
Saga dan Reres sudah berada di Bali. Saat ini mereka berada di kamar hotel. Setibanya mereka di hotel, Saga dan Reres memutuskan untuk beristirahat sebelum untuk melakukan kegiatan mereka selama di Bali.
Tanpa disadari oleh Saga bahwa ponselnya dalam keadaan On. Dia lupa menonaktifkan panggilan agar tidak ada yang bisa menghubungi dirinya.
Ketika Saga dan Reres hendak beristirahat sejenak, tiba-tiba ponsel milik Saga berbunyi.
Ting..
Saga yang mendengar bunyi notifikasi masuk ke ponselnya berdecak kesal, namun tangannya tetap mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia penasaran akan notifikasi tersebut.
Setelah mendapatkan ponselnya, Saga melihat sebuah pesan masuk dari tangan kanannya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Saga pun langsung membuka notifikasi tersebut, lalu membacanya.
RAMA :
Bos, ada kabar buruk. Ini mengenai orang-orang yang dulu hampir membunuh Bos kembali lagi. Dengan kata lain, ketika terjadi pembantaian itu. Dua dari mereka selamat dan keduanya membangun sebuah kelompok baru. Kelompok itu mengincar tiga orang yang dulu pernah menyelamatkan nyawa Bos dan nona Reres.
Ketika Saga membaca tulisan yang terakhir, seketika membuat Saga berubah panik. Dan detik kemudian, Saga menghubungi tangan kanannya itu untuk menanyakan berita tersebut lebih jelas lagi.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Bos!"
"Katakan padaku apa yang terjadi?"
"Tiga orang yang dulu menyelamatkan Bos dan nona Reres, satunya telah meninggal dunia. Yang perempuannya mengalami lumpuh akibat kecelakaan. Kecelakaan itu ulah dari kelompok baru itu."
"Siapa yang meninggal itu?"
"Kalau tidak salah namanya adalah tuan Ariel."
Seketika Saga terkejut sembari menutup mulutnya. Dirinya tidak menyangka kalau kelompok yang ingin membunuhnya melakukan pembalasan lewat orang-orang yang sudah menolongnya dan Reres dulu.
"Adam, maafin aku. Seharusnya kita dulu tidak bertemu sehingga kamu dan kedua teman kamu tidak mengalami hal buruk ini." Saga berbicara di dalam hatinya dan jangan lupa air matanya mengalir membasahi pipinya.
Reres yang habis dari kamar mandi tak sengaja melihat Saga yang menangis sehingga membuat dia langsung menghampiri Saga.
"Saga, kamu kenapa?"
"Apa yang dilakukan oleh kelompok itu sekarang?"
"Kelompok itu sekarang mengincar tuan Adam, Bos! Setelah dia melenyapkan tuan Adam. Terakhir dia akan membunuh Bos."
"Brengsek! Baiklah kalau begitu. Dia sudah mengajak perang denganku. Aku tahu siapa. Jika dulu dia selamat, maka aku pastikan untuk kali ini dia tidak akan selamat."
"Apa rencana Bos?"
"Berapa jumlah anggota mereka?"
"Dari hasil penyelidikanku dan dua tangan kanan Bos yang lain. Jumlah mereka hanya sekitar 300 orang."
"Eeemmm... Kabar bagus. Dengarkan aku. Kerahkan sekitar 500 orang-orang kita. Serang dan bunuh semua anggota dari kelompok bajingan itu. Pastikan tidak ada sisa satu pun anggotanya. Sisakan dia dan tangan kanannya."
"Baik, Bos."
"Saya akan kembali ke Jakarta, sekarang! Dan tolong cari tahu alamat rumah Adam."
"Kebetulan saya sudah mendapatkan alamat rumah tuan Adam, Bos!"
"Kerja bagus. Kirimkan alamatnya padaku."
"Baik, Bos!"
Pip..
Setelah selesai berbicara dengan tangan kanannya, Saga langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
"Saga, kenapa? Ada apa?" tanya Reres.
Saga melihat wajah Reres. "Kamu masih ingat dengan tiga orang yang dulu pernah menyelamatkan kita dan berakhir menjadi teman kita?"
"Iya, aku ingat. Mereka adalah Adam, Ariel dan Jasmine kan?"
"Ariel meninggal dan Jasmine lumpuh. Keduanya kecelakaan. Dalang dari kecelakaan Ariel dan Jasmine adalah orang yang sama yang dulu ingin membunuhku."
"Apa?!"
Reres seketika menutup mulutnya ketika mendengar Saga yang mengatakan bahwa Ariel meninggal dan Jasmine lumpuh akibat kecelakaan. Dan sekarang bajingan itu mengincar Adam. Jika dia berhasil melenyapkan Adam, barulah giliranku."
"Sekarang kita kembali ke Jakarta. Aku tidak bisa diam saja disini, sementara Adam dalam bahaya disana."
Setelah mengatakan itu, Saga dan Reres pun bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.
***
"Adam, apa rencana kita sekarang? Kita tidak akan biarkan kamu menghadapi masalah ini sendiri," ucap dan tanya Vigo yang menatap khawatir kearah Adam.
Para kakak-kakaknya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para sahabat-sahabat kakaknya menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dari apa yang dikatakan oleh Vigo.
Semua melihat kearah Adam. Mereka tampak khawatir akan kondisi Adam saat ini. Begitu juga dengan Ricky.
Adam seketika berdiri dari duduknya, lalu tatapan matanya menatap satu persatu anggota keluarganya, ketujuh sahabat-sahabatnya, dan sahabat-sahabat dari kakak-kakaknya.
Melihat Adam yang tiba-tiba berdiri membuat mereka semua juga ikut berdiri. Mereka menatap khawatir Adam.
Setelah mengatakan itu, Adam pun pergi meninggalkan semua orang untuk menuju kamarnya di lantai dua.
"Sayang," panggil Utari.
"Aku lelah, Ma! Kepalaku pusing," sahut Adam.
Mereka semua makin menatap khawatir Adam. Apalagi Adam mengatakan bahwa dia lelah dan kepalanya pusing.
Adam melangkah menuju kamarnya di lantai dua dengan tubuh yang sedikit lemah.
Namun baru beberapa langkah Adam meninggalkan ruang tengah, tiba-tiba Adam jatuh tak sadarkan diri di lantai yang dingin.
Bruukkk..
"Adam!" teriak mereka semua ketika melihat Adam yang tak sadarkan diri di lantai. Utari seketika langsung menangis melihat kondisi putra bungsunya.
"Sayang... Hiks," isak Utari dengan tangannya mengusap-usap lembut kepala putranya.
"Angkat Adam dan letakkan di punggung kakak," pinta Garry.
Setelah itu, Vigo dan Danish dibantu oleh Juan mengangkat tubuh Adam lalu meletakkan di atas punggung Garry.
Setelah dipastikan aman Adam berada di punggung Garry. Garry pun berlahan membawa Adam ke kamarnya di lantai dua diikuti oleh Utari, Evan, Danish dan Vigo. Sementara yang lainnya tetap di ruang tengah.
^^^
"Kasihan Adam. Aku tidak tega melihat Adam seperti tadi. Dari tatapan matanya seperti tidak ada semangat lagi," sahut Gala.
"Aku juga berpikir sama seperti Gala. Apalagi ketika Adam mengatakan bahwa dia lelah dan kepalanya pusing. Itu dikarenakan Adam terlalu banyak pikiran," sela Kavi.
"Ricky, ada baiknya percepat semuanya. Kasihan Adam," ucap Dzaky.
"Aku mengerti!" jawab Ricky.
"Apa kita tidak sebaiknya meminta bantuan kepada Zelo. Zelo kan sahabatnya Adam!" seru Kenzie.
"Aku yakin jika Zelo mengetahui masalah ini, pasti dia orang pertama yang akan langsung membuat rencana pembalasan!" ujar Sakha.
"Adam itu pemuda yang baik. Dia tulus menolong siapa saja sehingga Tuhan memberikan hadiah terindah dimana Adam memiliki orang-orang baik di sekitarnya," pungkas Harsha.
"Salah satunya aku. Aku adalah orang yang pernah ditolong oleh Adam. Lebih tepatnya ibuku. Jika tidak ada Adam saat itu mungkin aku sudah kehilangan ibuku untuk selamanya," ucap Ricky.
Drrtt.. Drrtt..
Tiba-tiba ponsel milik Ricky berbunyi menandakan panggilan masuk.
Ricky kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya. Ricky melihat nama salah satu anggota tertera di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang lagi, Ricky segera menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Bos! Ada kabar baik, Bos!"
"Buruan katakan!"
"Begini, Bos! Tuan Saga pemuda yang pernah ditolong oleh tuan Adam, tuan Ariel dan nona Jasmine sudah mengetahui permasalahan yang dihadapi tuan Adam. Bahkan tuan Saga juga sudah tahu perihal tuan Ariel dan nona Jasmine. Tuan Saga tampak bersalah bahkan tuan Saga menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa tuan Adam, tuan Ariel dan nona Jasmine."
"Terus?"
"Tuan Saga memutuskan kembali ke Jakarta, walau tuan Saga dan nona Reres baru beberapa jam tiba di Bali. Bahkan tuan Saga sudah mengerahkan sekitar 500 anggotanya untuk menyerang dan membunuh sekitar 300 anggota yang kini sedang mengincar tuan Adam."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Ricky ketika mendengar kabar yang siapa pun pasti akan bahagia mendengarnya tentang Saga yang sudah bergerak.
"Benarkah?"
"Seperti itulah informasi yang saya dapatkan."
"Jika memang seperti itu, maka aku perintahkan kamu untuk membantu mereka. Kerahkan sekitar 200 orang untuk membantu anggotanya Saga."
"Baik, Bos."
Pip..
Ricky langsung mematikan panggilannya setelah memberikan perintah kepada anggotanya. Ricky kemudian menatap satu persatu anggota keluarga Adam dan para sahabat dari kakak-kakaknya Adam.
"Seperti yang dikatakan oleh kak Harsha bahwa Adam adalah pemuda yang baik, memiliki hati seperti malaikat, suka menolong siapa pun selama dia mampu. Semua kebaikan Adam membuahkan hasil. Hari ini Tuhan memberikan hadiah terindah untuk Adam."
"Kalian mau tahu hadiah apa yang diberikan oleh Tuhan untuk Adam?" tanya Ricky.
"Apa?" tanya semua orang yang ada di ruang tengah itu dengan tatapan matanya menatap Ricky.
"Saga sudah bergerak terlebih dahulu. Dia memerintahkan anggotanya untuk menyerang anggota dari orang yang mengincar nyawa Adam. Jika orang itu memiliki 300 anggota, maka Saga memerintahkan tangan kanannya untuk mengerahkan sekitar 500 anggotanya. Ditambah dengan 200 anggotaku untuk membantu anggotanya Saga."
Semuanya tersenyum lebar ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Ricky tentang Saga yang sudah bergerak untuk membantu Adam.
"Dan kalian tahu Saga ada dimana sekarang ini?"
"Dimana?" tanya Ardi.
"Saga dan Reres ada di Bali. Tangan kanan Saga menghubungi Saga dan mengatakan masalah yang menimpa Adam, Ariel dan Jasmine. Mendengar itu, Saga langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta."
Mereka semua meneteskan air mata ketika mendengar informasi dari Ricky mengenai Saga. Mereka semua tidak menyangka jika Saga akan kembali ke Jakarta demi Adam.
"Adam, kamu lihatlah hasil dari kebaikan kamu selama ini. Orang-orang yang pernah kamu tolong sekarang datang menolong kamu. Mereka tidak membiarkan kamu terluka, walau nyatanya kamu sudah terluka terlebih dahulu akan kehilangan Ariel dan kesakitan Jasmine. Tapi setidaknya mereka tidak ingin kecolongan lagi." Ricky berucap sembari membayangkan awal mula pertemuan dirinya dengan Adam dan berakhir bertemu dengan Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.