menahan tawa melihat wajah syok putra-putranya.


Dan pada akhirnya, perdebatan keduanya terhenti akibat tindakan tiba-tiba dari Alin dan Utari. Mereka semua tersenyum gemas melihat kepatuhan dan ketakutan Harsha dan Adam.


"Sekarang kita lanjutkan pembahasan untuk membalas orang-orang yang sudah mengusik keluarga kita," ucap Evan.


"Auh, ach! Aku udah nggak semangat. Aku mau ke kamar. Ngantuk!"


Setelah mengatakan itu, Adam berdiri dari duduknya lalu pergi begitu saja meninggalkan semua anggota keluarganya.


Sementara anggota keluarganya seketika terkejut, lalu menghela nafas pasrahnya ketika melihat sifat merajuk kambuh. Mereka semua tahu, jika Adam sudah dalam mode merajuk akan susah untuk dibujuk.


Tiba-tiba Adam menghentikan langkahnya ketika sudah berada di anak tangga ke lima belas. Adam seketika melihat kearah ibunya itu.


"Mama!"


"Iya, sayang!"


"Aku butuh data-data tentang semua pengajar yang bekerja di kampus Mama. Baik itu data Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan dan Para Dosen. Aku butuh data-data mereka semua!"


"Untuk apa, sayang?" tanya Utari.


"Ada sesuatu yang ingin aku selidiki."


"Tapi apa, sayang? Tolong katakan pada Mama."


"Aku belum tahu apa itu. Tapi aku mencurigai beberapa dosen yang mengajar di kampus Mama melakukan kecurangan. Aku sampai melakukan ini karena mereka seenaknya memberikan hukuman kepada Zio sahabatku."


"Zio?!" tanya Danish.


"Kenapa dengan Zio?" tanya Ardi, Harsha dan Vigo bersamaan.


"Zio dihukum selama satu bulan penuh untuk membersihkan toilet mahasiswa dan toilet para Dosen. Bukan itu saja, Zio juga dilarang untuk mengikuti materi kuliah selama dia di kampus."


"Apa?!"


Danish, Ardi, Harsha dan Vigo berteriak karena terkejut. Begitu juga dengan semua anggota keluarganya termasuk Utari. Disini Utari yang paling terkejut.


"Jadi maksud kamu. Zio ke kampus hanya untuk menjalani hukumannya saja dan tidak diperbolehkan mengikuti kuliahnya?" tanya Danish.


"Iya. Bahkan para dosen sialan itu memperbolehkan Zio pulang bersamaan dengan mahasiswa dan mahasiswi lainnya."


"Brengsek!" umpat Danish, Ardi, Harsha dan Vigo bersamaan.


"Memangnya Zio salah apa sampai dia dihukum seperti itu? Ini hukuman berlebihan dan tak masuk akal. Mama tidak suka mereka seenaknya memberikan hukuman dengan cara ini," Utari nampak kecewa akan kinerja bawahannya.


"Zio dituduh membawa vcd yang isinya adegan tak senonoh itu. Yang lebih parahnya, vcd itu ditemukan di dalam tasnya Zio. Bukan satu vcd, melainkan enam vcd. Zio sudah mengatakan bahwa semua vcd itu bukan miliknya, namun tidak ada yang mempercayai perkataan Zio."


"Apa yang kamu lakukan ketika mendengar salah satu sahabat kamu dalam masalah?" tanya Evan.


"Aku meminta Zio untuk pulang dan melarangnya untuk masuk kampus selama satu bulan. Aku nggak izinkan Zio ke kampus hanya untuk menjalani hukumannya. Sementara Zio tidak diizinkan untuk masuk kelas."


"Tidak apa, sayang! Mama berikan izin untuk Zio. Jadi Zio bebas dari hukuman karena tidak masuk kuliah satu bulan."


"Dan soal permintaan kamu itu, nanti Mama akan kasih ke kamu data-data dari orang-orang yang bekerja di kampus Mama."


"Terima kasih, Ma!"


"Sama-sama, sayang."


"Ya, udah! Aku mau ke kamar. Masalah rencana untuk membalas orang-orang itu. Besok pagi kita bahas. Kebetulan besok aku tidak masuk kuliah."


"Baiklah, sayang!" jawab para orang tua.


"Baiklah, Dam!" jawab para kakak-kakaknya.


Setelah itu, Adam kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dirinya ingin segera istirahat.