
Seluruh anggota keluarga Abimanyu telah berkumpul di meja makan. Mereka akan sarapan pagi bersama.
Danish, Ardi dan Harsha sedari memperhatikan wajah-wajah para anggota keluarganya. Mereka benar-benar bingung 'Ada apa dengan mereka? Mereka masih waraskan?' Itulah yang mereka pikirkan saat ini.
"Papa, Mama. Kalian berdua kenapa?" tanya Harsha penasaran.
Davan dan Alin melihat kearah putra bungsunya. "Memangnya kami kenapa?" tanya balik mereka.
"Aish. Ditanya malah balik nanya, sih!" kesal Harsha dengan mempoutkan bibirnya.
"Hehehehehe." keduanya hanya terkekeh.
"Kalian benar-benar menyebalkan ya!" Harsha makin kesal melihat kelakuan kedua orang tuanya.
"Kalian juga kenapa?" tanya Ardi dan Danish bersamaan sambil menatap wajah kedua orang tua mereka masing-masing.
Utari dan Evan serta Bagas dan Alin melihat putra-putra mereka. "Kami!" seru mereka bersamaan sambil menunjuk diri mereka sendiri.
"Iya. Kalian," jawab Ardi dan Danish.
"Kami? Kami baik-baik saja," jawab Utari.
"Dan tidak terjadi apa-apa pada kami," jawab Alin.
"Kalian benar-benar menyebalkan," kata Ardi, lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Kalian tidak asyik," ucap Danish lalu pergi menyusul Ardi.
"Kalian..." Ardi menunjuk semua yang ada di meja makan.
"Iya, kami. Kenapa Harsha?" Davan.
"Aahh. Tahuu ach." Harsha pun pergi meninggalkan meja makan dan menyusul kedua kakaknya.
Setelah kepergian ketiganya. Mereka pun tertawa. "Hahahahahaha."
"Apa kalian sudah puas menjahili ketiga cucu-cucuku, hum?" tanya Yodha yang hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak dan menantunya.
"Sangat puas," jawab mereka kompak.
"Sudah, sudah. Hentikan kejahilan kalian pada putra-putra kalian itu. Lebih baik katakan yang sebenarnya pada mereka. Jangan buat mereka bingung," kata Yodha.
"Baiklah, Pa!" seru mereka.
^^^
Kini Ardi, Danish dan Harsha berada di ruang tengah. Mereka bertiga tampak kesal akan sikap kedua orang tua mereka masing-masing.
"Dasar orang tua menyebalkan," kata Harsha.
"Iya. Mereka benar-benar menyebalkan," kata Ardi.
"Teganya mereka seperti ini pada kita," ucap Danish.
"Jangan perlihatkan wajah kucel, sepet dan enek seperti itu," ejek Garry yang datang ke ruang tengah bersama anggota keluarga lainnya.
Mereka pun menduduki diri di sofa. Dan dapat mereka lihat wajah-wajah ketiganya yang sedang merengut. Mereka semuanya tersenyum.
"Hei, Danish. Kau itu tidak pantas ikut-ikutan merajuk seperti Harsha dan Ardi," sahut Garry.
"Memangnya kenapa?" tanya Danish yang menatap horor Kakaknya itu.
"Kau lihatlah mereka," kata Garry sambil menunjuk kearah Harsha dan Ardi.
Danish melihat Harsha dan Ardi, lalu kembali menatap sang Kakak. "Memangnya kenapa dengan mereka berdua?"
"Ardi dan Harsha itu sama-sama putra bungsu di dalam keluarganya. Dan kau itu bukan putra bungsu, tapi kau itu putra kedua dalam keluarga Bimantara," jawab Garry. Dirinya berusaha menahan tawanya.
"Memangnya ada peraturan kalau seorang putra kedua itu dilarang untuk ikutan merajuk atau bermanja-manja begitu?" tanya Danish kesal.
"Ya, memang tidak ada." Garry menjawabnya.
"Jadi gak salah dong kalau aku seperti ini?" tanya Danish.
"Eeemm! Tapi kalau menurut kakak sih itu tidak pantas. Karena wajahmu tak mengizinkan untuk hal-hal seperti itu," jawab Garry.
"Kakaaakk!" teriak Danish m
"Oke, Oke! Maafkan kakak," ucap Garry.
"Ardi, Harsha dan kau Danish. Mama ada kabar baik untuk kalian. Hanya kalian yang belum tahu masalah ini!" seru Utari.
Danish, Ardi dan Harsha mengalihkan pandangan mereka melihat kearah Utari.
"Ada apa, Ma?" tanya mereka kompak.
Mereka semua tersenyum gemas melihat ketiganya yang kompak saat bertanya.
"Begini. Ini tentang adik kesayangan kalian," ucap Utari.
"Adam," ucap mereka lagi.
"Eemm," jawab Utari.
"Ada apa, Ma! Ayo, buruan katakan pada kami!" mohon Ardi.
"Mama dan yang lainnya sudah sepakat untuk membawa pulang adik kalian. Walau ingatan adik kalian belum kembali, tapi tidak ada salahnya kalau kita membawanya pulang ke rumah," jawab Utari.
"Benarkah itu, Ma?" tanya Harsha.
"Iya. Itu benar!" semua anggota keluarga menjawab.
"Waah! Ini kabar yang sangat menggembirakan untuk kami!" seru Ardi.
"Ya. Kau benar, Sha! Kita akan berusaha pelan-pelan membantunya supaya ingat dengan kita lagi" sahut Danish.
Danish menatap wajah ibunya. "Mama tidak bercandakan. Mama dan kalian semua akan membawa adikku kembali pulang ke rumah ini?"
"Iya, sayang! Mama dan yang lainnya serius. Kita tidak akan membiarkan adikmu tetap tinggal dikeluarga Adiyaksa disaat kita semua sudah mengetahui faktanya," jawab Utari.
Danish menghampiri ibunya, lalu memeluknya. "Mama jangan khawatir. Aku akan membantu Mama agar Adam mau ikut dengan kita pulang. Sekeras apapun Vigo brengsek itu menahan adikku, dia tidak akan bisa. Aku akan tetap membawa adikku pulang."
"Iya, sayang! Kita akan merebut hak kita," kata Utari.
***
Allan sudah di kampus bersama Melky. Saat ini mereka sedang berada di kantin untuk sarapan, dikarenakan mereka berdua telat bangun paginya dan langsung buru-buru ke Kampus.
"Lo benaran gak apa-apa, Allan?" Melky khawatir.
"Gue baik-baik saja, Melky!"
"Mau cerita." Melky berharap Allan mau bercerita padanya.
"Gue bingung, Melky."
"Bingung kenapa? Lo cerita aja ama gue. Siapa tahu dengan lo cerita, beban lo berkurang?"
"Gue.. gue bukan putra kandung dari keluarga Adiyaksa. Dan... Kak Vigo bukan kakak kandung gue." air mata Allan pun mengalir.
"Apa? Lo serius?" Melky benar-benar kaget mendengarnya. "Lo tahu dari mana?" tanya Melky.
Saat Allan ingin menjawabnya, terdengar suara beberapa orang yang datang menyapa mereka berdua.
"Hallo Allan, Melky." Danish, Harsha, Ardi dan para sahabatnya menyapa Allan dan Melky, lalu mereka menduduki pantat mereka tepat di hadapan Allan dan Melky.
"Pagi kak." Melky menyapa balik, sedangkan Allan hanya diam. Dirinya masih memikirkan tentang apa yang didengar olehnya kemarin malam.
Danish memperhatikan wajah sendu Allan. "Kenapa dengan adikku? Tidak biasanya seperti ini. Biasanya dia selalu ceria kalau bersama Melky," batin Danish.
"Allan," panggil Harsha. Tapi yang dipanggil tak mendengarnya.
"Allan," panggil Harsha sekali lagi dengan menyentuh tangan Allan dan hal itu sukses membuat Allan terkejut
"I-yaa, kak." Allan terkejut.
"Kau kenapa, Allan? Sedari tadi kami perhatikan kau melamun dan wajahmu sedih gitu." ucap dan tanya Ardi.
"Kalau ada masalah ceritakanlah pada kami," kata Arka. Allan menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Aku mau ke kelas dulu, kak! Melky, aku duluan." Allan pun langsung pergi meninggalkan semuanya.
"Kenapa dengan adikku?" batin Ardi.
"Kau kenapa, Dam?" batin Harsha.
Saat Harsha ingin berdiri, tujuannya adalah ingin mengejar Allan. Melky terlebih dahulu menghentikannya.
"Jangan dikejar, kak Harsha! Biarkan Allan sendirian dulu. Pasti ini sangat berat untuknya," kata Melky.
Mereka semua menatap Melky. "Ada apa? Apa maksud dari perkataanmu itu, Melky?" tanya Ardi.
"Allan barusan mengatakan padaku bahwa dia bukan putra kandung dari keluar Adiyaksa," jawab Melky.
"Apa?" teriak mereka.
"Yak! Jangan teriak-teriak kak. Bisa-bisa pendengaranku rusak," protes Melky.
"Kau lagi sedang tidak berbohongkan, Melky?" tanya Danish dan Harsha bersamaan.
"Aku serius. Allan sendiri yang mengatakannya padaku. Bahkan Allan menginap di rumahku semalam. Dan Allan juga bilang kalau dia akan menginap di rumahku beberapa hari," ucap Melky.
"Allan sudah tahu kalau dirinya bukan putra kandung dari keluarga Adiyaksa. Apa ingatannya sudah kembali," batin Ardi.
"Kak Ardi. Apa ingatannya Adam sudah kembali? Kalau belum, Adam akan berusaha mati-matian untuk mencari tahu atau mengingat sesuatu tentang dirinya dan kita. Kalau sampai hal itu terjadi, ini bisa menyakiti dirinya sendiri. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya, kak." Harsha saat ini benar-benar khawatir akan adiknya.
"Tenang, Sha! Kita akan menjaganya. Kita akan selalu bersamanya," hibur Danish.
"Sebenarnya kalian ada hubungan apa dengan Allan. Dari awal aku melihat kalian. Kalian semua begitu peduli, sayang dan perhatian dengan Allan?" tanya Melky.
Mereka semua menatap wajah Melky yang kebingungan. "Baiklah, Melky! Kami akan memberitahu dirimu siapa kami dan siapa Allan," kata Harsha.
"Allan itu adalah Adam adik kami. Lebih tepatnya adik sepupuku dan Ardi."
"Dan adik kandungku," Danish menambahkan.
"Allan saat ini mengalami Amnesia. Makanya dia melupakan dirinya dan kami keluarganya," kata Ardi.
"Pantesan saja ada beberapa orang yang tiba-tiba datang dan memeluk Allan dan memanggilnya dengan sebutan Adam," ucap Melky.
"Apa kau tahu siapa mereka?" tanya Danish.
"Aku tidak kenal. Tapi mereka mengakunya sebagai sahabatnya Allan. Kalau tidak salah mereka ada sepuluh orang dan dua dari mereka mengaku sebagai sahabatnya Allan masa SMP," jawab Melky.
Ardi dan Harsha saling melirik. Lalu kembali menatap Melky. "Mereka pasti Jasmine dan Ariel," ucap Harsha dan Ardi bersamaan.
"Iya, iya! Kalian benar. Nama mereka berdua Jasmine dan Ariel," ucap Melky yang baru ingat nama tersebut.
"Ya, sudah kalau begitu kita temui Allan sekarang. Pasti saat ini Allan sedang sedih dan butuh orang di sampingnya. Aku takut terjadi sesuatu padanya," kata Cakra yang memberitahu sahabatnya.
"Melky. Lebih baik kau kembali ke kelas. Kalau seandainya Jungie terlambat masuk, kau izinkan dia pada Dosen," kata Sakha.
"Baiklah," jawab Melky.