
[Kampus]
Derap langkah kaki menggema di sepanjang koridor yang tampak lenggang lantaran sekarang jam kuliah masih berjalan.
"Ampun prof. Jangan pukul!"
Seorang pemuda berteriak nyaring sambil berlari seperti orang kesetanan.
"Sini kamu, bocah nakal!"
Di belakang pemuda itu, terlihat seorang laki-laki berpakaian dinas mengacung rotan di tangannya. Tampak sekali aura api kemarahan di sekitar dosen tersebut.
Anak-anak yang berada di kelas masing-masing pun tak dapat lagi membendung rasa penasaran mereka. Mereka terlihat mengintip di balik jendela. Bahkan ada yang sampai keluar kelas tanpa mengindahkan Dosen yang tengah mengajar. Rasa penasaran mereka berpusat pada pemandangan antara Dosen dan mahasiswa yang tengah kejar-kejaran layaknya Tom and Jerry.
Zio, pemuda itu terengah-engah. Sekali-kali dia menolehkan kepalanya ke belakang memastikan Prof. Burhan, dosen ekonominya tidak lagi mengejar. Namun sangat disayangkan, Prof. Burhan masih saja mengejarnya.
Zio meruntuk dalam hati. "Tuh aki-aki kenapa ngejar terus sih."
"Berhenti kau bocah!" teriak Prof. Burhan menggema. Membuat Zio menambah kecepatan larinya.
Karena terlalu fokus berlari Zio tidak sadar jika tali sepatu yang dia kenakan lepas. Dan pastinya kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi.
Bunyi benda jatuh membuat senyum Prof. Burhan terbit dan gelak tawa orang-orang terdengar penuh ejekan di sistem pendengaran Zio.
"ADUHH!"
^^^
Adam dan kakak sepupunya Harsha sudah berada di kampus. Sementara untuk Danish, Ardi, Vigo beserta para sahabatnya berada di perusahaan. Mereka kuliah siang hari ini.
Adam saat ini bersama dengan sahabat-sahabatnya di kantin kecuali Zio. Sejak tadi mereka belum bertemu dengan Zio.
"Zio mana?" tanya Adam yang tidak melihat keberadaan Zio.
"Nah, itu dia! Kita nggak lihat keberadaan Zio. Biasanya dia yang selalu nyapa kita duluan kalau kita nyampe di kampus," pungkas Diego.
Ketika mereka tengah memikirkan Zio, tiba-tiba mereka mendengar ucapan demi ucapan dari beberapa mahasiswi yang memasuki kantin sembari menyebut nama Zio.
"Kasihan sekali mahasiswa yang bernama Zio, anak ekonomi!"
"Iya. Dia nggak salah, tapi justru mendapat hukuman dari Prof. Burhan."
Mendengar ucapan dari mahasiswa itu membuat Adam langsung berdiri dari duduknya. Diikuti oleh Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando.
Adam berjalan menghampiri beberapa mahasiswi itu. Dia ingin tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu sehingga dihukum oleh Prof. Burhan.
"Hei, kalian!"
Mendengar seruan seseorang membuat beberapa mahasiswi itu langsung melihat kearah seseorang tersebut. Ketika mereka tahu siapa yang memanggilnya membuat mereka terkejut.
"Kak Adam."
"Tadi aku dengar kalian menyebut nama sahabatku Zio. Bahkan aku juga dengar kalian menyebut hukuman. Ada apa?"
Adam menatap wajah beberapa mahasiswi. Begitu juga dengan Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando.
"Katakanlah. Kalian tidak perlu takut jika ada yang akan menyakiti kalian," ucap Adam.
Beberapa mahasiswi itu saling memberikan tatapan matanya, kemudian mereka kembali menatap Adam keenam sahabatnya.
"Begini kak Adam. Sahabatnya kak Adam yang bernama kak Zio dijebak. Kak Zio dituduh membawa vcd yang isinya adegan yang tak senonoh itu ke dalam kelas. Kak Zio menyangkal hal itu, tapi bukti mengarah kuat kepada kak Zio hingga berakhir kak Zio dihukum."
Adam mengepal kuat tangannya ketika mendengar cerita dari salah satu adik kelasnya mengenai masalah yang menimpa Zio.
"Hukuman apa yang diberikan kepada Zio?" tanya Adam.
"Selama satu bulan penuh kak Zio harus memberikan toilet. Baik toilet khusus mahasiswa dan mahasiswi maupun toilet para Dosen."
"Bukan itu saja, kak! Kak Zio juga dihukum tidak boleh mengikuti kelasnya selama masa hukuman. Jadi dengan kata lain....."
"Benar kak Vando!"
"Brengsek!" Adam berucap dengan wajah marahnya.
Setelah itu, Adam pergi meninggalkan kantin untuk menemui para dosen yang sudah memberikan hukuman kepada sahabatnya itu.
"Kalian temui Zio. Setelah itu, bawa Zio ke ruangan komputer," pinta Adam kepada sahabat-sahabatnya.
"Baiklah!"
"Terus lo mau kemana?" tanya Melky.
"Gue mau ke ruangan Dosen," jawab Adam.
"Gue ikut sama lo," sahut Melky.
"Baiklah."
Setelah itu, Adam dan Melky pergi ke ruangan Dosen. Sedangkan Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando menemui Zio di toilet.
^^^
Braakkk..
Pintu ruang Dosen dibuka paksa oleh Adam sehingga membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut tersentak kaget.
Adam dan Melky melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dengan menatap tajam orang-orang yang ada di dalam.
"Adam, Melky! Ada apa kesini?" tanya salah satu Dosen perempuan.
"Siapa diantara kalian yang berani memberikan hukuman kepada sahabatku Zio Jeoffree?!" Adam bertanya dengan menatap tajam semua dosennya.
"Saya!" Dosen Burhan menjawab dengan lantang sembari menatap wajah Adam dengan tatapan menantang.
"Apa kesalahan sahabat saya itu sehingga anda menghukumnya?"
"Dia sudah berani membawa vcd tak pantas ke kampus ini. Kampus ini tempat kuliah. Bukan untuk nonton hal yang tak senonoh itu."
"Apa anda yakin jika sahabat saya melakukan itu? Apa anda yakin jika vcd itu punya sahabat saya? Bagaimana kalau vcd itu ternyata punya orang lain, tapi dengan sengaja meletakkan di dalam tas sahabat saya." Adam berbicara dengan penuh penekanan sembari tatapan matanya menatap tajam kearah Dosen itu.
"Saya yakin karena ada saksinya. Dan saksi itu yang mengatakan pada saya."
"Anda langsung percaya begitu saja tanpa anda mengeceknya atau mencari kebenarannya terlebih dahulu? Bagaimana jika anda salah? Dan bagaimana jika saksi itu berkata bohong?"
"Saksi itu tidak berbohong karena dia memperlihatkan bukti kepada saya."
"Begitukah?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu. Saya Dirandra Adamka Abimanyu atau Bimantara, putra dari Erina Utari Abimanyu dan Evan Hara Bimantara, pemilik kampus ini dan donatur terbesar di kampus ini akan mengambil alih masalah ini. Aku akan menyelidiki kepemilikan asli dari vcd itu!"
Adam menatap tajam kearah Dosen Burhan dan semua Dosen-dosen yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Aku bersumpah! Jika aku mendapatkan bukti yang menyatakan bahwa sahabatku Zio Jeoffree tak bersalah, maka anda akan saya keluarkan dari kampus ini secara tidak terhormat. Bukan itu saja, saya akan buat anda tidak diterima mengajar di kampus manapun. Baik di dalam maupun di luar negeri. Saya akan masukkan nama, data-data anda dan latar belakang keluarga anda ke dalam daftar hitam semua Universitas di dunia ini."
Adam menatap Dosen-dosen yang lainnya yang saat ini ketakutan ketika mendengar ucapan dan tatapan mata Adam.
"Dan untuk sipemilik asli dari vcd itu akan mendapatkan hukuman dari saya. Hukuman yang akan saya berikan kepada sipemilik asli dari vcd itu adalah penjara selama 15 tahun. Dan aku juga akan menyelidiki kalian semua. Jika terbukti kalian melakukan kecurangan atau kebusukan selama menjadi Dosen disini. Aku akan menghabisi nyawa kalian! Aku tidak main-main dengan ucapanku."
Mendengar ucapan demi ucapan serta ancaman dari Adam membuat dosen Burhan dan empat dosen lain seketika merasakan ketakutan dalam dirinya. Mereka takut jika semua kebusukannya terbongkar dan diketahui oleh Adam selaku putra pemilik kampus ini.
"Tunggu saja. Siapkan mental kalian."
Setelah mengatakan itu, Adam langsung pergi meninggalkan ruangan Dosen itu untuk menemui sahabat-sahabatnya yang lain di ruang komputer.