THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Profokasi



Danish dan teman-temannya sudah berada di Kampus. Mereka tengah bersantai di markas. Dikarenakan hari ini ada pertemuan orang tua jadi para mahasiswa dan mahasiswi diberikan waktu untuk bersantai sampai acara selesai.


"Maaf, Paman. Apa paman ayahnya Danish?" tanya pemuda yang tiba-tiba datang.


"Iya. Saya ayahnya Danish. Ada apa, ya?" tanya Evan balik.


"Aku hanya ingin memberitahumu soal kejadian yang menimpa putramu satu minggu yang lalu dan mengakibatkan putramu tidak sadarkan diri selama dua hari di rumah sakit." tutur pemuda itu.


"Dari mana kau tahu kalau putraku dirawat di rumah sakit?" tanya Evan.


"Aku saudaranya Prana. Dan Prana itu adalah sahabat putramu," jawab pemuda itu.


"Apa yang kau ketahui tentang masalah putraku?"


"Putramu selalu dibully oleh teman sekelasnya. Bahkan putramu itu sering dikeroyok oleh kelompok tersebut. Mereka menamai kelompoknya dengan sebutan Brainer. Mereka juga yang sudah membuat putramu tidak sadarkan diri di rumah sakit." pemuda itu berbicara sambil tersenyum menyeringai.


"Siapa nama teman sekelasnya yang sudah menyakiti putraku?" tanya Evan.


"Adam. Dirandra Adamka Abimanyu. Dia ketua dari kelompok Brainer," jawab pemuda itu.


"Dirandra Adamka Abimanyu! Aku pernah mendengar nama itu tapi dimana? Aah.. aku ingat! Apa pemuda yang pernah ditolong oleh putra sulungku saat itu? Nama pemuda itu juga Dirandra Adamka Abimanyu," batin Evan.


"Lebih baik paman tegur dan marahi anak itu. Kalau Paman tidak menegurnya. Takutnya dia akan menyakiti putra Paman lagi." Pemuda itu berbicara sambil terus meyakinkan Evan. 


"Nah! Itu dia anaknya, Paman!" seru pemuda itu langsung menunjuk kearah Adam yang baru datang bersama para kakaknya memasuki halaman Kampus. "Dia bersama kelompoknya."


Ditempat lain, Adam dan keenam kakak-kakaknya sudah berada di halaman Kampus. Mereka terus melangkahkan kaki tanpa menghiraukan orang-orang disekitarnya. Dan langkah mereka terhenti saat seorang pria paruh baya berdiri tepat didepan mereka.


"Paman," sapa Adam ramah.


"Adam. Kau kenal dengan paman ini?" tanya Gala.


"Ya, kak. Paman ini adalah Papanya kak Garry pemuda yang menolongku saat aku jatuh dari motor saat itu," jawab Adam.


"Ooo." para kakak-kakaknya hanya ber o ria saja.


"Ada apa, paman?" tanya Adam lembut.


"Apa yang sudah kau lakukan pada putraku?!" tanya Evan.


"A-apa maksud, paman? Aku tidak mengerti?" tanya Adam bingung.


"Danish! Apa yang sudah kau lakukan padanya, hah?!" bentak Evan sehingga terdengar oleh mahasiswa dan mahasiswi lainnya.


"Jadi Paman ini adalah Papanya Danish," batin Adam.


"Aku tidak melakukan apapun pada Danish. Justru dia yang selalu menggangguku," jawab Adam membela dirinya.


"Jangan suka berbohong karena itu tidak baik," ketus Evan.


"Aku tidak berbohong. Putramu yang selalu menggangguku. Dia selalu menyakitiku dan dia juga yang selalu mengajakku untuk bertarung. Bahkan putra kesayanganmu itu yang selalu membully mahasiswa di kampus ini," ucap Adam yang mulai kesal.


"Putraku tidak mungkin melakukan hal itu. Dan kenapa juga Danish mau melakukan itu padamu. Apa untungnya baginya?" tanya Evan.


"Karena dia tidak menyukaiku. Dia membenciku karena aku hanya mahasiswa baru pindahan dari Amerika. Dia iri dan cemburu padaku karena aku dekat dengan Rektor dan Dekan. Bahkan mereka mau mematuhi semua kemauanku. Tidak dengan putramu," jawab Adam.


"Tunggu dulu. Apa yang dikatakannya barusan? Dia mengatakan pindahan dari Amerika? Orang suruhanku juga mengatakan kalau putra bungsuku juga mahasiswa pindahan dari Amerika. Apa dia putra bungsuku? Atau ini hanya kebetulan saja?" batin Evan.


Evan menatap intens wajah Adam. "Ach, tidak-tidak. Ini hanya kebetulan saja," batin Evan, lalu menepis apa yang ada di pikirkannya.


"Aku tidak percaya. Kau jangan mengarang cerita!" bentak Evan.


"Aku bicara apa adanya, Paman."


"Aku peringatkan padamu. Jangan pernah mengganggu putraku lagi. Kalau kau sampai berani mengganggu putraku, aku akan..."


"Aku akan membuatmu keluar dari Kampus ini dan memasukkan namamu kedaftar hitam seluruh Kampus." Evan berbicara dengan penuh penekanan dan ancaman.


Mendengar perkataan dari Evan. Seketika tawa Adam pun pecah.


"Hahahahahaha. "


"Kenapa kau tertawa?" kesal Evan.


"Tidak. Hanya Lucu saja."


"Aku tidak main-main dengan ucapanku," ucap Evan.


"Aku juga tidak akan main-main.


Kalau putramu yang terlebih dahulu mencari gara-gara denganku, aku siap melayaninya. Bertarung sampai mati dengan putramu itu."


Evan sudah tidak bisa menahan emosinya menghadapi Adam yang super ngeselin. Baru kali ini seorang Evan kehabisan kata-kata melawan seorang bocah ingusan seperti Adam. Semua perkataannya sukses dijawab dengan enteng oleh Adam.


"Kau benar-benar anak kurang ajar. Apa susahnya mematuhi perintahku? Apa begini caranya kau berterima kasih kepada orang yang telah menyelamatkan nyawamu?"


"Aaaaaa! Setahuku yang menyelamatkanku waktu itu adalah seorang pemuda yang sangat tampan. Bukan seorang laki-laki tua seperti Paman. Dan kalau pun aku mau membalas kebaikan orang itu, aku akan menunggu orang itu yang memintanya langsung."


"Kau...!" Evan berucap dengan wajah penuh emosi.


"Jangan marah-marah, Paman. Nanti Paman bisa terkena serangan jantung.  Kalau sampai hal itu terjadi aku yang repot. Aku tidak mau mengurusi Paman saat terkapar di halaman Kampus ini," ucap Adam santai tanpa mempedulikan raut wajah emosi Evan


Ardi, Harsha dan yang lainnya sudah mati-matian menahan tawa mereka menyaksikan perdebatan antara Adam dan ayahnya Danish. Dalam pikiran mereka, kelinci mereka ini memang tidak pernah ada kata takut pada siapa pun. Selama dirinya merasa benar.


"Kau tidak punya sopan-santun sama sekali pada orang tua. Apa kau tidak pernah diajarkan oleh kedua orang tuamu, hah? Apa begini cara mereka mendidikmu?!" bentak Evan.


"Cukup, Paman. Jangan bawa-bawa orang tuaku. Dia tidak bersalah dan dia tidak mengetahui masalah ini. Satu hal yang harus Paman ketahui tentang hidupku. Dari aku lahir sampai aku tumbuh dewasa. Mama selalu merawatku, menjagaku dan menyayangiku. Mama mendidikku dengan baik. Dan mama tidak pernah mengajarkanku hal-hal buruk, apalagi berlaku tidak sopan pada orang yang lebih tua. Sedangkan Papa.. oh maksudku bajingan itu. Aku tidak tahu kabarnya. Dan aku tidak mau tahu tentang dirinya. Apa dia masih hidup atau sudah mati, aku tidak peduli. Jadi, tolong jangan menghina mamaku. Dia perempuan yang begitu sempurna dalam hidupku. Hanya dia yang aku miliki, setelah bajingan itu mencampakkanku dan Mamaku!" bentak Adam.


Setelah mengatakan hal itu, Adam berlalu pergi meninggalkan Evan yang mematung.


DEG!


"Kenapa hatiku begitu terluka mendengar perkataan Adam. Lalu apa yang barusan Adam itu katakan? Adam hanya dirawat dan dijaga oleh ibunya tanpa seorang ayah disampingnya. Apa jangan-jangan dia?" batin Evan.


Setelah perdebatan dirinya dengan Adam. Evan memutuskan menuju aula Kampus karena disana sudah berkumpul para orang tua.


BRAKK!


Pintu di buka paksa oleh seseorang. Ya, siapa lagi kalau bukan Arya pelakunya.


"Apa-apaan sih kau, Arya? Kenapa membuka pintu sekasar itu?" tanya Indra.


"Gawat, Danish. Aku barusan melihat Papamu bertengkar dengan Adam!" seru Arya.


"Apa?!" teriak Danish.


"Kau melihat mereka dimana?" tanya Danish.


"Di halaman Kampus," jawab Arya.


Danish pun langsung berlari pergi meninggalkan markas menuju halaman kampus, diikuti oleh teman-temannya di belakang. Dirinya tidak mau terjadi sesuatu pada ayahnya.


Saat tiba di halaman Kampus, Danish tidak menemukan keberadaan ayahnya dan halaman kampus pun terlihat sepi.


"Semoga Papa baik-baik saja," batin Danish.


"Kita duduk disini saja tidak usah kembali ke markas dulu. Aku hanya ingin memastikan kalau Papaku baik-baik saja," ucap Danish. Teman-temannya pun mengangguk.