THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Kekecewaan Utari



Di Apartemen sudah berkumpul Utari beserta Ardi, Harsha, Danish dan teman-temannya.


"Danish. Kenapa adikmu belum pulang juga? Kalian satu kampus dengan adik kalian. Tapi kalian malah tidak tahu keberadaannya." Utari berbicara dengan nada khawatir.


"Yang kami tahu Adam itu sedang diberi tugas oleh Rektor di luar Kampus, Ma." Danish menjawab perkataan ibunya.


"Mama akan hubungi Rektor sekarang!" seru Utari langsung menghubungi Rektor tersebut.


"Hallo, Nyonya Utari. Ada hal apa Nyonya menghubungi saya?"


"Hallo, Nafil. Anda tugaskan kemana putraku. Kenapa sampai sekarang putraku belum kembali?"


"Saya menugaskan Adam ke sekolah SMP Cempaka. Setelah tugasnya selesai, saya  langsung menyuruhnya pulang."


"Baiklah. Sekarang juga anda hubungi kepala sekolah tersebut. Dan tanyakan padanya. Apa putraku ada datang ke sana? Kabari saya secepatnya!" perintah Utari.


"Baik, Nyonya." Nafil langsung mematuhi perintah dari Utari.


PIP!


"Sayang. Kau ada dimana, nak?" batin Utari Khawatir


"Adam. Semoga kau baik-baik saja, adikku!" batin Danish.


"Semoga kau baik-baik saja, Dam!" batin Ardi dan Harsha.


Mereka semua mengkhawatirkan Adam.


DRTT!


DRTT!


Terdengar suara bunyi ponsel. Ponsel milik Utari. Mendengar suara ponselnya, Utari yang mendengar bunyi ponselnya langsung segera menjawabnya.


"Bagaimana?" tanya Utari langsung menjawabnya.


"Maaf, Nyonya. Kepala sekolah SMP Cempaka mengatakan bahwa Adam sampai sekarang belum datang ke sana."


"Apa?!" teriak Utari.


"Ma. Ada apa?" tanya Danish.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada putraku. Aku akan memecatmu, Nafil." Utari berbicara dengan amarahnya. Dan setelah itu Utari langsung menutup teleponnya.


PIP!


"Mama. Ada apa? Jangan buatku khawatir." ucap dan tanya Danish.


"Adam sampai saat ini belum mendatangi sekolah SMP Cempaka, Danish!" Utari menjawabnya dengan suara lirihnya.


"Tapi Adam itu sudah pergi dua jam yang lalu, Ma! Dan seharusnya Adam sudah kembali sekarang," kata Ardi.


TING!


TONG!


Terdengar suara bunyi bell. "Biar aku yang membuka pintunya!" seru Danish lalu segera berlari membukakan pintu.


"Itu pasti Adam," batin Danish.


Pintu Apartemen di buka.


CKLEK!


"Akhirnya kau pulang Ad.....! Eehh. Papa, kakak." Danish berucap lesu.


"Hei. Kenapa putra Papa yang tampan ini lesu seperti ini? Tidak senang, ya kami datang?" goda Evan.


"Masuk dulu Pa, kak!" ajak Danish.


Evan dan Garry sudah berada di ruang tengah Apartemen. Lalu dirinya memperhatikan satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.


"Ada apa ini? Kenapa wajah kalian semua seperti orang yang mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Evan.


"Adan, Pa!"


"Kenapa dengan adikmu, Danish?" tanya Evan.


"Sampai sekarang Adam belum pulang. Dan kami tidak tahu dia ada dimana," jawab Danish.


"Kan kalian satu Kampus dengan Adam. Kenapa kalian tidak pulang bersama?" tanya Garry.


"Adam itu dapat tugas dari Rektor untuk pergi ke sekolah SMP Cempaka. Tapi kami dapat kabar kalau Adam tidak kesana sama sekali," jawab Ardi.


"Kalian sudah menghubungi ponselnya?" tanya Garry.


"Ponselnya ada padaku, kak! Kami menemukan di parkiran Kampus," jawab Ardi sambil memperlihatkan ponsel Adam yang sedikit retak di bagian layarnya.


DRTT!


DRTT!


"Itu ponsel siapa yang bunyi?" tanya Evan.


"Ini ponselku!" kata Sakha dan Sakha pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Sakha. Ini Paman."


"Ya. Paman David. Ada apa?"


"Apa kau dan temanmu yang lainnya sedang mencari Adam?"


"Benar, Paman. Paman tahu dimana Adam?"


"Yang Paman tahu. Paman sempat melihat Adam berada di parkiran dan sudah duduk di motornya dengan ponsel di tangannya. Mungkin habis menelepon seseorang. Lalu Paman kembali ke post dan Paman tidak sengaja melihat ada dua pria misterius wajahnya ditutupi masker masuk ke halaman Kampus. Dan dua pria itu menuju parkiran. Paman mengikuti mereka. Salah satu dari mereka menunjuk ke arah Adam. Paman spontan saja berteriak. Lalu mereka berdua menuju ke arah paman. Setelah itu Paman tidak tahu apa yang terjadi!"


PIP!


"Ada apa, Sakha? Apa yang dikatakan, Paman David?" tanya Arka.


"Paman David bilang kalau ada dua pria misterius memasuki halaman kampus. Dua pria misterius itu menunjuk ke arah Adam yang sedang berada di parkiran, tepatnya di atas motor. Dikarenakan Paman David berteriak, dua pria misterius itu mendatangi Paman David. Kalian pasti tahukan apa yang akan dilakukan oleh dua pria misterius itu pada Paman David?" Sakha menjelaskan apa yang disampaikan oleh David.


"Tidak salah lagi. Adam pasti diculik oleh dua pria misterius itu. Dan aku sangat tahu siapa dalangnya?" ucap Danish emosi.


Terdengar suara bunyi ponsel milik Utari.


DRTT!


DRTT!


Utari yang mendengar ponsel miliknya berbunyi langsung menjawabnya karena yang di pikirannya saat ini adalah putra bungsunya dan semoga putra bungsunya yang menghubunginya.


"Halloo."


"Hallo, Erina Utari Abimanyu."


"Siapa ini?"


"Aku istri dari suamimu. Maksudku mantan suamimu yang sudah membuangmu dan putra harammu itu."


Utari tanpa sadar meneteskan air matanya saat mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Dhira. Mereka yang melihat Utari yang menangis menjadi panik dan khawatir.


"Ma," panggil Garry mendekati ibunya.


"Apa maumu? Kenapa kau menghubungiku? Kita tidak saling kenal dan tidak punya masalah apapun." ucap dan tanya Utari.


"Kau memang tidak punya masalah denganku. Tapi aku yang mencari masalah denganmu, karena kau adalah masa lalu suamiku. Kau dan putra harammu itu ingin coba-coba merebut suamiku dan ingin kembali padanya. Kau pikir aku akan membiarkan kalian bersatu kembali, huh?!"


"Jangan berbelit-belit. Katakan apa maumu, perempuan murahan!"


"Brengsek! Kau berani melawanku, hah! Apa kau tidak sayang lagi dengan putra kesayanganmu ini?"


"Apa maksudmu?"


"Putramu ada padaku. Dan sekarang aku sedang bermain-main dengannya."


BUGH! BUGH!


"Aakkhh!"


Utari dapat mendengar suara pukulan dan erangan kesakitan dari seberang telepon. Air matanya lagi-lagi tumpah membasahi pipinya.


"Apa kau mau mendengar suaranya, Utari? Biar kau lebih yakin kalau putramu bersamaku."


Lalu terdengar suara yang sangat amat dikenal oleh Utari. Suara putra bungsunya. Putra kesayangannya.


"Ma. Jangan pedulikan aku. Dan jangan turuti kemauan perempuan gila ini. Aku janji. Aku akan baik-baik saja. Mama harus kembali pada Papa karena Mama yang lebih pantas hidup bersama Papa dari pada perempuan gila ini!"


PLAAKK!


"Brengsek! Beraninya kau mengataiku anak sialan."


Utari kaget dan menutup mulutnya saat mendengar suara tamparan di seberang telepon. Utari sangat tahu kalau perempuan itu menampar putranya.


"Cukup. Hentikan. Jangan kau menyakitinya. Baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi lepaskan dulu putraku."


"Tidak usah buru-buru, Utari! Aku akan memberikan waktu untukmu dua hari. Hari yang kedua aku akan menghubungimu lagi dan menentukan waktu dan tempat dimana kau akan menjemput putra kesayanganmu ini."


TUTT!


TUTT!


Panggilan pun terputus. Dhira mematikan teleponnya.


Evan menatap istrinya. "Utari, ada apa? Katakan padaku siapa yang meneleponmu?"


Utari menatap wajah suaminya. "Van. Adam," lirih Utari.


"Kenapa dengan Adam? Apa yang terjadi, Utari?" tanya Evan khawatir.


"Adam.. Adam!"


"Ma. Katakan apa yang terjadi? Kenapa dengan adikku?" tanya Garry.


"Adam diculik," jawab Utari yang lagi-lagi meneteskan air matanya.


"Apa?" ucap mereka bersamaan.


"Siapa yang menculik Adam? Katakan padaku, Utari. Katakan!" Evan berucap sambil menggoyang-goyangkan kedua bahu istrinya. "Utari. Jangan diam saja. Katakan padaku!"


"Mama Dhira. Dia yang menculik Adam!" jawab Danish dengan lantang.


Utari mengalihkan pandangannya menatap putra keduanya. Tak terkecuali Evan dan Garry.


"Danish. Apa yang kau katakan? Kenapa bisa kau mengatakan bahwa mamamu yang menculik adikmu?!" bentak Evan.


"Perempuan itu hanya Mama tiriku bukan Mama kandungku. Selama ini aku mengakuinya sebagai mamaku, karena papa sudah membohongiku!" Danish balik membentak ayahnya.


"Kau...! ucap Evan dan melayangkan tangannya ingin menampar putranya.


"Evan Hara Bimantara!" teriak Utari yang sudah berdiri di depan putra keduanya. "Jangan berani kau menampar putraku. Jadi begini caramu mendidik kedua putramu. Setiap putramu melakukan kesalahan kau langsung menamparnya. Untung saja Adam tidak tinggal bersamamu. Kalau dia tinggal bersamamu, mungkin dia juga akan bernasib sama seperti Danish. Kau tahu sifat Danish dan Adam itu sama. Mereka sama-sama keras kepala dan pembangkang. Apa yang Danish lakukan padamu, itu juga yang dilakukan oleh Adam padaku? Karena mereka berdua adalah korban kebohongan kita. Apapun yang dilakukan oleh Adam padaku. Aku tidak pernah menyakitinya. Apalagi menamparnya karena aku tahu kesalahanku dan aku yang sudah membuatnya seperti ini."


"Apa yang dikatakan oleh Danish itu benar? Istri kesayanganmu itu yang sudah menculik putraku." Utari berucap dengan lantang dengan menatap tajam suaminya.


"Utari. Kau jangan mengada-ada. Tidak mungkin Dhira melakukan hal itu," ucap Evan.


"Pa. Coba kali ini Papa lebih percaya dengan kata-kata Mama," sela Garry yang kecewa akan sikap ayahnya.