
Tanpa diminta air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. Adam benar-benar terkejut saat mendengar cerita dari Ardi. Dirinya tidak menyangka jika istri kedua Ayahnya itu benar-benar nekat ingin membunuhnya dan Ibunya. Yang lebih tidak menyangka lagi adalah bahwa sang Nenek rela membunuh menantu idamannya demi melindungi nyawa ibunya.
"Hiks... Hiks... Hiks." Adam terisak.
Mendengar isakan Adam membuat hati mereka sesak. Mereka paling tidak suka jika melihat kesayangan mereka menangis, apalagi Ardi, Harsha dan Danish.
GREP!
Danish menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut punggungnya.
"Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan memikirkan cara untuk menolong Papa dan kakakmu. Semoga mereka baik-baik saja," hibur Danish.
"Dia masih hidup dan belum mati."
Mendengar ucapan Adam. Danish langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Dam. Apa maksudmu dia masih hidup?" tanya Gala.
"Adam," Ardi dan Harsha berucap secara bersamaan.
Adam melihat kearah Danish. "Mama kesayanganmu itu masih hidup. Dia juga yang menjadi dalang penculikan Papa dan kakak kesayanganku."
Adam sengaja berbicara seperti itu hanya ingin membuat Danish kesal.
Danish yang mendengar ucapan dari Adam membelalakkan matanya. Dirinya tidak terima akan ucapan adiknya itu.
TAK!
"Aakkkhhhh." Adam meringis saat merasakan jitakan dari Danish.
"Kenapa kau menjitakku, Danelio Danish Bimantara?" tanya Adam sarkas.
"Yak, Dirandra Adamka Bimantara! Aku ini kakakmu. Seenaknya saja kau menyebut namaku tanpa embel-embel kakak," kesal Danish.
"Aish. Biasanya juga aku selalu memanggilmu Danish. Mana pernah aku memanggilmu dengan sebutan kakak," jawab Adam.
"Yak! Itu dulu saat kita belum tahu kalau kita ini saudara. Sekarang kita ini adalah adik dan Kakak. Jadi kau harus memanggilku kakak." Danish menatap horor adiknya dengan menekan kata kakak.
"Yeeeyy! Itu namanya pemaksaan. Kalau aku gak mau, kau mau apa?" tanya Adam sambil menaik-naikkan alisnya.
"Dasar adik laknat. Siluman kelinci sialan," umpat Danish.
Mendengar umpatan dan ejekan dari Danish. Adam membulatkan matanya. Saat Adam ingin membalas umpatan dan ejekan Danish. Cakra sudah terlebih dahulu bersuara.
"Jika kalian masih ingin bertengkar akan aku pastikan besoknya kalian tidak akan bisa bicara lagi," sahut Cakra.
Mendengar penuturan dari Cakra. Baik Adam maupun Danish mengatup bibirnya. Hal itu sukses membuat mereka yang melihat tersenyum gemas.
"Aish! Disini siapa yang tuan rumah dan siapa yang tamu sih! Seenaknya saja mengancam orang," gumam Adam.
"Aku mendengarkan ucapanmu, Dirandra Adamka Bimantara!" seru Cakra.
"Ooppss!" Adam langsung menutup mulutnya dan jangan lupa matanya yang membulat
"Hahahaha." Mereka semua tertawa melihat wajah imut Adam saat ketahuan akan ucapannya.
"Oke, oke. Sekarang serius, Dam! Tadi kau mengatakan bahwa ibu tiri kalian masih hidup. Apa maksudnya ini? Jelas-jelas Bibi Dhira sudah meninggal," ucap dan tanya Kavi.
"Perempuan sialan itu memang masih hidup. Dialah yang menjadi dalang penculikan Papa dan kak Nicolaas. Dia dibantu oleh dua Kakak laki-lakinya. Satu kakak kandungnya dan satunya Kakak sepupunya. Kakak sepupunya itu adalah Lian Dennis Adiyaksa yang tak lain adalah saudara Papa."
"Brengsek! Dasar pria tua sialan. Kenapa dia selalu mengganggu Papa? Padahal Papa sudah pergi meninggalkan rumah itu dan membuka Perusahaan sendiri. Bahkan Papa pergi tidak membawa apa-apa, selain pakaiannya." Vigo berucap emosi.
Crisan dan Carlo yang duduk di sampingnya mengusap lembut lengannya.
"Sabar Go," ucap mereka berdua.
"Allan. Apa kau yakin pria brengsek itu terlibat?"
"Ya, aku yakin, kak! Aku sudah menghubungi seseorang untuk mencari informasi tentang penculikan Papa dan kak Nicolaas. Sekarang ini Papa dan kak Nicolaas disekap di sebuah markas milik kelompok Scorpio," jawab Adam.
"Scorpio," ulang Arka dan Sakha bersamaan.
"Iya," jawab Adam.
"Dam. Jangan bilang kelompok itu..." ucapan Arka terpotong.
"Iya, kakak Arka. Memang kelompok itu," jawab Adam.
"Brengsek! Ternyata mereka masih berani mencari masalah dengan kita," ucap Sakha marah.
"Mereka sudah berani melanggar perjanjian itu," sela Arka.
"Wah. Mereka ngajak perang nih!" seru Kenzie, Gala dan Harsha.
"Apa kau yakin kalau kelompok itu? Bisa saja kelompok lain yang kebetulan namanya sama." tanya Ardi.
"Aku yakin, kak Ardi. Aku mendapatkan informasi ini dari Zelo. Kakak Ardi tahukan Zelo siapa?" ucap Adam. Ardi mengangguk.
Zelo adalah seorang pakar komputer. Dirinya bisa melakukan apa saja dengan komputernya. Baik menggunakan komputer, laptop maupun ponsel.
Zelo bisa mengakses semua data-data penting, Zelo juga sebagai Hacker yang handal. Dirinya mampu meretas dan masuk ke dalam akun-akun milik orang lain. Baik aku dimedia sosial maupun akun-akun yang berhubungan dengan dunia bisnis. Bahkan Zelo tidak akan segan-segan untuk menonaktifkan akun-akun tersebut. Jika itu terjadi, sipemilik akun tersebut tidak akan bisa membuka akun miliknya lagi, sekali pun minta bantuan orang lain. Tidak ada yang bisa mengalahkan seorang Zelo dan bahkan melacaknya sekali pun.
Zelo juga mampu melacak setiap keberadaan orang-orang dari jarak yang cukup jauh. Hanya butuh 2 jam, Zelo berhasil menemukan lokasi orang yang dilacak.
Zelo memiliki kelompok dan kelompoknya itu satu tim dengan kelompok Brainer.
***
Vigo dan Ibunya masih berada di rumah keluarga Abimanyu. Awalnya Celena ingin kembali pulang ke rumahnya, namun dikarenakan masalah yang mereka hadapi sangat berat. Akhirnya Celena dan Vigo tetap berada di rumah keluarga Abimanyu.
Masalah yang datang bukan pada keluarga Adiyaksa saja. Tapi juga merabat pada keluarga Abimanyu. Apa yang menimpa keluarga Adiyaksa murni karena balas dendam dimasa lalu, termasuk kepada keluarga Abimanyu.
Saat ini anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah setelah melaksanakan sarapan pagi mereka.
"Vigo," panggil Celena.
"Ya, Ma. Ada apa?"
"Apa kita akan diam saja, Nak? Kita harus memikirkan sesuatu untuk menyelamatkan Papa dan kakakmu. Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka."
Vigo memeluk ibunya dan berusaha untuk menenangkan sang ibu.
"Semuanya akan baik-baik saja, Ma! Semoga tidak terjadi sesuatu pada Papa dan kakak. Percayalah!"
Adam hanya diam mendengar ucapan dari Celena, Ibu angkatnya. Di dalam hatinya tersimpan ketakutan akan Papa dan kakaknya itu.
"Brengsek! Kenapa masalah selalu datang menghampiriku dan keluargaku?" batin Adam.
"Nak, Celena. Kamu yang sabar ya. Bibi yakin semuanya akan baik-baik saja. Suamimu dan putramu akan kembali dengan selamat," hibur Amirah.
"Cih." Adam berdecak.
Mendengar decakan dari Adam membuat mereka semua menatap kearah Adam. Terlihat oleh mereka tersirat marah dan dendam di matanya.
"Apa anda yakin jika semuanya akan baik-baik saja, eemm? Bagaimana jika semua dugaan anda itu salah? Bagaimana jika ada yang mati diantara kita? Bisa saja aku, Mama, Papa, Paman, Bibi, Kakek atau bisa saja kakak-kakakku." Adam berbicara sembari menatap remeh sang nenek.
"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang? Nenek yakin dan sangat yakin. Semuanya akan baik-baik saja. Nenek juga yakin jika Papa dan kakak angkatmu itu pasti selamat," lirih Amirah. Amirah menatap sendu cucu bungsunya.
"Aku muak dengan semua ini. Aku muak!" teriak Adam. Adam tiba-tiba berdiri dan air matanya mengalir begitu saja.
Mereka yang mendengar teriakan Adam dan melihat Adam yang menangis menjadi tidak tega dan juga khawatir. Hati mereka benar-benar sakit jika melihat kesayangan mereka menjadi seperti ini.
"Kalau aku tahu keadaan menjadi seperti ini, lebih baik aku tidak kembali. Lebih baik aku mati dalam ledakan di dalam gudang itu. Kapan aku akan merasakan kebahagiaan seutuhnya tanpa ada gangguan dari orang lain. Apa belum cukup penderitaanku yang aku dapatkan dari kecil? Dan anda..." tunjuk Adam pada neneknya. "Kau adalah dalang dari semua ini. Jika saja kau tidak menyakiti Mama. Seandainya saja kau tidak memisahkanku dari Papa. Seandainya saja kau tidak menikahkan Papa dengan wanita sialan itu. Semua ini tidak akan terjadi. Aku membencimu. Aku membencimu!" teriak Adam.
Setelah mengatakan hal itu, Adam langsung berlari menuju kamarnya. Saat Danish ingin menyusul adiknya, Garry terlebih dahulu mencekal tangannya.
"Jangan ganggu dulu adikmu, Danish! Kalau kau menemuinya sekarang, itu akan memperkeruh keadaan. Yang ada kalian berdua akan saling membunuh!" seru Garry.
"Kakek setuju apa yang dikatakan kakakmu, Danish! Dalam keadaan seperti ini adikmu itu tidak akan mau mendengarkan siapa pun. Sementara dirimu memiliki sifat keras kepala dan juga gampang tersulut emosi. Beberapa hari ini kakek melihat kau selalu bertengkar dengan adikmu." Yodha berucap lembut.
Danish kembali duduk di sofa. Di dalam hatinya, Danish membenarkan apa yang diucapkan oleh kakak dan kakeknya. Dirinya memang gampang tersulut emosi. Dirinya gampang memancing keributan. Beda dengan adiknya yang berusaha untuk meredam semua masalah.
"Katakan pada Papa. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin Adam menjadi seperti ini. Setahu Papa kemarin Adam sudah sedikit menunjukkan sikap baiknya pada nenek kalian. Kenapa sekarang berubah lagi?" ucap dan tanya Evan.