
Brak..
Sebuah pintu rumah didobrak sehingga membuat pintu tersebut rusak parah.
Setelah itu, masuklah beberapa orang ke dalam rumah mewah tersebut. Mereka mengacak-acak semua isi rumah tersebut agar sang penghuni keluar.
Mendengar keributan di dalam rumah. Para penghuni pun keluar dari kamar masing-masing dengan mata yang masih mengantuk.
Sesampainya mereka di ruang tengah, seketika mereka terkejut ketika melihat beberapa orang sudah berada di ruang tengah.
"Siapa kalian?! Kenapa datang ke rumah kami dan membuat keributan?!" teriak salah satu pria.
"Ini masih pukul 1 pagi, tapi kalian seenaknya membuat keributan disini dan mengganggu tidur kami. Pergi kalian!" teriak seorang wanita.
Yah! Waktu memang menunjukkan pukul 1 dini hari dimana beberapa orang datang menyerang rumah kediaman Mahesa.
Mendengar perkataan dan teriakan dari dua anggota keluarga Mahesa membuat tiga orang tersenyum menyeringai.
"Memangnya kenapa kalau pukul 1 pagi, hum? Kami tidak peduli akan hal itu."
"Kedatangan kami kesini untuk menuntut balas atas apa yang kalian lakukan terhadap dua anggota keluarga kami."
Mendengar perkataan dari dua orang yang ada di hadapannya membuat anggota keluarga Mahesa terkejut.
"Siapa kalian?!"
"Hahahaha." ketiga orang yang membuat keonaran di kediaman keluarga Mahesa tersebut tertawa.
"Kalian yakin tahu siapa kami, hum?" tanya salah satunya.
"Jawab saja pertanyaan dari adikku, sialan!"
"Baiklah kalau begitu. Saya adalah Farid Juan Abimanyu, putra pertama dari Davan Alwan Abimanyu."
"Aku adalah Fahreza Rahka Abimanyu, putra kedua Davan Alwan Abimanyu."
"Dan aku adalah Ekawira Harsha Abimanyu."
"Kedatangan kami untuk menghancurkan kalian semua!" seru Juan, Reza dan Harsha bersamaan.
Deg..
Mendengar nama-nama dari keluarga Abimanyu disebut oleh tiga pemuda yang berdiri di hadapannya membuat semua anggota keluarga Mahesa terkejut. Mereka tidak menyangka kalau ketiga putra dari Davan Alwan Abimanyu datang menyerang kediaman Mahesa.
"Kenapa kalian mengganggu kami?! Kami tidak pernah mengusik kalian!"
"Yakin jika kalian tidak pernah mengusik kami?" tanya Reza.
"Apa perlu kami ingatkan kejadian di cafe itu dimana salah satu anggota keluarga kalian telah menampar seorang wanita, him?" tanya Juan.
Mendengar perkataan dari pemuda kedua membuat anggota keluarga Mahesa kembali terkejut. Anggota keluarga Mahesa tidak tahu akan kejadian itu.
"Jangan kalian berpikir bahwa kami tidak tahu apa yang sudah kalian rencanakan terhadap keluarga Abimanyu. Kalian tidak terima salah satu anggota keluarga kalian disakiti hingga masuk rumah sakit sehingga kalian melakukan pembalasan!" bentak Harsha.
"Apa maksud kalian?!" bentak sang kepala keluarga yang tak lain saudara tertua di keluarga Mahesa.
"Jangan berpura-pura tidak mengetahui apa yang sudah kalian rencanakan sehingga membuat adikku kecelakaan dan masuk rumah sakit. Dan bukan itu saja, adikku mengalami Amnesia!" teriak Juan.
Reza melihat kearah anggota-anggotanya. Dirinya benar-benar marah saat ini. Begitu juga dengan kakak dan adiknya.
"Kalian, lakukan sekarang!"
"Baik!"
Setelah itu, anggota dari Reza dan Juan langsung menyerang semua anggota keluarga Mahesa.
"Tunggu! Kami benaran tidak mengerti. Oke, baiklah! Aku dan dua adikku memang berencana untuk menyerang keluarga Abimanyu. Itu pun kami melakukan hal itu karena kami mendapat kabar bahwa adik bungsuku disakiti dan dikeroyok. Jadi wajar aku sebagai kakak tertuanya marah dan menuntut balas."
Juan, Reza dan Harsha tertawa ketika mendengar ucapan dari pria yang saat ini ketakutan. Begitu juga dengan anggota keluarga Mahesa lainnya.
"Lalu kau mempercayai informasi itu tanpa mencari tahu kejadian yang sebenarnya, hah?!" teriak Juan.
"Seenaknya kau, keluarga besarmu dan keluarga besar dari adik iparmu itu merencanakan untuk menculik ibuku dan adikku. Padahal jelas-jelas adikmu dan adik iparmu yang terlebih dahulu mencari masalah dengan ibuku. Sedangkan adikku melakukan itu hanya untuk membela ibuku!" teriak Reza.
"Jika kau tidak percaya. Lihatlah video ini!" Harsha memperlihatkan sebuah video yang ada di ponselnya kearah semua anggota keluarga Mahesa.
Semua anggota keluarga Mahesa langsung melihat ke layar ponsel milik Harsha.
Dan detik kemudian, semua anggota keluarga Mahesa terkejut dan juga syok.
Selesai anggota keluarga Mahesa melihat video itu, Harsha mematikan ponselnya lalu memasukkan kembali ke dalam saku celananya.
"Bagaimana? Sudah lihat kan? Dan kalian sudah mengetahui siapa yang bersalah terlebih dahulu?" tanya Juan.
Semua anggota keluarga Mahesa terdiam. Tidak ada yang bersuara satu pun.
"Sekarang kalian tahukan dimana letak kesalahan kalian? Dan kami tidak salahkan datang kesini menyerang kediaman kalian?" tanya Reza.
"Sekarang! Rasakan oleh kalian pembalasan dari kami. Terimalah kehancuran kalian semua!" teriak Juan, Reza dan Harsha bersamaan.
"Hancurkan mereka semua!" teriak Reza kepada para anggotanya.
***
Di kediaman Sadana tampak anggota dari KARTEL tengah menghancurkan apa saja yang mereka lihat di depan mata mereka. Salah satunya adalah membunuh semua penjaga.
Juan dan kedua adiknya meminta bantuan kepada Zelo yang tak lain adalah sahabatnya Adam untuk membalas perbuatan dari pasangan suami istri itu.
Permintaan dari Juan dan kedua adiknya itu langsung diiyakan oleh Zelo karena Zelo juga sakit hati dan marah sahabat terbaik disakiti.
"Hancurkan mereka semua!"
"Baik!"
"Cari perempuan itu dan bawa ke markas Kartel!"
"Baik!"
Setelah itu, mereka memaksa masuk ke dalam kediaman Sadana. Mereka akan menyakiti siapa saja yang ada di dalam rumah tersebut.
Braakk..
Bunyi pintu yang ditendang kuat oleh tiga anggota Kartel sehingga pintu tersebut rusak.
Mereka semua masuk dan menghancurkan apa saja benda-benda di dalam rumah.
Prang..
Bunyi suara pecahan yang berserakan di lantai. Para penghuni yang sedang tertidur terbangun karena mendengar suara ribut di lantai satu bagi yang kamarnya di lantai dua diluar bagi yang kamarnya di lantai bawah.
Ketika semua penghuni Sadana tiba di ruang tengah, mereka melihat banyak pecah perabot bahkan benda-benda yang lain hancur di ruang tengah.
"Aakkhhh!"
Mereka dikejutkan dengan suara seseorang berteriak dari arah dapur.
Mendengar suara teriakan itu, semua penghuni Sadana berlari menuju dapur, namun seketika langkah mereka terhenti karena melihat salah satu anggota keluarganya telah disandera oleh seseorang yang kini melangkah menuju ruang tengah.
"Kania!" teriak semua anggota keluarga Sadana.
"Kakak tolong aku!" teriak Kania.
Kania itu adalah istri dari Pandu Mahesa, laki-laki yang sudah menampar istri dari Davan Alwan Abimanyu.
Pandu dan Kania untuk sementara ini tinggal terpisah. Tujuannya adalah untuk memuluskan rencana mereka menghancurkan keluarga Abimanyu.
"Kalian bawa perempuan itu ke markas!"
"Baik!"
Tiga anggota Kartel langsung menyeret perempuan itu pergi meninggalkan kediaman Sadana.
"Tidak! Kania!" teriak seorang laki-laki yang tak lain adalah kakak laki-laki kedua Kania.
Laki-laki itu kemudian berlari hendak menolong adik perempuannya, namun langkahnya seketika terhenti ketika Nicky langsung memuntahkan pelurunya di kaki laki-laki itu.
Dor..
Dor..
Bruk..
"Andy!"
"Kak Andy!
"Brengsek! Siapa kalian?! Kenapa kalian menyerang keluarga kami?!" teriak saudara tertua keluarga Sadana.
"Kami adalah malaikat kematian kalian semua!" teriak Nicky sembari tatapan matanya menatap satu persatu anggota keluarga Sadana.
"Apa kesalahanku dan keluargaku sehingga kalian menyerang keluargaku?!" teriak laki-laki itu.
Tanpa mau menjawab pertanyaan dari laki-laki di hadapannya itu, Nicky mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya.
Setelah ponselnya ada di tangannya, Nicky membuka aplikasi Galeri untuk mencari sebuah video.
Ketika sudah mendapatkannya, Nicky memperlihatkan video itu kearah semua anggota keluarga Sadana.
"Lihatlah ini!"
Tatapan mata semua anggota keluarga Sadana tertuju kepada layar ponsel milik Nicky. Mereka melihat sebuah video disana.
Dan detik kemudian..
Deg..
Semua anggota keluarga Sadana terkejut ketika melihat video itu. Video tersebut berisi tentang rencana mereka untuk menculik salah satu anggota keluarga Abimanyu.
"Sudah tahukan kesalahan kalian apa? Saudari perempuan kalian yang terlebih dahulu mengusik salah satu anggota keluarga Abimanyu sehingga membuat salah satu dari mereka membalasnya. Namun dengan kejinya perempuan itu mengarang cerita di depan kalian dan di depan keluarga Mahesa kalau dia dan suaminya dikeroyok oleh salah satu anggota keluarga Abimanyu. Dan bodohnya kalian semua mempercayainya tanpa mencari bukti terlebih dahulu!" bentak Nicky.
Nicky menatap nyalang semua anggota keluarga Sadana. "Sekarang terimalah pembalasan dari keluarga Abimanyu. Dan tidak akan kata perdamaian."
"Kalian buat mereka merasakan sakit seperti yang dirasakan oleh seluruh anggota keluarga Abimanyu. Setelah itu, bawa mereka semua ke kantor polisi!"
"Baik!"
Setelah Nicky mengatakan itu, Nicky keluar meninggalkan kediaman keluarga Sadana. Dia memutuskan untuk menunggu di luar sembari menghubungi salah satu anggota keluarga Abimanyu.