THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Memulai Aksi



Adam berada di ruang tengah bersama anggota keluarganya. Adam saat ini sedang fokus dengan layar laptopnya. Adam sedang masuk ke dalam akun data Perusahaan milik Kakak laki-laki dari Areta Dhira Kalyani menggunakan email palsunya. Adam sudah mendapatkan nama Perusahaan dan juga nama dari Kakak laki-laki Dhira.


Pertama Adam melakukan RISET terlebih dahulu. Riset ini sangat penting digunakan sebagai acuan langkah-langkah berikutnya.


Setelah melakukan Riset. Adam melakukan INFILTRASI. Adam mulai beraksi dengan berupaya menembus jaringan target. Biasanya hal ini dilakukan melalui celah keamanan yang ditemukan.


Setelah itu Adam mulai ke tahap selanjutnya yaitu MENCARI DAN MENGAMBIL DATA. Adam mulai mencari data penting. Sasaran Adam adalah informasi sensitif, seperti PIN atau data keuangan.


Setelah Adam berhasil mendapatkan PIN dari data keuangan Perusahaan YH'NesKyani dan sedikit informasi yang begitu sensitif. Adam pun memulai aksinya.


Adam menguras semua jumlah kas keuangan Perusahaan YH'NesKyani tanpa meninggalkan sedikit pun, lalu semua uang itu dimasukkan ke dalam rekening pribadi milik Liam Dennis Adiyaksa dan ke kas Perusahaan DNNs CORP milik Dennis.


Adam juga memasang notifikasi untuk pengiriman tersebut. Dan notifikasi itu akan masuk ke dalam email milik Yohanes Kalyani, Kakak laki-laki Areta Dhira Kalyani.


Adam memberikan waktu dua hari untuk notifikasi itu masuk ke dalam email milik Yohanes. Dirinya melakukan hal itu untuk membuat permusuhan keduanya. Dan saling membunuh.


Adam sudah mendapatkan informasi dari salah satu tangan kanannya Zelo yang diperintahkan untuk menyelidiki latar belakang keluarga Adiyaksa dan keluarga Kalyani.


Dari hasil penyelidikan tersebut bahwa Yohanes memiliki sifat pemarah. Yohanes akan marah besar kepada siapa pun yang mengkhianatinya. Tak terkecuali anggota keluarganya sendiri.


Yohanes tidak akan segan-segan menyakiti bahkan menyiksa orang yang sudah berani menipunya dan mengkhianatinya.


Untuk Liam Dennis Adiyaksa memiliki sifat pendendam. Dirinya tidak akan pernah memaafkan orang-orang yang melakukan kesalahan padanya. Apalagi ada orang yang sudah memfitnahnya. Pantang bagi seorang Dennis untuk memaafkan orang-orang tersebut.


Sama hal seperti Yohanes. Dennis tidak akan segan-segan menyakiti orang-orang tersebut sekali orang-orang itu keluarganya sendiri.


Dengan Adam menekan ENTER maka pekerjaan selesai. Tinggal tunggu informasi permusuhan dua kakak adik itu.


"Selesai!" seru Adam dengan senyuman manis di bibirnya.


Mereka yang mendengar seruan dari Adam langsung mengalihkan pandangannya melihat kearah Adam. Dan dapat mereka lihat Adam yang saat ini tengah bahagia.


"Kita lihat apa yang akan terjadi antara Yohanes Kalyani dan Liam Dennis Adiyaksa," ucap Adam sembari tersenyum manis.


Adam membayangkan perkelahian antara Yohanes dan Dennis. Kakak adik yang saling pukul-pukulan, beradu kekuatan sampai berakhir penyiksaan. Dan akan hanya ada satu pemenangnya.


"Eheem." Evan tiba-tiba berdehem. Dan hal itu sukses membuat Adam terkejut. Mereka yang melihat Adam yang terkejut tersenyum gemas.


Adam melihat satu persatu wajah anggota keluarganya yang saat ini tengah melihatnya. "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"


"Seharusnya kami yang bertanya padamu anak kelinci. Ngapain kamu senyam senyum sendiri?" tanya Rafig.


"Masih waras kan? Kamu gak gila kan? tanya Juan.


Mendengar pertanyaan dari kedua kakak sepupunya membuat Adam merengut kesal. "Serba salah. Giliran orangnya diem dan nggak mau bicara. Dipaksa untuk bicara. Giliran orangnya dingin gak ada senyuman sama sekali. Disuruh senyum. Sekarang orangnya udah bawel, udah senyum. Malah katain gila. Benar-benar menyesalkan."


Mereka saling lirik satu sama lainnya ketika mendengar perkataan Adam yang terakhir. Setelah itu, mereka kembali menatap Adam.


"Menyebalkan kali. Bukan menyesalkan," sahut Ardi membenarkan.


"Bodo," jawab Adam.


Mereka tersenyum gemas melihat wajah merengut Adam. Mereka saat ini bisa sedikit bernafas lega karena mood Adam saat ini benar-benar sangat bagus.


Melihat mood Adam yang sangat bagus hari ini. Amirah berusaha untuk menarik perhatian cucunya itu.


"Adam sayang," panggil Amirah.


Baik Amirah maupun anggota keluarga lainnya was-was menunggu reaksi dari Adam ketika Amirah memanggilnya.


Adan berlahan melihat kearah sang Nenek. Dapat dilihat oleh Adam ada tatapan penyesalan, kerinduan dan juga kasih sayang yang tulus untuknya di mata neneknya.


"Jika nenek ingin memelukku. Peluk aku sekarang juga." Adam berbicara dengan lantangnya.


Mendengar ucapan dari Adam. Baik Amirah maupun anggota keluarga lainnya benar-benar terkejut. Apa mereka tidak salah dengar barusan. Seorang Adam mau dipeluk oleh Neneknya.


"Kenapa? Tid..." perkataan Adam terpotong karena Amirah langsung mendorong kursi rodanya kearah Adam dibantu oleh Garry.


Amirah sudah duduk di samping Adam dibantu oleh Garry. Tanpa pikir panjang lagi, Amirah langsung memeluk Adam.


Adam yang mendapatkan pelukan oleh sang nenek juga ikut memeluk balik neneknya.


"Maafkan nenek sayang," lirih Amirah.


"Tidak perlu dibahas masalah itu. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku sudah memaafkan nenek jauh sebelumnya. Maaf kalau selama ini aku selalu bersikap kasar sama nenek."


Mereka semua tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan Adam. Hati mereka menghangat ketika Adam dengan tulus meminta maaf kepada neneknya akan sikap kasarnya selama ini.


"Tidak apa sayang. Nenek tidak marah padamu. Kau melakukan hal itu karena memang nenek yang salah."


Ketika Amirah dan Adam saling berpelukan. Diam-diam Garry memotret keduanya. Setelah berhasil mendapatkan foto keduanya. Garry menguploadnya ke Instragram miliknya.


"Jangan coba-coba kakak mengirimnya ke Instragram milik, kakak!" seru Adam.


Garry langsung melotot ketika mendengar seruan dari adik bungsunya. Mereka yang melihat keterkejutan Garry hanya tersenyum. Bahkan ada yang tertawa. Yang tertawa itu siapa lagi kalau bukan Danish, Ardi dan Harsha.


"Hahahahaha." ketiganya tertawa dengan sangat kerasnya.


TING! TONG!


Pelayan datang dari arah belakang menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


Setelah beberapa detik, pelayan itu datang kembali ke ruang tengah.


"Maaf tuan muda Adam. Ada tamu yang mencari tuan muda Adam."


"Tamu untuk saya. Siapa Bi?"


"Katanya dia seorang pengacara."


"Pengacara," batin Adam.


Adam berpikir sejenak tentang pengacara tersebut.


FLASHBACK ON


"Ti-dak, sayang. Papa ha-rus menyam-paikan-nya seka-rang. De-ngarkan Pa-papa. Pertama, k-kau ada-lah kepona-kan Pa-pa. Pa-papamu adalah ka-kak kan-dungnya Pa-papa. Kedua, ke-luarga Adiyaksa ingin mere-but Peru-sahaan milik Pa-papa dan ju-ga ru-mah me-wah yang Papa beli un-tuk keluarga Pa-pa. Ja-di untuk meng-gagalkan niat mere-ka. Papa telah memindah-kan ke-pemi-likan Pe-rusa-haan Papa dan kepe-milikan ru-mah me-wah itu men-jadi atas nama-mu. De-ngan begitu, mere-ka ti-dak bisa merebut-nya. Papa me-makai nama aslimu dan me-makai marga dari ibu kan-dungmu. Dirandra Adamka Abimanyu. Ketiga, perem-puan ya-ng bernama Areta Dhira Kalyani dan Kakak laki-lakinya akan menya-kiti ayahmu. Mere-ka akan mem-balas den-dam kepa-da keluar-ga Bimantara. Kau ha-rus melin-dungi keluarga-mu, sa-yang. Terutama Papamu."


FLASHBACK OFF


Adam membelalakkan matanya ketika telah mengingat tentang pengacara tersebut. Adam berpikir jika pengacara itu adalah pengacara ayahnya Liam Levi Bimantara.


Adam langsung beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan diikuti oleh anggota keluarganya di belakang.


^^^


Kini Adam dan anggota keluarganya telah berada di ruang tamu.


"Maaf jika saya mengganggu anda tuan," ucap pengacara itu sopan.


"Tidak apa-apa tuan," jawab Adam. "Ada hal apa tuan ingin bertemu dengan saya?"


"Tuan pasti sudah tahu dari tuan Levi mengenai kepemilikan Perusahaan tuan Levi beserta rumah mewah yang ditempati oleh tuan Levi dan keluarganya selama ini?"


"Iya. Papa sudah memberitahuku. Papa melakukan pemindahan kepemilikan Perusahaan dan rumah mewah tersebut atas namaku. Papa memakai nama asliku Adam dan menggunakan marga ibuku Abimanyu. Jadi Perusahaan Papa dan rumah mewah yang ditempati oleh Mama dan kedua kakakku atas namaku Dirandra Adamka Abimanyu."


Mendengar jawaban dari Adam. Pengacara itu pun mengangguk. Jadi pengacara itu tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar.


"Baiklah. Karena anda sudah tahu. Maka saya ingin menyerahkan sertifikat dan juga beberapa berkas ini kepada anda. Dengan begini Perusahaan tuan Levi dan Rumah tersebut sudah resmi menjadi milik anda."


"Tidak tuan. Perusahaan dan rumah itu tetap milik keluargaku. Milik Mama Celena Bimantara, Nicolaas Liam Bimantara dan Vigo Liam Bimantara. Aku hanya menjaganya saja agar tidak direbut oleh manusia serakah itu," jawab Adam.


Mendengar ucapan dari Adam mereka semua tersenyum bangga. Begitu juga dengan pengacara tersebut.


"Anda beruntung memiliki putra angkat sepeti tuan Allan, tuan Levi!" pengacara itu berbicara di dalam hatinya sembari menatap penuh bangga Adam.


"Sekarang tanda tangan berkas itu, tuan Allan!" seru pengacara itu.


Adam pun langsung menandatangani berkas itu. "Papa. Izinkan aku menandatangani berkas ini. Setelah ini aku berjanji. Selama aku masih bisa bernafas. Aku akan menjaga Mama, kak Nicolaas dan kak Vigo. Papa tenang saja disana," batin Adam.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu tuan."


Pengacara itu pergi meninggalkan kediaman keluarga Abimanyu.


Utari menatap wajah putra bungsunya. "Sebenarnya ada apa sayang? Kenapa Papa Levi mengalihkan Perusahaan dan rumah itu atas namamu? Kenapa bukan kedua putranya?"


"Papa Levi mengetahui jika saudara angkatnya itu akan merebut Perusahaan dan rumah milik Papa. Dengan Papa memindahkan atas namaku dan memakai nama asliku dan menggunakan marga Abimanyu. Maka aku akan dengan muda merebut kembali Perusahaan dan rumah itu jika pria brengsek itu berhasil merebutnya dari Mama Celena, kak Nicolaas dan kak Vigo."


Mendengar ucapan dari Adam. Mereka semua mengangguk paham.


Adam menatap kearah kakeknya. "Kakek," panggil Adam.


"Iya, sayang! Ada apa?"


"Keluarga Abimanyu bukankah bekerja sama dengan pihak kepolisian? Dan kalau tidak salah dulu keluarga Adiyaksa dan keluarga Kalyani pernah mencari masalah dengan keluarga Abimanyu. Dan berakhir mereka meminta maaf dan berjanji tidak akan pernah mengusik keluarga Abimanyu lagi. Bahkan dua keluarga itu mendapatkan surat peringatan hari pihak kepolisian. Bukan itu saja. Pihak kepolisian memberikan wewenang penuh kepada keluarga Abimanyu untuk membalas orang-orang yang masih berani mengganggu keluarga Abimanyu orang-orang itu sudah mendapatkan surat peringatan dari pihak kepolisian?"


"Iya, itu benar sayang. Keluarga Kalyani dan keluarga Adiyaksa dulu pernah berbuat hal buruk kepada keluarga Abimanyu. Dan dua keluarga itu berjanji untuk tidak mengusik keluarga Abimanyu lagi. Kakek masih menyimpan surat peringatan dan juga surat perjanjian itu. Surat peringatan atau pun surat perjanjian itu berlaku seumur hidup untuk seluruh anggota keluarga Abimanyu. Sekali pun kepala kepolisiannya sudah ganti."


"Aku mau salinana surat peringatan itu, Kek!"


"Baik sayang. Nanti Kakek akan ambilkan di kamar. Kakek sudah memperbanyak surat peringatan itu. Gunanya untuk kalian semua."


"Dan satu hal yang belum kalian ketahui." Yodha menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. "Surat peringatan itu sudah diperbarui. Jadi bukan keluarga Abimanyu saja yang dilindungi oleh hukum. Berlaku untuk keluarga Bimantara juga, termasuk Mama dan kedua kakak angkatmu."


Mendengar ucapan dari Yodha membuat Evan tersenyum bahagia. "Benarkah, Pa?" tanya Evan.


"Benar sayang."


"Memangnya kapan Papa perbarui surat peringatan itu?" tanya Bagas.


"Sejak kejadian dimana Adam disekap dan dinyatakan meninggal dunia."


Mereka semua tersenyum bangga dan juga bahagia ketika mendengar ucapan dari orang yang mereka kagumi, hormati dan mereka sayangi.