
Adam saat ini berada di rumah keluarga Abimanyu. Lebih tepatnya berada di kamarnya. Lima hari yang lalu Adam berada di rumah keluarga angkatnya yaitu keluarga Adiyaksa. Hidupnya saat ini benar-benar bahagia. Dirinya memiliki dua keluarga yang sangat menyayanginya.
Anggota keluarga Abimanyu saat berada di ruang tengah. Mereka berkumpul di sana untuk saling mengobrol dan melepaskan rasa rindu karena lelah bekerja seharian di luar rumah.
"Bagaimana kuliah kalian anak-anak?" tanya Bagas.
"Baik, Pa." Harsha, Ardi dan Danish menjawab secara bersamaan.
"Bahkan ada kejadian yang sangat unik, mengharukan dan juga sangat lucu, Papa, Papa Bagas." Harsha berucap sembari melirik Danish. Danish yang mengerti arti dari lirik mata Harsha hanya bisa pasrah dan diam.
"Apa itu, sayang?" tanya Davan yang sangat penasaran. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka sudah tidak sabaran untuk mendengarkannya.
"Ini ceritanya antara sikurus melawan sikeras kepala dalam merebut perhatian sikelinci liar kesayangan kita," jawab Harsha.
"Jangan bilang kalau sikeras kepala itu Danish dan sikurus itu Vigo, kakak angkatnya Adam!" seru Garry.
"Yup! Kau benar sekali kak Garry. Memang merekalah." Harsha menjawabnya dengan penuh semangat.
"Ayo, buruan Harsha. Ceritakan pada Mama. Mama sudah tidak sabaran ingin tahu." Utari jadi semangat ingin mengetahui apa yang akan diceritakan oleh Harsha.
"Aish. Mama," ucap Danish kesal.
"Sudah kamu diam saja dan duduk manis di samping Papamu itu," kata Utari yang memang sengaja menjahili putra keduanya itu.
"Baiklah. Aku akan mulai ceritanya. Jadi begini."
FLASHBACK ON
"Yah, Allan! Mau sampai kapan kau akan memeluk kuda nil itu?" tanya Vigo. Dirinya benar-benar cemburu melihat Allan yang memeluk Danish.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah jika aku memeluk kakakku sendiri?" Adam balik bertanya tanpa melihat Vigo.
Sedangkan yang lainnya berusaha tidak tertawa saat mendengar penuturan dari Adam. Mereka hanya setia mendengar dan menyaksikan perbincangan antara sikelinci dan sikurus.
"Tidak ada yang salah," jawab Vigo.
"Lalu kenapa kakak berbicara seperti itu?" tanya Adam.
Adam sebenarnya tahu kalau Vigo cemburu melihat dirinya memeluk sang kakak.
"Kakak tidak suka kau terlalu lama berpelukan dengan sikuda nil itu. Bagaimana pun aku juga kakakmu dan kau adiknya kakak?" kata Vigo.
"Sejak kapan aku menjadi adikmu? Dan sejak kapan juga kakak menjadi kakakku. Setahuku, aku hanya memiliki 2 kakak. Mereka adalah Ayden Garry Bimantara dan Danelio Danish Bimantara."
Danish tersenyum bangga mendengar ucapan Adam, lalu Danish melihat kearah Vigo. Detik kemudian, Danish menjulurkan lidahnya.
"Wleeee." Danish mengejek Vigo sembari mempererat pelukannya.
"Dasar bajingan rakus," gumam Vigo. Dan gumamannya terdengar oleh mereka semua, termasuk Adam.
"Siapa yang bajingan rakus, kak Vigo? tanya Adam.
"Siapa lagi kalau orang yang kau peluk itu, Allan!" jawab Vigo jujur. "Dengan rakusnya dia hanya memilikimu sendirian. Apa dia pikir kita-kita disini bukan manusia? Bagaimana pun kau itu juga adik hyung dan adik kita semua. Kita juga ingin memelukmu," ucap Vigo.
"Aku tidak keberatan untuk dipeluk oleh kalian. Justru aku senang," sahut Adam.
Vigo tersenyum bahagia mendengar ucapan Adam. Saat Vigo membuka suara. Adama yang melihatnya pun langsung memotongnya terlebih dahulu. "Kecuali dirimu, kak Vigo. Aku ogah dipeluk olehmu."
"Hahahahaha." itu bukan mereka yang tertawa. Melainkan Danish.
FLASHBACK OFF
"Tidak sampai disitu saja. Ketika mendengar perkataan kejam dari Adam sehingga membuat Vigo tak percaya. Ditambah lagi dengan kak Danish yang tertawa puas. Akhirnya terjadi perang mulut antara sikeras kepala sama sikurus."
"Ketika keduanya ingin protes, Adam langsung mengeluarkan jurus andalannya yaitu akan mogok bicara dan mengabaikan kak Danish dan kak Vigo selama dia mau."
"Mendengar ucapan dan ancaman dari Adam seketika kak Danish dan kak Vigo langsung menutup mulutnya rapat-rapat sembari tatapan matanya menatap kearah Adam."
Mendengar cerita dari Harsha, seketika tawa para kakak-kakaknya, baik kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya pecah. Begitu juga dengan para orang tua. Mereka tidak menyangka jika Danish dan juga Vigo begitu takut terhadap ucapan dan ancaman dari Adam.
"BHAHAHAHAHA."
"Kau benar-benar lucu sayang. Segitu takutnya kamu untuk kehilangan adikmu," ejek Evan.
"Aish. Kalian benar-benar menyebalkan, ya! Di kampus aku habis-habisan diserang oleh marmut kurus itu. Bahkan Adam juga. Sekarang di rumah kalian juga menyerangku," ucap Danish kesal.
"Hei, santai man. Jangan galak- galak jadi laki. Ntar lambat dapat jodoh," ejek Garry.
"Kakaaakkk!" teriak Danish.
Mereka yang mendengar teriakan Danish langsung menutup telinga mereka. Mereka semua masih sayang dengan pendengaran mereka.
"Ini di rumah bukan di hutan. Kalau mau teriak-teriak di hutan sana!" teriak seseorang.
DEG!
Mereka terkejut mendengar teriakan dari arah lain, lalu mereka semua mengalihkan pandangannya melihat keasal suara. Dapat mereka lihat. Adam sudah duduk cantik di anak tangga paling bawah.
Danish yang melihat adiknya yang duduk di anak tangga mendengus kesal dan menatap tajam kearahnya.
"Jangan tatap aku seperti itu, apalagi dengan mata yang lebar begitu. Apa kau mau bola matamu jatuh ke bawah?" Adam masih terus menjahili sang Kakak.
Utari, Evan dan yang lainnya tersenyum gemas sekaligus geleng-geleng kepala mendengar penuturan dari Adam.
"Yak! Dirandra Adamka Bimantara. Aku ini kakakmu. Kenapa kau tidak menyebutku kakak, hah?!" teriak Danish kesal akan sikap adiknya.
"Ooh, maaf. Akukan lagi AMNESIA. Jadi aku tidak ingat kalau kau itu kakakku. Yang aku ingat saat ini adalah aku Adam lebih tepatnya Dirandra Adamka Abimanyu. Aku memiliki Papa yang paling tampan, tapi aku gak tahu siapa namanya."
Evan yang mendengar ucapan dari Adam membelalakkan matanya tak percaya atas apa yang diucapkan oleh putra bungsunya. Utari melihat kearah suaminya dan membisikkan sesuatu ditelinganya. "Jangan diambil hati akan ucapan putra bungsumu itu sayang. Dia sengaja melakukan hal itu."
Evan yang mendengar ucapan sang istri tersenyum. "Jangan khawatir sayang. Aku tahu dan aku tidak akan bisa memarahi putra bungsuku itu. Dia sangat berharga bagiku. Sama seperti halnya dengan Garry dan Danish. Mereka harta terindahku," jawab Evan kepada Utari istrinya. Utari bahagia mendengar ucapan suaminya.
"Dan aku memiliki satu orang kakak yaitu aish aku lupa namanya."
Garry yang mendengar ucapan Adam hanya bisa tepuk jidat.
"Dan dua orang kakak sepupu yaitu sialien dan siberuang kutub." Adam memang sengaja ingin cari ribut dengan para kakaknya dengan cara mengejek dan mengumpati mereka.
Harsha dan Ardi yang mendengar penuturan dari Adam membelalakkan matanya. "Dasar siluman kelinci sialan," batin Harsha dan Ardi.
Sedangkan anggota keluarga yang lainnya hanya bisa pasrah, diam dan geleng-geleng kepala sembari terus menyaksikan pertunjukan tersebut.
"Dan aku pikir-pikir lagi. Aku tidak memiliki kakak selain mereka bertiga," kata Adam.
"Yak! Adam. Sikapmu benar-benar menyebalkan ya hari ini. Dari mulai di kampus dan sekarang kau melanjutkannya di rumah. Awas kau ya! Kakak tidak akan melepaskanmu kali ini." Danish langsung melangkah menghampiri adiknya.
Adam yang melihat kakaknya melangkah mendekatinya langsung berdiri dari posisi duduknya. Kemudian membalikkan badannya untuk bersiap-siap berlari menuju kamarnya.
"Kingkong mengamuk. Kabuuuurrr!" Adam pun berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.
"Adan, jangan kabur kau!" Danish pun langsung mengejar Adam yang sudah terlebih dahulu berlari.
Mereka yang melihatnya hanya tersenyum gemas dan juga bahagia.