THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Mood Yang Buruk



Tanpa pikir panjang lagi, Danish melangkahkan kakinya menghampiri Vigo.


"Danish," panggil Ardi, Harsha dan para sahabat-sahabatnya. Dan mereka pun menyusul Danish.


"Mana adikku?" tanya Danish.


"Siapa?" tanya Vigo balik.


"Jangan pancing keributan, Vigo Liam Adiyaksa! Mana adikku?!" bentak Danish.


"Eeemm. Mana, ya! Aku tidak tahu dimana dia. Bukankah dia adikmu. Kenapa kau bertanya padaku?" Vigo memang sengaja memancing amarah Danish.


"Kau..." Danish memberikan pukulan pada wajah Vigo.


"Danish/kak Danish, hentikan!" Ardi dan Harsha menahan tangan Danish.


Vigo tersenyum mengejek. "Hahaha. Banci."


"Udahlah, Vigo! Jangan memancing perkelahian," kata Cakra.


"Hei, yang mulai itu dia." Vigo menjawab perkataan Cakra sembari nunjuk wajah Danish.


Harsha menepis tangan Vigo kasar. "Nggak pake nunjuk-nunjuk juga kali."


"Memang Danish yang mulai duluan. Tapi maksud Danish disinikan dia sedang bertanya padamu tentang adiknya. Seharusnya kau menjawabnya dan memberitahu dia. Ini kau malah mengejeknya dan mempermainkannya" Arka menatap kesal Vigo.


"Lagian kemarin Adam pulang ke rumahmu. Jadi wajar dong salah satu dari kami menanyakan Adam," sela Ardi.


Vigo menatap tajam kearah Danish, Ardi dan Harsha. "Kalau aku..." ucapan Vigo tiba-tiba terhenti saat Crisan menepuk bahunya dan sedikit merematnya. Vigo mengerti hal itu.


"Sudah, Vigo. Ini di Kampus," bisik Crisan. Kemudian matanya menatap wajah Danish, Ardi dan Harsha.


"Danish, begini! Kami juga tidak tahu dimana Allan.. eh, maksudku Adam. Vigo mengatakan pada kami saat sarapan pagi mereka tidak menemukan keberadaan Adam di rumah. Lalu salah satu pelayannya Vigo bilang Adam sudah pergi pagi-pagi sekali sebelum mereka semua bangun. Disini posisi Vigo juga sama sepertimu dan juga kalian semua yang sama-sama mengkhawatirkan Adam. Bagaimana pun Adam itu adalah adik kita bersama? Kita ini adalah kakak-kakaknya."


"Kami juga sudah mencarinya di kelas. Tapi Adam tidak ada di kelasnya," kata Luis.


Baik Danish, Ardi, Harsha maupun Vigo. Mereka hanya bisa diam.


Saat mereka masih dalam mode diam dan juga khawatir. Mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara teriakan Melky. Mereka semua pun melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat Melky yang sedang mengejar Adam.


"Tuh orangnya!" seru Gala.


"Memang dasar adik kurang ajar. Kita disini mengkhawatirkannya. Ternyata dia sedang berperang dengan temannya," ucap Sakha.


Mereka semua masih fokus melihat kearah Adam dan Melky.


"Adam. Tunggu kenapa!" teriak Melky sembari berlari mengejar Adam.


"Kau saja yang jalannya lambat seperti kura-kura," ejek Adam.


TAK!


Melky memukul kepala belakang Adam karena kesal.


"Yak! Hitam sialan, tengil, bodoh, kecebong busuk, kurap, bau, dekil. Kenapa lo mukul kepala gue, hah?! Kalau gue hilang ingatan untuk yang kedua kalinya, gimana?!" teriak Adam sembari menatap horor Melky.


Melky memutar bola matanya malas. "Tidak usah lebai kelinci kurap. Mana ada orang yang hilang ingatan untuk yang kedua kalinya. Lu itu mahasiswa bukan anak SD lagi. Pinter dikitlah. Malu-maluin nama kampus lu."


Mereka berjalan berdampingan. Kaki jenjang mereka melangkah menuju kelas.


"Dam," panggil Melky.


"Apa?" Adam menjawab dengan ketus.


"Yaeelaahh! Santai dong jawabnya. Nggak usah ngegas gitu," protes Melky.


"Gue kalau sama orang dekil kayak elo nggak bisa nggak ngegas kalau ngomongnya. Bawaannya ingin teriak-teriak di depan lo," jawab Adam enteng.


"Terserahlah. Pusing kepala gua kalau ngomong sama orang yang nggak jelas kayak elu," sahut kesal Melky.


Tanpa disadari oleh Melky. Adam tersenyum puas karena sudah berhasil menjahilinya.


"Mel."


Hening..


"Mel."


Masih sama. Hening! Melky tidak berniat menjawab panggilan Adam.


"Melky sialan. Dengar gue tidaaakkk!" teriak Adam tepat di depan wajah Melky.


TAK!


"Mingyu setaaaaaannnnn!" teriak Adam melengking.


Dan teriakannya itu terdengar oleh mahasiswa dan mahasiswi yang berada disana, terutama para kakak-kakaknya. Mereka tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mendengar perkataan terakhir Adam untuk Melky.


"Allan," panggil Vigo.


Adam yang dipanggil pun melihat ke arah Vigo. Saat melihat wajah Vigo. Adam makin bertambah kesal. Dan kemudian Adam pergi begitu saja meninggalkan Vigo.


"Allan, kakak mohon. Jangan menghindari kakak terus," ucap Vigo yang berhasil menahan tangan Adam.


"Mau apa?" tanya Adam ketus.


"Maafkan kakak. Kakak tahu, kakak salah. Tidak seharusnya kakak bersikap kasar padamu waktu itu," jawab Vigo.


Adam menatap wajah Vigo. "Aku marah bukan karena tamparan itu. Aku marah akan sikap kekanak-kanakan dan sikap egois yang ada dalam dirimu itu kak. Kau terlalu memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan orang lain."


"Sudahlah kak. Jangan ganggu aku. Seharusnya kakak bersyukur aku tidak membencimu dan keluargamu. Dan aku juga sudah pulang ke rumahmu. Tapi bukan berarti aku akan pergi meninggalkan keluarga kandungku. Bagiku mereka segalanya dalam hidupku. Kau tidak bisa memaksaku untuk selamanya tinggal bersamamu dan keluargamu."


Saat Adam ingin pergi. Lagi-lagi langkahnya terhenti.


"Adam."


Adam menghembuskan nafas kasarnya, lalu membalikkan badannya melihat keasal suara. Dapat Adam lihat kakak kandungnya, kedua kakak sepupunya dan para sahabatnya.


"Mau apa?" lagi-lagi Adam bertanya dengan nada ketus.


"Aish. Kenapa sih? Semenjak ingatanmu kembali kau jadi ketus begini sama kakakmu sendiri? Apa kau tidak menyayangi kakak lagi, hum?" tanya Danish.


Yang lainnya turut bahagia mendengar penuturan Danish yang mengatakan kalau ingatan Adam telah kembali.


"Apa kau sudah tidak peduli lagi dengan kakak tampanmu ini," ucap Danish bangga.


Adan memperhatikan wajah Danish dengan kening dikerutkan dan matanya yang sesekali memicing.


"Kenapa dengan wajahmu itu? Jangan perlihatkan wajah jelek seperti itu Danelio Danish Bimantara," ucap Adam sarkas.


Mendengar perkataan dari Adam yang menyebut namanya secara lengkap tanpa embel-embel kakak. Hal itu sukses membuat Danish membelalakkan matanya.


Cakra, Arka, Ardi, Harsha dan yang lainnya, termasuk Vigo dan sahabat-sahabatnya tertawa.


"Hahahahaha."


"Yak! Apa yang kau bilang tadi, hah?!" kesal Danish. Danish menatap horor adiknya.


Adam tak mau kalah. Dirinya menatap lebih horor kakaknya itu. "Apa? Mau berkelahi lagi? Mumpung disini tidak ada Mama sama Papa." Adam menantang kakaknya untuk berkelahi.


"Waah! Kira-kira siapa yang bakal menang ya kali ini kalau sampai Danelio Danish Bimantara dan Dirandra Adamka Bimantara berkelahi!" seru Arya memanas-manasi.


"Yang jelas Adam yang bakalan memenangkan perkelahian tersebut," sela Kenzie dan Sakha bersamaan. Mereka juga ikut memanas-manasi keduanya.


"Diam!" teriak Adam dan Danish kompak. Dan hal itu sukses membuat Arya, Kenzie dan Sakha mengatup bibir mereka.


Sedangkan yang lainnya tertawa. "Hahahahaha."


Adam dan Danish masih saling menatap satu sama lainnya.


"Mau sampai kapan kalian saling menatap seperti itu. Apa kalian mau aku nikahkan, hah?" Cakra jengah melihat kedua kakak beradik tersebut.


Hal itu sukses membuat Adam dan Danish memalingkan wajah masing-masing.


"Aish. Kenapa aku harus memiliki saudara bodoh dan menyebalkan, sih?" gumam Adam dengan bibir yang mengerucut. Dan gumamannya itu terdengar oleh mereka semua


"Hei, berarti termasuk kakak juga dong. Kakak kan juga saudaramu, Dam!" seru Harsha yang tak terima atas penuturan dari Adam.


Adan melihat kearah Harsha. "Iya. Bahkan kalian juga," sahut Adam sembari menatap Gala, Arka, Ardi, Kenzie dan Sakha.


"Ya, Dam! Kau kejam sekali," sahut Arka.


"Bukankah aku memang sudah kejam dari dulu ya. Apalagi kalau sudah berurusan dengan kalian." Adan menjawab dengan santainya.


Mereka hanya bisa menghela nafas mendengar penuturan dari Adam.


"Ach, sudahlah. Lebih baik aku ke kelas saja. Dari pada aku lama-lama disini otakku akan benar-benar bisa pecah. Apalagi melihat dua makhluk egois seperti mereka tuh," ucap Adam sembari menunjuk kearah Danish dan Vigo menggunakan dagunya.


Danish dan Vigo melotot dan melongo mendengar penuturan dari Adam. Yang lainnya jangan ditanya lagi. Mereka tertawa nista.


"Hahahahahaha."