
Saat ini yang berada di ruang operasi adalah Danish, Garry, Nicolaas, Vigo, Ardi, Harsha, Arka, Kenzie, Sakha, Gala, Zelo, para sahabat Danish, para sahabatnya Vigo, para sahabatnya Adam, kelompok Vagos dan kelompok Lilax.
Mereka semua menangis ketika melihat tubuh adik/sahabat yang terbujur kaku di atas ranjang. Wajah yang pucat dan juga dingin.
"Dan... Hiks," isak para sahabatnya.
"Adam... Hiks... Kakak mohon bangunlah. Kakak janji padamu. Jika kau mau bangun dan tidak pergi meninggalkan kakak. Kakak berjanji akan menjadi kakak yang baik untukmu. Kakak akan menuruti semua keinginanmu. Apapun itu. Kakak juga akan merubah sikap kakak... Hiks." Danish berulang kali memberikan kecupan sayang di seluruh wajah Adam.
Garry langsung menarik tubuh adiknya ke dalam dekapannya dan memeluknya erat. Garry sudah tidak bisa menahan tangisnya.
Harsha menggenggam tangan Adam. Sedari tadi Harsha terisak melihat tubuh kaku adiknya.
"Dam. Kenapa pergi lagi? Kau baru saja pulang. Kenapa mau pergi lagi sih? Adam... Hiks... apa kau sudah tidak menyayangi kakak lagi."
Gala yang juga sedari tadi juga sudah menangis terisak. Dirinya kini kembali dipisahkan dari adik kelincinya.
Carlo yang melihat adiknya yang menangis terisak sembari menatap wajah pucat Adam menjadi tidak tega. Berlahan Carlo menarik tubuh adiknya itu ke dalam pelukannya.
"Hiks... Hiks... Kakak... Kakak Carlo... Hiks," tangis Gala pecah di dalam pelukan Carlo.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba Harsha merasakan tangannya digenggam kuat oleh Adam.
"A-adam!" teriak Harsha tiba-tiba.
"Ada apa, Sha?" tanya Ardi.
"Kakak. Kakak Ardi. Tadi... tadi Adam menggenggam tanganku kak," jawab Harsha dengan raut kebahagiaannya.
Mendengar perkataan dari Harsha membuat mereka semua menatap kearah tangan Adam yang kini digenggam oleh Harsha.
Dan benar saja. Adam kembali menunjukkan reaksinya dengan menggenggam tangan Harsha. Mereka yang melihat hal itu tersenyum penuh kebahagiaan.
Tanpa pikir panjang lagi, Rayan langsung berlari keluar untuk memanggil Dokter.
***
DUA HARI KEMUDIAN..
Setelah dinyatakan meninggal selama satu jam. Kini kondisi Adam sudah stabil. Namun rasa khawatir mereka semua belum hilang karena saat ini Adam dinyatakan koma.
Sudah dua hari Adam koma. Dan selama dua hari juga anggota keluarganya dan para sahabatnya selalu setia menemaninya dan mengajaknya bicara.
Saat ini yang menemaninya adalah para kakaknya. Sementara untuk Danish, Harsha dan Ardi masih berada di Kampus. Begitu juga dengan Vigo.
Juan mengelus lembut rambut Adam lalu memberikan kecupan sayang di keningnya. Hatinya sakit setiap kali melihat tubuh adiknya yang banyak di tempeli alat-alat medis. Ditambah lagi kedua tangannya. Tangan kirinya terpasang infus. Dan tangan kanannya, tepatnya jari telunjuknya dipasang alat penjepit.
"Adiknya kakak yang tampan. Kapan bangun? Kangen tahu," ucap Juan.
"Adik kelinci kita mungkin sedang asyik bermain-main di alam mimpinya, Juan! Makanya dia tidak mau bangun," ucap Dzaky.
"Kakak benar. Adik kita mungkin saat ini sedang bermain-main dengan bidadari-bidadari disana. Karena sedang asyiknya bermain-main, makanya adik kita lupa untuk pulang," ucap Garry.
Garry berulang kali memberikan kecupan sayang di pipi dan di kening adik bungsunya itu. Garry menangis. Hatinya sakit melihat banyak alat-alat medis menyakiti adiknya.
"Adam. Kakak mohon bangunlah. Lihatlah kakak. Apa kamu tidak menyayangi kakak lagi? Kakka rindu senyumanmu itu." Garry menangis.
Rafiq merangkul Garry dan berusaha menenangkannya. "Percayalah. Adik kita pasti bisa melewati semuanya."
"Dam! Semoga kamu mendapatkan jalan terbaik untuk melawan sakitmu. Di sini kami selalu berdoa untuk kesadaranmu," ucap Rafiq.
"Kami selalu merindukanmu, kami tak terbiasa tanpa dirimu. Semoga kamu cepat membuka matamu dan kembali bersama kami lagi secepatnya," ucap Dzaky.
"Jangan takut dan jangan sedih. Kami selalu menanti waktu untuk kesadaranmu, Dam!" Reza mengecup kening Adam.
***
Vigo, Ardi Harsha dan Danish serta para sahabat-sahabat mereka sedang berada di kelas masing-masing. Mereka mengikuti kelas mereka dengan bersungguh-sungguh, terutama Danish. Danish sudah berjanji kepada dirinya sendiri jika tahun ini dirinya harus wisuda.
Setelah mengikuti kelas selama tiga jam. Akhirnya Vigo, Ardi, Harsha dan Danish serta para sahabat-sahabat keluar meninggalkan kelasnya. Mereka akan ke kantin untuk mengisi perut mereka masing-masing.
Ketika Vigo, Ardi, Harsha dan Danish serta para sahabat-sahabat tiba di Kantin. Arya yang tak sengaja melihat kearah Melky yang tengah duduk di salah satu meja paling pojokan. Arya dapat melihat dari wajah Melky yang terlihat sedang sedih.
"Hei, kalian! Lihatlah Melky. Sepertinya dia lagi sedih tuh," ucap Arya sambil tangannya menunjuk kearah Melky. Mereka semua melihat kearah tunjuk Arya.
"Lebih baik kita kesana. Kasihan Melky. Mungkin Melky merindukan Adam yang saat ini masih koma," sahut Cakra.
"Atau Melky lagi ada masalah," sela Gala.
"Ya, sudah! Kita kesana," ajak Vigo. Dan mereka pun menghampiri Melky yang sedang duduk sendirian.
Melky langsung melihat kearah orang-orang yang menyapanya. Dan dapat Melky lihat para kakak-kakaknya Adam bersama para sahabat-sahabatnya.
"Hei juga kakak," jawab Melky.
"Boleh kita duduk disini?" tanya Sakha.
"Tentu. Silahkan kak," jawab Melky.
Setelah itu, mereka pun duduk. Beberapa dari mereka menarik meja dan kursi, lalu mereka gabung ke meja tempat Melky berada.
"Ada apa?" tanya Vigo.
Melky menatap bingung Vigo. "Maksud kakak Vigo?" tanya Melky.
"Jangan pura-pura tidak terjadi apa-apa Melky. Kami tahu kalau kamu lagi punya masalah," ucap Kenzie.
"Kami sudah menganggap kamu bagian dari kami. Jadi kamu tidak perlu sungkan begitu," ujar Indra.
"Apapun yang berhubungan dengan Adam juga berhubungan dengan kami semua. Apa yang dialami Adam itu sudah menjadi tanggung jawab kami? Adam adik kami berarti sahabat-sahabat Adam juga adik kami. Kami sudah menganggap semua sahabat-sahabatnya Adam sebagai adik kami sendiri." Carlo berucap sembari menatap wajah Melky.
Mendengar ucapan demi ucapan dari para kakak-kakaknya Adam membuat Melky menundukkan kepalanya. Melky tidak kuat melihat wajah para kakak-kakaknya Adam.
PUK!
Danish menepuk pelan bahu Melky dan hal itu sukses membuat Melky mengalihkan perhatiannya menatap wajah Danish.
"Mau cerita?" tanya Danish.
"Aku tidak tahu kak. Aku benar-benar bingung," ucap Melky.
"Ceritakanlah pada kami. Siapa tahu kami memberikan solusi untukmu," sahut Crisan.
"Aku... Aku dan kedua orang tuaku akan pindah ke Australia. Dan kemungkinan akan menetap disana selamanya."
Setelah mengatakan itu, Melky kembali menundukkan kepalanya. "Disisi lain aku tidak ingin ikut. Aku tetap ingin disini. Tapi aku tidak memiliki siapapun selain kedua orang tuaku. Hanya mereka yang aku miliki. Aku anak tunggal. Aku tidak memiliki kakak atau adik. Bahkan saudara sepupu sekali pun."
Mendengar cerita dari Melky membuat mereka semua menjadi sedih. Mereka tahu bagaimana perasaan Melky saat ini. Di satu sisi orang tuanya. Di sisi lain pasti Melky tidak ingin berpisah dengan Adam. Melky sudah sangat dekat dengan Adam. Adam adalah teman sekaligus sahabat pertama Melky.
Melky mengangkat kepalanya dan menatap satu persatu wajah para kakak-kakaknya Adam dan para sahabat-sahabatnya.
"Aku bingung kak harus pilih yang mana. Saat ini Adam masih koma. Aku ingin melihat Adam membuka matanya. Jika pun aku tetap dengan keputusan orang tuaku setidaknya aku bisa pamitan langsung dengan Adam. Kalau seperti ini sulit rasanya kak."
Melky seketika menangis. Dirinya sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dan Melky juga sayang dengan Adam, sahabatnya. Dulu saat sebelum bertemu dengan Adam hidup Melky tidak berwarna sama sekali. Melky tidak memiliki teman. Dengan kata lain, Melky selalu menutup dirinya dari orang-orang di sekitarnya.
Sementara ada beberapa orang yang ingin menjadikan dirinya sebagai bagian dari beberapa orang itu. Namun Melky menolaknya.
Sejak bertemu dengan Adam yang saat itu Adam berstatus mahasiswa baru di kelasnya. Ntah kenapa Melky langsung menyukai teman barunya itu. Bahkan Melky orang pertama yang memperkenalkan diri kepada Adam. Setelah Melky kenal dekat dengan Adam. Melky pun berani membuka hatinya untuk menerima teman-teman baru. Dan berakhir Melky memperkenalkan Adam dengan teman-teman grupnya.
"Kita berdoa saja, oke! Semoga Adam segera membuka matanya," ucap Nigel.
"Kapan kau dan keluargamu akan pindah?" tanya Ardi.
"Lusa," jawab Melky lesu dan tak bersemangat.
"Hah! Lusa!" seru mereka bersamaan.
"Berarti hari rabu dong," sahut para sahabat-sahabatnya Danish dan Vigo bersamaan.
"Dua hari lagi berarti kamu di Jakarta," tutur Sakha.
"Disini bukan Melky saja yang berat untuk pergi. Pasti Allan juga bakal berat melepaskan Melky untuk pindah ke Australia. Melky adalah sahabat pertama Allan ketika Allan menjadi murid baru di Kampus ini dengan identitas barunya." Vigo berbicara dengan wajah sedihnya.
"Dan bukan itu saja. Allan juga sudah sangat dekat dengan kedua orang tuanya Melky. Kedua orang tuanya Melky sangat menyayangi Allan. Dan aku rasa Allan yang paling terluka disini karena Allan kembali berpisah dengan orang-orang yang sangat disayanginya."
Mereka semua membenarkan apa yang dikatakan Vigo. Disini Adam yang akan paling terluka. Adam akan kembali berpisah dengan orang-orang yang sangat disayanginya.
"Sudah-sudah. Kita lupakan dulu masalah ini. Sekarang kita makan dulu. Setelah itu, kita masih ada satu materi kuliah lagi. Nah, habis itu! Kita semua ke rumah sakit untuk membesuk adik kelinci kita. Dan semoga saja saat kita sampai di sana. Adam sudah bangun dari komanya." Alon berbicara dengan penuh semangat sembari memberikan semangat untuk yang lainnya terutama Melky.
"Hm." mereka semua berdehem sembari menganggukkan kepala mereka masing-masing.
SELESAI
The Fraternity (2)
Berlanjut ke
The Fraternity (3)