THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Obrolan Ayah Dan Anak



Di kediaman keluarga Adiyaksa terlihat seorang pria paruh baya tengah duduk santai di sofa ruang tengah. Pria itu adalah Liam Dennis Adiyaksa.


Pria itu tersenyum bahagia karena rencananya untuk menyingkirkan saudara tirinya berjalan mulus. Saudara tirinya itu telah pergi untuk selamanya.


"Levi. Sebentar lagi Perusahaan dan rumah mewah milikmu akan menjadi milikku. Aku akan membuat istri dan kedua putramu akan menjadi gembel di jalanan. Seandainya dulu kau mau memenuhi keinginanku. Aku tidak akan melakukan hal keji itu terhadapmu." monolog Dennis.


***


Di kediaman Liam Levi Adiyaksa terlihat tiga manusia yang saat masih tampak sedih. Mereka adalah Celena, Nicolaas dan Vigo.


Setelah pemakaman selesai. Celena, Nicolaas dan Vigo memutuskan untuk kembali pulang ke rumah mereka.


Sementara Adam kembali pulang ke rumah keluarga Abimanyu karena setelah pemakaman selesai, tiba-tiba Adam berteriak histeris dan mengakibatkan dirinya tak sadarkan diri.


Celena dan kedua putranya berada di ruang tengah. Ketika Celena, Nicolaas dan Vigo mengetahui bahwa suaminya/ayahnya mereka adalah adik kandung dari Evan Hara Bimantara dan putra bungsu dari Amirah Lashira Bimantara. Mereka pun memutuskan untuk berubah marga mereka. Yang pertamanya bermarga ADIYAKSA kini berganti menjadi BIMANTARA. Mereka sudah tidak sudi lagi menggunakan marga tersebut.


"Hiks... Papa. Maafkan aku. Seharusnya aku yang melindungi Papa. Bukan Papa yang melindungiku." Nicolaas tiba-tiba menangis ketika mengingat kejadian itu.


Celena yang mendengar isakan putra sulungnya menjadi tidak tega. Celena beranjak dari duduknya lalu berpindah duduk di samping putranya itu.


GREP!


Celena memeluk putranya itu dan mengusap lembut punggungnya.


"Menangislah, sayang. Luapkan semua kesedihanmu dan rasa sakitmu. Tapi setelah ini, Mama tidak mau melihatmu menangis lagi apalagi menyalahkan dirimu sendiri." Celena berbicara lembut kepada putranya.


"Hiks... Hiks... Hiks.. Papa... Papa... Hiks." isak tangis Nicolaas akhirnya pecah di pelukan ibunya.


Mendengar isak tangis Nicolaas. Celena dan Vigo juga ikut menangis.


Vigo beranjak dari duduknya lalu berpindah duduk di sebelah kakaknya.


GREP!


Vigo ikut memeluk tubuh rapuh kakaknya itu.


"Hiks... Kakak."


"Ini semua takdir, sayang! Apa yang terjadi pada ayahmu itu sudah kehendak Tuhan. Jadi, Mama mohon jangan menyalahkan dirimu. Jika ditanyakan siapa yang salah. Mereka lah yang bersalah. Mereka yang telah menyakitimu dan ayahmu. Mereka lah yang telah membunuh ayahmu. Mereka juga yang telah memisahkan ayahmu dari keluarga kandungnya." Celena berbicara dengan suara bergetar dan berlinang air mata.


"Apa yang dikatakan oleh Mama itu benar, kak! Kakak tidak salah. Yang salah itu keluarga Adiyaksa. Mereka telah menculikmu dan Papa. Mereka juga yang sudah membunuh Papa. Jangan sia-siakan pengorbanan Papa yang telah melindungimu, kak! Papa mengorbankan nyawanya agar kakak tetap hidup. Kita harus kuat demi Papa, kak! Papa sudah pergi. Dan sekarang tersisa Mama. Kita harus saling menjaga." Vigo menangis ketika berbicara dengan kakaknya.


Mendengar ucapan dari adiknya membuat Nicolaas sadar. Di dalam hatinya membenarkan ucapan dari adiknya itu.


Seketika Nicolaas melepaskan pelukannya dari ibunya. Nicolaas menatap wajah cantik ibunya dan juga wajah tampan adiknya. Lalu detik kemudian, Nicolaas tersenyum.


Melihat putranya dan kakaknya tersenyum membuat Celena dan Vigo ikut tersenyum.


"Kau benar, Vigo! Papa sudah pergi. Dan Mama yang masih bersama kita. Kita akan menjaga Mama bersama-sama. Kita berdua harus kuat demi Mama dan juga Papa. Kita harus buat Papa bahagia dan bangga di atas sana." Nicolaas berbicara dengan penuh semangat dan penuh keyakinan.


"Hm." Vigo menjawab disertai dengan anggukan kepalanya.


***


Keesokkan harinya di kediaman keluarga Abimanyu seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah. Sepuluh menit lagi mereka akan sarapan pagi bersama. Sementara Adam masih berada di dalam kamarnya.


"Ma, Pa. Apa kita ajak sekalian Adam sarapan pagi bersama kita? Dari kemarin tidak ada yang masuk ke dalam perutnya. Aku takut kalau Adan jatuh sakit." ucap dan tanya Danish khawatir.


"Bagaimana caranya, sayang? Adikmu dari kemarin tidak mau bicara. Apalagi adikmu itu tidak memperbolehkan kita masuk ke kamarnya." Utari berbicara lembut dengan menatap wajah putra keduanya itu.


"Tapi kita tidak bisa membiarkan Adam seperti ini, Ma! Bagaimana pun Adam harus keluar dari kamarnya lalu sarapan. Atau kita yang ke kamarnya dan mengajaknya untuk sarapan!" seru Garry.


Mereka semua terdiam. Di dalam hati dan pikiran mereka masing-masing benar-benar sangat mengkhawatirkan kesehatan Adam. Mereka saat ini benar-benar bingung.


"Biar ibu saja yang ke kamar Adam. Ibu akan membujuk Adam untuk sarapan!" Amirah tiba-tiba bersuara.


"Lebih baik Nenek duduk saja," sahut Danish.


"Tapi Dan..." perkataan Amirah terpotong.


"Nek. Aku tahu maksud Nenek itu baik. Dan kita semua disini tahu hal itu. Tapi tidak dengan Adam. Adam masih belum sepenuhnya memaafkan dan menerima Nenek. Ditambah lagi sekarang ini Adam baru saja kehilangan orang yang disayanginya. Orang yang sudah menyelamatkan nyawanya. Orang yang sudah merawat dan menjaganya selama setengah tahun ini. Jika Nenek pergi ke kamar Adam dan membujuknya untuk sarapan. Bukan berakhir baik. Justru akan berakhir buruk. Adam akan kembali memarahi Nenek." Danish berbicara dengan menatap wajah neneknya.


Mendengar penuturan dari Danish membuat Amirah mendudukkan kembali pantatnya di sofa. Dirinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Danish barusan.


Melihat kesedihan dan kekecewaan di wajah Amirah. Baik Evan dan anggota keluarga Abimanyu menjadi tidak tega.


Utari beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di samping mertuanya.


GREP!


Utari langsung memeluk tubuh ibu mertuanya itu. Utari dapat merasakan tubuh bergetar ibu mertuanya.


"Maafkan ibu, Utari! Ini semua salah ibu. Jika waktu bisa di putar ulang. Ibu akan menyayangimu dan putra bungsumu."


"Jangan pernah ungkit masalah itu lagi. Itu semua sudah berlalu. Aku sudah memaafkan ibu. Ibu hanya butuh waktu untuk mendapatkan kata maaf dan pengakuan dari cucu ibu yang keras kepala itu. Sebenarnya putra bungsuku itu tidak benar-benar membenci ibu. Putraku itu sudah menerima ibu sebagai Neneknya."


Mendengar penuturan dari Utari. Baik Amirah, Evan dan anggota keluarga lainnya terkejut.


"Apa itu benar, Utari?" tanya Amirah sembari menatap wajah cantik menantunya.


"Iya, Bu. Itu benar," jawab Utari.


Utari tersenyum mendengar pertanyaan dari putra keduanya itu.


"Mama yang merawat dan menjaga adikmu itu dari bayi, Danish! Jadi Mama tahu akan sikap adikmu. Adikmu itu tidak suka yang namanya keributan. Jika ada yang menyakitinya, adikmu memilih diam tanpa perlawanan. Jika sudah melampaui batas, barulah adikmu memberikan perlawanannya. Adikmu akan dengan gampangnya memberikan maaf kepada orang-orang yang telah menyakitinya. Bahkan adikmu itu tidak peduli sama sekali apakah orang itu tulus minta maaf atau terpaksa. Jika mereka tulus, maka akan berakhir menjadi teman adikmu."


Mendengar penuturan dari Utari mereka semua terkejut, terutama Evan, Amirah, Garry dan Danish. Di dalam hati mereka. Mereka benar-benar bangga terhadap Adam. Dan mereka juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Utari kalau Adam memiliki sifat yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, walau tidak diperlihatkan kepada orang lain.


"Dan satu lagi, Bu! Cucu ibu bukan hanya anak-anak Evan dan kak Zaina. Ibu memiliki dua cucu lagi. Mereka adalah Nicolaas dan Vigo, anak-anaknya Levi. Putra bungsu ibu. Jangan lupakan juga Celena, menantu ibu!" ucap Utari.


Mendengar perkataan dari Utari membuat Amirah langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya, Utari! Terima kasih ya sayang!"


"Ya, sudah! Biarkan aku saja yang ke kamar Adam dan membujuknya untuk sarapan."


Setelah mengatakan hal itu, Evan pun beranjak dari duduknya. Kakinya melangkah menaiki anak tangga untuk menuju kamar putra bungsunya.


^^^


Kini Evan sudah berada di dalam kamar putra bungsunya. Kebetulan pintu kamar putranya itu tidak dikunci jadi Evan bisa masuk ke dalam kamar putranya.


Evan melangkah mendekati tempat tidur putranya itu. Bibirnya tersenyum melihat putranya yang masih terlelap dengan memeluk guling.


Evan duduk di samping tempat tidur putranya dengan posisi tidur putranya membelakanginya. Kemudian Evan membelai lembut rambut putranya dan tak lupa mengecup kening putranya itu.


"Sayang." Tangan Evan bermain-main di rambut putranya berharap putranya itu terusik.


Namun dugaannya salah. Adam makin jauh masuk ke alam mimpinya.


"Adam sayangnya Papa. Bangun dong. Papa lapar, nih! Tapi Papa mau sarapannya bersama kamu. Papa tidak akan sarapan jika kamu tidak ikut sarapan. Biar saja Papa jatuh sakit dan masuk rumah sakit."


Evan berharap kali ini rencananya membangunkan putra bungsunya akan berhasil.


Diluar dugaan. Putranya seketika membalikkan badannya dan menghadap padanya. Evan tersenyum menatap wajah putranya itu.


"Papa."


Evan mengusap lembut wajah putranya. "Ada apa, hum?"


"Aku menyayangimu."


"Papa juga menyayangimu. Sangat!"


"Jangan pernah meninggalkan aku. Tetaplah bersamaku, Mama dan kakak."


"Pasti sayang. Papa akan selalu bersamamu, Mama dan kedua kakakmu. Jika Tuhan berkata lain dan Papa harus pergi. Papa ingin kamu kuat. Tidak boleh cengeng. Tidak boleh lemah. Harus tetap semangat."


"Aku mengerti."


"Itu baru putra Papa. Ya, sudah kalau begitu! Sekarang ayo bangun." Evan menarik pelan kedua tangan putra bungsunya.


Kini posisi Adam sudah duduk di atas tempat tidur dengan kaki menjuntai ke bawah. Adam tidak langsung beranjak dari tempat tidurnya.


"Papa."


"Ada apa, hum?" Evan mengacak-acak rambut putranya.


"Gendong. Bawa aku ke kamar mandi." Adam memperlihatkan wajah seperti anak kecil yang berusia lima tahun.


Evan tersenyum gemas melihat wajah lucu dan menggemaskan putra bungsunya. Lagi-lagi Evan mengacak-acak rambutnya. Setelah itu, Evan berjongkok di hadapan putranya.


"Ayo, naiklah!" Adam tersenyum lebar.


Adam pun langsung naik ke atas punggung ayahnya. Adam menghirup aroma tubuh ayahnya.


"Hangat," ucap Adam.


Evan tersenyum mendengar perkataan dari putranya. Kemudian Evan menggendong putranya dan membawanya ke kamar mandi.


"Aku berat ya, Pa?"


"Tidak sayang. Sekali pun kamu berat. Papa akan tetap menggendongmu. Tidak ada alasan seorang Ayah untuk menolak menggendong anaknya sendiri."


"Ini adalah kado terindah yang aku dapatkan. Dari kecil aku selalu menginginkan digendong oleh Papa. Dan sekarang kesampaian. Terima kasih, Pa!"


Seketika air mata Evan lolos membasahi wajah tampannya. Dirinya merutuki kebodohannya karena telah menyia-nyiakan putra bungsunya dan istrinya hanya karena memilih percaya terhadap ibunya.


Adam yang merasakan tubuh ayahnya yang bergetar dapat merasakan bahwa ayahnya saat ini sedang menangis.


Berlahan Adam mengusap lembut air mata ayahnya dengan tangan kanannya.


"Maafkan Papa yang telah menyia-nyiakanmu dulu."


"Aku menyayangi Papa." Adam membalas perkataan ayahnya dan kemudian memberikan kecupan di pipi kanan ayahnya.


Mendapatkan kecupan sayang dari putra bungsunya membuat Evan kembali tersenyum.


"Akhirnya senyuman Papa kembali lagi," goda Adam. Senyuman Evan makin mengembang.