
Seorang gadis cantik melangkah memasuki sebuah perusahaan milik keluarga Bimantara dengan buru-buru.
Gadis itu membawa dua berkas di tangannya untuk diberikan kepada pemilik perusahaan.
Ketika gadis itu tengah buru-buru. Dari arah yang berlawanan. Terlihat seorang wanita yang tengah berjalan dengan gaya angkuh dan sombong. Terbukti ketika beberapa karyawan dan pengunjung menyapanya, namun wanita itu tidak mempedulikannya sama sekali. Wanita itu sama sekali tidak menyapa balik. Justru wajah sombong dan wajah sinis yang dia berikan.
"Cih! Sombong sekali dia."
"Sok kecantikan."
"Lihat saja tuh gayanya. Ih, menjijikkan."
"Kenapa Bos mau menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan wanita itu?"
"Kemungkinan besar semua karyawan dan karyawatinya mati tertekan memiliki atasan seperti dia."
"Iya, kau benar."
Itulah beberapa komentar-komentar para karyawan dan karyawati ketika melihat sifat wanita tersebut.
Wanita itu berjalan sambil menatap layar ponselnya. Dia sama sekali dengan orang-orang yang berjalan di hadapannya.
Bruk..
Seorang gadis terjatuh di hadapan seorang wanita dengan berkas yang dibawanya berserakan.
Sementara untuk wanita itu, ponselnya terjatuh dan hancur di lantai.
Melihat kejadian tersebut menjadi pusat perhatian oleh para karyawan dan karyawati yang ada di perusahaan itu.
"Berkas-berkas itu," ucap gadis tersebut sembari memungut satu persatu kertas-kertas putih yang berserakan di lantai.
Wanita sombong itu menatap tajam kearah gadis di bawahnya yang saat ini masih fokus memungut satu persatu kertas-kertas putih itu.
"Hei, kau!" teriak wanita itu dengan kerasnya.
Mendengar teriakkan dari seorang wanita yang tak jauh dari dirinya. Seketika gadis itu langsung mendongakkan kepalanya keatas. Dan dapat dilihat oleh gadis itu wanita itu menatap tajam dirinya.
Setelah beberapa detik menatap wajah wanita itu, gadis itu kembali dengan urusannya yaitu memungut kembali kertas-kertas putih itu.
Melihat reaksi dari gadis tersebut membuat wanita itu makin menatap tajam kearah gadis itu. Sementara beberapa karyawan dan karyawati yang sejak tadi melihat kejadian itu seketika tertawa sambil menutupi mulutnya. Mereka tak menyangka akan reaksi dari gadis itu.
Melihat reaksi dan juga mendengar jawaban dari gadis tersebut membuat wanita itu menatap marah kearah gadis itu.
Detik kemudian...
Wanita itu merampas kertas-kertas yang sudah di pegang oleh gadis itu. Kemudian wanita itu langsung meremuk-remuk kertas itu hingga menjadi bulat.
Seketika gadis itu membelalakkan matanya ketika melihat wanita itu merusak semua kertas-kertas itu.
Gadis itu menatap tajam wanita itu. Keduanya tangannya mengepal kuat. Dia benar-benar marah saat ini.
"Apa yang kau lakukan, hah?! Kenapa kau merusak semua kertas-kertas itu?!" bentak gadis tersebut.
Mendengar perkataan dari gadis itu membuat wanita itu seketika terkejut. Apalagi ketika mendengar bentakannya.
"Berani kau melawanku?!" wanita itu balik membentak gadis itu.
"Hahahaha. Memangnya kau siapa sehingga aku harus takut padamu," jawab gadis itu dengan menatap wajah wanita yang ada di hadapannya.
Mendengar perkataan dari gadis di depannya membuat wanita itu mengepalkan kuat tangannya.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada kertas-kertas itu," ucap gadis itu dengan menatap tajam wanita di depannya.
"Apa kau bilang? Kau memintaku untuk bertanggung jawab atas berkas-berkas murahan ini?! Lalu bagaimana dengan ponselku?!" bentak wanita itu.
Gadis itu melihat kearah dimana sebuah ponsel yang tak berbentuk di lantai.
Setelah itu, gadis itu kembali menatap wajah wanita itu dengan tatapan mengejeknya.
"Kerusakan ponselmu itu tak sebanding dengan kertas-kertas yang sudah kau remukan itu! Jika ponselmu itu seharga Rp 10.000.000 rupiah! Maka kertas-kertas yang barusan kau remukan itu diatas harga ponselmu. Kau jangan melihat kertasnya, tapi kau lihat isinya! Jika kertas-kertas itu di jual kepada para pebisnis diluar sana, maka harga semua kertas-kertas itu bisa mencapai milliaran rupiah!" teriak gadis itu sembari menunjuk kearah wanita tersebut.
Deg..
Semuanya terkejut dan syok termasuk wanita itu ketika mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari gadis itu tentang kertas-kertas itu.
"Aku anak magang di perusahaan Artha Gading. Kedatanganku ke perusahaan ini atas perintah dari atasanku. Dia memintaku untuk mengantar kertas-kertas yang sudah kau remukan itu kepada si pemilik perusahaan ini. Langsung pada si pemiliknya dan jangan dititipkan kepada orang lain. Dan kau....."
Beberapa karyawan dan karyawati yang sejak tadi menyaksikan perdebatan antara wanita sombong dengan seorang gadis seketika terkejut. Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan dari gadis itu yang mengatakan bahwa dia diutus oleh perusahaan Artha Gading.
"Apa nona itu mengantarkan berkas yang dijanjikan oleh perusahaan itu untuk perusahaan ini. Jika benar, bisa marah besar sang bos!"
Seorang karyawan laki-laki berucap sembari tatapan matanya menatap kearah wanita sombong dan gadis itu.
"Aku akan beritahu tahu Bos sekarang!"
"Hahahaha."
Seketika wanita itu tertawa ketika mendengar ucapan dari gadis di depannya. Dirinya berpikir bahwa gadis tersebut sedang mengarang cerita.
"Jika kau ingin bermain drama, maka aku sarankan jangan disini. Apalagi di depanku. Karena aku tidak akan pernah mempercayaimu."
"Hahahaha." gadis itu membalas menertawai wanita itu. "Apa kau pikir aku memintamu dan mengharapkan orang sepertimu mempercayai ucapanku. Jawabannya adalah tidak."
"Alah, pake menyangkal lagi. Kalau bukan mengharapkan itu. Kenapa kau harus susah-susah menceritakan tentang kertas-kertas itu, hah!"
"Hei, dengar ya wanita bodoh. Apa yang aku katakan tadi itu adalah kenyataan bukan untuk meminta atau mengharapkan kepercayaan darimu. Jangan terlalu percaya diri nona!"
Namun ketika tangan itu hendak menyentuh pipi gadis itu, seseorang menahannya dari samping sehingga membuat wanita itu terkejut.
"Tu-tuan Danish."
Danish menatap tajam wanita yang ada di hadapannya. Setelah itu, Danish menghempaskan tangan wanita tersebut.
Yah! Orang yang menahan tangan wanita sombong itu adalah Danish sang pemilik perusahaan.
Sementara gadis yang hendak ditampar seketika membuka matanya dan melihat kearah orang itu.
"Kakak Danish."
Danish yang dipanggil langsung melihat keasal suara.
"Adila. Kamu kenapa ada disini?"
"Aku kemari karena diutus sama atasanku," jawab Adila.
Gadis yang datang ke perusahaan milik Danish adalah Adila Palavi yang tak lain adik sepupunya Danish.
"Untuk apa?"
"Mengirim berkas-berkas yang kamu minta itu. Bukankah perusahaan kamu dan perusahaan tempat aku magang sedang melakukan proyek."
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Adila membuat Danish seketika mengingatnya.
"Terus, mana berkas-berkasnya?" tanya Danish.
"Tuh!" Adila menjawab sembari menunjuk kertas yang berserakan di lantai dalam bentuk gulungan.
Danish langsung melihat kearah arah tunjuk Adila. Danish melihat beberapa kertas gulungan di lantai.
"Adila jangan main-main."
"Siapa juga yang main-main. Kamu ambil kertas itu lalu kamu baca isinya."
Danish membungkuk untuk mengambil dua kertas gulungan itu. Setelah dua kertas gulungan itu ada di tangannya, Danish membuka secara berlahan. Kemudian Danish membaca isi yang tertera di dalam kertas itu.
Detik kemudian...
"Adila, siapa......"
"Wanita itu yang melakukannya," sahut Adila yang langsung memotong perkataan dari Danish.
Danish melihat kearah wanita yang ada di hadapannya. Tatapan matanya benar-benar marah.
"Apa yang telah anda lakukan? Kenapa anda merusak kertas-kertas ini? Apa anda sengaja, hah?!" bentak Danish.
"Maafkan saya, tuan! Saya...."
"Apa?" tantang Adila dengan tatapan tajamnya. "Apa kau mau mengatakan bahwa kau tidak mengetahui isi kertas-kertas itu? Iya?!" bentak Adila.
Seketika wanita itu terkejut ketika mendengar ucapan dari gadis yang sejak tadi berdebat dengannya.
"Bukan kau tidak tahu. Kau sama sekali tidak ingin tahu kertas-kertas apa itu. Justru sejak awal aku yang tak sengaja menabrak kamu. Aku juga tidak tahu apakah aku yang menabrak kamu atau kamu yang tidak melihat ke depan ketika jalan. Mungkin kau sedang fokus menatap layar ponselmu. Ketika aku memungut semua kertas-kertas itu, kau dengan kejamnya merampasnya dari tanganku, lalu kau meremuk-remuk kertas-kertas itu!" teriak Adila.
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Adila membuat Danish seketika menatap marah kearah wanita yang ada di hadapannya itu.
"Anda benar-benar keterlaluan. Seharusnya anda melihat apa yang tertulis di dalam kertas-kertas itu. Bukan langsung meremuk-remuk kertas-kertas itu!"
"Ma-maafkan saya tuan."
"Apa dengan aku memaafkan anda. Kertas-kertas itu akan kembali utuh? Apa anda tidak tahu berapa harga dari isi kertas-kertas itu jika dijadikan uang!" bentak Danish.
Adila tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah takut wanita itu.
"Apa aku bilang? Perkataanku beberapa menit yang lalu sama bukan dengan perkataan dari laki-laki yang ada di hadapanmu ini. Kertas-kertas itu harganya lebih mahal dibandingkan harga ponsel kamu itu. Dan aku juga sudah katakan. Bantu aku memunguti semua kertas-kertas itu, masalah ponsel kamu yang rusak itu. Jika aku yang salah, aku bersedia mengganti ponsel kamu dengan ponsel baru. Tapi kamu malah bersikap arogan."
Adila menatap wajah Danish. "Kak, bagaimana ini? Aku harus kembali ke perusahaan Artha Gading dengan membawa persetujuan dari kamu. Tapi melihat kejadian ini....."
Mendengar perkataan dan juga wajah sedih Adila membuat hati Danish tak tega. Adik sepupunya ini tengah magang di perusahaan Artha Gading.
Jika hari ini adiknya berhasil melakukan tugasnya, maka adiknya akan mendapatkan nilai A dari atasannya. Apalagi atasan yang menyuruhnya adalah langsung pemilik perusahaan. Bukan atasan yang dibawa kepemimpinan sang pemilik perusahaan.
Danish seketika mengusap lembut kepala adik sepupunya itu. "Kamu tidak perlu khawatir. Kamu akan mendapatkan nilai A itu dari sang pemilik perusahaan.
"Benarkah kak?"
"Iya. Kalau perlu kakak akan langsung mengirimkan buktinya melalui email atasanmu itu.
"Bawalah dulu salinan ini. Nanti yang aslinya kakak akan kirim ke email atasan kamu."
Adila menerima kertas putih yang sudah ditandatangani oleh Danish.
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi. Aku ingin langsung kembali ke perusahaan Artha Gading."
"Hati-hati di jalan."
"Siap!"
Melihat kepergian adik sepupunya. Danish menatap wajah wanita itu.
"Kerja sama kita batal. Dan sekarang, silahkan anda pergi tinggalkan perusahaan saya."
Setelah mengatakan itu, Danish meminta dua tangan kanannya untuk memungut gulungan kertas-kertas itu, lalu memintanya untuk dibawa ke ruang kerjanya.